Beberapa tahun silam di bulan puasa, tiba-tiba diutuslah saya mewakili boss kunjungan kerja ke Pontianak.  Panggilan tugas ini termasuk mendadak karena saya hanya punya satu hari untuk persiapan.  Walaupun perjalanan dinas ini hanya memakan waktu 3 hari 2 malam saja, namun penugasan ini penting bagi saya pribadi karena:

1) saya belum pernah keluar Jawa
2) saya belum pernah naik pesawat
3) saya belum pernah kawin #abaikan

Jadilah hari minggu itu saya sempatkan datang ke kantor, mendapat pengarahan singkat dari boss, serta mengambil tiket pesawat yang sudah dipesan oleh sekretaris.  Kaget juga begitu tahu jadwal penerbangan esok, first flight in the morning.  Bakal sahur tengah malam nih!

H1

Jadi ‘calo’ dadakan

Pukul setengah lima dini hari saya sudah berdiri sigap di depan pintu masuk terminal 2F.  Tak sangka sepagi ini suasana bandara sudah sibuk dengan lalu lalang para calon penumpang dan pengantar.

Boss berpesan kalau saya harus menemui Mr. Harald Sandberg di airport, tanpa merinci lebih jauh seperti apa sosoknya (dan saya pun lupa menanyakannya, damn!).  Akibatnya, seperti seorang calo tiket, kini saya sibuk memindai sosok orang-orang yang mengantri di pintu masuk.

Sekali waktu ada seorang bule jangkung yang saya ‘tangkap’, namun ternyata ia bukan orang yang dimaksud.  Untung beliau tidak menyangka saya calo tiket, hehehe.  Bapak yang ramah dan ramai ini (sebut saja namanya Gunther, saya lupa nama aslinya, yang jelas beliau berasal dari Jerman -__-) malah sempat mengajak saya mengobrol.  Beliau pun hendak ke Pontianak, namun ia sama sekali bukan anggota rombongan yang saya ikuti.

Gunther pun kemudian pamit terlebih dahulu.

Syukurlah tak lama orang yang saya cari pun muncul jua.  Mr. Harald Sandberg (atau cukup dipanggil Harald, demikian pinta beliau) tampil dalam balutan jas biru gelap, kontras dengan kulit & rambutnya yang putih.  Beliau menyambut sapaan saya dengan hangat, dan segera mengajak saya bergabung dengan 2 anggota rombongan lain.  Semuanya ramah, dan juga meminta dipanggil dengan nama depan: ada Per dari Swedia, dan Cameron dari Australia.  Kami berempat inilah yang akan mewakili asosiasi bisnis Swedia berkunjung ke Pontianak.  Good then!

Pengalaman pertama

Syukurlah, tiada kendala mulai dari check-in hingga menunggu boarding di executive lounge.  Saya baru tahu betapa nyaman berada di executive lounge: sofa empuk di semua penjuru, para pengunjung yang rapi wangi dan rata-rata sibuk dengan laptop masing-masing, para pelayan yang sigap dan trampil, dan aneka kudapan terhidang di meja buffet dengan aroma yang menggiurkan.  Eat me!  Eat me!  Demikianlah goda mereka pada puasa saya.  Saya pun mengaburkan pandangan dari mereka.

Tepat sesuai jadwal, kami pun akhirnya naik ke pesawat.  Ternyata kabin pesawat Boeing 737 ini tidak sebesar yang saya bayangkan sebelumnya (atau mungkin karena saya terbiasa melihat kabin besar Boeing 747 dalam film).  Kami duduk berpencar karena nomor kursi yang berbeda.  Sayang, saya kebagian duduk di tengah, padahal maunya duduk di pinggir jendela (biar bisa dadah-dadah ;)).

Saya memejamkan mata ketika pesawat mulai take-off.  Merasakan sensasi gerakan roda pesawat, deru mesin, dan daya tekan gravitasi.  Bismillah, inilah penerbangan pertama saya.

Berada di atas awan, para awak kabin mulai membagi-bagikan kotak makanan.  Saya terpaksa menampiknya.  Benar-benar cobaan yang berat di bulan puasa: makanan yang tampak hangat dan lezat, serta awak kabin yang tampak cantik dan menarik.  Pada akhirnya saya pilih menebus kekurangan tidur.

Satu setengah jam kemudian pesawat pun mendarat di bandara Supadio, Pontianak.  Bagi saya pribadi, pendaratan ini tidak berjalan mulus, dimana saya lihat setengah bagian atas kabin turut berguncang keras ketika roda pesawat menyentuh landasan.  Lumayan menegangkan, meski saya lihat penumpang lain tampak biasa-biasa saja.  Ya, mungkin cuma kecemasan saya saja sebagai the first timer, tapi sungguh di penerbangan-penerbangan selanjutnya kelak saya tak pernah mengalami pendaratan se-sensasional tadi.  Jangan sampai terulang lagi.

Profesi baru

Meet Stefan and Harsono, our liaison officers.  Mereka menyambut kami di bandara dan membawa rombongan ke ruang tunggu khusus.  Tak lama mobil jemputan siap, dengan kopor-kopor kami sudah masuk bagasi.  Saya dan Cameron diantar masuk ke dalam sebuah Grand Cherokee hijau mentereng yang masih anyar dan wangi (sumpah, jok kulitnya empuk nian :)).  Sedangkan Harald dan Per dipersilakan masuk ke Mercedes merah hati di depan.  Dengan kawalan voorijder rombongan pun beranjak meninggalkan bandara menuju pusat kota.

Kota Pontianak tampak lebar dan lengang bagi penglihatan metropolis saya.  Namun masih banyak pepohonan di kiri kanan jalan.  Udaranya juga tampak bersih.

Agenda pertama kami mengunjungi kantor gubernur.  Beliau (maaf pak gubernur, saya lupa nama anda -__-) sudah menanti kedatangan kami berempat di ruang kerjanya yang luas.  Luas dalam artian sebenarnya.  Bayangkan sejak melangkah di pintu masuk hingga sampai ke meja kerjanya membutuhkan waktu beberapa puluh langkah.

“Halo apa kabar, selamat datang di provinsi kami!” sapa gubernur hangat, dalam bahasa Indonesia.  Sebelum kami menjawab, beliau langsung menganggukkan kepalanya pada saya.  Ya, beliau meminta saya menerjemahkan kalimatnya dalam bahasa Inggris.  Olala, jadi penerjemah dadakan.

Tugas tambahan ini pun masih berlaku di acara selanjutnya, yaitu pertemuan singkat dengan para pejabat teras pemda Kalbar.  Sungguh mulut saya sampai kering dibuatnya.  Ditambah sedikit gondok karena sepertinya bapak-bapak bersafari ini menganggap saya bukan anggota delegasi, tapi cuma penerjemah belaka T_T

Adab makan

Selanjutnya LO membawa kami berempat ke sebuah restoran untuk jamuan makan siang.  Dengan amat sangat menyesal, saya terpaksa membatalkan puasa hari itu karena dahaga sangat (jujur, ini kali pertama saya batal puasa wajib sejak bisa berpuasa penuh).  Yang terasa cuma haus.  Malah makanan yang terhidang pun terasa hambar di mulut.

Per (yang notebene berasal dari negara yang sebagian besar penduduknya menganut paham atheis) tanpa diduga berkomentar dengan nada kebapakan: “It’s ok, perjalanan kita lebih dari 80 km hari ini.  Kamu bisa ganti puasanya di lain hari.”

Glek!  Sempat tercengang sesaaat, meski kemudian saya balas ucapan beliau dengan anggukan kepala.

Kelak saya pun menyadari jika Per memegang pisau dengan tangan kiri dan garpu dengan tangan kanan, dan selalu menyuapkan makanan dengan tangan kanan.  Satu hal yang tak lazim dilakukan oleh orang asing, ataupun oleh masyarakat kita kebanyakan ketika makan menggunakan pisau garpu.  Semuanya menggunakan pisau di tangan kanan dan garpu di tangan kiri, lalu menyuapkan makanan dengan tangan kiri.  Do you guys notice that?

Sepertinya, sedikit banyak Per mengetahui tentang adab Islam.  Mungkin karena istrinya seorang muslimah.  Mungkin, lho ya!

Usai makan siang, agenda berikutnya ialah berkunjung ke kantor Kadin Kalbar.  Berhubung Stefan & Harsono turut serta dalam meeting, merekalah yang kini bertugas jadi moderator (merangkap translator jika dibutuhkan).  Pertemuan ini tak berlangsung lama karena hanya ada sedikit perwakilan Kadin yang hadir.

Usai meeting, kami pun diantar ke hotel untuk beristirahat.

Buka bersama

Masing-masing kami mendapat suite room, yaitu kamar dengan beberapa ruangan.  Living room luas dengan sofa lebar dan empuk.  Bed room dengan ranjang luas dan empuk dengan tv layar datar dan mini bar.  Bath room yang licin berkilau lengkap dengan bathtub.

Ditemani musik klasik (dan sebotol champagne, maunya sih begitu ;)), saya pun menginspeksi ruang demi ruang.  Sendirian.  Dalam hati berharap andai bisa membawa keluarga atau teman-teman ke sini, pastilah bakal ramai dan seru.  Jangan harap saya berkhayal membawa pasangan ke sini, karena saya kan belum kawin (see prologue ;)).

Pada sore harinya, kami mengadakan jamuan buka puasa bersama di ballroom hotel.  Dresscode: batik.  Saya pakai kemeja batik milik ayah yang agak kebesaran, namun ternyata lebih mentereng di antara anggota rombongan yang lain.  Cameron malah muncul dengan kemeja kotak-kotak.  Batik ketinggalan, katanya santai.  Ada-ada saja.

Gubernur yang tadi pagi sudah kami undang secara pribadi malah tak kuasa hadir, namun beliau mengutus wakilnya beserta rombongan.  Hadir pula perwakilan Kadin, serta anak buah Per yang berkantor cabang di Pontianak.
Setelah tamu undangan yang lain pulang, kami melanjutkan bincang-bincang di coffee shop, hingga hampir tengah malam.  Akrab.  Overall, acara malam ini menyenangkan, thank God!

H2

Semangat muda

Saya terbangun pagi itu tanpa sahur namun sudah niat berpuasa.  Semalam dapat info dari bagian restorasi jika hidangan sahur disajikan ala prasmanan di resto hotel dan tak bisa diantar ke kamar.  Baiklah, berhubung saya enggan turun sahur di resto akhirnya saya pilih tidur saja.

LO tampak sudah menanti di lobby begitu kami turun.  Harald minta tukar mobil, ia bilang sedang ingin naik mobil yang lebih tinggi.  Jadilah beliau & Per naik si hijau mentereng, dan saya & Cameron mengalah naik si merah hati.  Untung petugas voorijder tidak minta gantian juga 😉

Kunjungan pertama pagi ini ialah meninjau pabrik kayu lapis yang lokasinya saling berseberangan di tepi sungai Kapuas.  Kami sempat menyeberang menggunakan perahu pabrik.  Saya salut pada Harald & Per yang meskipun usianya sudah tidak muda lagi, namun masih gesit melompati perahu, dan mampu berjalan gagah menyusuri bangunan-bangunan pabrik yang luas.  Langkah-langkah kaki mereka panjang, dan membuat saya setengah berlari menyusul.  Cameron malah lebih santai.

Kemeja pun basah kuyup setelah kunjungan pabrik ini.  Tapi saya masih bertahan dengan puasa.

Acara berlanjut dengan kunjungan ke 2 kantor lainnya.  Pertama ialah kantor dimana Per bekerja dan punya cabang di kota ini.  Laboratoriumnya luas, untung tak pakai inspeksi keliling lagi.  Lalu coba tebak kantor siapa yang kami datangi terakhir sebelum rehat makan siang.

Remember Gunther?

Pria Jerman itu langsung ramai menyambut saya, seakan-akan kenalan lama, membuat Harald-Per-Cameron kebingungan.  Ditilik dari sosoknya, Gunther tak jauh beda usia dengan Harald dan Per.  Namun jika dua anggota rombongan saya ini tampak kalem bersahaja, maka Gunther ini penuh semangat dan ekspresif.  Beliau menyampaikan presentasinya di hadapan kami dengan berisik, namun asik.  Sayang pertemuan ini singkat saja.

Bersawit-sawit ke hulu

Rehat makan siang di sebuah resto lainnya, namun kali ini saya pilih tetap berpuasa.  Sesudahnya kami semua berganti mobil dengan 2 buah Kijang.  Pasukan voorijder bebas tugas sejenak, digantikan oleh bapak-bapak intel berseragam sipil yang ikut menumpang dalam mobil kami.  Kami hendak keluar kota sejenak.

Saya baru menyadari jika sepanjang jalan yang luruuus ini sama sekali tiada penampakan gunung-gemunung apapun walau di kejauhan.  Garis horison datar-datar saja.  Monoton.  Atau mungkin mata saya ‘terlalu ke-Jawa-an’ dimana sudah terbiasa melihat sosok pegunungan apalagi jika sedang keluar kota.

Kemudian kami memasuki perkebunan sawit.  Hujan gerimis.  Pemandangan lebih menjemukan, pepohonan sawit dimana-mana hingga nun jauh mata memandang.  Masih lama lagi sebelum kami tiba di sebuah pondok, mungkin (bekas) tempat tinggal pengurus kebun.  Pondok itu nyaris tak terawat.  Penghuni pondok, seorang pria kurus berkaos singlet, sendirian, menghidangkan air putih dalam cangkir plastik kusam.  Harald dan anggota rombongan yang lain tampak tak sungkan duduk di sofa kotor dan bangku plastik berdebu.

Saya tak terlalu menyimak apa yang diperbincangkan.  Yang saya ingat ialah ketika penghuni pondok itu mengajak kami turun ke kebun yang becek untuk memetik setandan buah sawit, lalu mencungkil daging buahnya yang putih mungil.  Berhubung puasa maka saya tak ikut mencicipi, namun melihat ekspresi Cameron saat itu sepertinya rasa buah sawit tidak seenak mangga kotak-kotak.  Atau setidaknya seperti itu.

Jumpa penggemar

Kembali ke kota, kami singgah di stadion olahraga.  Bukan untuk jogging sore, tetapi meninjau keadaan para pengungsi bekas kerusuhan Sampit yang masih tinggal di sini.  Pemda setempat udah meminta mereka untuk kembali ke desa masing-masing karena kerusuhan sudah lama lewat, namun ternyata para pengungsi ini sudah keburu nyaman tinggal di stadion.

‘Nyaman’ versi mereka adalah tinggal berdesakan, beralas terpal, bau pesing, lalat, dan aneka deskripsi lainnya.  Mungkin masalah utama mereka adalah sudah tak punya tempat tinggal di desa, atau sudah keenakan mendapat sumbangan dana.  Hal tsb tampaknya menjadi polemik bagi pemda setempat (pada masa itu).

Harald, Per, dan Cameron menunjukkan kepedulian sosialnya.  Mereka tak sungkan turun langsung ke lapangan, menyelinap di antara gantungan jemuran lembab, bersalaman dan berbincang-bincang dengan beberapa orang pengungsi.  Tanpa liputan media sama sekali.  Salut.

Keluar dari stadion, Harsono masuk mobil paling terahir dengan senyum penuh arti.  Ia menatap saya sambil bilang, “Barusan ditahan sejenak sama ketua pengungsi, mereka cuma bilang kalau para pengungsi amat berbahagia dengan kunjungan pak artis ke sini.”

Saya terperangah sejenak.
“Pak artis? Saya?” seraya menunjuk diri sendiri.

Harsono tertawa.
“Mereka kira dirimu artis sinetron yang sedang naik daun itu lho!” sambil menyebut nama seorang artis yang saya tak tega menuliskannya.  Bukan apa-apa, nanti dia pongah dibilang mirip saya, hahaha.

Antara piagam dan udang

Gerimis masih turun ketika kami mengunjungi landmark kota Pontianak yang terkenal, yaitu Tugu Khatulistiwa.  Keistimewaannya ialah terletak pada garis lintang nol derajat, dimana tiap tanggal 21-23 Maret dan 23 September setiap tahunnya, tepat tengah hari, semua benda tegak yang sejajar dengan tugu ini tidak akan mempunyai bayangan.

Sayangnya kami datang bukan pada tanggal tersebut, dan sudah sore pula.  Meskipun jam operasional sudah selesai namun kami masih bisa masuk ke dalam bangunan tugu.  Menyimak sejenak sejarah dan serbaneka kisah sang tugu seperti yang dituturkan oleh pemandu.

Pulang dari tugu, masing-masing anggota delegasi mendapat ‘Piagam Pelintasan Khatulistiwa’ yang sudah ditandatangani langsung oleh walikota.  Nama kami sudah tercantum di piagam tsb, lengkap dengan tanggal dan jam kunjungan.  Saya tak tahu apakah para pengunjung biasa juga akan mendapat kenang-kenangan yang sama (mungkin bisa namun berbayar, entahlah).

Sampai kembali di hotel sudah hampir maghrib, dan kami pun duduk bersama untuk berbuka puasa termasuk dengan para intel berpakaian sipil dan para polisi berseragam yang telah mengawal kami seharian tadi.  Kekraban lain kembali terjalin.  Kami berbincang dan bersenda gurau tanpa beban.  Mungkin pengaruh salad udang yang lezat nian (sungguh udangnya besar-besar dan manis, berpadu dengan kelezatan alpukat dan mayonais).

Nyaris kawin

Malam terakhir di Pontianak adalah acara bebas.  Harald, Per, dan Cameron hendak melewatkannya dengan cerutu dan wine di bar.  Harsono mengajak saya wisata malam keliling Pontianak.  Ketika mengucapkan hal itu matanya seakan berbicara sesuatu kepada saya.  Pasti ia hendak mengajak kulineran khas Pontianak di kedai-kedai setempat, dan tak mungkinlah bule-bule itu mau ikut.  Maka tanpa pikir panjang saya langsung menyambut ajakannya dengan semangat.

Kami pun kuliner di tepi sungai Kapuas.  Lalu berburu oleh-oleh, salah satunya kain tenun dan manik-manik khas Dayak, hingga topi ala koboi yang terbuat dari serat kayu.  Kemudian berpusing-pusing kota sejenak melihat kehidupan malam Pontianak yang saat itu basah dan berhujan.  Lalu saya bilang pulang saja.

Kembali ke kamar hotel.  Sendirian, mengepak barang agar semuanya kembali muat dalam kopor.  Dalam hati tiba-tiba terbersit, apakah gerangan yang dimaksud dengan Harsono tadi dengan ‘wisata malam’.  Teringat tatapan matanya yang penuh arti itu.  Bukan mau berburuk sangka, tapi saya (bahkan hingga kini) yakin jika yang dimaksud Harsono dengan ‘wisata malam’ adalah ‘icip-icip jajanan lokal’ versi dewasa.  Hahaha!

Untungnya saat itu saya benar-benar ‘gak ngeh‘, dan mungkin karena melihat kepolosan saya tsb, Harsono jadi tak tega ‘menjerumuskan’.  Duh selamat, nyaris saja hilang perjaka! ;p

H3

Horor lokal

Pagi ini terbangun oleh kicauan burung.  Tampak sekawanan yang terbang dan hinggap di pelataran beton dekat jendela kamar.  Sambil bersiap-siap, dalam hati saya mengucapkan selamat tinggal kepada burung-burung itu, dan kepada kamar hotel.

Agenda hari ini cuma mengunjungi salah satu bangunan bersejarah di Pontianak, yaitu keraton Kadariah.  Bangunan bernuansa kuning ini terletak di tepi sungai, konon sudah berdiri sejak kota Pontianak lahir.  Tahukah kalian dari mana asal nama Pontianak berasal?

Kuntilanak.

Alkisah pada tahun 1771, Syarif Abdurrahman sedang menyusuri sungai Kapuas dalam rangka menuntaskan misinya.  Namun dirinya kerapkali diganggu oleh penampakan hantu kuntilanak.  Tidak jelas bagaimana persisnya sang kuntilanak mengganggu, apakah dalam bentuk menyeramkan dan melayang dari satu pohon ke pohon lain, atau malah berwujud wanita cantik yang menggoda.

Hilang kesabaran, akhirnya beliau menembakkan meriam untuk mengusir hantu tsb.  Lokasi dimana meriam itu jatuhlah kemudian ditetapkan sebagai cikal bakal berdirinya kota Pontianak, dan termasuk salah satu lokasi berdirinya keraton Kadariah sekarang.

Keraton ini masih dihuni oleh keluarga keturunan Syarif Abdurrahman, dan ada beberapa ruangan yang terbuka untuk umum/wisatawan.  Ada satu ruangan dimana begitu saya memasukinya, langsung terasa atmosfer yang berat, padahal isinya cuma seperangkat alat musik tradisional.  Beberapa diselubungi kain kuning.  Dada saya sesak bagai susah bernafas.  Mungkin ada pengaruh medan elektromagnetik or something.  Wallahualam.

Akhirnya tibalah saat kembali ke Jakarta.  Kami bersalaman cukup lama dengan para LO.  Saya sama sekali tak meminta klarifikasi tentang ‘wisata malam’ semalam dengan Harsono, lagipula ia pun bersikap biasa-biasa saja.

Bye Harsono, bye Stefan, bye all.  Thank you all for your hospitality.  It’s a nice trip, indeed!

Harsono dan saya.  Tampak belakang itu salah satu bapak intel-polisi yang setia mengawal 🙂
Foto bersama usai jamuan buka puasa.  Depan: saya-Stefan-Per-Harald-Cameron.   Belakang: Harsono dan kolega.
Berpose dengan keturunan kesultanan keraton Kadariah.

Saya belajar banyak dari perjalanan dinas kali ini.  Bukan tentang bisnis, namun tentang sikap rendah hati.  Harald, Per, dan Cameron masing-masing mempunyai jabatan penting (saya sampai meneguk ludah begitu bertukar kartu nama dengan mereka), namun ketiganya tidak berusaha pamer dengan status.


Mereka pun bersikap mandiri, tanpa perlu didampingi sekretaris atau asisten pribadi (apalagi bawa istri atau anggota keluarga).  Mereka tak gila hormat (sungguh mereka kaget begitu mendapat pengawalan lengkap termasuk voorijder dan intel-polisi), pun tak sungkan berpanas-panas dan berkotor-kotor.  Namun yang paling utama adalah mereka memperlakukan saya sederajat, they treated me as a team member, yang layak didengar dan dimintai pendapat.


Terima kasih saya untuk pelajaran yang telah diberikan 🙂

VVIPP (Very Very Important Person in Pontianak)
Tagged on:     

4 thoughts on “VVIPP (Very Very Important Person in Pontianak)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *