JELANG tahun baru 2005.

Orang tua : “Jangan pergi ke selatan dulu, kondisi rawan takut ada tsunami…”
Anaknya   : “Tenang, cuma ke Bandung, kok!”

Tak lama si anak dan teman-temannya sudah ngebut menuju selatan, menjauhi Bandung.

Tujuan kali ini ialah Ujung Genteng, sebuah kawasan pesisir nun di selatan kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.  Jaraknya sekitar 220 km atau sekitar 6 hingga 7 jam perjalanan bermobil dari Jakarta.  Ia terkenal akan keelokan pantainya, kedahsyatan ombak untuk berselancar, keindahan air terjun Cikaso & Cigangsa, hingga keberadaan penyu hijau di Pangumbahan.

Lima hari sebelumnya telah terjadi bencana tsunami Aceh yang mengguncangkan dunia, kemudian disusul desas-desus santer bahwa akan terjadi bencana serupa di selatan Jawa.  Namun antusiasme kami saat itu demikian besar untuk mengunjungi Ujung Genteng (ini adalah trip perdana kami) sehingga bahkan ancaman tsunami atau peringatan orang tua tak menyurutkan niat semula.

Sudah lepas tengah hari ketika kami singgah sejenak di kota Sukabumi untuk menjemput seorang teman baru.  Kenalan di Friendster.  Janjian di McDonald’s.  Ladies & gentlemen, meet Rina!  Perempuan jangkung berkerudung nan ramah & ramai, pandai memasak, jago ngebut, dan punya bakat khusus:

I see dead people.

Benar-benar paket lengkap!

Selepas Sukabumi, kami mulai melaju berkelok-kelok di jalur perbukitan nan hijau permai.  Rina menunjukkan jalan pintas yang yang biasa ditempuh jika dirinya sedang melakukan perjalanan dinas ke kantor cabang di Ujung Genteng.  Elok jingga di langit menutup hari ketika kami mulai meninggalkan peradaban.  Indikasinya adalah sinyal ponsel yang mulai raib.

Entah kenapa ketika melewati sebuah belokan, tiba-tiba kami semua terdiam.  Rina memecah keheningan dari jok depan, “Kalian jangan ada yang menengok ke belakang ya!  Jangan!”  Ia mengucapkannya tanpa menoleh.  Sesuatu dalam nada suaranya membuat kami semua langsung menuruti perintahnya.

Jreeeeeng!

Barulah setelah melewati perkampungan penduduk, Rina mulai buka suara.  Ia merasa bahwa tadi ada makhluk tak bernama, tak berupa, namun tanda-tanda kehadirannya mampu mendirikan bulu roma bahkan sejak dari jauh.  Sosoknya tak jelas, bagai gundukan di tepi jalan, bagai mayat dalam karung yang menggeliat.

Mayat tidak menggeliat, ujar seorang teman.  Tidak penting sebenarnya.

Rina meneruskan.  Intinya, sosok itu bagai sesuatu dalam karung yang menggeliat.  Namun energi buruknya sudah Rina rasakan bahkan sejak sebelum kami melewati belokan tadi.

“Apa yang terjadi kalau kita menengok ke belakang?”

Rina bilang tidak tahu.  Mungkin takkan terlihat apa-apa, cuma gelap semata.  Mungkin juga akan terlihat suatu penampakan,  tergantung dari kepekaan dan kondisi psikis masing-masing juga.  Tapi yang jelas Rina tahu pasti ada sesuatu yang menyeramkan di belokan tadi.

Beberapa saat cuma hening, meski kemudian kami berusaha mengenyahkan ketakutan tadi dengan bernyanyi lagu-lagu Top 40.  Namun tak lama kemudian Rina tampak gelisah.  Kami turut resah.  Nyanyian terhenti.  Jalan yang dilalui tampak makin sempit dan terpencil.

Setelah berusaha mengenali medan sekitar yang gelap gulita, akhirnya Rina berkesimpulan bahwa kami salah jalan.

Ok, putar balik!

Tapi belum juga mendapatkan putaran, tiba-tiba saja mesin mobil mati.  Di-starter tak ada reaksi.  Kami saling berpandangan sejenak.  Mogok di tengah jalan antah berantah malam-malam begini?

Akhirnya semua turun dari mobil.  Suasana di luar cuma hitam.  Pekat.  Dingin.  Jalanan terasa basah dan menurun.  Bunyi jangkrik & tonggeret bersahut-sahutan dari hutan.  Desis uap air dari mesin mobil menandakan ada yang salah dengan radiator.

Sambil menunggu mesin dingin, kami berjaga-jaga di dekat mobil, siap memberi aba-aba jika mungkin saja ada kendaraan lain melintas.  Namun jalanan tetap lengang.  Jelas sudah jika kami memang tersesat dari jalan utama, terdampar di daerah tak bertuan tak berpenduduk.

Sesuatu menarik-narik ujung jaket saya.  Kyaaaaa!

Ternyata itu Noni, salah seorang teman seperjalanan, yang berbisik-bisik kepada saya untuk tetap memperhatikan Rina, kalau-kalau saja indera keenamnya beraksi.  Noni dan teman-teman perempuan yang lain bahkan tak berani untuk melihat reaksi wajah Rina secara langsung.

Namun kalau melihat gelagat Rina yang tenang-tenang saja sepertinya kondisi aman terkendali.  Menyadari bahwa saya menaruh perhatian lebih pada dirinya saat itu, Rina menunjukkan gelagat tidak suka.  Dari bahasa tubuhnya seakan ia bilang: “Kenapa curi-curi pandang begitu sih?  Kita cuma berteman kan?”

Lho, kok jadi saya tertuduh gini? T_T

Kemudian…

muncullah sebuah penampakan!

Jreeeeeng!

Saya lupa persisnya, tapi tiba-tiba dari kegelapan rumpun bambu muncul satu sosok membawa obor.  Pendar cahayanya cuma menampakkan sedikit seraut wajah renta.  Nenek itu tampak mendatangi kami, tidak jelas apakah kakinya melayang atau tidak.

Awalnya terkejut, namun karena saya tidak merinding sama sekali dan Rina tidak histeris (entah dengan yang lain), maka dapat saya pastikan bahwa nenek itu manusia seutuhnya.  Manusia seutuhnya tanpa gigi depan.  Namun berhati malaikat.

Dalam bahasa Sunda halus, beliau kemudian menyapa kami.  Bertanya ada apa gerangan, dan tanpa sungkan mengajak kami beristirahat sejenak di gubuknya yang terletak tak jauh dari sana.  Beliau juga bilang akan mengutus cucunya ke kampung terdekat untuk meminta bantuan.

Alhamdulillah!

Singkat cerita, minuman hangat pun terhidang bagi kami, dimasak langsung dari tungku kayu bakar.  Teh tubruk pekat.  Sedap!  Sementara para lelaki menunggui mobil, para perempuan pun sibuk di dapur si nenek sembari memasak mie instan bekal kami.

Setelah mesin mobil dingin dan diotak-atik sebentar (ada kebocoran kecil di radiator), akhirnya kendaraan kami pun bisa dihidupkan kembali. Perut kenyang, hati senang, mari berangkat kembali!

Utusan kampung yang datang belakangan akhirnya cuma berperan sebagai petugas informasi.  Selain menunjukkan arah jalan yang benar menuju Ujung Genteng, beliau juga memberi kami wejangan sbb:

1]  Sediakan pisang jika hendak bepergian jauh melewati daerah terpencil.  Pisang selain untuk menambal perut, namun dapat juga digunakan sebagai penambal darurat bagi radiator bocor.  Seriously!

2]  Dilarang keluar sendirian dalam gelap di daerah yang belum dikenal, apalagi di tepi hutan begini, karena masih ada macan kumbang berkeliaran yang tengah mencari mangsa.

3]  Semisal nanti ada orang yang menyetop mobil di tengah jalan sepi, TABRAK SAJA! Karena bisa dipastikan mereka adalah kawanan begal/perampok yg beraksi di malam hari.

Jreeeeeng!

Syukurlah akhirnya kami dapat kembali menemukan akses jalan utama menuju Ujung Genteng.  Kini, setelah yakin dengan arah yang dituju, mobil pun melaju dengan kencang.  Kecepatan maksimal dengan rem minimal, sedikit banyak terpengaruh cerita si bapak untuk menghindari kemungkinan disergap orang jahat.  Sepanjang perjalanan kami cuma dapat berdoa semoga tiada lagi menemui aral melintang.

Sudah lewat tengah malam ketika akhirnya kami tiba di tujuan.  Rina menyediakan penginapan gratis di kantor cabang perusahaan tempat dia bekerja.  Hohoho, siap-siap kedinginan tidur di ruang server yang telah disulap jadi barak sementara.  Sambil menurunkan barang-barang, sayup-sayup masih terdengar sisa-sisa letupan petasan dari arah pantai.  HEI, SELAMAT TAHUN BARU, TEMAN-TEMAN!

Esok paginya, semua terbangun dengan tubuh pegal dan kaku.  Namun hati tetap berbuncah bahagia karena tahu bahwa tak tak lama lagi kami akan bercengkerama dengan ombak laut selatan.  Setelah beberes ruang server, kami langsung sarapan seadanya di warung depan kantor, lalu mandi seadanya, pakai baju seadanya, berangkatttt!

Jreeeeeng!

Apa daya mobil kembali menunjukkan gelagat tak bersahabat.  Tampaknya kali ini lebih dari sekedar kebocoran radiator.  Sebelum sampai pantai, kami pun terpaksa singgah di bengkel setempat.

Dan ‘singgah’ bukan kata yang tepat, ‘pindah’ mungkin lebih sesuai.  Awalnya kami cuma duduk manis di balai-balai warung di samping bengkel, ditemani beberapa botol minuman bersoda dan kerupuk lokal rasa MSG.  Sejam kemudian kami sudah menjajah warung, mengambil jajajan sesukanya, keluar-masuk sekehendak hati, menjelajah lingkungan sekitar. Sejam berikutnya kami sudah menggelar matras dari mobil, lalu bobo-bobo manis di emperan bengkel.

Jelang makan siang, akhirnya kami putuskan tuk tetap melanjutkan misi ke laut selatan.  Berjalan kaki.  Itupun setelah ibu warung bilang jarak ke pantai sudah tidak begitu jauh.  Itupun setelah montir di bengkel bilang kalau servis mobil kami masih butuh waktu beberapa jam lagi karena mesti menunggu suku cadangnya  dikirim dari kota.  Baiklah, daripada mati muda di bengkel, lebih baik jatuh cinta di pantai (sungguh perumpamaan yang aneh).

Jalan kaki di bawah terik matahari siang bolong sungguhlah tiada elok.  Saya sudah merasa gosong bagai tokoh komik si Mimin ketika akhirnya tiba jua di ujung jalan yang menghadap dermaga.  Beruntung keindahan alam di depan kami mampu mengenyahkan semua keluh kesah.

Salah satu ciri khas pantai Ujung Genteng adalah terdapatnya gugusan karang di sepanjang bibir pantai, sekitar 50 meter dari daratan, yang secara alami memecah ombak besar samudera di ujung sana, dan menciptakan perairan dangkal di sisi dalam yang aman direnangi anak-anak.  Airnya tampak jernih sehingga kita bisa melihat ke dasarnya, dan jika beruntung menemukan satwa laut yang berwarna-warni.

Kami lihat pengunjung pantai tidak seramai dugaan semula, padahal saat itu sedang libur tahun baru.  Entahlah, mungkin isu bakal adanya tsunami di selatan Jawa sedikit banyak menyurutkan jumlah wisatawan bertandang ke wilayah itu.  Namun setidaknya, isu atau tanpa isu, kami sudah berada di sini, di Ujung Genteng.  Yippie!

Usai makan siang di warung terdekat dan plesiran sejenak di dermaga, kami memutuskan tuk kembali ke bengkel.  Kondisi kesehatan si mobil lebih penting.  Niat susur pantai Ujung Genteng dibatalkan, apalagi jika harus berperahu hingga curug Cikaso.  Tak apa, kami masih bisa kembali lain waktu.

Berjalanlah kami kembali ke bengkel.  Menunggu lagi.  Minuman bersoda lagi (karena si warung tidak menjual teh dalam botol ataupun air mineral).  Memeriksa pekerjaan montir.  Melihat-lihat ladang sekitar.  Bertemu anak sapi.  Dikejar anjing.  Ngos-ngosan.  Kembali ke matras.  Tidur-tidur ayam.  Foto-foto sendiri.

Syahdan, menjelang sore selesai juga urusan di bengkel (AKHIRNYA!), dan sudah tiba saatnya bagi kami untuk kembali pulang.  Mobil langsung melaju kencang meninggalkan Ujung Genteng.  Kali ini bukan begal/perampok yang kami hindari, namun lebih kepada menjaga suhu mesin.  Mobil yang aneh, sepertinya perlu di-opname lagi di kota nanti.  Jadi jika mobil melaju kencang, maka suhu mesin akan lebih cepat mendingin dan bertahan di suhu normal.  Namun sebaliknya jika mobil melaju pelahan, maka suhu mesin akan cepat memanas (dan bisa mengakibatkan mesin mobil mati).

Akibatnya kami ngebut sepanjang jalan.  Terguncang-guncang dan termiring-miringlah kami semua di dalam mobil ketika melewati cerukan atau belokan jalan.
Hasilnya bisa ditebak, hampir semua penumpang ‘mabuk-mabukan’, sehingga di suatu kesempatan mobil terpaksa harus berhenti supaya para ‘pemabuk’ bisa menumpahkan cairan lambung di pinggir jalan.  Termasuk saya.

Hari sudah gelap total ketika mobil melintasi kembali wilayah blank spot.  Suasana hening, sebagian penumpang sudah nyaris tertidur.  Saya terduduk lemas, masih hangover sisa mabuk tadi.

Tiba-tiba Rina menjerit kencang!

Kejadiannya begitu cepat, ia melompat dari tempat duduknya di jok tengah, lalu menyeruakkan badannya di antara jok depan.  Kepalanya tertunduk dalam-dalam dekat tuas rem tangan.  Sekujur tubuhnya gemetar.

Jreeeeeng!

Kami sejenak terpaku.  Saling pandang, dan langsung mengerti bahwa Rina telah melihat atau merasakan sesuatu yang menyeramkan.  Suasana langsung hening mencekam.  Yang terdengar hanya decit roda mobil ketika melewati belokan jalan.  Sesekali Rina terisak lirih sambil menggumamkan sesuatu.  Seperti tengah merapal doa.

Selama 5 menit berikutnya hanya ada ketegangan menghantui.  5 menit terlama dalam hidup kami.  Ketegangan kami berlipat ganda karena tahu ada sesuatu yang tidak kami ketahui.

Mungkin Rina melihat kembali sosok mayat dalam karung.
Mungkin mayat itu sudah keluar dari karung.
Mungkin mayat itu tengah berjalan tertatih-tatih sambil menyeret karung.
Mungkin mayat itu berdiri menunggu di tepi jalan dalam kegelapan.
Mungkin mayat itu menyetop mobil kami tadi.

Ah, imajinasi saya sedang kelebihan kuota.  Bisa saja mayat dalam karung itu adalah hewan yang dibuang pemiliknya.  Itupun jika memang ada onggokan karung di pinggir jalan.

Kemudian, ah, kemudian Rina menampakkan kembali wajahnya.  Dalam temaram terlihat wajahnya pucat, dan ia masih terisak.  Sambil kembali terduduk di jok tengah Rina meminta minum.  Kami menunggu dalam diam.  Tidak tahu apakah Rina mau memberi tahu sumber kekagetannya tadi.  Tiada yang mau menyinggungnya pula, setidaknya untuk saat itu.

Kerlap-kerlip lampu di perkampungan yang kami lewati menandakan bahwa kami sudah memasuki peradaban.  Siluet gelap pepohonan dan rumpun bambu mulai berganti siluet bangunan dan tiang listrik.  Ketegangan lambat laun mencair, dan tak lama kemudian lantunan suara kami sudah kembali mengalun.  Lupakan lagu-lagu Top 40, lebih baik mengumandangkan shalawat nabi.  Rasanya lebih baik, dan memberi kekuatan.  Betul saudara-saudara, kami shalawatan sepanjang sisa perjalanan!

Trip Ujung Genteng yang rasanya tak berujung itu (saking banyaknya peristiwa yang terjadi sepanjang perjalanan) akhirnya kami tutup di kota Sukabumi yang damai.  Tiada yang menolak ketika Rina menawarkan tempat bermalam di rumahnya.  Ah, senangnya bertemu dengan pancuran air hangat, makanan nikmat, dan ranjang empuk dan wangi.  Sebelum tidur, kami sempat membicarakan kilas balik perjalanan ini, apapun kejadiannya, tetap memberi kesan.  Dan menambah pembelajaran hidup.

Dan ingatkan saya untuk sungkem minta maaf kepada orang tua pas pulang nanti.


photos by jumpBull & duaBadai
edited by duaBadai

catatan tambahan:

Jadi apa yang sebenarnya dilihat Rina dalam perjalanan pulang tadi?

Ia sempat bertutur bahwa dirinya tidak pernah terbiasa dengan kemampuan indera keenamnya.  Tidak setiap saat ia bisa melihat pemunculan makhluk gaib, dan ia tak pernah tahu kapan akan berhadapan dengan sosok-sosok aneh itu (kecuali jika si makhluk menghendakinya).  Maka dari itu ia kerap terkaget sendiri jika tiba-tiba melihat penampakan di dekatnya.

Ia memang melihat ada sosok yang menanti di tikungan jalan sewaktu kami dalam perjalanan pulang.

Sosok itu perempuan pucat berambut panjang.  Melayang sendiri di tepi jalan sunyi.  Ketika kami melintas ia tidak menyetop mobil, melainkan langsung menempel di samping.  Bayangkan, menempel di samping mobil!  Melekatlah wajahnya ke kaca.  Tawanya melengking menyeramkan.

Rina tidak tahu berapa lama sosok itu menempel di sisi mobil.  Mungkin cuma sesaat saja, namun pemunculannya sungguh membangkitkan bulu kuduk.  Lengkingan tawanya bagai masih terngiang di pendengaran.

Dan apakah yang lebih buruk?  Bahwa tak ada satupun yang merasakan penampakan itu kecuali dirinya sendiri.

Demikian.

Ujung Genteng Tak Berujung
Tagged on:                 

17 thoughts on “Ujung Genteng Tak Berujung

  • September 20 at 22:38
    Permalink

    -___-” Rina biki ane jadi merinding disko gan.. apalagi bagian yang tiba2 langsung nempel mobil itu, ane jadi ikut membayangkan

    Reply
    • September 20 at 22:41
      Permalink

      yes, masih merinding pas baca ulang, dan tahu tidak apa yang dibilang Rina waktu itu ke saya?
      “kuntilanaknya nempel di kaca jendela di sisimu!” hiyaaaaa! T_T

      Reply
  • September 23 at 16:06
    Permalink

    Seru ya, dan sekaligus seram.. untung waktu saya kesana semua baik2 saja, cuma memang jalan kesana betul2 seperti ‘tak berujung’ total 9 jam dari jakarta sampai penginapan 🙁 Salam kenal..

    Reply
    • September 23 at 16:25
      Permalink

      halo mas, salam kenal juga! 🙂

      betul itu perjalanannya bagai ke ujung dunia, bukan ujung genteng lagi, haha

      Reply
  • Pingback: Bangkok Room #200 - DISGiOVERY

  • Pingback: Jangan Dibaca Sebelum Tidur - DISGiOVERY

  • October 6 at 16:08
    Permalink

    hiiiii seram yaaa~ aku jadi teringat adikku yang juga punya indera keenam. sekali waktu tiba-tiba dia menangis terisak di mobil karena diganggu segerombolan hantu..
    btw, tahun 2005 kak badai sudah kerja, ya? aku baru SMP, tuh. *dikeplak

    Reply
    • October 6 at 23:26
      Permalink

      Jadi inget cerita temenku, naik taksi rame-rame dari Kuningan ke arah Menteng (waktu itu malam hari). Menjelang fly-over tiba2 temennya yg duduk di jok belakang mencondongkan badannya ke depan sambil ketakutan dan nahan tangis. Temen2nya yg lain heran kenapa, tapi dia gak mau cerita. Sampai tujuan setelah taksi pergi, baru temannya itu cerita.

      Jadi…

      jadi sepanjang jalan tadi ada tangan gaib yang dorong-dorong punggung dia dari belakang sampe dia gak bisa duduk bersandar. Hiiiiiiiiiiy!

      Reply
  • November 26 at 16:59
    Permalink

    ceritanya bikin paranoid
    apalagi bagian yang ini “Sesuatu menarik-narik ujung jaket saya. Kyaaaaa!”

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *