New-Priok-cover

Disgiovery.com

START spreading the news
I am leaving today
I want to be a part of it
New Priok, New Priok

Setidaknya lirik lagu New York, New York yang saya pelesetkan menjadi New Priok, New Priok itu yang bermain dalam benak tatkala kami memasuki Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, hari Sabtu lalu (31/10). Saya dan kawan-kawan blogger mendapat undangan meninjau pelabuhan Tanjung Priok yang sudah berbenah dengan image baru.

Kantor IPC (d/h PT Pelindo II) yang kami datangi sungguh mentereng di dalamnya, nyaman dan dingin bak gedung perkantoran di jalan protokol. Mbak Banu (corporate secretary) dan Mas Sofyan (humas) menerima kami dengan suguhan brunch yang menyenangkan (sekaligus mengenyangkan). Harum kopi dan empuk roti keju menemani kami menyaksikan presentasi film pendek tentang kemajuan yang sudah dilakukan IPC selama ini khususnya dalam peremajaan pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta.

IPC yang uniknya sama sekali bukan singkatan apapun ini membawahi 12 pelabuhan laut di bagian barat Indonesia, mulai dari pelabuhan Teluk Bayur di Sumatera Barat, pelabuhan Pontianak di Kalimantan Barat, hingga pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta.  Demi menyukseskan program tol laut sendiri mereka sudah secara ekstensif menerapkan SOP standar internasional, salah satunya dengan memodernisasi Pelabuhan Tanjung Priok.

Jadi tak sabar ingin melihat langsung. Mari kita tengok Priok!

 

Terminal Penumpang

Dari luar malah tampak seperti bandara modern dengan deretan awning yang menjulang tinggi. Suasana rapi jali, bersih, tak ada pedagang asongan atau apapun. Kau harus melalui deteksi X-ray sebelum diijinkan masuk ke dalam ruang tunggu penumpang yang lapang dan nyaman. Di salah satu sudut terdapat playground bagi anak-anak. Dan yang paling penting, ada rak khusus untuk charging ponsel. Yeay!

Tapi, kemana para penumpang?

Mas Sofyan bilang memang seperti inilah suasana sehari-hari. Makin tahun tred naik kapal semakin menurun. Tapi bukan berarti mereka mengabaikan terminal penumpang di pelabuhan Tanjung Priok ini. Modernisasi tetap dilakukan. Tinggal memikirkan bagaimana supaya naik kapal menjadi trend baru. Kami travel blogger siap di-hire untuk menyukseskan program ini lho 😉 #kodekeras

Kami juga sempat melihat perairan di sisi dermaga yang di luar dugaan sungguh bersih tak bersampah.  Ternyata terdapat 5 kapal sampah yang beroperasi setiap saat. Pantas saja.

terminal-penumpang terminal-penumpang-entry terminal-penumpang-playgroundOLYMPUS DIGITAL CAMERA

Terminal Peti Kemas

Saya bagaikan sedang berada di negeri Transformers. Tiang pancang dan crane raksasa mendominasi pandangan sepanjang pelabuhan.  Bahkan truk-truk kontainer terlihat kecil di sini. Primadona crane di sini adalah GLC (Gantry Luffing Crane) yang bersosok tinggi besar berwarna biru, bergerak di atas rel, dan mampu mengangkat bobot hingga 40 ton! Olala, dan ada banyak GLC di sini!

Sekali lagi, sama sekali tak ada pemandangan pelabuhan kumuh di sini. Tiada kuli pelabuhan mondar-mandir atau pedagang asongan atau ceceran oli atau sampah apapun. Bahkan pelabuhan terlihat sepi.

Menurut mas Sofyan, kehadiran GLC di sini membuat aktivitas pelabuhan menjadi ZERO traffic. Tak ada antrian kapal menunggu untuk bersandar. Dahulu pemindahan peti kemas dilakukan dengan crane milik kapal itu sendiri, dan bisa memakan waktu hingga 3 hari. Kini GLC membabat semuanya hanya dalam 12 jam. Sungguh efisien memangkas biaya operasional.

terminal-peti-kemas-1 terminal-peti-kemas-2

New Priok Port

Dengan menggunakan kapal pandu (pilot boat), rombongan diajak berkeliling pelabuhan melihat pembangunan New Priok Port alias Pelabuhan Kalibaru yang merupakan perluasan dari pelabuhan Tanjung Priok. Pembangunan New Priok ini terbagi dalam dua tahap.

Tahap pertama sama sekali tidak mengurug lahan melainkan berdiri di atas tiang-tiang pancang, gunanya supaya tidak menutup aliran sungai Kalibaru itu sendiri. Sementara untuk tahap kedua adalah reklamasi pantai sepanjang beberapa km. Tentu saja IPC sudah memperhatikan analisis dampak lingkungan dalam proyek reklamasi ini. Tak heran karena New Priok Port sendiri dikategorikan sebagai green port yang ramah lingkungan.

New Priok Port ini rencananya mulai berfungsi penuh pada tahun 2030. Kapasitasnya mencapai lebih dari tiga kali lipat kapasitas tahunan Pelabuhan Tanjung Priok saat ini.

New-Priok-offshore New-Priok-pilot-boat New-Priok-reclamation

Control Tower

Letaknya berada di ruang kerja Planning & Control Division di gedung IPC.  Ruang kontrol ini memonitor suasana pelabuhan selama 24 jam. Bukan hanya memantau pelabuhan Tanjung Priok saja, bahkan rencana ke depannya akan dapat mengontrol seluruh pelabuhan laut yang berada di bawah IPC.

Satu contoh yang kami lihat adalah sebuah monitor screen yang menampilkan suasana pelabuhan Pontianak secara real time dari 4 cctv sekaligus. Unit cctv di pelabuhan Tanjung Priok sendiri berjumlah lebih dari 100 buah. Tak heran kini semuanya sudah terkendali.

control-tower-1 control-tower-2

Pelabuhan Tanjung Priok sebagai Atraksi Wisata

Kenapa tidak?

Dengan image yang baru, pelabuhan Tanjung Priok sudah bukan lagi lokasi kumuh dan rawan kejahatan. Ternyata sudah banyak sekolah dan lembaga pendidikan yang melakukan darma wisata ke pelabuhan ini. Apalagi gedung Pelindo peninggalan zaman Belanda (dibangun pada 1870) rencananya akan dikembangkan menjadi
museum pelabuhan. Saat ini mereka sedang dalam proses kurasi, dan semoga museum ini dapat diresmikan secepatnya.

museum-building terminal-penumpang-dermaga

#SeeingIsBelieving memang sungguh tema yang tepat untuk tour kami kali ini. Andai tak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, rasanya sulit dipercaya jika pelabuhan Tanjung Priok kini sudah berubah lebih baik, lebih rapi, lebih aman & nyaman, dan terutama sudah modern. Tampaknya image yang ingin dicapai IPC sudah sesuai dengan slogannya: Energizing Trade. Energizing Indonesia!

Ke Tanjung Priok? Siapa takut.

 

Disgiovery yours!

The New Face of Tanjung Priok Port
Tagged on:     

16 thoughts on “The New Face of Tanjung Priok Port

  • November 2 at 21:48
    Permalink

    For me, IPC is Indonesia Port Company :hehe. Entah kenapa tapi semua pelabuhannya Pelindo menggunakan nama bahasa Inggris. Hm, tanpa mengurangi rasa hormat, kayaknya lebih elok jika pakai nama Indonesia… ah namun apalah arti sebuah nama?
    Jadi reklamasi yang suka saya lihat dari dalam pesawat itu boleh jadi bagian reklamasi Tanjung Priok ya. Semoga pembangunan lancar dan bandar kita bisa bersaing dengan bandar Singapura atau Rotterdam–malu, negara kepulauan terbesar tapi bandar lautnya masih kalah dengan pulau mungil tetangga!
    Mudah-mudahan museumnya cepat terlaksana. Kejayaan Priok ketika integrasi moda transportasi kejadian buat pertama kalinya mesti kita rebut kembali :)).

    Reply
    • November 2 at 23:31
      Permalink

      Mungkin biar namanya mudah diingat kalangan internasional? Mungkin lho ya…
      Dengan pembangunan New Priok ini saja konon Singapura udah ketar-ketir, hehehe.
      Yup, moga museumnya pun lekas buka! 🙂

      Reply
  • November 3 at 06:35
    Permalink

    New Priok, New Priok… Haha bisa aja nih kak Gio. Btw, GLC nya itu yaa beneran berasa lg di negeri transformer. Haha…

    Reply
    • November 3 at 12:05
      Permalink

      Berasa pengen lari-lari sambil bawa senapan laser, terus difoto!

      *yaaah ujung2nya tetep pengen dipoto, wkkkk*

      Reply
  • November 3 at 13:48
    Permalink

    Ini kemajuan untuk Pelabuhan di Indonesia, sepertinya ini bagian dari perhatian pemerintah tentang pengembanga tol laut. Harusnya memang segala penunjang harus diperbaiki dan ditingkatkan, salah satunya berawal dari pelabuhannya.

    Saya belum pernah ke Tanjung Priok, tapi keren juga ternyata sudah sangat bersih seperti bandara.

    Reply
    • November 3 at 20:22
      Permalink

      Kemajuan beneur, salah satunya memang demi menyukseskan program tol laut 🙂

      Kemarin pun kali pertama saya berkunjung ke Priok, hehehe…

      Reply
  • November 3 at 15:28
    Permalink

    Wow … itu yg di foto pertama siapa sih kaakkk … kenalin dongggg :3

    Wah lumayan ya kalau dijadiin tempat wisata, jadi sembari nunggu kapal, bisa ada walking tour around the port hehe …

    Reply
    • November 3 at 20:26
      Permalink

      Hanya orang2 terpilih yang bisa kenal dengannya, kak 😉 #eaa

      Tapi kalo mau walking tour sepertinya musti reserve dulu, secara banyak lokasi yang restricted area 🙂

      Reply
  • November 4 at 20:36
    Permalink

    Wiihhh beda banget dari pelabuhan jaman duluu yaa. Udah jauh lebih bersiiihh & rapiiihhh. Kereeenn euuyy.

    Reply
    • November 4 at 20:40
      Permalink

      Saya malah baru pertama kali kesini pas udah modern gini, hehehe. Tapi kalau dengar cerita masa lampau sih emang Priok itu Bronx banget ya 😉

      Reply
  • May 27 at 06:36
    Permalink

    biasanya konotasi pelabuhan kapal jakarta utara itu adalah panas kumuh rawan kejahatan .. sepertinya di liputan mu ini gak kliatan sama sekali … Tanjung Priuk berbenah .. yipii .. bisa gak takut lagi deh 🙂

    Reply
    • May 31 at 10:55
      Permalink

      Mbak Husniiiii, pa kabar??? 🙂

      Yup, Tanjung Priok sudah berbenah total kok, jauh dari kesan kumuh & rawan 🙂

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *