tham le khao kob
Disgiovery.com

TEGANG, saya dan semua penumpang berbaring rata di dasar perahu. Bagai dilumat batu penggilingan, perahu kami meluncur keย dalam celah gua yang sempit. Permukaan batu cuma berjarak sekian cm saja di atas kami. Perahu melaju tersendat-sendat. Segala bunyi ‘sret’ atau ‘krek’ atau ‘duk’ terasa menyayat hati.

Inilah saat dimana kau merasa tak berdaya. Berbaring terlentang di dasar perahu, tak bisa berkutik selain memasrahkan diri pada Tuhan melalui perantara pemandu perahu menyusuri kegelapan gua. Saya hanya bisa menelengkan kepala ke sisi. Permukaan batu begitu dekat, seakan penggiling adonan manusia. Tak berani mengorbankan wajah saya tergerus, jadi biarlah daun telinga yang disodorkan.

Permukaan batu berlekuk-lekuk. Mungkin untuk menggerus pengunjung hingga lumat. Dengan ngeri saya menyaksikan sebuah tonjolan batu datang. Perut penumpang di sebelah saya tampaknya bakal jadi sasaran.

Satu.

Dua.

Tiga.

Langsung terpejam mata!

tham le khao kob
Di dalam batu karst raksasa inilah Tham Le Khao Kob berada

Le Khao Kob That Is

“Another cave?”

Pesimis sedikit tatkala memasuki gerbang Tham Le Khao Kob. Warna-warni meriah di pintu masuk, loket, pagar, dan bangunan-bangunan fungsional di sekitar menampakkan kesan taman hiburan keluarga yang biasa-biasa saja. Kami melintasi jembatan kayu di atas sebuah sungai kecil. Perahu-perahu kecil warna biru muda sudah menanti. Para pemandu perahu berseragam jingga tampak siap sedia.

Sehari sebelumnya kami berkunjung ke Tham Morakot alias Gua Zamrud di Laut Andaman. Sungguh gua laut yang memukau ditambah bonus pantai tersembunyi yang elok tiada tara. Euforia kami belum hilang, hingga ketika mengetahui bahwa ada sebuah gua lain yang akan dikunjungi, otomatis kami membandingkannya dengan Tham Morakot. Tampaknya Tham Le Khao Kob ini tak ubahnya masuk ke istana boneka. Naik perahu menyusuri sungai lalu masuk gua dengan kumandang lagu tema Dunia Fantasi. OK-lah sebagai pengisi waktu sebelum waktu makan siang.

tham le khao kob gatetham le khao kob boats

Tham Le Khao Kob terletak di Amphur Huay Yod, provinsi Trang, Thailand bagian selatan. Harga sewa perahu berkisar antara 200-300 Baht untuk maksimal 6 penumpang. Uniknya, pengunjung laki-laki dan perempuan ditempatkan dalam perahu terpisah. Apakah karena bukan muhrim? Wilayah Thai selatan memang dihuni banyak kaum muslim, tapi saya tak menyangka ada peraturan seperti itu di Thailand. Entahlah, kecuali mungkin kalau mereka berasal dari satu keluarga.

Begitu perahu bergerak membelah sungai, udara sejuk langsung mengusir gerah. Rasanya menyenangkan juga berperahu kecil seperti ini, tak ubahnya berakit-rakit ke hulu. Tiap perahu dikawal oleh dua orang pemandu perahu, seorang mendayung di depan, seorang lagi di belakang. Selain itu pemandu wisata kami yang sudah menemani selama beberapa hari ini juga turut serta. Namanya tuan Surawut, tapi beliau minta dipanggil pak Hamzah. Seorang Thai Muslim yang fasih bercakap Melayu.

Jika kemarin di Tham Morakot pengunjung masuk dari depan lalu muncul di belakang, kini di Tham Le Khao Kob kami masuk melalui jalan belakang, dan nanti bakal muncul di depan. Pak Hamzah bilang ini tak ubahnya masuk dari pantat naga, keluar dari mulut naga. Aduh, siap-siap bau naga dong, Pak?

tham le khao kob to the cave tham le khao kob entrance

Dalam Perut Naga

Lagu tema Dunia Fantasi malah hilang dari benak tatkala perahu memasuki gua. Instruksi pemandu membuat kami duduk lebih rendah di perahu. Suasana dalam gua sebenarnya gelap namun di beberapa titik ditambah penerangan lampu fluorescent sehingga mencipta nuansa kuning atau hijau atau merah. Kedua pemandu perahu tetap pada tempatnya untuk mengendalikan arah, sesekali merunduk tatkala melintasi stalaktit.

Gua karst yang kami masuki ternyata mempunyai banyak lorong. Kami harus turun dari perahu untuk mengunjunginya. Jalan setapak tampak lembab, udara terasa pengap. Beberapa lorong membuat kami harus jalan terbungkuk, beberapa lagi malah terasa lapang hingga langit-langit gua tak terlihat. Beberapa lorong berakhir di ruangan luas dengan stalaktit dan stalagmit yang menciptakan suasana sci-fi. Imajinasi saya membayangkan larva-larva alien yang siap menetas dari tiap stalaktit dan stalagmit.

tham le khao kob in the tunneltham le khao kob inside the cave

Beberapa persembahan juga tampak di beberapa sudut. Untaian kain warna-warni, rangkaian bunga kering, miniatur rumah-rumahan dari kayu, hinga sesajen makanan & minuman. Ini membuat imajinasi saya beralih ke nuansa horor/misteri. Lalu kami tiba di salah satu sudut yang menampakkan stalaktit berbentuk buah dada menjuntai dan stalagmit berbentuk perkakas pria mengacung. Usah kau tanyakan imajinasi apa yang terlintas dalam benak saya kemudian.

Ada pula ruangan yang disebut Kamar Pengantin dimana terdapat rangkaian stalaktit terjuntai seperti tirai sebuah kamar. Terdapat 3 akses masuk melalui tirai tadi. Lewat tengah berarti berharap jodoh. Lewat kiri berarti berharap pernikahan yang langgeng. Lewat kanan berarti berharap lebih dari 1 pasangan! Hahaha, tebak saya lewat mana? ๐Ÿ˜‰

tham le khao kob sci-fi tham le khao kob bride's chamber

Tubuh kami sudah basah oleh keringat ketika akhirnya kembali ke perahu dan melanjutkan perjalanan. Rasanya lega mendapat semilir angin. Kami melihat sebuah stalaktit besar di tengah sungai yang bentuknya menyerupai jantung. “Ini jantung naga.” Itulah benda terakhir yang kami lihat sebelum kegelapan menyapa.

Kami diinstruksikan untuk rebah di perahu. Bahkan termasuk kedua pemandu perahu. Semua gawai harus diletakkan. Pak Hamzah yang berada di samping saya berseru: “Hati-hati, ya!”

Saya tahu pasti bakal ada sesuatu di depan.

tham le khao kob altar tham le khao kob offering

Menjeritlah Kawan!

Segala sesuatu terasa seperti menyusut.

Cahaya terakhir yang saya lihat menampakkan langit-langit gua yang merendah drastis bak hendak runtuh. Lalu kegelapan total diiringi seruan takbir. Iya, itu saya! Antara ngeri dan excited. Di atas kami adalah permukaan batu solid yang terasa begitu dekat. Jika saya meniupkan nafas niscaya anginnya langsung terpantul ke wajah. Perahu bergerak tersendat dengan segala bunyi terantuk, ditingkahi seru-seruan kedua pemandu perahu dalam bahasa Thai.

Saya tak habis pikir bagaimana kedua pemandu sanggup bekerja dalam posisi terlentang. Kedua telapak tangan mereka pastilah memijak-mijak di langit-langit gua untuk mengarahkan laju perahu. Sesekali mereka menyalakan head-lamp, barangkali untuk memastikan posisi yang benar. Salut untuk naluri dan kekuatan fisik mereka. Saya makin tak habis pikir siapa gerangan yang iseng membuka ‘jalur neraka’ ini yang tampaknya lebih cocok sebagai sarana penggemblengan tentara marinir.

Tatkala gelap saya mendamba cahaya. Tatkala ada sinar saya langsung memejamkan mata. Nafas seperti tersengal melihat hanya ada permukaan batu di depan wajah. Bunyi ‘duk-duk’ tatkala perahu membentur batu (saya ngilu membayangkan ada tangan atau kaki yang terantuk) dan seru-seruan bahasa asing (saya tak bisa membedakan nada panik atau apapun dari seruan pemandu perahu, dan hal itu yang justru bikin ngeri) sementara saya berbaring tak berdaya di dasar perahu adalah teror sempurna.

Sekarang saya tahu mengapa penumpang lelaki dan perempuan dipisah. Kami benar-benar merapat satu sama lain. Kaki saya terselip di antara kedua teman di depan. Kepala teman di depan saya terjepit di antara lutut saya. Kondisinya pasti tak nyaman jika lelaki dan perempuan bercampur seperti ini (kecuali ada yang sukarela).

Kira-kira seperti ini kengerian sebelum perahu masuk ke dalam gua yang super sempit. Yang motret nekat! [photo from google.com]
Kira-kira seperti ini kengerian sebelum perahu masuk ke dalam celah sempit. Siapapun yang motret ini nekat! [photo from google.com]
Lalu sekilas cahaya dari head-lamp pemandu di belakang kami menampakkan permukaan batu yang tak rata. Sebuah tonjolan batu datang menghampiri. Dengan ngeri saya melihat lengkungan perut pak Hamzah jadi sasaran. Saya tak kuasa melihat. Namun relativitas waktu terjadi. Seperti adegan film dalam gerakan lambat, mata saya kembali terbuka, lalu menyaksikan tonjolan batu itu seperti mengiris perut pak Hamzah secara memanjang. Sreeeet, kira-kira seperti itu bunyi imajinasi saya.

Faktanya batu itu memang menyentuh perut pak Hamzah namun tak sampai membuat beliau cidera. Tapi kalau saya jadi pak Hamzah pasti sudah pasrah mati dengan perut terbelah. Tuhan, sampai berapa lama kami dilumat seperti ini?

“Tuhan, keluar dari sini saya mau diet!”

Teman saya berteriak lantang. Pastilah ia barusan mengalami teror serupa pak Hamzah. Antara menahan tawa dan iba saya berusaha menipiskan perut. Selama lengkung perut saya lebih rendah dari perut pak Hamzah maka peluang hidup saya lebih lama. See, how selfish a human being can be.

Sepertinya ini adalah teror kegelapan terlama sepanjang hidup saya. Lorong sempit yang kami lalui sepanjang 350 m ini sungguh menguras adrenalin. Padahal perjalanan hanya menempuh waktu sekitar 15 menit saja hingga akhirnya kami keluar di mulut gua. Mulut naga. Segala puji syukur langsung kami panjatkan. Senang semuanya masih ingat Tuhan.

tham le khao kob the light tham le khao kob exit

***

Daratan yang terang dan kering bagai oase yang mendamaikan, semua langsung sibuk bertukar cerita. Para perempuan bilang jika mereka tak habis-habis menjerit sepanjang perjalanan dan bertanya mengapa perahu lelaki begitu sunyi. Masalahnya kami para lelaki sama sekali tak mendengar ada jerit-jeritan dari perahu perempuan. Mungkin semesta kami berbeda di dalam sana.

Seorang teman yang bertubuh jangkung ternyata sempat terantuk kakinya hingga lecet. Ia tak bisa meluruskan kaki panjangnya di perahu sehingga lututnya terpaksa sedikit menekuk. Maka terantuklah ia. Beruntung tak ada kecelakaan lain. Yang saya sayangkan hanyalah sama sekali tak ada peringatan di awal tentang lubang naga ini. Pengidap lemah jantung atau mereka yang phobia terhadap kegelapan dan ruangan sempit pastilah bakal jadi korban.

tham le khao kob alive
ARRRGH what kind of adventure was that??? It’s close to near death experience! Tapi… tapi… mau lagi dong! ๐Ÿ˜‰

Tapi ketika ditanya apakah kami kapok masuk Tham Le Khao Kob, mayoritas menjawab tidak, dan ingin mengulangi keseruan seperti tadi. Tham Le Khao Kob ternyata tak kalah seru dari Tham Morakot, malah lebih menguji nyali. Dan kini kami sudah siap mengantisipasi apa yang akan terjadi. Barangkali lain waktu akan mengenakan pelindung lutut dan helm kepala. Hahaha!

 

Disgiovery yours!

 

Satu yang menarik perhatian adalah sepatu yang dikenakan pengunjung. They must've had no idea what the kind of adventure awaited inside the cave! [photo from krabitours.com]
Lihat sepatu yang dikenakan pengunjung ini. Mungkin merekaย pasangan kencan yang bolos ngantor, lalu bermaksud cari suasana romantis sambil berperahu. Tapi sepertinya sepulang dari sini hubungan mereka langsung kelar! ๐Ÿ˜€ [photo from krabitours.com]
Tham Le Khao Kob | Berakit-rakit ke Hulu Menjerit-jerit Kemudian
Tagged on:         

16 thoughts on “Tham Le Khao Kob | Berakit-rakit ke Hulu Menjerit-jerit Kemudian

  • March 28 at 10:52
    Permalink

    Aku hanya mau merasa tak berdaya di dalam kamar aja kak, di temani jantung naga yg bernafsu besar hahaha

    Reply
    • March 28 at 11:22
      Permalink

      Kalimatmu penuh imajinasi kak Cum, hahaha!
      Ini jantung naga campur madu sama telor ayam kampung juga biar makin greng! #ehgimana

      Reply
  • March 31 at 01:51
    Permalink

    alamaaaak.. udah seru2 baca dan menikmati foto2 keren nan rupawan.. kenapa harus ada penampakan orang kejepit pintu ya?? ck

    Reply
    • March 31 at 02:57
      Permalink

      Hahaha gak ada yg kejepit pintu ah, itu buat ilustrasi aja betapa sempitnya celah gua yang dimasuki ๐Ÿ˜€

      Reply
    • April 13 at 18:52
      Permalink

      Kalau dilihat secara geologis sih hampir mirip sama kawasan karst di selatan Jogja. Mungkin juga masih banyak gua-gua tersembunyi lainnya yang belum tereksplor ๐Ÿ˜‰

      Reply
    • November 5 at 09:30
      Permalink

      Ngeri-ngeri sedap! Tapi buat yang takut dengan kegelapan/ruang sempit sebaiknya hindari atraksi ini, hehe ๐Ÿ™‚

      Reply
  • February 20 at 22:41
    Permalink

    Huaa. ini ya gua yang kamu ceritakan? gila serem banget pakai harus berbaring tidur segala biar bisa lewat.
    Tapi ini stalaktitnya cantik. duh Mupeng pengen foto.
    Sumpah kece banget gua ini. Itu masih aktip ga ya ornamen guanya?

    Reply
    • March 1 at 17:02
      Permalink

      Tegang banget, sampe aku teriak Allahu Akbar kenceng-kenceng, udah pasrah dalam kegelapan total.. ๐Ÿ˜€

      Maksudnya ornamen apa yang aktif, stalaktit stalagmit? Sepertinya iya masih bertumbuh terus…

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *