tgif-dermaga-semesta

DERMAGA SEMESTA

1

Awalnya laut tenang. Ku duduk menyepi di atas haluan kapal yang melaju. Dompet, ponsel, kamera, dan barang pribadi lainnya telah aman kumasukkan ke dalam sebuah dry bag berwarna mencolok, tas andalanmu.

Setengah perjalanan menuju pulau tujuan, gelombang laut mulai terasa menghempas kapal. Makin lama makin liar ia. Tapi aku malah menikmati sensasi ini. Terombang-ambing. Kalut. Mungkin seperti inilah hidup tanpamu. Aku harus membiasakan diri.

Gugusan pulau yang sedang dilewati segera menarik perhatian. Seakan teringat sesuatu lekas kukeluarkan sebuah amplop dari dry bag (tak lupa menutup kembali tas itu rapat-rapat). Amplop tadi berisi lima lembar foto. Foto-foto ini diambil olehmu beberapa waktu lalu (dalam perjalanan yang kesekian kali tanpaku). Salah satunya menampakkan gugusan pulau yang sedang berada di hadapanku kini. Tiga buah pulau mungil dengan mercu suar kuno di pulau terluar. Di fotomu berlatarkan jingga langit senja. Di hadapanku kini, cuma kelabu. Kutarik keluar foto itu, sementara sisanya dalam amplop kumasukkan dalam saku jaket.

Sejenak anganku mengembara. Ku berdiri di haluan kapal ini mengawasi dirimu yang tengah sibuk memotret gugusan tiga pulau berlatar cakrawala membara.

Aku memegang foto itu sedemikian rupa hanya dengan ujung jempol dan telunjuk. Membiarkan angin kemudian menyambarnya. Terbang, melayang, menyentuh air, dijilat gelombang. Seakan dewa sudah menerima persembahan.

Kemudian, datanglah gelombang tinggi!

Menerjang terjang dalam sekejap mata. Aku terlempar ke atas, dalam sepersekian detik melayang bagai dalam ruang hampa udara, lalu jatuh terduduk dengan keras. Semua udara dalam rongga dada bagaikan dihempas keluar dengan paksa. Siraman ombak besar langsung membasahi sekujur tubuh. Dry bag di sisiku ikut terpental keluar. Jatuh ke laut.

Dengan kecut kupandangi tas itu terombang-ambing diterkam ombak sebelum hilang dari pandangan. Rasanya sakit. Bagai kehilangan dirimu untuk kedua kali.

Aku masih terduduk dan terguncang ketika seorang awak kapal muncul dan menyuruhku masuk ke kabin. Ia bertanya apakah tasku yang tadi jatuh ke laut, dan aku cuma bisa mengangguk. Aku telah kehilangan benda berharga, kepingan duniawi terakhir yang berhubungan dengan dirimu. Sayang sudah keburu terlambat menyelamatkannya.

 

2

Dermaga sunyi di pulau sepi. Ia terlindung di sebuah teluk permai dengan deretan nyiur melambai. Sebagai salah satu tujuan terakhir, banyak kapal berlabuh di sini untuk kembali berlayar esok.

Aku melompat turun ke dermaga dengan tingkat kelembaban 100%, mulai ujung rambut hingga ujung kaki. Aku teringat begitu dirimu tiba di lokasi ini beberapa waktu lalu, kau langsung menulis status: Mendarat dengan hangat dan merasa hidup.  Jika aku bisa melakukan hal yang sama saat ini, maka akan kutulis: Mendarat dengan lembab dan nyaris mati.

Tragedi jatuhnya tasku ke laut tadi menimbulkan simpati, termasuk kapten kapal yang menawariku tempat bermalam di rumahnya (dan seorang awak kapal kemudian membisikkan padaku kalau itu adalah rumah istri mudanya). Aku menampik dengan halus, juga tak peduli dengan bisikan awak kapal, kecuali tawaran berikutnya dari sang kapten yang mengajakku ikut berlayar pulang esok hari secara cuma-cuma.

Seorang ibu penduduk pulau yang tampaknya baru kembali berbelanja dari kota, menyodorkan sebuah kantong plastik hitam kepadaku. Isinya seperti makanan. Sikapnya yang tegas dan terburu-buru membuatku tak sempat menolak selain mengucap terima kasih. Di dalam kantong ada roti, lontong, dan air mineral.

Ah, dermaga dan orang-orang yang ramah!

Dengan langkah ringan, aku pun segera mencari tempat yang lebih sepi di salah satu sudut dermaga. Cakrawala berwarna pucat, namun sinar matahari masih terasa hangat. Ku duduk ongkang kaki, bertelanjang dada. Kaos dan jaket yang lembab kubentangkan di lantai dermaga. Sepatu sandalku tergeletak pasrah di sisi.

Kejadian yang menegangkan tadi tanpa disadari membuat perut lapar, membuatku segera menyantap makanan pemberian ibu tadi. Mengisi energi pun ternyata bisa melenyapkan gundah. Nikmat sekali.

Tanpa terasa, seekor anjing lusuh datang mendekat, menatapku dengan penuh harap sekaligus takut-takut. Kau pernah bilang jika kau punya teman baru di pulau ini, berkaki empat, berbulu putih, jinak, dan setia. “Anjing buduk itu?” tanyaku begitu kau memperlihatkan foto si teman baru. Kau cemberut dan bilang, “Kuberi nama Snowy, dan Snowy tidak buduk, cuma lusuh saja!”

“Snowy?” gumamku kemudian.

Si anjing di hadapanku seperti menanggapi. Kami saling bersirobok pandang. Ekornya yang sedari tadi layu, mulai berkibas. Tapi ia masih menjaga jarak.

Snowy seekor betina yang terbuang, karena wilayah lain di pulau ini sudah dikuasai para pejantan dan selir-selirnya. Maka ia pun tinggal sendirian di dermaga, kelaparan dan kedinginan. Terngiang ucapanmu tentang Snowy. Aku menjulurkan roti yang belum termakan. Ia mengendus sebentar, lalu langsung melahapnya.

Untuk memastikan, aku mengeluarkan amplop foto lembab dari saku jaket. Kutarik sehelai foto Snowy, dan membandingkannya dengan fisik si anjing di hadapanku. Seperti deskripsimu dan foto di tanganku, Snowy adalah seekor anjing kampung kecil, berbulu putih lusuh, berkaki pincang, namun ada sesuatu di pancaran matanya yang memikat. Ciri-ciri ini sama persis dengan anjing di hadapanku, kecuali kini ia terlihat sedikit lebih gemuk dari fotonya.

“Halo, Snowy!” Aku yakin sekarang. Kutepuk-tepuk kepala Snowy dengan lembut, lega karena telah menemukan yang dicari.

Ia yang pada awalnya masih takut-takut, kini sudah mulai lebih berani. Aku tunjukkan foto yang kau buat ke hadapannya. Snowy bagai berbinar mata, mengendus dan menjilati foto itu. Ia menjadikan foto itu sebagai alas merebahkan diri. This photo is yours, Snowy.

Berani taruhan, kalau ada kamu, pasti kau bakal mengabadikan pemandangan sore di dermaga ini sambil terisak haru. Bayangkanlah horizontal kelabu, dermaga kayu, siluet pemuda kurus duduk ongkang kaki dan seekor anjing di sisi.

Sepotong roti dan tepukan di kepala, resmilah aku dan Snowy berteman.

 

3

Mandi air payau di rumah kapten kapal. Seorang awak kapal tadi sore menyusulku ke dermaga dan memintaku datang ke rumah Kapten nanti malam. Kapten seumuran bapakku dan istrinya memang masih muda dan cantik, ia seumuran denganmu. Mereka seperti halnya penduduk di pulau ini sudah terbiasa menerima kunjungan para turis gembel seperti aku. Keramahan mereka meningkat dalam menjamu tamu yang baru saja kehilangan tas di laut.

Usai mandi, makan malam nikmat dihidangkan meski sekedarnya. Nasi, ikan goreng, sambal terasi. Minumnya pasti lebih nikmat jika disajikan teh tubruk dalam gelas belimbing, harapku. Namun hanya cangkir kopi yang keluar, dan aku terlalu sopan untuk menampiknya. Obrolan hangat pun bergulir meski tak lama.

Aku memang ingin segera kembali ke dermaga. Ingin menghabiskan malam ini di dermaga, seperti yang terakhir kau lakukan di pulau ini beberapa waktu silam.

Kapten meminjamiku sehelai tikar, sarung, dan setermos air panas. Beruntung, aku masih menemukan beberapa helai rupiah di saku celana kargo yang kupakai, dan segera kubelikan sebungkus kecil teh tubruk (sayangnya mereka tidak sedia gelas belimbing), dua batang rokok, dan sepotong roti buat Snowy di warung dekat dermaga.

Beruntung malam itu cerah, dan langit tampak cemerlang penuh gemintang. Angin malam berhembus lembut mengusir gerah dan nyamuk. Aku meraba saku jaket, dan mengeluarkan amplop foto yang masih berada disana. Aku harus mengeringkan foto-foto ini sebelum mereka lengket satu sama lain. Lekat bagai kenangan yang tak lekang.

Beralas tikar, aku pun mulai mengangin-anginkan tiga foto tersisa. Snowy setia mendampingi di sisi.

Ketika akhirnya kurebahkan badan, bergelung dalam sarung di bawah mangkuk langit berbintang, aku merasa bagaikan seorang bayi di luar angkasa. Sebelah tanganku memegang sehelai foto bintang jatuh. Kau memotret foto ini pasti dengan susah payah, butuh keterampilan dan keberuntungan sekaligus.

Kau sempat bilang bahwa dermaga di pulau ini adalah wormhole alias lubang cacing menuju surga. Aku tak mengerti definisi lubang cacing, tapi yang jelas kedengarannya seperti sebuah jalan pintas. Jalan pintas menuju surga.

Aku terkagum-kagum menatap konstelasi bintang di atasku, tanpa memahami cara membacanya, ataupun mengetahui nama-namanya. Tapi yang kutahu pasti, aku terkagum-kagum pada keindahannya. Aku tahu kau pun pasti menahan napas karena takjub akan keindahan ini.

Ada semburat kabut disana, dan kau pernah bilang jika kabut di langit itu adalah galaksi bima sakti. Seumur hidup inilah kali pertama ku merasa terhubungkan begitu dekat dengan alam semesta, seakan ada medan magnet yang menghubungkan kami tegak lurus! Membuatku merasa semakin dekat dengan suatu kekuatan Maha Besar Maha Dahsyat.

Lalu aku penasaran, dimanakah langit ketujuh, dimanakah surga. Adakah surga itu meliputi seluruh langit dan bumi ini? Adakah kau di sana, menatapku di sini? Adakah memilikimu adalah surga?

Ada kabut di mataku, dan aku tak mau mengenyahkannya. Biarkan air mata ini menetes dan kering dengan sendirinya.

Pada akhirnya, ada bintang jatuh, dan aku tahu itu kamu.

 

4

Dini hari aku terbangun. Sekeliling dermaga dan alam di sekitar berwarna biru berpendar. Langit berbintang mulai samar. Foto bintang jatuh yang kupegang semalam sudah hilang. Mungkin terbawa angin, atau terhisap ke pusat semesta.

Kubereskan barang-barang pinjaman Kapten, dan menaruhnya di kursi tunggu dermaga. Kuputuskan untuk menyusuri pulau kecil ini sebelum keburu siang. Tanpa diduga, Snowy ikut membuntuti hingga keluar dermaga, menapak pasir, menapak tanah, menapak rerumputan. Ia tampak riang dan sesekali mewaspadai suasana sekitar.

Aku menyusuri pulau dari arah kanan dermaga. Suasana masih senyap, bahkan ombak kecil sepanjang pesisir pun hanya mendeburkan desis pelan. Aku melewati pantai berpasir, pantai berkarang, pantai berbakau, hingga akhirnya tiba di sebuah dermaga tua.

Kukeluarkan foto keempat. Dermaga ini pendek saja, kayu-kayunya masih kokoh, namun entah mengapa sudah tak digunakan. Kau memotret dermaga ini sebelum matahari terbit, sehingga nuansanya terlihat magis. Sekarang aku datang kesini ketika ufuk timur mulai merekah. Walau tetap sama-sama indah.

Perairan di sekitar dermaga tampak dangkal, jernih, dan menggoda untuk direnangi. Tanpa pikir panjang, langsung kelepaskan seluruh pakaian dan meloncat dari dermaga. Melayang di udara. Masuk ke dalam air menyegarkan. Berenang-renang sepuasnya tanpa beban. Snowy menjagai pakaianku dengan setia.

Usai mandi, aku berjemur di dermaga tua itu. Sinar mentari pagi terasa hangat di kelopak mata yang terpejam, dan terasa nyaman di seluruh permukaan tubuh yang basah. Pikiranku langsung melayang pada dry bag yang hanyut kemarin, dan betapa aku masih yakin jika segala barang di dalamnya masih kering kerontang hingga saat ini. Ada dompet buluk itu, oh betapa kau membenci dompetku itu. Ada ponsel lokal tahan banting yang selalu kubawa kemanapun jika sedang berpergian ke alam bebas. Ada kamera saku tahan air hadiah darimu yang kartu memorinya sudah kukosongkan malam sebelum berangkat. Ada sehelai kaus ganti dan sebuah sikat gigi. Ada charger ponsel dan kamera. Ada rokok dan pemantiknya. Mereka semua tentu sedang berdesakan nyaman dalam lindungan dry bag-mu. Mereka kini tengah melarung lautan. Bagai pesan dalam botol. Bagai kode pada semesta bahwa kukirim rindu buatmu.

Dan bintang jatuh semalam seakan kode balasan darimu.

Ada setitik hangat dalam dada yang terasa melegakan. Tiada lagi sesak telah kehilangan benda-benda yang selama ini menghubungkan kau dan aku. Kejadian kemarin (astaga, rasanya sudah lama sekali terjadi) bagai terapi mujarab buatku. Bukan tentang sesuatu yang hilang, tapi tentang keikhlasan melepas pergi.

Kutinggalkan fotomu yang keempat di salah satu sudut dermaga. Agar fotomu tak terbang, di atasnya kutaruh sehelai daun kuning kering dan seekor bintang laut biru yang tampaknya belum lama mati.

 

5

Foto terakhir adalah teh tubruk dalam gelas belimbing. Minuman kesukaanmu.

Usai mengelilingi pulau, aku pun lekas kembali ke dermaga. Semalam Kapten berpesan jika aku mau ikut menumpang pulang ke kota, maka aku harus siap berangkat dengan kapal pertama di pagi hari.

Snowy seperti mengendus bahwa aku akan segera pergi meninggalkannya. Ekornya kembali terkulai, dan ia tak mau membuntutiku lagi keluar dermaga. Bahkan ketika aku harus kembali ke rumah Kapten untuk mengembalikan barang-barang pinjaman semalam.

Aku menatap Snowy dengan masygul. Jika dibawa ke kota, hendak dimana ia dititipkan? Tempat kost tak mengizinkan penghuni membawa hewan peliharaan. Rumah teman? Adakah yang mau menerima? Aku takut Snowy malah akan terlantar pada akhirnya. Terlantar di ibukota lebih kejam daripada terlantar di pulau berpasir putih.

Akhirnya, aku beranjak ke warung nasi dekat dermaga. Mereka sudah buka, dan asap mengepul dari arah dapurnya. Sambil menyelipkan uang terakhirku, aku menitip pesan pada pemilik warung untuk memberi Snowy makanan secukupnya sesuai nilai rupiah yang diberikan. Cuma itu yang bisa kulakukan.

Ibu pemilik warung seperti terkejut, terpana sejenak. “Waktu itu ada juga yang menitipkan uang sama Ibu buat kasih makan si Snobi,” gumamnya. Ia melafalkan Snowy jadi Snobi. Tak apalah.

Kini aku yang terperanjat. Teringat dirimu. Kudeskripsikan ciri-cirimu kepada si ibu, dan beliau mengangguk-angguk. “Betul mas, iya yang kasih uang itu si mbak cantik dan suka motret. Katanya dia mau kesini lagi, tapi sudah lama juga tak muncul. Mas tahu kemana si mbak?”

Aku berceritalah tentang dirimu, tentang hobimu bepergian dan memotret. Tentang ritualmu mencetak beberapa foto pilihan dari suatu lokasi, untuk kemudian suatu saat kembali ke lokasi tersebut, dan mengembalikan foto itu pada alam, pada manusia, atau pada obyek yang ada di foto yang kau cetak.

Sayangnya kau belum sempat kembali ke pulau ini, takkan pernah lagi. Dan aku menggantikan.

Di sini, di antara kepulan asap kayu bakar dan garis-garis sinar matahari pagi yang mengintip dari dinding bambu, aku pun mengenangmu untuk terakhir kalinya di pulau ini.

Panggilan dari arah dermaga menandakan sudah saatnya kapal berangkat. Aku lekas berpamitan pada ibu pemilik warung, yang terburu-buru membungkuskan pisang goreng hangat dalam kantong kertas, dan menuangkan teh tubruk pekat ke dalam plastik bening.

Mataku tertumbuk pada sisa teh tubruk dalam gelas belimbing.

Kukeluarkan foto terakhir, dan menaruhnya di sisi gelas itu. Tanganku gemetar, tapi jiwaku terasa ringan, membumbung tinggi ke semesta.

 

TGIF (Thank God It’s Fiction) berjudul Dermaga Semesta terinspirasi dari perjalanan penulis (Taufan Gio) ke pulau Bira Besar di Kepulauan Seribu, Jakarta, dan menjalin pertemanan dengan seekor anjing dermaga bernama Snowy. Kisah ini pernah dimuat di buku antologi Singgah terbitan Gramedia Pustaka Utama, Januari 2013, dan telah mengalami sedikit penyuntingan cerita. Foto pada cover adalah dermaga di Tanjung Lesung, Banten, Mei 2015.
TGIF | Dermaga Semesta
Tagged on:

18 thoughts on “TGIF | Dermaga Semesta

      • January 21 at 04:37
        Permalink

        hahahaha klo gini hari yudi komentar lagi, makin bingung lagi kan? :))
        udah lah Kak gio, doakan saja projek yudi berhasil tahun ini. mau bawa anak istri jalan2 keluar aceh 🙂

        Reply
  • January 16 at 07:01
    Permalink

    Tadinya udah mau komen cieh cieh gimanaaa gitu. Ternyata dari antologi. :)) kece seperti biasa tulisannya.

    Reply
  • January 16 at 10:00
    Permalink

    Snowy, aku pernah tidur di dermaga di pulau Perak. malamnya ada donk kapal yang merapat dan suara guk guk berkeliaran tapi jejaknya tak tampak hihihi

    Reply
    • January 16 at 10:47
      Permalink

      Wah aku malah belum sempat ke pulau Perak, padahal dekat dari Bira Besar. Mungkin suara guk guk itu kerabatnya Snowy. Kirim salam ya kak Olive! 😉

      Reply
  • January 18 at 01:41
    Permalink

    Aku khusyuk lho nyimaknya. Makasih cerita kerennya Mas Aldi.

    Reply
    • January 18 at 22:43
      Permalink

      Trims kak Firsta. Eh tapi jangan bawa2 jabatan di sini, hahaha! 😉

      Di dunia nyata, Snowy sudah tiada 🙁

      Reply
  • January 19 at 06:21
    Permalink

    Wah keren mas ceritanya,,,, eh ternyata terombang ambing dalam lautan itu masih juga bisa merasakan lapar yaw mas? tak kira udah lupa sama laparnya ew,,,, hehehehe. Aku tak ikutan nyebut Snobi aja ah kak Gio, kayaknya lebih kece aja 🙂

    Reply
    • January 19 at 12:39
      Permalink

      Trims, mas Anis! Pada saat terombang-ambing di laut pasti lupa sama lapar. Tapi biasanya setelah di dermaga dan suasana tenang, biasanya si lapar datang lagi 😉

      Wah benar juga, Snobi terdengar lebih renyah ya, dan mudah diucapkan 🙂

      Reply
  • January 22 at 13:38
    Permalink

    Hati mu jangan kau masukan juga ke dry bag, biarkan ada yg mengisi kekosongan itu

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *