Disgiovery.com

GEMPA Nepal 7,9 SR baru saja terjadi siang ini (Sabtu, 25 April 2015). Teman saya baru saja berangkat kemarin hendak bertualang seorang diri menjelajah negeri tsb.  Tanpa diduga hari ini bumi mengguncang tanah seribu dewa tsb, mengantar getarannya hingga tanah Hindustan, mengembus berita ke mancanegara, menjamah gawai yang terhubung dengan dunia maya.

Sambil menyimak perkembangan berita di linimasa, saya coba kontak teman saya tsb.  Ia belum bisa dihubungi.  Namun saya masih punya keyakinan bahwa ia baik-baik saja karena jadwalnya adalah transit sehari di Bangkok.  Kecuali jika ia diam-diam mengubah jadwal dan langsung terbang ke Kathmandu.

***

Saya punya kekaguman pada seorang pewarta foto spesialis perang & bencana, James Nachtwey.  Hasil karyanya muram, tajam, sebagian besar hitam putih, dan ia masih kerap menggunakan kamera analog (mungkin saja dengan rol film isi 24 atau 36 bonus 2). Setiap melihat foto-fotonya selalu saja membuat saya terkesima, tak bisa mengalihkan pandangan selain terbawa suasana suram.

Dahulu saya selalu berpikir betapa cepat ia tanggap pada situasi yang terjadi, di mana dirinya selalu berada di medan pertempuran terkini. Pastilah ia mempunyai jaringan luas dan tiket pesawat yang siap sedia kapanpun kemanapun.

Tetapi setelah menonton film dokumenter War Photographer (besutan Christian Frei, 2001), sebagian besar pemikiran saya ternyata keliru.  James Nachtwey bilang, kebanyakan ia berada di tempat yang salah dan waktu yang salah.  Di mana ia berada, tiba-tiba saja bisa terjadi kejadian besar seperti kerusuhan atau perang.  Seakan-akan kutukan, hal-hal seperti itu kerap membuntutinya.  Namun ia berhasil mengubah paradigma itu menjadi suatu karya yang betul dan jujur.

james nachtwey
[Photo by James Nachtwey]

“I have been a witness, and these pictures are my testimony. The events I have recorded should not be forgotten and must not be repeated.”
James Nachtwey

Lantas apa hubungannya James Nachtwey dengan teman saya?

Tragedi bom Bali,
bencana tsunami Aceh (dan Phuket),
gempa Jogja,
letusan gunung Merapi,
letusan gunung Sangeang,
hingga terakhir gempa Nepal.

Seperti James Nachtwey yang selalu dibuntuti perang, teman saya hampir selalu dibuntuti bencana alam (OK, bom Bali bukan bencana alam, but my friend was also there).  Tentu tidak semua perjalanannya selama ini mengalami bencana, akan tetapi hampir semua kejadian besar yang terjadi pasti ‘melibatkan’ ia di dalamnya.  Baik yang dialami langsung di depan mata, berada di dekat lokasi kejadian, atau terjadi ketika ia akan/sedang dalam perjalanan menuju ke sana.

Bad luck?

Saya kira semestinya tidak.

***

Lega, ternyata teman saya masih di Bangkok.  Butuh waktu baginya untuk menjawab semua pesan dan panggilan yang masuk, semuanya kuatir akan kondisinya yang dikira sudah berada di Kathmandu.

“Lo masih inget beberapa hari lalu gw bilang apa? Kenapa tiap gw jalan buat liburan panjang, selalu ada bencana. Dan itu kejadian lagi hari ini.”  Teman saya masygul di Bangkok.

Lalu saya kisahkan padanya tentang James Nachtwey.  Kebetulan teman saya juga gemar dengan foto jurnalisme.  Dari beberapa lokasi bencana di mana ia berada, dirinya pasti langsung memboyong kamera daripada mengemas barang dan pergi menjauh.  Saya bilang, mungkin ini pertanda bahwa ia sebaiknya menekuni foto jurnalisme bencana.  Sebuah foto yang ia ambil dari lokasi gempa Jogja berhasil dilelang senilai 7 juta rupiah dan ia sumbangkan sepenuhnya untuk para korban.

gempa jogja
[Photo by my friend]

Tapi rumusannya tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan.  Teman saya masih punya pertimbangan lain yang membuatnya tak bisa memutuskan untuk terjun total sebagai pewarta foto spesialisasi bencana.  Karirnya sendiri saat ini bagi saya sudah istimewa, dan fotografi hanyalah hobi yang ia lakukan di waktu senggang.

Menjadi pewarta foto, di luar keahlian dan kemampuan, memang memerlukan mental dan nyali yang kuat.  Secara pribadi saya melihat James Nachtwey adalah seorang yang penyendiri dan pemurung, mungkin sudah begitu banyak penderitaan yang ia lihat langsung di depan mata.  Termasuk menghadapi tudingan bahwa pewarta foto mengambil keuntungan dari musibah orang lain.

“Every minute I was there, I wanted to flee.
I did not want to see this.
Would I cut and run, or would I deal with
the responsibility of being there with a camera.”
James Nachtwey

Tak ada yang tahu, bahkan teman saya sendiri belum memutuskan apakah ia akan tetap berangkat ke Nepal atau tidak. Tapi kameranya sudah siap, dan naluri pewarta fotonya sudah membuncah.

We’ll see.

 

Disgiovery yours!

 

Update news:

27 April 2015, teman saya akhirnya memutuskan pulang ke Jakarta. Bertutur kembali ia tentang ‘kejadian-kejadian besar’ yang kerap menimpa dirinya, betapa sebenarnya ada rahasia besar semesta yang belum mampu ia tangkap, dan saya membesarkan hati dengan bilang, “Jika lo gak bisa jadi pewarta foto, setidaknya lo bisa bantu di bidang sosial.”

29 April 2015, teman saya dipercaya membuat gerakan amal oleh sang boss, berupa gerakan sosial lintas batas, suku, dan agama.  Salah satunya dipicu oleh tulisan saya di blog ini.  Semesta berkonspirasi. Ya, saya percaya!

Teman Saya – Traveling – Bencana Alam
Tagged on:         

16 thoughts on “Teman Saya – Traveling – Bencana Alam

  • April 26 at 09:00
    Permalink

    Syukurlah kalau teman Mas selamat, tidak kurang suatu apa. Semoga selalu selamat dan bisa terus menginspirasi :)).
    Hm, berada di tempat yang salah pada saat yang salah… dan memang, kalau mau dipandang dari sisi yang berbeda, semua kata “salah” itu bisa jadi benar, ya. Hehe.

    Reply
  • April 27 at 08:10
    Permalink

    Kemarin diguncang gempa lagi Nepal, 6.7SR. Teman saya yang tinggal di Negara tetangga (Bangladesh) kemarin bilang. Semoga itu bencana yang terakhir…

    Reply
  • April 28 at 10:01
    Permalink

    Ini kayak pengalamannya siapa ya? hehehe.
    Tp di balik semua yang gw alami, gw merasa jadi orang yg paling beruntung, bisa “menikmati” semua itu.
    Kalo disuruh jd fotografer jurnalis bencana alam, kayaknya mikir ribuan kali ya hehehe, seperti yg dibilang James: mungjin gw cuma berada di tempat dan waktu yang salah..
    Utk masuk ke area itu butuh mental yang kuat, selain ada pertentangan bathin, kita juga was was krn ada bencana susulan, apalagi kondisi sekeliling kita yang sudah hancur berantakan..
    Gak siap-nya lebih ke arah morality sih..kan niat awalnya kita mau fun and relax..hehehe

    Tp ya itulah..life is always unexpected.
    Gak kapok jalan-jalan bareng gw kan ?
    :p

    Reply
  • April 29 at 11:48
    Permalink

    OK fixed! Aku gak mau traveling bareng mas Ar*** hahahaha 😀

    Reply
  • May 18 at 21:39
    Permalink

    Jadi ingat pada saat taifun di Filipin beberapa tahun silam, pada saat itu beberapa penerbangan sempat dicancel dari dan ke luar manila karena angin sempat mencapai kawasan dekat manila, dan saat itu saya disana, saya sempat bingung, hampir saja saya ngga berani pulang karena masih terdengar berita tentang taifun itu, dan alhamdulillah, akhirnya saya pulang dengan selamat 🙁

    Reply
    • May 19 at 12:43
      Permalink

      Syukur bisa pulang kembali dengan selamat. Btw bagaimana penerbangan pulangnya, kena turbulence-kah?

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *