Venesia cover

Disgiovery.com | SEPERTI buah simalakama. Tak diinginkan, tapi tak terelakkan. Namun begitulah memendam rasa, kadang tak berguna tapi kadang dibutuhkan. Entah untuk alasan apa, semua itu kini terjadi di antara kita.

Aku duduk di pojok sebuah café di Area Piazza San Marco. Kucermati foto-foto di kamera yang baru saja merekam keindahan pagi di salah satu kota tercantik di dunia, Venesia. Venesia (atau Venice) bukanlah kota biasa, karena ia merupakan kumpulan 117 pulau kecil, lebih dari 170 kanal, serta ratusan jembatan antar pulau. Struktur bangunan bergaya Byzantium dengan café-café ala renaissance berjejer rapi memenuhi sisi pulau. Kota ini sarat sejarah, Marco Polo memulai lawatannya ke Timur Jauh dari kota ini.  Cassanova mengukir kisah percintaannya di sini.  Dinding & labirin kota adalah saksi bisu yang tak terkikis zaman.

Venesia 01

Baru saja kuberanjak dari kursi ketika terdengar bunyi notifikasi di ponsel.  Sebuah pesan masuk.  Singkat saja:

Are you still angry with me?

***

Sendirian menyusuri Doge Plaza, di tengah keramaian turis yang memberi makan  merpati liar.  Tak kubalas pesan darimu.  Sekilas teringat kejadian 3 hari sebelumnya ketika kau menyalahkanku atas hal-hal (yang menurutku) sangat sepele.  Kami sama-sama keras kepala.

Venesia 03

Aku terus menyusuri gang kecil berliku, melewati jembatan-jembatan.  Matahari tertutup awan, angin dingin berembus, dan aku memegang peta yang menuntunku ke tujuan berikutnya, Rialto Bridge.

Dari Rialto Bridge ini aku bisa menikmati indahnya Grand Canal bak lukisan dengan aksentuasi gondolanya. Sekelebat aku teringat adegan film The Tourist-nya Angelina Jolie & Johnny Depp yang berlokasi di tempat ini.  Tepat di bawah jembatan tampak berjajar rapi café dengan nuansa warna kecoklatan.  Sesekali gondola dan vaporetto (bus air) berseliweran mengangkut para turis. Dalam perjalanan kembali ke Piazza San Marco aku putuskan untuk menaiki gondola. Sebuah gondola berukuran cukup panjang (5 s/d 7 meter), mayoritas berwarna hitam dengan hiasan bunga-bunga di kursinya, terlihat seperti diperuntukkan bagi pasangan bulan madu.  Dan aku sendirian.

Venesia 05

Beberapa gondola yang kutemui membawa pasangan yang berpegangan tangan dan tertawa bahagia ditambah dengan alunan suara gondolier (orang yang membawa gondola) menyanyikan lagu-lagu romantis di sepanjang jalan.

Tiba-tiba ku teringat dirimu.

Aku berusaha menenangkan hati dengan kamera. Bau sungai terkadang menyengat,  memaksaku untuk menutup hidung. 10 menit berlalu, aku kembali berpapasan dengan gondola lain. Kali ini membawa pasangan yang sedang berciuman, lewat begitu saja sementara aku terduduk diam sambil memalingkan kepala.  Mungkin sungkan, atau mungkin tertohok. Sial!

Kudengar gondolier lain menyanyikan lagu Besame Mucho. Suaranya terdengar lamat-lamat bersama angin dingin. Aku menengadah ke atas, matahari masih tertutup awan, membentuk sebuah siluet abstrak nan indah, sebagian sinarnya menyeruak ke labirin sungai yang berwarna kehijauan, dan di atas jembatan tampak pasangan tua yang sedang berangkulan. Seketika aku merasakan aura romantisme di kota ini. Harus kuakui, ini sungguh suatu sore yang cantik.

Venesia 06

Kembali ke Piazza San Marco, orang-orang semakin ramai. Beberapa burung camar terbang melewati sisi tiang-tiang di Doge Plaza. Beberapa turis India terdengar berteriak-teriak memanggil sebuah nama ketika aku melewati Gereja Basilica.

Dan inginku berteriak memanggil namamu.

***

Malam harinya Venesia meredup, berganti dengan hiasan lampu berwarna warni.  Aku berhenti di sebuah kanal kecil yang sepi. Pantulan lampu di aliran sungai seakan membentuk suatu tarian yang magis. Ingatanku kembali padamu. Entah apa yang sedang kau lakukan di sebuah tempat berjarak ribuan kilometer dari tempatku berdiri sekarang. Kuambil ponsel dari dalam tas, jam menunjukkan pukul 9 malam, berarti jam 3 pagi waktu Jakarta.

Tidak ada pesan masuk yang baru.

Seharusnya akulah yang mengirimkan jawaban atas pertanyaanmu tadi siang. Namun aku ragu, egoku mulai meracuni otak untuk tidak menjawab pesan.

Venesia 08

Aku kembali mengedarkan pandangan di seputar kanal. Sepi namun indah. Tiba-tiba aku merasa dirimu ada di dekatku sekarang, bergandengan tangan menikmati kesunyian seperti yang biasa kita lakukan. Angin dingin memaksaku untuk beranjak kembali ke hotel. 

I wish you were here.

***

Pagi tertutup kabut. Setengah berlari aku bergegas menenteng ransel kameraku menuju pinggiran Doge Plaza. Saat terbaik mengambil foto di Venesia adalah pagi hari, dimana para turis belum memadati seluruh area yang ada dan café-café pun belum buka. Aku mengabadikan deretan gondola yang terparkir rapi dengan latar belakang langit yang mulai kebiruan. Namun ternyata aku tidak sendiri, terlihat beberapa pasangan juga ikut menikmati golden moment ini.

Kabut yang beranjak naik menampakkan pemandangan luar biasa. Beberapa pasangan yang kutemui tampak bergandengan tangan dan berpelukan menikmati pemandangan. God, kenapa aku harus bertemu dengan pasangan-pasangan ini? Sebuah siksaan. Jangan-jangan memang aku yang salah. Seharusnya aku memang jangan pernah mengunjungi kota ini, sendirian. Jangan pernah.

Venesia 09

Aku teringat ucapan beberapa orang yang bilang bahwa Paris adalah Kota Cinta. Namun di Venesia kutemukan banyak cinta menyatu dengan indahnya bangunan klasik, gondola, udara sejuk, serta bunyi riak air di tepian kota.

Akhirnya kududuk di deretan bangku kosong di pinggir pulau, berusaha merekam dan menikmati semua yang ada di depanku TANPA kamera. Sinar matahari yang tertutup kabut masih bisa menghasilkan warna keemasan di pinggiran pulau, beautiful.

When a man loves a woman

Can’t keep his mind on nothing else

He’d trade the world

For the good thing he’s found

Pelan terdengar lagu ini dari samping kananku, kulihat seorang gondolier menyanyikan lagu ini sambil mengayuh gondolanya menyusuri kanal.

Venesia 10

Ingin rasanya berbagi apa yang kulihat saat ini padamu. Ingin rasanya kau menikmati apa yang sedang kunikmati saat ini. Ingin rasanya semua keindahan ini mematahkan semua ego yang ada. Ingin rasanya kita hanya duduk diam. Hanya diam sambil berpeluk mesra.

Entah bagaimana perasaanmu saat ini.

Aku menikmati keheninganku.  Bahwa cinta ternyata bergerak dalam keheningan, ia bergelora, membara, menyala, tanpa kata, merasuk dalam jiwa. Seperti cinta kita yang terus berdenyut, bertualang melintas negara, benua dan samudera.

Lekas kubuka ransel, mengambil ponsel untuk mengirimkan sebuah pesan singkat yang sangat ingin kukirimkan sejak awal tiba di kota ini. Venesia telah berhasil mematahkan ego-ku, menyadarkan kembali  bahwa aku tidak bisa lepas dari cinta.

I miss you so much.

Venesia 11

***

About the guest writer/photographer:

Profile

Ramadhy adalah seorang pencandu kopi. Kesehariannya bekerja dalam bidang IT tak pernah lepas dari sesap kopi (“Saya suka jenis kopi apapun.”). Hobinya dalam hal fotografi & traveling dipicu sejak sering melakukan perjalanan dinas keluar kota.

Contact: Ramadhian123@gmail.com

Suatu Hari Romantis Di Venesia Dan Aku Kesepian
Tagged on:

16 thoughts on “Suatu Hari Romantis Di Venesia Dan Aku Kesepian

  • February 16 at 18:12
    Permalink

    Ah banyak cinta menyatu jadi hangat nich hehehe, tapi aku suka semua foto nya sangat bernyata 🙂

    Reply
  • February 18 at 09:20
    Permalink

    Kapan yah eke bisa ke sonohhh…

    Reply
  • February 19 at 08:09
    Permalink

    Romantis, semakin jauh pergi semakin mendekat rindu uu. fotonya gila-gila 😀

    Reply
  • February 19 at 22:27
    Permalink

    gue dah mau sirik aja ngeliat bang bajai dah nyampe Venesia duluan 😀

    Reply
  • June 26 at 15:09
    Permalink

    naksir fotonya. apalagi kalo beneran ke sana nih, nggak mau mau pulang kayaknya.

    Reply
  • January 27 at 11:16
    Permalink

    Venice emang romantis banget. Walo pas kesana bareng partner…yeahh partner jojoba juga hehehe..tpi kita gak sedih karena ajibb tukang dorong gerobak yang suka teriakan di jalan kecil dan lorong-lorong Venice “Attentione.! Attentione!” ituh ganteng-ganteng abiss. Trus kita kenalan and foto bareng sama waitress ganteng. Kayanya klo dibawa ke Indonesia udah laris buat main sinetron tuh si Abang gerobak..eehehehe

    Reply
  • February 2 at 21:57
    Permalink

    Langsung keinget film Chasing Liberty..
    Kayaknya bakal menuruti saran di tulisan ini, jangan pernah ke sana sendirian, daripada merana hahaha

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *