Disgiovery.com

BAGAI melacak jejak ke masa lalu. Pengalaman yang mendebarkan. Semesta saya berjalan paralel: jalan, rumah, pohon, tiang yang saya lihat kini sedang porak poranda dalam terjangan tsunami. Gang yang kami lewati mungkin sempat terbenam sekian meter, menjadikannya palung laut dengan puing-puing. Warung mungil itu mungkin dulunya rumah kecil yang hancur terseret gelombang. Adik kecil itu mungkin belum lahir tapi kulihat kakaknya sedang berjuang hidup dalam terjangan lumpur hitam.

26 Desember 2004 ialah kali pertama saya menitikkan airmata oleh tayangan berita. Bumi Serambi Mekkah porak poranda diguncang gempa dan diterjang tsunami. Lagu klasik ‘Badai Pasti Berlalu’ menjadi lagu tema di Metro TV tiap menayangkan kabar terkini, membangkitkan pilu dan duka tiap mendengarnya.

11 tahun berlalu dan saya akhirnya punya kesempatan untuk menyusuri apa yang tersisa di beberapa situs tsunami Aceh.

 

Situs Tsunami Kapal KPLP Malahayati, desa Punge Blang Cut

“Sudah sampai, Bang!”

Yudi menghentikan laju motornya. Kami baru saja bertemu di acara Aceh Blogger Gathering beberapa hari lalu dan kini ia dan anaknya yang masih balita sudah sukarela mengantar saya berpusing-pusing mencari lokasi. Kepala saya yang terbungkus helm dan menghadap ke kiri cuma bisa melihat deretan rumah di dalam gang. Tapi ketika saya menoleh ke kanan, Allahu Akbar, ada dua buah kapal teronggok tak jauh di hadapan!

Saya tak pernah mengetahui keberadaan situs ini sebelumnya. Padahal lokasinya tak jauh (sekitar 500 meter) dari situs tsunami PLTD Apung yang terkenal. Kedua kapal kecil di situs ini berada di sebuah lapangan komplek perumahan penduduk desa Punge Blang Cut, Banda Aceh. Sebuah kapal bernomor KN 328 teronggok miring 45 derajat, buritannya bahkan hampir menutupi badan jalan. Sebuah kapal lainnya bahkan nyaris tertutup belukar. Dua orang anak tampak sedang bermain di geladak kapal yang paling besar. Entah mengapa saya tak berani menaiki tangga. Seakan takut disergap imajinasi brutal akan peristiwa itu.

Situs tsunami Aceh yang ini tampak sedikit terbengkalai. Perawatan hanya berdasarkan donasi sukarela pengunjung. Konon kabarnya pemerintah sempat hendak memindahkan bangkai kapal ini namun penduduk setempat menolak karena hendak menjadikannya situs peninggalan tsunami. Tak banyak kisah yang bisa digali dari terdamparnya kedua kapal kecuali bahwa dahulu merupakan kapal patroli milik Adpel Kesatuan Pengamanan Laut dan Pantai (KPLP) Malahayati.

Seorang bapak tua duduk mencangklong di teras rumah yang menghadap kapal. Mungkin ia punya cerita, tapi saya tak ingin ganggu kopi paginya. Seulas senyum dan kami pun berlalu meninggalkan teritorinya.

situs-tsunami-aceh-KPLP situs-tsunami-aceh-KPLP situs-tsunami-aceh-KPLP situs-tsunami-aceh-KPLP

Situs Tsunami Kapal Lampulo, gampong Lampulo, Kuta Alam

Jika di situs sebelumnya berupa kapal yang teronggok di lapangan, maka di situs tsunami Lampulo ini berwujud kapal kayu yang terdampar di atap rumah. Kapal nelayan ini kabarnya berasal dari pelabuhan Lampulo, sempat terombang-ambing gelombang sebelum akhirnya tersangkut dan menyelamatkan 59 nyawa yang naik ke atasnya.

Kini badan kapal bagai menjadi atap, sedangkan kerangka rumah yang tersisa dibiarkan terbuka, menampakkan beberapa ruangan yang terkunci oleh teralis besi. Bekas ruangan kamar mandi masih menampakkan bathtub yang berlumut dan terisi air. Lantai dua kini dijadikan galeri foto tsunami. Pada masa itu ruangan ini terendam hingga mencapai ketinggian dagu orang dewasa. Nafas saya memburu dalam keheningan ruang, tiap foto membawa saya pada momen bencana.

Situs ini sudah tertata rapi dan kini sudah dibangun semacam teater terbuka di pekarangannya, mungkin digunakan untuk acara-acara khusus. Pada saat itu rombongan turis negeri jiran tampak sedang duduk-duduk mendengarkan cerita kesaksian korban tsunami yang selamat. Tapi saya lebih memilih menyusuri akses jalan melingkar di belakang teater yang menuju geladak kapal di atas rumah. Pengunjung memang dilarang menaiki kapal, tapi cukup bagi saya untuk mengambil gambar dari dekat, dan membayangkan reka adegan bagaimana 59 orang tsb bertahan hidup di atas kapal.

Berhubung waktu yang terbatas, saya tak sempat mendengarkan lebih jauh kisah para survivor. Semoga ada kesempatan lain kali.

situs-tsunami-aceh-kapal-lampulo situs-tsunami-aceh-kapal-lampulo situs-tsunami-aceh-kapal-lampulo Situs-Tsunami-Aceh-kapal-Lampulo-museum

 

Situs Tsunami PLTD Apung, desa Punge Blang Cut

Adalah kebesaran yang tragis. Kapal apung PLTD ini sungguh besar, bisa dibilang raksasa dengan bobot 2.600 ton. Kedahsyatan tsunami menyeretnya ke daratan hingga sejauh 5 kilometer dari lokasi tambatannya di kawasan Pantai Ulhe Lheu, Banda Aceh. Tak terbayang berapa banyak bangunan, kendaraan, dan manusia-manusia yang mungkin tergilas rata oleh bobot tubuhnya.

Ada rasa takjub ketika saya melihat sosoknya untuk kali pertama. Tak percaya bisa menapak naik ke atasnya. Naik kapal laut di tengah daratan, aneh tapi nyata.

“Beruntung museum sedang dibuka,” ujar Yudi mendahului masuk ke dalam kapal. Saya terperanjat sejenak. Olala, ternyata di dalam kapal sudah dirombak menjadi museum megah yang sejuk berpendingin udara. Museum Kapal Apung PLTD Apung I ini baru diresmikan pada 14 September 2015 lalu. Museum ini bisa dibilang modern dengan panel-panel kaca dan layar-layar monitor menampilkan tayangan multimedia yang berhubungan dengan tsunami. Dominasi warna kuning tampak mencerahkan, tampak kontras dengan nuansa gloomy yang muncul di display museum.

Keluar dari ruangan museum, kami kembali menapaki anak tangga menuju bagian atas kapal. Angin lebih deras di sini, seakan lokasi yang tepat untukmu mendaras doa. Walaupun di sekitar saya banyak orang, tapi terasa kehampaan yang menekan. Entahlah, atau mungkin kesedihan?

“Sudah, Bang?” tanya Yudi memecah keheningan. Kami sedang bersiap meninggalkan lokasi. Saya mengangguk. Sesuatu yang menggantung di kalimat Yudi membuat saya penasaran. “Memang kenapa?”

Yudi pun bercerita jika masih banyak jasad manusia di bawah kapal apung yang tak mungkin di-evakuasi.

Saya mengangguk dalam diam. Entah bagaimana saya sudah bisa menebaknya.

situs-tsunami-aceh-kapal-apung-pltd situs-tsunami-aceh-kapal-apung-pltd situs-tsunami-aceh-kapal-apung-pltd situs-tsunami-aceh-kapal-apung-pltd situs-tsunami-aceh-kapal-apung-pltd

Apapun itu, saya bersyukur diberi kesempatan mendatangi langsung situs tsunami Aceh. Sesuatu untuk diingat sekaligus mengingatkan manusia akan dahsyatnya bencana alam dan besarnya kuasa Tuhan.

 

Disgiovery yours!

 

Catatan pejalan:

– seluruh situs tsunami Aceh di atas tak memungut biaya tiket masuk (kecuali donasi sukarela)
– jangan lupa berdoa untuk para korban tsunami ataupun keluarga yang ditinggalkan
– walaupun teman saya Yudi bukan guide, tapi kamu bisa temui dia di hikayatbanda.com buat cari tahu lebih jauh tentang situs tsunami ataupun atraksi menarikΒ lain di Aceh

Menjelajah Situs Tsunami Aceh
Tagged on:                     

13 thoughts on “Menjelajah Situs Tsunami Aceh

  • February 1 at 07:35
    Permalink

    Semoga pemerintah setempat dapat bekerjasama dengan warga agar tempat tersebut benar-benar dijadikan sebuah situs. Sehingga para pengunjung akan tahu betapa dahsyatnya tsunami tahun 2004.

    Reply
    • February 1 at 09:54
      Permalink

      Aamin! Semoga dapat menjadi situs pengingat kekuatan alam supaya manusia lebih dapat mawas diri dan belajar dari hikmah..

      Reply
  • February 1 at 09:01
    Permalink

    Iya ya, bener banget, besar kemungkinan ada jenazah di bawah kapal gede itu. Piuh, ngebayangin betapa besarnya tsunami saat itu bikin ngeri.

    P.S : Bang Yudi, esok-esok gantian aku yang diajakin ke sana ya πŸ™‚

    Reply
    • February 1 at 09:56
      Permalink

      Kita memang musti berada sendiri di lokasi untuk merasakan dampak kedahsyatan tsunami tsb

      P.S: Bang Yudi, kopi sanger udah habis nih.. #eh πŸ˜‰

      Reply
  • February 1 at 10:43
    Permalink

    Ooh No!.. Not sanger anymore huhuhu

    Kereen ceritanya yang g keren model kacamata di dalam.museum tsunami huhuhu

    Reply
    • February 1 at 11:30
      Permalink

      Hehehe model kacamata klasik cocok untuk segala zaman πŸ˜‰

      *sambil nyeruput sanger panas
      *teteup

      Reply
  • February 1 at 11:23
    Permalink

    kadang kalo inget tragedi tsunami di aceh suka gmn ya.. sedih bgt pokoknya

    Reply
    • February 1 at 11:30
      Permalink

      Manusiawi kalau sedih, karena bencana alam yang ini makan korban banyak banget πŸ™

      Reply
  • February 1 at 17:15
    Permalink

    yang mau di guide-in sama empunya hikayatbanda.com boleh kok hihihi πŸ˜€

    numpang promo ya Kang hahaha

    Reply
  • Pingback: 7 Fakta Tentang BTJ, Bandar Udara Iskandar Muda, Aceh. | ElisabethAnggia.com

  • June 16 at 04:16
    Permalink

    sekarang, kapal KPLP itu sudah mulai terlihat lebih baik Kang.. sudah diurus oleh pemerintah πŸ˜€

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *