Saya sudah menginap di rumah ibu Canderi sejak 2007.  Kali pertama karena mengikuti rekomendasi teman, dan saya langsung jatuh suka.  Rumah singgah Canderi yang merangkap rumah makan ini berlokasi di pusat kota Ubud, di jalan Monkey Forest nomor 4, sekitar setengah menit berjalan kaki dari pasar seni, atau lima menit jika kau ke ATM BCA dulu, atau lima belas menit jika kau memutuskan ikut antri di kedai es krim Gelato (yang kebetulan adalah usaha milik salah satu putra ibu Canderi).

Seperti halnya rumah adat khas Bali, ibu Canderi & keluarga tinggal di dalam sebuah komplek mungil yang terdiri atas beberapa pondok/bangunan.  Nuansa merah bata melingkupi hampir semua bangunan, lengkap dengan ukiran dan ornamen etnis lainnya.  Bagian depan adalah pondok dengan teras terbuka bagi tamu-tamu restoran.  Lalu ada pula pondok penghuni (pawongan), sepetak taman dan pepohonan (palemahan), dan pekarangan khusus untuk tempat sembahyang (parahyangan).  Ketiga unsur tersebut dalam filosofi masyarakat Bali biasa disebut Tri Hita Karana.

Tamu-tamu homestay ditempatkan di bangunan paling belakang (dan sepertinya gedung ini memang dibangun belakangan karena berbeda nuansa).  Bangunan ini bertembok batako dan diplester putih polos, hampir mirip dengan kamar kost-kost-an bertarif 1 jutaan di Jakarta.  Bedanya, kamar di sini luas, ranjangnya luas, kamar mandinya luas, ada bathtub pula.  Walaupun tanpa unit pendingin udara, namun saya tidak pernah merasa kepanasan di sini.

Saya paling suka menginap di kamar lantai 2, paling ujung, paling tersembunyi.  Paling nikmat leyeh-leyeh di teras kamar sambil menatap pucuk-pucuk pondok beratap ijuk hitam dan  memandang angkasa biru berkapas-kapas putih cemerlang.  Jika membawa teropong atau kamera dengan zoom-in berkali lipat, kau pun bisa mengintip sekilas kesibukan di pasar seni.  Atau tutup mata saja dan merasakan angin sepoi-sepoi menyapu wajah ditingkahi bunyi serangga yang selalu berderik-derik tanpa mengenal siang atau malam.

Ciri khas menginap di Canderi adalah pilihan kamar sesuka hati.  Selama masih ada kamar-kamar kosong, kita bebas memilih mau tidur sendirian saja atau beramai-ramai.  Tarif tetap sama, masih dibawah Rp. 100 ribu per orang per malam (masih bonus diskon pula).  Termasuk sarapan.  Bebas waktu check-out.

Tak heran, berlibur ke Ubud serasa berkunjung ke rumah nenek.  Pagi-pagi kami sudah disuguhi sarapan lezat dengan 3 pilihan menu: jackfruit pancake, pineapple pancake, atau french toast.  Semua disajikan lengkap dengan irisan buah tropis segar, dan pilihan teh atau kopi.  Enak-enak kok!  Jika ingin variasi, kita bisa memesan hidangan yang lain dari menu restoran (tentunya berbayar :)).  Rekomendasi saya coba mie goreng atau sup krim ayam.

Sambil menikmati sarapan kita bisa melihat kegiatan rutin ibu Canderi.  Setiap pagi, setiap hari, sepanjang tahun, beliau selalu menyediakan sekitar 30 buah canang sari dan sesembahan lain untuk sembahyang.  Semua mangkuk tanah liat, piringan janur, alas daun pisang, aneka bunga, buah, dan kue disusun rapi.  Aneka warna dan aneka wewangian menguar.

Canang sari itu sendiri terdiri atas daun janur sebagai alas, porosan (sebentuk kecil daun janur kering yang berisi kapur putih), irisan pisang dan tebu, boreh miik (sejenis bubuk berbau wangi), kekiping (sejenis kue dari ketan yang kecil dan tipis), dan di atasnya ditabur bunga aneka rupa & warna.

Canang sari kemudian diedarkan ke segenap penjuru komplek rumah.  Dihantarkan dengan doa dan dupa.  Setiap pagi.  Setiap hari.  Sepanjang tahun.  Eksotis.  Magis.  Dan saya selalu terpesona melihatnya.

Selanjutnya ibu Canderi akan berkeliling menghampiri tamu-tamunya untuk bertukar sapa.  Jika ada waktu lebih beliau tak sungkan bercerita ngalor-ngidul, bagai nenek mendongeng kepada cucu-cucunya.  Maka dari itu sedikit banyak saya tahu riwayat hidup beliau.

Ibu Canderi yang pada tahun ini menginjak usia 78, mengelola usaha rumah singgah & rumah makan ini sejak tahun 1970.  Sang suami sudah tiada sejak tahun 1965, dengan meninggalkan 3 putra dan 1 putri.  Wanita mungil ini kemudian sempat berprofesi sebagai guru di Amlapura, sebelum akhirnya kembali ke Ubud dan memulai usaha Canderi-nya.

Sewaktu bercerita pada saya, beliau sempat menunjukkan foto sang suami yang tergantung di belakang meja kasir.  Walaupun suaranya lemah lembut, tapi matanya berbinar-binar setiap menyebut nama suaminya.  Ah, talking about everlasting love.

Mungkin romantisme Ubud-lah yang membuat setiap orang, termasuk saya, nyaman berada di sini.  Termasuk berada dekat dengan ibu Canderi dan keluarganya.  Meskipun saya juga sudah menemukan beberapa persinggahan lain yang tak kalah menariknya di seputaran Ubud, namun ada sesuatu yang selalu membuat saya kembali ke sini lagi dan lagi.  Bagai cucu yang selalu menyempatkan diri berkunjung ke rumah neneknya.  Home sweet home.

Singgahi Canderi
Tagged on:

3 thoughts on “Singgahi Canderi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *