#SemarangHebat part 1

Disgiovery.com

SEMARANG sudah saya kenal sejak kecil akibat gemar membaca buku petualangan Si Noni karya Bung Smas. Meskipun hanya dalam imajinasi tapi saya sudah familiar dengan nama wilayah Krapyak, Karangayu, Gombel, dll seperti yang kerap tercantum dalam buku. Beberapa kali kunjungan ke kota Semarang kemudian bagai membawa saya pada nostalgia.

Awal Mei 2016 kemarin saya bersama belasan blogger Indonesia lainnya (perwakilan dari Jakarta, Bogor, Batam, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Makassar) mendapat kesempatan dari Badan Promosi Pariwisata Kota Semarang (BP2KS) untuk menjelajah Semarang. Fam trip bertagar #SemarangHebat ini mencakup kegiatan kuliner, seni budaya, heritage, hingga adventure. Walau mungkin imajinasi masa kecil saya akan kota Semarang kini sudah mengalami banyak perubahan, namun semangat ‘mbolang’ Si Noni seakan turut menyertai.

Soto Ayam Khas Semarang Pak Man

Apa faedahnya nasi dicampur soto dalam satu mangkuk?

Demikian ungkapan hati saya ketika pertama menghadapi kenyataan bahwa ada sajian soto yang dicampur nasi dalam mangkuk yang sama. Tapi itu dulu. Kini saya sudah membiasakan diri, contohnya tatkala menyantap menu sarapan di soto ayam Pak ManΒ (Jl. Pamularsih Raya No.32) yang legendaris.

Acara pembukaan #SemarangHebat langsung dihelat di sini. Ini agenda yang tepat bagi teman-teman yang baru mendarat di Semarang dan butuh mengisi perut. Semangkuk kecil soto bening campur nasi berisi suwiran daging ayam, bihun, seledri, tomat, ditaburi bawang goreng. Tambah sedikit perasan jeruk nipis, kecap manis, lalu siram kuah sate, mantap! Satenya ada pilihan sate kerang, sate daging, sate kulit, dll. Walau kelihatan porsi kecil, tapi ternyata cukup untuk menambal lapar tanpa membuat perut penuh.

Selain acara perkenalan antara panitia dengan peserta, saya juga sempat didapuk untuk wawancara singkat dengan radio Idola di 92.6 FM Semarang. Sayang durasi terlalu singkat, padahal saya belum lagi kirim-kirim lagu sambil titip salam :/ *disembur kuah soto*

soto ayam pak man
Penampakan soto ayam khas Semarang ala Pak Man #SemarangHebat

Klenteng Sam Poo Kong

Tiap ke Semarang pasti saya dibawa ke klenteng ini. Tapi tak apa karena selalu ada obyek baru bagi kamera saya. Para pencinta fotografi dan seni budaya tentu bakal menyukai klenteng Sam Poo Kong yang fotogenik dan penuh nuansa budaya Tiong Hoa. Jika pencahayaan tepat bahkan kau bisa mendapatkan suasana ala Tiongkok asli di depan bangunan-bangunan ini.

Bangunan inti dari klenteng ini adalah sebuah Gua Batu yang dipercaya sebagai tempat awal mendarat dan menjadi markas Laksamana Cheng Ho dan anak buahnya ketika menjejak tanah Jawa di abad XV. Gua asli sudah tertutup longsor pada tahun 1700-an, namun kemudian dibangun kembali oleh penduduk setempat sebagai penghormatan kepada Cheng Ho. Walau tak bisa masuk ke dalam gua (karena bukan jemaat), tapi saya sudah cukup puas melihat ukiran dan membaca inkripsi tentang kisah Laksamana Cheng Ho yang terpampang di sepanjang dinding luar gua.

klenteng-sam-poo-kong
Sibuk beraksi di klenteng Sam Poo Kong #SemarangHebat

Bandeng Juwana

Bisa dibilang inilah pusat oleh-oleh khas Semarang (lokasi di Jl. Pandanaran No. 57). Jika pada kunjungan-kunjungan sebelumnya saya hanya sampai di lantai dasar, kali ini kami dibawa ke lantai atas yang mana adalah lokasi warung makan Bandeng Juwana dengan aneka hidangan olahan bandengnya.

Makan lagi?

Bukan, hanya icip-icip saja sekalian food photo session ala-ala. Di antara sekian banyak menu terhidang (tongseng, pepes, garang asem, dll), favorit saya cuma nasi bakar bandeng. Dan nasi goreng bandeng. Dan otak-otak bandeng. Dan bandeng presto goreng. Lho kok banyak? Karena memang hanya itulah yang sempat saya cicipi. Hidangan lain terpaksa dilewatkan karena beberapa di antara kami harus segera beranjak ke masjid untuk ibadah shalat Jumat.

bandeng-juwana
Aneka olahan Bandeng Juwana #SemarangHebat

Masjid Ki Ageng Pandanaran

Dengan dikawal mobil polisi wisata berwarna orens, kami bergerak meliuk-liuk di jalan perumahan yang menanjak. Masjid Ki Ageng Pandanaran tampak mencolok di sisi jalan Mugas Dalam II No. 4 dengan nuansa bangunan berwarna hijau muda dan anak tangga dengan sentuhan terracotta. Masjid klasik yang Instagrammable pisan! Ki Ageng Pandanaran adalah adipati pertama Semarang dan tanggal diangkatnya beliau sebagai adipati dinobatkan sebagai hari jadi Kota Semarang.

Usai shalat Jumat, kami diberi kesempatan menjejakkan kaki ke dalam salah satu bangunan di sisi kiri masjid dimana terdapat makam Ki Ageng Pandanaran yang wafat pada tahun 1496. Suasana takzim di dalam sana oleh para peziarah yang tengah mendaras doa. Saya tak berlama-lama karena tak ingin membuyarkan konsentrasi mereka. Janganlah sampai bisik-bisik ini terjadi: “Ada Aliando! Ada Aliando!” Maka pamitlah saya.

masjid-ki-ageng-pandanaran
Tampak luar Masjid Ki Ageng Pandanaran dengan kontur berbukit #SemarangHebat

Bandeng Juwana

Lho, balik lagi?

Anu, jadi teman sekamar saya, kak Fahmi, ketinggalan kenangan hitam kacamata hitam di warung makan Bandeng Juwana. Padahal teman-teman yang lain sudah beranjak pergi ke tujuan berikutnya. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya kak Fahmi muncul kembali ke mobil dengan tangan hampa. Sedihlah saya, karena sudah berharap kak Fahmi muncul sambil membawa sekardus-dua kardus cemilan khas seperti bakpia, lumpia, wingko, dkk.

Oya, kacamatamu bagaimana, kak Fahmi?

Beruntung, ternyata sudah diselamatkan oleh kak Eka, dan kini mereka sudah menanti di destinasi selanjutnya.

Semarang Restaurant – Heritage Cuisine

Makan siang sebenar-benarnya dengan menu klasik ala Semarang Resto di Jl. Gajah Mada 125Β dengan didampingi oleh story-teller historis bapak Jongkie Tio. Diselingi perkenalan oleh Michael Deo. Didengarkan dengan khidmat oleh Taufan Gio.

Anyway…

Hidangan pembuka adalah lumpia. Disusul menu utama lontong cap go meh. Hidangan sepinggan ini berisi irisan lontong, daging ayam suwir, sayur buncis, telur, serundeng, aneka sambal goreng (tahu, rebung, udang), kerupuk udang, dan bahan lain hingga semua mencapai 12-13 macam. Yang membedakan lontong cap go meh dengan opor ayam biasa adalah adanya docang (parutan kelapa dan kedelai yang dikukus), abing (campuran kelapa parut dan gula jawa), serta bubuk kedelai.

Pak Jongkie meminta kami untuk mengaduk lontong cap go meh sebelum disantap, supaya aneka cita rasanya menyatu. Semua menurut, kecuali saya dan kak Titi. Kami adalah ‘team anti diaduk’, baik untuk sajian bubur ayam maupun lontong cap go meh seperti ini. Maaf pak Jongkie, tapi ini adalah prinsip.

Sajian penutup adalah rujak puspa. Semacam rujak buah (seperti parutan ketimun atau pepaya/mangga muda) yang didinginkan hingga nyaris beku. Segar! Secara keseluruhan, saya merekomendasikan Semarang Restaurant untuk hidangan klasik khas Semarang.

semarang-restaurant
Beberapa menu andalan Semarang Restaurant seperti lontong cap go meh, bruinebonensoep, dan hollandse kroketten #SemarangHebat

MG Setos Hotel

Pembagian goodie bag dan kunci kamar di hotel MG Setos yang masih baru di Jl. Inspeksi Gajah Mada. Lobi utama di lantai 8 yang serba kaca menawarkan Semarang city view yang memikat. Sementara kamar yang kami tempati termasuk luas bahkan hingga kamar mandinya. Sebagai pusat pertemuan MG Setos memiliki delapan ruang pertemuan yang berkapasitas masing-masing 150 orang. Selain itu, MG Setos juga memiliki ballroom yang berkapasitas hingga 2.000 orang. Cocok sebagai pendukung program #SemarangMICE. Di gedung ini juga terdapat wahana PlaPlay sebagai hiburan keluarga.

mg-setos-hotel
Lobi hotel MG Setos #SemarangHebat #SemarangMICE

Sekolah Kuncup Melati

Michael Deo kini mengambil alih sebagai pemandu di kawasan Pecinan. Kehadiran seorang amoi cantik berbusana cheongsam di sisinya semakin menyemarakkan suasana. Banyaknya perhatian dan lensa yang ditujukan kepada si amoi fotogenik mungkin bakal membuat koko Deo berubah pikiran: lain kali ia bakal mengenakan cheongsam juga πŸ˜‰

Kami diantar memasuki bangunan sekolah Kuncup Melati yang terletak di Jl. Gang Lombok di sisi sungai yang mengering. Adalah Yayasan Khong Kauw Hwee (KKH) yang mendirikan sekolah gratis Kuncup Melati ini sejak 1935. Pada awalnya yayasan ini hanya memberi kursus pemberantasan buta huruf, namun kini sudah berkembang hingga jenjang pendidikan setingkat TK, SD, dan SMP. Keunikan lain adalah meski berada di kawasan Pecinan, namun sebagian besar siswanya berasal dari etnis non Tionghoa. Kedatangan kami disambut oleh kepala sekolah dan dilanjutkan atraksi barongsai yang diperagakan oleh murid-murid. Tabuhan tambur, gong, dan simbal bagai mencerminkan semangat para siswa yang meletup-letup.

barongsai-sekolah-kuncup-melati
Atraksi barongsai oleh murid-murid Kuncup Melati #SemarangHebat

Klenteng Tay Kak Sie

Masih di kawasan Pecinan, terdapat klenteng kuno Tay Kak Sie yang didirikan tahun 1746. Aroma asap dupa dan doa-doa yang sudah didaras selama beratus tahun bagai terasa melekat ke dinding dan langit-langit. Kelenteng Tay Kak Sie pada mulanya hanya untuk memuja Dewi Kwan Sie Im Po Sat, Yang Mulia Dewi Welas Asih, meski kemudian berkembang menjadi klenteng yang juga memuja dewa dewi Tao lainnya. Para jemaat yang sedang bersembahyang tampak tak terganggu oleh kehadiran kami, bahkan walau kemudian digelar pertunjukan sendratari di tengah bangunan.

Saya sempat sedikit merenung di sini, betapa besar toleransi yang diberikan oleh para jemaat klenteng. Mereka tetap khusyuk dalam ibadahnya, tak tergubris oleh lalu lalang manusia atau jepretan kamera ataupun penampilan seni. Dapatkah kami sebagai perwakilan kaum mayoritas juga melakukan tepa salira yang sama, dalam berbagai hal?

klenteng-tay-kak-sie
Menanti pementasan sendratari di klenteng Tay Kak Sie #SemarangHebat

Rasa Dharma

Bisa dibilang sebagai komunitas warga Tiong Hoa tertua di Semarang (berdiri sejak 1876). Rasa Dharma atau Boen Hian Tong, mempunyai arti sebuah ruang untuk menyimpan bahan pustaka bersejarah. Bahkan di dalam bangunan komunitas di Jl. Gang Pinggir No. 31-31AΒ ini terdapat pula sin chi Gus Dur (papan arwah berupa lempengan kayu yang bertuliskan nama mendiang). Inilah bentuk penghormatan warga Tionghoa kepada Gus Dur sebagai Bapak Pluralisme yang banyak memperjuangkan hak-hak kaum minoritas.

Rasa Dharma merupakan perkumpulan dengan aktivitas sosial sebagai dasarnya, meski pada perkembangannya kini lebih banyak berkutat di bidang seni budaya. Kami pun disuguhkan demo alat musik Tiongkok klasik yang terdiri atas guzheng, erhu, dan yang qin. Akhirnya amoi cantik berbusana cheongsam yang diketahui bernama cici Sherley ini menunjukkan faedahnya: memainkan alat musik petik guzheng dengan ciamik. Denting irama syahdu mengalun, bahkan ketika lampu padam.

Saya tergugah oleh program wisata Pecinan yang digagas oleh koko Deo seperti ini, karena tidak hanya untuk mengundang wisatawan datang, tapi lebih kepada pelestarian seni budaya oleh kawula muda Semarang itu sendiri. Tak hanya oleh keturunan etnis Tiong Hoa, bahkan mbak Manda yang berhijab pun turut serta. Ia sempat mendemontrasikan kemampuannya memainkan erhu. Sebuah perwujudan pluralisme #SemarangHebat yang memikat.

rasa-dharma
Sebuah persembahan @ Rasa Dharma #SemarangHebat

e Coffee

Pencinta kopi belum ke Semarang jika belum berkunjung ke Jl. Beteng No. 41. Pak Moelyono, the man behind e Coffee, bahkan dipercaya untuk melatih para pemain film Filosofi Kopi mengenali aneka jenis kopi hingga teknik menggiling, menyaring, menyeduh, dll. Tapi yang menarik perhatian saya malah suguhan kue bertajuk: Gandjelrel, Koewih Tempo Doeloe. Semacam kue bolu padat dengan taburan biji wijen di atasnya. Bentuknya memang unik mirip bantalan rel kereta api. Rasanya sekilas seperti roti gambang, hanya manisnya lebih pekat. Diminum bersama seduhan kopi panas tak bergula. Tjotjok! Bikin mata melek kembali, siap melanjutkan aktivitas berikutnya.

e-coffee
Seduh seduh tuang tuang, beda cara beda rasa hanya di e Coffee #SemarangHebat

Pasar Semawis

Saya selalu suka pasar malam. Ada kerlap-kerlip, warna-warni, aroma masakan, senda gurau, dan kemeriahan suasana. Pasar Semawis (Warung Semawis) digelar di Gang Warung di kawasan Pecinan setiap akhir pekan. Tersedia aneka pilihan kuliner dengan konsep warung tenda. Aneka kue dan bubur, nasi pindang, nasi goreng babat, sate sapi, seafood hingga aneka hidangan khas Pecinan. Termasuk sate babi. Bukan main bahagia kak Bobby menemukan kudapan favoritnya. Tapi dia lebih bahagia lagi melihat saya diselubungi asap pembakaran sate babi. Aroma babi asap kau, hahaha!

Tapi bagi kaum Muslim tak usah kuatir tak bisa kulineran di Semawis, tinggal jeli mencari mana yang menyajikan hidangan halal atau tidak.

Kami makan malam bersama di sebuah meja panjang (tradisi ini disebut tuk panjang) bersama Kadispar dan perwakilan pemkot Semarang. Sajian pembuka adalah bakcang daging dan segelas liang teh. Berlanjut hidangan utama tahu gimbal dan nasi ayam ala Semawis. Nasi ayam terdiri atas nasi, opor ayam, sayur labu, dan pendamping seperti sate usus atau sate jantung ayam. Bentukan nasi ayam ini sederhana saja beralas daun pisang, tapi rasanya mantap gan! Terakhir masing-masing kami mendapat suguhan pisang plenet dan semangkuk es cong lik alias es puter ala Semarang. Es puter dengan sagu mutiara dan topping kelapa muda ini sungguh menjadi sajian penutup yang sempurna.

pasar-semawis
Tradisi tuk panjang di Pasar Semawis #SemarangHebat

Lawang Sewu

Wilhelminaplein adalah sebutannya di zaman Belanda. Dijuluki sebagai Lawang Sewu (Seribu Pintu) karena bangunan ini benar-benar memiliki pintu yang sangat banyak, meski jumlah sebenarnya hanya ratusan. Lawang Sewu mulai terkenal akan keangkerannya sejak tayang di sebuah program televisi.

Dan kami berada di sini untuk kunjungan malam di Lawang Sewu. Tenang, bangunan klasik tsb kini sudah tidak horor lagi. Tata cahaya di segenap penjuru bangunan membuat Lawang Sewu tampak megah dan gemerlap. Jauh dari kesan menyeramkan. Meskipun demikian pengunjung tetap disarankan supaya tidak terpencar dari rombongan (dan tidak berpikiran kosong). Mungkin agar tidak tersesat di lorong-lorongnya, atau jatuh ke penjara bawah tanah yang ditutup. Atau jatuh ke pelukan lelaki nakal (entah kenapa yang terlintas malah wajah kak Richo dan kak Bobby silih berganti).

Intinya, kunjungan ke Lawang Sewu pun bisa dijadikan alternatif wisata malam di kota Semarang. Aktivitas foto-foto pun lebih leluasa karena pengunjung tidak sebanyak di siang hari. Meskipun mungkin ada energi lain yang terasa lebih berat di malam hari. Apakah itu? Anda berani mencari tahu?

lawang-sewu-malam-hari
Penampakan Lawang Sewu di malam hari, indah bukan? #SemarangHebat

 

Disgiovery yours!

 

Next post: #SemarangHebat Adventure to Carnival

Other posts:

Kuliner Semarang

Pecinan Semarang

Farchan Noor Rachman – Ada Tiongkok di Semarang

Lawang Sewu

Eka Situmorang-Sir – Lawang Sewu Malam Hari
Leonard Anthony – Jelajah Malam di Lawang Sewu

MG Setos

#SemarangHebat Culinary to Heritage
Tagged on:                                                                 

37 thoughts on “#SemarangHebat Culinary to Heritage

  • May 12 at 11:23
    Permalink

    Itu knapa yg nongol, foto cik sherly melulu yaaaa ???

    Reply
  • May 12 at 11:41
    Permalink

    Beberapa tempat pernah ke sana, tapi masih ada yang belum ahahhaha. Waktunya dicatet alamatnya, siapa tahu pas ke Jepara bisa sekalian mampir di salah satu tempat kulinernya πŸ˜€

    Reply
  • May 12 at 21:26
    Permalink

    Ternyata aku ngelewatin 4 tempat hiks :'( mau ke Semarang Lagiii ~

    Reply
    • May 13 at 16:56
      Permalink

      Tapi dirimu dapat kesempatan menyanyi di Semarang Resto, sedangkan kami tidak, hahaha! πŸ˜‰

      Reply
  • May 12 at 23:24
    Permalink

    Aroma Cici membawaku ke bilik ini. Ada rasa yang tidak biasa dan benar saja haha

    Salut deh sama ka Gio, Balada AC hotel malah luput dan gak dibahas. Emang blogger harus gini sih yah πŸ™‚ Aku bangga pernah seranjang denganmu kang.

    Btw, foto Cici nya ak scroll lebih dari 5 kali naik turun #Rusakkk

    Reply
    • May 13 at 16:58
      Permalink

      Kak Richo, dengan atau tanpa AC, kehadiran kalian tetap bikin gerah! Hahaha! πŸ˜€

      Foto cici memang punya ajian pemikat sepertinya πŸ™‚

      Reply
  • May 13 at 20:41
    Permalink

    entah kenapa aku malah ngakak-ngakak baca tulisanmu ini kak Badai. kebayang pose kalian betigaan ma kak richo & kak bobby di ranjang *ups

    Reply
  • May 14 at 06:09
    Permalink

    Eh soto pak man itu semarang yaaa ??? gw pikir solo hehehe
    Duh aku kok ngiler bandeng juwana nya trus makan pake nasi anget + sambel

    Reply
    • May 14 at 11:46
      Permalink

      Mungkin di Solo pun ada, kak Cum πŸ™‚

      Wah emang paling cocok menikmati bandeng juwana pake nasi anget plus sambelnya, siap-siap tambah sebakul! πŸ˜€

      Reply
  • May 14 at 09:50
    Permalink

    Waduh… Itu bandengnya, Kak……… Mau digoreng, mau dicemplungin jad sup ikan, menggiurkan banget! Cici yang main kecapi juga. Eh.

    Reply
  • May 14 at 22:15
    Permalink

    Hahahahaha… cukup perasaan ini saja yang sering diaduk-aduk, Kak Gio! Makanan mah kita makannya rapi , ya…

    Btw, terimakasih udah masang foto [tangan] ku di antara foto Ci Shierly yang bertebaran, lho! hahahahaa….

    Reply
    • May 15 at 02:20
      Permalink

      Hahaha kalo perasaan diaduk-aduk itu rasanya… berat… Beratda di pelukanmu… #nyanyik

      Ya ampun aku malah gak ngeh itu foto tangan siapa, hahaha! πŸ˜€

      Reply
  • May 15 at 06:21
    Permalink

    jadi si meme meme cantik (yang main alat musik) yang ngikutin kita terus itu siapa sih sebenarnya? cantik! hihi loss fokuss..

    Reply
    • May 15 at 11:21
      Permalink

      Hahaha mas Budi musti pendekatan dulu sama koko Deo supaya tahu siapakah si cantik sebenarnya? πŸ˜‰

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *