Sawarna - Tanjung Layar (cover)

Disgiovery.com

TANJUNG LAYAR dan Pasir Putih adalah obyek wisata Sawarna yang paling mudah ditempuh dengan berjalan kaki dari jembatan Cikaung (sekitar 1,8 km untuk jarak terjauh hingga Tanjung Layar).  Sebaiknya kau berangkat sejak pagi hari ketika matahari belum terlalu terik dan arus pengunjung belum terlalu ramai. Supaya menyingkat waktu & tenaga, memilih penginapan di sekitar lokasi adalah pilihan bijak, seperti misalnya di Little Hula-Hula cottage.

Kami terhuyung-huyung menyeberangi jembatan Cikaung yang merupakan jembatan gantung (seadanya) di atas sungai Cisawarna. Bayar retribusi di pos bayangan (alias petugas jaga yang standby di gardu ojek) sebesar Rp. 5,000/orang.

Jalan kecil yang kami lalui melewati rumah-rumah warga yang sudah banyak diubah menjadi penginapan atau wisma. Usai perkampungan lalu melintasi persawahan. Sesekali kami harus memberi jalan pada sepeda motor yang melintas.  Tak lama tibalah jua di jalan berpasir.

Sawarna - Pasir Putih (1) Sawarna - Pasir Putih (2)

Pasir Putih Pantai Ciantir

Pasir Putih adalah bagian dari pantai Ciantir yang membentuk sabit sepanjang 3,5 km dari Karang Bokor, Gua Langir, hingga Tanjung Layar.  Meskipun warna pasirnya tidak seputih janji suci, namun cukup kontras dengan warna biru laut yang berombak besar khas pantai selatan Jawa.

Meskipun saya amati belum ada petugas balawista alias lifeguard bertugas di wilayah ini, namun pengunjung tak gentar berenang di pantai Pasir Putih.  Beberapa orang yang sudah mahir surfing malah memanfaatkan ombak besar pantai Ciantir untuk berselancar.  Ombak di sini termasuk kategori reef break yaitu ombak yang pecah di atas pantai berkarang, dan biasanya memiliki gelombang yang besar, deras, dan kuat. Disarankan bagi para pemula untuk JANGAN BERSELANCAR DI SINI.

Sawarna - Pasir Putih (3) Sawarna - Pasir Putih (6)

Sepanjang sisi pantai dari Pasir Putih menuju Tanjung Layar banyak terdapat spot foto yang menarik. Bebatuan karang, pepohonan, hingga kerangka bangunan.  Kau juga bisa singgah di warung-warung yang menyediakan kelapa muda, minuman segar, penganan ringan, hidangan berat, hingga batu akik.

Sungguh disayangkan banyak sepeda motor yang lalu lalang di jalan setapak sehingga kami harus selalu waspada.  Saya heran, semestinya sepeda motor hanya diizinkan melintasi jalur conblock yang sudah disediakan, dan bukan lintasan pejalan kaki di bibir pantai. Sungguh mengganggu kenyamanan.  Tak ubahnya ulah wisatawan yang berkeliling Kebun Raya Bogor namun enggan turun dari mobil.

Sawarna - Tanjung Layar (1) Sawarna - Tanjung Layar (2)

Tanjung Layar Dan Dasar Laut Purba

Tanjung Layar, berupa dua bongkah batu besar bersisian bak layar perahu, bisa dibilang merupakan ikon wisata Sawarna. Belum ke Sawarna jika belum ke Tanjung Layar.  Bongkahan batu raksasa ini berdiri menyepi sekitar 50 meter dari bibir pantai.  Sisi terjauhnya terlindungi oleh karang pemecah ombak, sehingga pengunjung tetap dapat mendekati Tanjung Layar baik pada saat pasang atau surut.

Tanjung Layar sendiri paling banyak diminati pencinta fotografi karena ia dapat menjadi obyek foto sunrise ataupun sunset yang memukau.  Berhubung saya datang pada siang hari, maka cukup nikmati saja langit biru yang jarang kami dapati di langit Jabodetabek.

Sawarna - Tanjung Layar (4) Sawarna - Tanjung Layar (5)

Saya sendiri tertarik pada lapisan bebatuan dan karang yang bertebaran di sekitar Tanjung Layar.  Lapisan demi lapisan ini membentuk pola konsentris, seakan-akan menghadap ke satu arah dengan kemiringan tertentu.  Mereka laksana perpustakaan geologis purba yang menyimpan informasi sedimen dasar samudera yang telah terangkat oleh gerakan tektonik, pada periode sekitar lima hingga tiga juta tahun lalu, salah satu yang tertua dan membentuk bagian selatan pulau Jawa.

Saya sendiri belum mengetahui apakah kawasan Sawarna ini termasuk dalam kawasan geopark yang dilindungi atau tidak.  Faktanya, sedang dibangun sebuah pabrik semen tak jauh dari wilayah ini yang memangkas habis bukit karst di sisi pantai.  Semoga saja pabrik itu hanya bersifat lokal dan tidak menghabiskan sumber daya alam Sawarna.

Biarkan bukit karst dan laut biru tetap satu.

 

Disgiovery yours!

Sawarna - Tanjung Layar (6)

Sawarna | Pasir Putih & Tanjung Layar
Tagged on:     

12 thoughts on “Sawarna | Pasir Putih & Tanjung Layar

  • April 29 at 00:04
    Permalink

    Tanjung layar memang fotogenik sih 😛 waktu ke sawarna kemarin juga lebih banyak ngabisin waktu disana 😀

    Reply
  • April 29 at 12:14
    Permalink

    Semoga tempat ini tetap lestari dengan, kalau saya boleh mengutip, biru yang tetap satu. Bagaimanapun, alam dan manusia bisa berdampingan dengan damai, kan?
    Tempat yang indah, dituliskan dan diabadikan dengan indah. Super!

    Reply
    • April 29 at 13:21
      Permalink

      Bli Gara, matur suksma! Semoga manusia tetap bisa menjaga diri untuk hidup berdampingan dengan alam raya…

      Reply
  • May 1 at 07:39
    Permalink

    Sepeda motor juga lewat jembatan gantung yang seadanya itu?

    Melihat jumlah pengunjung pantainya sepertinya Sawarna sudah sangat populer ya. Untuk urusan kebersihan apakah masih terjaga?

    Reply
    • May 3 at 13:18
      Permalink

      Iya, pejalan kaki musti rebutan sama pengendara motor buat melintasi jembatan.
      Masalah kebersihan, hmmm…

      Reply
  • May 7 at 14:36
    Permalink

    Ah untung banget pas kesana lagi sepi kemarin itu. Tapi ombaknya terlalu besar untuk berenang2, plus aku baru sadar kalau kemarin pakai baju warna hijau ,, 🙂

    Reply
    • May 7 at 15:02
      Permalink

      Tempo hari ombaknya emang lagi gede banget, better stay safe ga usah berenang dulu, apalagi pake baju ijo, hehehe…

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *