Gua-Langir-cover

Disgiovery.com

GUA Langir jadi tujuan setelah sepagian ini kami duduk-duduk di salah satu gazebo Little Hula-Hula (review penginapan ada di sini ;)), menatap hamparan sawah berselimut embun pada pucuk-pucuk padi, menyesap teh manis panas yang masih mengepul dalam gelas, seraya menanti sunrise view yang ternyata tak kunjung tiba.  Awan sedang pekat. Maka sepakatlah menengok gua.

Berpaling kami dari timur dan beranjak ke barat.

Tak sampai 5 menit berkendara dari penginapan, menjejaklah kami di kawasan wisata Gua Langir (berhubung masih pagi maka petugas retribusi belum tampak).  Sebenarnya ada beberapa gua di kawasan ini, namun langkah kami langsung menuju utama Gua Langir seraya menyusuri pantai Ciantir.

Little-Hula-HulaPantai-Ciantir-(1)

Pantai Ciantir

Pantai ini permai, pasirnya berwarna coklat cerah, dengan tumbuhan bunga-bunga berwarna merah muda keunguan (maaf saya tak hafal nama bebungaan) yang menjalar ke selatan.  Ke arah laut. Gelombang pasang semalam menyisakan puing-puing di atas pasir. Untunglah sebagian besar adalah sampah alam (dahan, ranting, serabut, batok, dan semacamnya), meski tetap terselip sedikit sampah plastik di antaranya.

Sejenak kami ikut menyesap pagi menghadap selatan.  Ombak besar berdebur-debur, dada serasa berdebar-debar, meninggalkan kabut pucat melayang-layang di sepanjang tepian pantai. Wilayah pesisir ini masih tersambung dengan pantai Pasir Putih yang bisa direnangi pengunjung.

Di belakang kami perbukitan karst tampak rimbun oleh kehijauan.  Di sela-sela hutan tampak menyembul atap-atap genting bangunan (konon ada pula villa pribadi milik pejabat daerah).  Sangat disayangkan lokasi wisata seperti ini mesti dimeriahkan oleh bangunan-bangunan permanen manusia yang tak selaras dengan alam.

Pantai-Ciantir-(2)Pantai-Ciantir-(3)

Gua Langir

Bebatuan gamping ini menjulang tinggi di depan mata. Warna hitam dan jingga kecoklatan terpulas di dindingnya dengan motif marmer. Pada salah satu sisi tertancap deretan hanger untuk kegiatan panjat tebing.

Setelah membaca Bilangan Fu (karya Ayu Utami), saya jadi menaruh perhatian lebih pada bebatuan gamping dan bukit karst yang banyak ditemukan di wilayah selatan Jawa, betapa wilayah ini erat kaitannya dengan lautan purba, penuh dengan gua-gua misterius layaknya pembuluh darah dalam tanah, serta dialiri oleh kanal-kanal bawah tanah dari banyak sumber mata air. Ikan, udang, walet, kelelawar, hingga dedemit mendiami ceruk-ceruknya.  Kisah-kisah legenda melingkupinya.  Dongeng dan takhayul terkadang menyelamatkan wilayah ini dari penjamahan manusia.

Terpengaruh oleh tokoh Parang Jati dalam Bilangan Fu (ia seorang ‘pemanjat bersih’), saya sedikit terganggu melihat tebing gua Langir yang terlukai oleh deretan hanger tadi.  Tapi apalah daya.  Di situ kadang saya merasa sedih.

Tapi ada yang lebih dari sedih.

Ternyata dinding tebing satunya lagi malah dicorat-coret oleh tangan tak bertanggungjawab. Apa yang ditulis pun kampungan, mencoba berbahasa Inggris namun penuh dengan kesalahan huruf dan grammar.  Saya sampai hilang kata.

Gua-Langir-(1) Gua-Langir-(3)

Sudahlah, mari kembali ke gua Langir.

Ceruk di antara tebing-tebing ini tertutup belukar, namun saya melihat semacam kegelapan gua di baliknya.  Firasat saya mengatakan inilah gua Langir yang dituju.

Saya jarang merasa takut.  Tapi kali ini saya merasakan hal itu, ketika kaki melangkah perlahan mendekati gua, dimana semak belukar tampak asing (mengingatkan saya pada tumbuhan zaman Jurassic), air menetes-netes dari dinding tebing, serta formasi bebatuan yang tampak simetris namun bertumpuk tak beraturan, semuanya tampak besar dan basah, menyadarkan saya bahwa gelombang pasang tiap malam pasti mencapai lokasi ini.  Hidung saya menyergap dingin dan sedikit lembab.  Kuping saya tetap waspada, selama saya masih bisa mendengarkan debur ombak di kejauhan berarti saya aman.

Ketakutan saya adalah apa jadinya jika gelombang laut tiba-tiba mendekat dan membanting saya ke karang (ciri khas ombak pantai Selatan yang kerap menyergap tiba-tiba), atau bebatuan raksasa di atas saya tiba-tiba runtuh, atau yang paling menyeramkan adalah suara debur ombak tiba-tiba menghilang dan ternyata saya masuk ke dimensi lain.

Bergidik setelah mengawasi lubang persegi panjang di hadapan, saya segera kembali ke arah pantai.  Setidaknya hendak mengajak teman-teman yang lain untuk ikut menyelidiki tempat ini.

Gua Langir sudah tidak seseram tadi ketika saya dan teman-teman menghampiri.  Bagai jalan masuk ke rumah batu raksasa tanpa pintu, mulut gua ini punya lebar sekitar 3 meter dan tinggi 10 meter. Tapi lubangnya tak dalam karena sepertinya tertimbun reruntuhan bebatuan.

Jujur, kami sendiri tak betah berlama-lama di gua ini.

Gua-Langir-dan-lainnya-(5)
I spot a monster’s foot here, what about you?

Gua-Langir-(4)

Gua Seribu Candi

Dari Gua Langir, kami kembali ke tempat parkir dengan menempuh jalan setapak di bawah rerimbunan pohon.  Masih ada beberapa gua yang kami lewati di jalur ini, namun berhubung masih pagi dan tiada pemandu, kami tak mau gegabah memasuki gua manapun.

Gua Seribu Candi dikaitkan dengan banyaknya stalagmit yang ada di dalamnya dan dianggap menyerupai stupa candi. Stalagmit ini jumlahnya tak terhingga sehingga dinamakan Gua Seribu Candi.  Walaupun hanya memiliki lorong pendek, kabarnya gua ini kaya akan ornamen alam yang indah.

Gua-Langir-dan-lainnya-(2)

Gua Kanekes

Kanekes adalah sebutan lain suku Baduy yang tinggal di pedalaman Banten.  Gua ini dinamakan Kanekes karena dahulu orang-orang Baduy kerap datang dan singgah ke gua ini untuk mengambil sarang walet dan kelelawar.  Tak jelas apakah aktivitas tsb masih berlangsung hingga kini atau tidak.  Gua horizontal ini memiliki panjang sekitar 80 meter.

Gua-Langir-dan-lainnya-(4)

Gua Harta Karun

Gua Harta Karun ini dimanfaatkan penjajah Jepang untuk menyimpan harta pampasan.  Saya tak tahu apakah warga lokal dahulu memang pernah menemukan adanya harta karun di dalamnya.  Ornamen dalam gua ini tidak semenarik gua-gua lainnya, di mana mulut gua ditumbuhi vegetasi hijau.

Kami tak sempat lagi mengambil gambar gua Harta Karun, apalagi masuk ke dalamnya demi rasa penasaran.  Lagipula tak elok jika mudah tergoda oleh kilau emas berlian, bukan?  Lebih baik kembali ke Little Hula-Hula dan menikmati sarapan.

Biarlah Seribu Candi, Kanekes, dan Harta Karun tak terjamah oleh kami.  Belum.  Kami kan kembali.

 

Disgiovery yours!

Gua-Langir-dan-lainnya-(7)

Sawarna | Gua Langir, Seribu Candi, Harta Karun
Tagged on:     

21 thoughts on “Sawarna | Gua Langir, Seribu Candi, Harta Karun

  • May 1 at 07:47
    Permalink

    Aduh coretan.. 🙁 Jadi ingat kasus coretan di Gunung Fuji di Jepang yang dilakukan oleh segelintir wisatawan dari Indonesia yang tidak bertanggung jawab. Miris sih, karena Indonesia dikenal akan keindahan alamnya, tapi penduduknya masih banyak yang belum punya kesadaran akan alam. PR kita semua untuk mengedukasi.

    Reply
    • May 3 at 13:22
      Permalink

      Wah iya malu2in banget tuh yang di gunung Fuji, mana tulisannya alay ala-ala :/
      Betul masih banyak yang belum sadar wisata sehingga semena-mena…

      Reply
  • May 1 at 11:08
    Permalink

    Coretan, itu minta dicakar tangan-tangan jahil itu. Susah sekali tampaknya melihat benda mulus. Padahal kalau rumahnya sendiri yang dicoret, marahnya minta ampun :eh.
    Seumur-umur, goa yang saya tahu baru Goa Lawah dan Goa Gajah, dua-duanya di Bali. Tapi goa di sini sangat keren. Antara mistis dan menakjubkan karena belum terlalu banyak didatangi orang.
    Pada akhirnya, selalu ada saat kedua untuk datang ke tempat yang sudah resmi indah ya, Mas :hehe.

    Reply
    • May 3 at 13:25
      Permalink

      Mana yang suka corat-coret, sini! *cakar pake kuku T-rex*

      Kalau di Bali bukannya sama mistis dan menakjubkannya, bli?

      Reply
  • May 6 at 11:06
    Permalink

    Tempatnya keren.. Sejuk gimana gitu hawanya haaaa. Kalau sendirian ke sini, kayaknya nggak berani deh 😀

    Reply
    • May 6 at 11:28
      Permalink

      Betul mas sejuk nian, karena gua-gua ini terletak di bawah rerimbunan hutan. Dan ya, sebaiknya jangan datang sendirian, apalagi masuk ke dalam gua tanpa pemandu, bukan apa-apa sih tapi karena lokasi ini sepi nanti susah misal ada kondisi darurat 🙂

      Reply
  • May 7 at 18:24
    Permalink

    Sungguh aku jatuh cinta pada gua langir, ah beneran ini ada dibilangan fu? wah harus baca nih novelnya hehehe

    Reply
    • May 7 at 21:34
      Permalink

      Tak ada yang melarang tuk jatuh cinta 😉

      Oh gua Langir tidak ada di dalam buku Bilangan Fu, tapi lebih kepada perbukitan karst yang mendominasi selatan Jawa 🙂

      Reply
  • May 9 at 18:22
    Permalink

    Aku penasaran dengan apa yang membuatmu sedih itu, kak. Terutama coret-coret vandalisme kampungan itu 😀 *kepo* *kritikus grammar*

    Reply
    • May 10 at 21:02
      Permalink

      Coretannya kira2 seperti ini:
      “If my be sosial memories (musium of me)…”

      Terus ada nama-nama mereka & pasangan, dan semacam itulah…

      Sengaja tidak dipamerkan fotonya, don’t make stupid people famous 😉

      Reply
  • May 19 at 11:52
    Permalink

    Sekitar 2008 kalo ngak salah, gw ama temen2 menyisir didepan gua langir dan akhirnya temen gw sukses kesurupan

    Reply
  • May 21 at 21:03
    Permalink

    tidak ada yang berubah setiap saya berkunjung ke rumah maya ini. selalu sama, tulisanmu gorgeous. ahak!

    dan tentang sawarna, ternyata banyak ya gua-gua disana. dulu cuma sempat eksplor gua lalay, yang licin dan baunya setengah mati. tapi tetep aja, saya terpesona juga dengan lekuk-lekuknya .. 😀

    Reply
    • May 21 at 21:56
      Permalink

      Suwun, Zou! #berbinarbinar

      Btw aku malah belum sempat jelajah Gua Lalay, letaknya tidak di tepi pantai ya?

      Reply
      • May 28 at 17:13
        Permalink

        Iya, Bang, letaknya agak masuk ke bukit-bukit gitu, tracking-nya lumayan .. 😀

        Reply
        • May 28 at 23:57
          Permalink

          Seru dong menjelajah bukit. Asal posisinya gak digantung aja…

          *menatap nanar pada jerigen*

          Reply
  • August 18 at 04:12
    Permalink

    Wah ane baru kenal sawarna dari 2014 ya termasuk baru gan. Sebelum nya paling anyer .pas kenal sawarna itu ane jd suka kesana kalau ada waktu luang.dan jadi punya saudara disana.dan esok bulan sept kalau jadi mungkin ini visit ke 7 kali nya gan. Dan ane juga kenal senior dari bekasi yg sudah dari 1998 datang cuma buat menenangkan pikiran di pantai.salam Lover Bayah . Semoga tidak ada investor swasta yg otak atik suasana desa Bayah.Biarkan jadi natural tanpa ada goresan ornamen semen seperti wisata lain nya.
    Yg mau visit yukk join Bayah sawarna lover 085946914792 meeting point jakarta

    Reply
    • September 5 at 10:01
      Permalink

      Kalau menurut saya investor swasta tak masalah asalkan memperhatikan lingkungan, jangan apa-apa disemen, hehehe.
      Hidup Bayah!

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *