sabang coral day 2017

Disgiovery.com

SABANG menuju siang. Pulau Weh selepas Sumatera. Dari jendela pesawat ATR, terhamparlah laut biru jernih di bawah sana. Begitu jernih airnya sehingga saya bahkan bisa memindai samar-samar bentukan karang di dasarnya. Jika dibilang ini salah satu pengalaman mengudara paling mengesankan, ya memang demikian adanya.

Bandara Maimun Saleh menyambut kami dengan tiupan deras angin barat. Pesawat bahkan sempat berguncang sejenak sebelum mendarat. Tapi langit biru cerah menghangatkan perasaan saya. Rasa tak percaya akhirnya saya bisa menginjakkan kaki di Sabang, pulau Weh, Aceh. Di ujung barat Indonesia.

sabang coral day 2017 welcome

Sabang Coral Day, Apa Itu?

Sabang Coral Day 2017 bersama Garuda Indonesia membawa saya ke pulau ini. Ialah sebuah acara tahunan yang dilaksanakan untuk memperingati Hari Koral Nasional (yang jatuh pada tanggal 8 Mei). Kegiatan Sabang Coral Day sendiri sudah dihelat sejak 2015, dengan kegiatan rutin di antaranya adalah replantasi karang. Tak hanya di Sabang, Hari Koral Nasional juga diperingati dengan kegiatan sejenis di Bali, Belitung, Kep. Seribu, dan bukan tak mungkin akan bertambah di daerah lainnya. Tak heran karena perairan Nusantara menyimpan kekayaan alam sekitar seperdelapan terumbu karang dunia dengan luas keseluruhan kurang lebih 60.000 km² lebih.

Begitu membaca press release yang dikirim panitia (terima kasih, bang Mur!), saya langsung bergidik. Kerusakan terumbu karang umumnya disebabkan peningkatan temperatur air laut (akibat efek pemanasan global) dan ulah tangan manusia. Sampai saat ini sudah sekitar 35 juta hektar terumbu karang yang mengalami kerusakan pada 94 negara termasuk Indonesia. Jika tak ada upaya apapun untuk menyelamatkan bumi, niscaya dalam 20 tahun dari sekarang terumbu karang akan musnah. PUNAH. This. Is. Horrible.

Dalam perumpamaan yang lebih sederhana, takkan ada lagi wisata bahari. Tak ada terumbu karang, tak ada yang bisa dinikmati secara visual. 25 persen dari biota laut akan turut lenyap. Rantai makanan pun mungkin akan terganggu. Ganggang akan mengubah warna laut. Ubur-ubur mungkin akan menguasai lautan. Berani snorkeling/diving, berarti berani gatal-gatal atau tersengat. Kampanye makan ikan yang digalakkan ibu Susi pun mungkin akan berubah menjadi kampanye makan ubur-ubur. Lalu akan muncul tagar #teamuburuburdiaduk versus #teamuburuburtakdiaduk di media sosial. Kan… Kan…

sabang coral day fin

Perjumpaan Kembali

Berada di Sabang memberi saya pelajaran baru mengenai musim angin barat dan timur. Mungkin ini adalah hal lumrah bagi mereka yang tinggal di pulau atau kawasan pesisir, tapi bagi kaum urban metropolitan coret seperti saya ini adalah hal yang menarik untuk dicermati. Kedatangan kami di pulau Weh bersamaan dengan musim angin barat, ditandai dengan angin kencang yang berhembus dari arah Samudera Hindia, meninggalkan jejak gelombang tinggi di laut barat. Itulah mengapa kegiatan Sabang Coral Day 2017 dipusatkan di pesisir timur dimana perairannya relatif tenang di saat musim angin barat.

Saya dan partisipan lainnya diinapkan di The Point, di sisi tebing pantai Sumur Tiga. Kamar kami menghadap laut lepas ke arah Selat Malaka. Tambah senang hati tatkala mengetahui bahwa teman sekamar saya adalah seorang kawan blogger dari Banda Aceh, tepatnya pemilik hikayatbanda.com. Ia lelaki berdarah Aceh berwajah Asia Tengah berkelakuan binal dalam menjelajah jejak sejarah & budaya leluhurnya. Perlukah saya sebut namanya? Mari panggil saja dia bang Yud.

Perbedaan paling mencolok adalah rambutnya yang kini gondrong, berbeda dengan penampilan klimis ala pekerja kantoran yang saya temui 1,5 tahun silam. Tapi Bang Yud masih antusias dalam bertutur tentang hal apapun, mulai dari perjalanan Banda Aceh-Sabang yang ditempuhnya dengan kapal lambat dan terkena gelombang besar akibat angin barat, hingga alasan sebenarnya kenapa ia memelihara rambut panjang (info detail sila tanya orang ybs). Bang Yud sudah sering berkunjung ke Sabang, namun untuk replantasi karang seperti dalam Sabang Coral Day ini adalah kali pertama baginya. Ia sama antusiasnya dengan saya, dan menunjukkan action cam yang khusus dibawa untuk kesempatan ini. Video-nya sudah 4K, lho! Kapan lagi bisa mengabadikan momen penting bawah laut.

Tapi ternyata ia lupa membawa underwater casing.

OK, bye!

sabang coral day into the sea

Replantasi Karang di Pantai Sumur Tiga

Pertanyaan yang mengusik saya kemudian: Seberapa parah kerusakan koral di Sabang sehingga perlu diadakan replantasi karang? Padahal setahu saya perairan Sabang masih menjadi destinasi favorit untuk kegiatan scuba diving.

Adalah bang Saifullah, Kabid Kelautan Dinas Kelautan & Perikanan Kota Sabang sekaligus ketua panitia Sabang Coral Day 2017, yang memberi sedikit pencerahan. Dijelaskan bahwa terumbu karang di perairan Sabang sempat mengalami pemutihan (bleaching) hingga banyak karang mati. Selain itu dampak bencana tsunami tahun 2004, penangkapan ikan yang salah, pemanasan global, serta limbah industri juga turut berperan serta. Dengan segala kerusakan itu, Sabang masih menyimpan kekayaan sekitar 3.000 spesies terumbu karang maupun hidupan laut lainnya. Jika tak dijaga atau diperbaiki tentu ancaman kerusakan bakal makin menjadi.

Lalu saya termangu. Kami tengah berada di Freddies Santai, penginapan tepi laut tempat dimana kegiatan replantasi karang dipusatkan. Dari sisi ini pantai Sumur Tiga tampaklah memesona dengan pasir keemasan dan perairan jernih memantulkan gradasi biru. Keindahan bawah laut Sabang dapat dinikmati di kedalaman 5 – 70 meter, mulai dari perairan Iboih, Gapang, Balek Gunong, Sumur Tiga, Anoi Itam, hingga Teluk Sabang. Di balik keelokan, tersimpan bibit bencana. Jika terumbu karang tak terselamatkan, masihkah perairan Sabang ini berjaya.

sabang coral day pantai sumur tiga sabang coral day penyelam partisipan

Tapi belum ada kata terlambat.

Jelang tengah hari berangkatlah kami mengemban misi mulia Sabang Coral Day 2017: Care the Coral Save the Sea. Tersebutlah sekitar 50 orang partisipan penyelam lokal/nasional yang turut menanam koral di bawah laut Sumur Tiga. Ada 90 bibit koral yang ditanam pada kedalaman 5 meter, dan 390 bibit koral selebihnya ditanam di kedalaman 16 meter dimana indukan koral berada. Jenis yang ditanam adalah acropora branching coral karena mereka yang paling cepat tumbuh dan sesuai dengan kondisi lokasi. Pertumbuhannya bisa mencapai 3mm/tahun.

Berhubung belum mempunyai lisensi selam, maka saya harus cukup puas menyelam bebas (freedive) sahaja. Kesan pertama akan bawah laut Sabang ini: airnya jernih sebening kaca. Bebatuan koral menyebar di hamparan pasir putih di bawah sana. Tetapi memang mereka tak ubahnya onggokan batu saja tanpa hidupan laut menyertai. Ikan-ikan yang masih ada tampak menghindar tatkala kami mulai memasuki perairan yang lebih dalam.

Di dasar sana tampak beberapa balok beton disusun rapi dalam beberapa blok. Tiap balok sudah terdapat deretan lubang kecil tempat menancapkan pipa dimana bibit karang akan disematkan. Beberapa grup penyelam berkumpul pada blok masing-masing, sibuk mengikat bibit karang pada pipa. One little act to save the environment.

sabang coral day kapal pengawas sabang coral day replantasi karang

Care the Coral Save the Sea

Selain replantasi karang, kegiatan Sabang Coral Day 2017 juga meliputi Beach Clean Up (pembersihan taman laut dan pantai dari sampah anorganik untuk menjaga kelestarian lingkungan sekitar pantai dan lokasi penanaman koral), Lomba Mewarnai bagi Anak-Anak, hingga Digital Campaign. Edukasi tentang lingkungan hidup tentu mencakup di dalamnya. Saya semasa kecil bahkan tak pernah mendapat pengetahuan tentang terumbu karang (seingat saya dulu hanya ditekankan jika Indonesia adalah negara agraris bertanah subur endebre endebre tanpa sama sekali menyinggung bahwa potensi bahari kita jauh lebih luas dan besar).

sabang coral day pantai sumur tiga

Semoga saja kesadaran (awareness) generasi penerus sekarang sudah semakin meningkat tentang pentingnya terumbu karang bagi kelangsungan lingkungan hidup.

 

Disgiovery yours!

 

Sabang Coral Day 2017 | Care The Coral Save The Sea
Tagged on:         

6 thoughts on “Sabang Coral Day 2017 | Care The Coral Save The Sea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *