telaga warna dieng

Disgiovery.com

TELAGA Warna Dieng paling ideal dikunjungi pagi hari karena cuaca relatif cerah tak berkabut/berawan. Bagaimana halnya dengan kunjungan sore hari sementara tujuan utama adalah mengambil foto-foto pemandangan alam? Maka sebaiknya kamu punya teman seperjalanan seperti James.

Setelah menatap permukaan telaga yang warnanya tampak bias tidak seperti foto-foto pada iklan wisata, James langsung mengajak kami mendaki bukit di sisi telaga. Bukit Sidengkeng namanya. Lucunya jalur menuju ke puncak bukit malah menuntun kami keluar dari kawasan telaga, kembali muncul di jalan beraspal. Ternyata jalur masuk ke arah bukit malah terletak di sisi jalan raya. James dengan langkah-langkah panjangnya berjalan mendahului. Kami bertiga menyusul dengan tergopoh-gopoh.

telaga warna dieng telaga warna dieng

Bukan, teman kami James bukan pemandu wisata, pun bukan warga lokal. Ia hanya warga dunia yang cinta Indonesia. Sepertinya pengetahuannya tentang Indonesia jauh lebih luas ketimbang kami. Seperti hari sebelumnya tatkala kami baru tiba di Dataran Tinggi Dieng, ia sudah tahu apa yang harus dikunjungi dan kapan waktu yang tepat. Sebagai seorang pencinta heritage, James tahu trik memotret candi-candi di wilayah ini. Sinar matahari jam sekian-sekian akan jatuh pada sudut sekian-sekian di candi ini-itu sehingga relief ini-itu akan terlihat jelas. Kira-kira seperti demikian penuturan James yang bikin kami manggut-manggut menurut. Observasi dia sebelum berkunjung pastilah luar biasa.

Seperti halnya Telaga Warna Dieng ini, James pasti sudah mempelajari apa yang harus dilakukan jika menghadapi kendala cuaca. Petang sudah berawan, namun di balik mega masih terselip biru. Maka sesuai petunjuk James mendakilah kami menuju Sidengkeng. Sekalian ngabuburit di atas bukit (kebetulan kunjungan kami ke Dieng berlangsung di bulan Ramadhan).

telaga warna dieng telaga warna dieng

Puncak bukit Sidengkeng memang tepat untuk sudut pengambilan gambar yang ideal. Beruntung pada saat itu tak ada pengunjung lain sehingga kami leluasa mengambil gambar. Telaga Warna Dieng memiliki luas 40 hektar dan merupakan bekas letusan gunung purba yang sudah tak aktif lagi. Kandungan sulfur yang cukup tinggi membuatnya tampak berubah-ubah warna. Kami lihat saat itu permukaan telagaΒ berwarna hijau gelap dengan pulasan putih susu bak motif marmer. Indah tapi dalam. Misterius. Konon banyak benda-benda pusaka yang terpendam di dalamnya.

Lihat, bahkan langit pun bercermin pada permukaannya yang tenang. Tampak angkasa biru dengan awan putih yang pelahan berarak terlihat jelas di permukaan danau. Kami pun beromansa dengan langit. Takzim. Tatapan kami pada angkasa tapi dengan posisi kepala tertunduk ke danau. Lamat-lamat terdengar lantunan ayat suci Al Qur’an dari pelosok lembah. Tampaknya inilah ngabuburit paling syahdu yang pernah saya ikuti.

telaga warna dieng telaga warna dieng

Di samping Telaga Warna Dieng terdapat Telaga Pengilon yang berukuran lebih kecil dan berwarna telaga pada umumnya. Cukup unik karena keduanya hanya dibatasi sebidang kecil lahan berumput. Namun keduanya sama-sama bernuansa kelam dan misteri.

Seperti sudah saya tulis beberapa kali pada tulisan-tulisan sebelumnya, tiap melihat telaga yang berkesan misterius pasti ingatan saya beralih pada lirik lagu yang ini:

Kisah seorang putri
Yang telah patah hati
Lalu bunuh diri

Tenggelam di telaga sunyi
Bersama cintanya yang murni

Adalah Erwin Gutawa yang mengaransemen ulang lagu Telaga Sunyi karya Koes Ploes ini yang membuat saya terhanyut tiap mendengarnya. Lirik nan indah namun tragis. Aransemen yang megah namun pedih dengan lantunan seruling yang mendayu. Dan lagu ini jadi favorit saya hingga sekarang. Tiap melihat telaga yang permukaannya diam, saya selalu teringat lagu Telaga Sunyi ini.

telaga warna dieng telaga warna dieng

Entah dengan Telaga Warna Dieng ini, adakah legenda lokal yang berhubungan dengan asal-usul telaga? Pastilah tak jauh dari kisah putri raja yang begini begitu. Jadi teringat pada Telaga Warna Puncak dimana legendanya bertutur tentang seorang putri raja yang merajuk dan melempar perhiasan yang diberikan karena tak suka, lalu batu-batu mulia tsb berubah menjadi telaga yang memancarkan warna-warna indah. Talking about intangible heritage, kekayaan budaya seperti legenda dan dongeng rakyat sebenarnya bisa dijadikan salah satu daya tarik wisata.

Keterbatasan waktu membuat kami hanya bisa menikmati pemandangan Telaga Warna Dieng & Telaga Pengilon dari bukit Sidengkeng saja. Padahal masih ada beberapa atraksi lain di kawasan ini seperti Kawah Sikendang dan Pertapaan Mandalasari. Dataran Tinggi Dieng (sekitar 2.000 mdpl) seperti mengundang kami kembali tuk eksplorasi. Kabar langit bilang jika masih ada beberapa atraksi di seputar Dieng yang belum banyak orang tahu. Pun jika kami tak bisa mencari infonya di Google, bertanya ke James pun jadi! πŸ˜‰

 

Disgiovery yours!

telaga warna dieng
[photo credit: @BaRTzap]
Romansa Langit Telaga Warna Dieng
Tagged on:     

22 thoughts on “Romansa Langit Telaga Warna Dieng

  • April 2 at 04:33
    Permalink

    Dahsyat om postingannya. Ini bareng sama om Bart toh? Kesannya penuh misteri dan dalem banget gitu rasanya bacanya.

    Reply
    • April 2 at 23:11
      Permalink

      Wah tengkyu! Dapet komplimen dari mz Dani itu rasanya… ckckck πŸ˜‰
      Btw kisah ini memang bagian dari road trip tahun lalu sama Bart dkk πŸ™‚

      Reply
  • April 2 at 07:55
    Permalink

    Telaga Warna di Dieng memang selalu meninggalkan kemistisan yang membius…
    Btw kenapa foto terakhir sendirian? Perlu dijejerin kah? Hahaha

    Reply
    • April 2 at 23:12
      Permalink

      Ah kak Halim tau aja kode yang disebar, hahaha!
      Btw masih penasaran sama penampakan Telaga Warna Dieng pagi hari, mesti balik lagi ke sana nih! πŸ˜‰

      Reply
  • April 3 at 17:27
    Permalink

    Ini ya, sebenernya kita parkir aja deket gerbang masuk yang tak berpenjaga itu. Gratis deh. πŸ˜€ Btw ngabuburit hari itu menyenangkan sih, sambil liat pemandangan danau, duduk-duduk santai, angin sepoi-sepoi.

    Reply
  • April 4 at 11:48
    Permalink

    Damai banget yaa liat telaga warna
    apalagi kalo di temani seseorang hahaha

    Reply
  • April 6 at 16:23
    Permalink

    Setiap telaga di Indonesai pasti ada legendanya ya.
    James-nya mana nih Mas, kok ga ada foto dia? Hihi.

    Reply
    • April 6 at 17:36
      Permalink

      Bukan cuma telaga, sepertinya semua unsur alam & geologis pasti ada legendanya πŸ˜‰
      James ada tuh yang pake jaket ungu, hehe πŸ™‚

      Reply
  • April 9 at 08:07
    Permalink

    Wah bener juga, klo pagi pemandangannya lebih indah
    Pengambilan fotonya juga bagus banget bang Gio
    Kapan ya kesana lagi.. {RN}

    Reply
    • April 9 at 10:42
      Permalink

      Posisimu dimanakah, Dieng lokasinya pas di tengah-tengah pulau Jawa soalnya, hehehe.. Thanks for the compliment ya kak RN πŸ™‚

      Reply
    • April 11 at 22:09
      Permalink

      Betul sekali mas, dan saya masih perlu kembali ke Dieng karena belum sempat eksplor semuanya πŸ™‚

      Reply
  • April 14 at 09:44
    Permalink

    kalau diamati, kamu tu suka dengan hal-hal yang misterius2 ya kak. kalau ke dieng aku suka nggak tahan dinginnya. brrrrrrr

    Reply
    • April 14 at 10:45
      Permalink

      Aku baru sekali ke Dieng, mana waktu sedang dingin2nya, tidur pake selimut tebal aja ttp menggigil, hahaha! Tapi masih pengen balik lagi tuk meneliti hal2 misterius lainnya πŸ˜‰

      Reply
  • April 14 at 10:55
    Permalink

    Aha, dulu saya sampai tempat ini juga gara-gara iseng. berangkat dari penginapan subuh-subuh dan cari jalan masuk supaya bisa sampai ke spot ini. Dulu bahkan tidak tau kalau ini namanya Bukit Sidengkeng. Pemandangan pagi disini memang jauh lebih ciamik, mas. Apalagi pas permukaan telaga masih berselimut kabut. Kesannya mistis dan penuh magi.

    Reply
    • April 14 at 11:17
      Permalink

      Seperti teman saya bilang, saya menyukai pemandangan yang mistis ala-ala magis, hahaha! Yup, next time musti membukit Sidengkeng lagi pagi-pagi untuk berburu kabut πŸ™‚

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *