telaga warna puncak

Disgiovery.com

PERINGATAN dini ialah Telaga Warna Puncak ini tak punya warna memikat kecuali hijau kecokelatan. Tak ubahnya situ-situ di sekitar tempat tinggalmu. Kelebihannya yakni ia terletak di wilayah Puncak-Bogor. Sejuk pasti. Kekurangannya yakni ia terletak di wilayah Puncak-Bogor. Macet pasti. Adapun keberadaan monyet-monyet liar di sekitar telaga saya tak tahu apakah hal tsb merupakan kelebihan atau kekurangan bagimu.

Kali pertama berkunjung ke Telaga Warna Puncak beberapa tahun lalu, komentar saya hanya: “Begini doang?” Waktu itu cuaca cerah tapi tiada satupun atraksi yang menggugah. Tak ubahnya sebuah situ kecil dengan monyet-monyet usil dan pasangan-pasangan centil. Demi masa yang berlalu, telaga ini pun saya lewatkan tanpa ragu. Bahkan saya lebih sering menyambangi telaga sunyi yang letaknya masih berdekatan, namun tersembunyi di balik deretan warung-warung di pinggir jalan raya.

telaga warna puncak telaga warna puncak telaga warna puncak

Almanak berganti sekian kali, lalu suatu akhir pekan berhujan mendamparkan saya kembali di Telaga Warna Puncak. Sudah beberapa hari terakhir hujan turun tak henti. Kabut pekat menyelubungi Puncak bagai selimut gaib. Tapi yang penting jalanan lancar tanpa antrian kendaraan.

Telaga Warna Puncak ternyata tampil memikat pada kondisi berkabut seperti ini. Kami pilih masuk melalui jalan setapak di sisi jalan raya, melewati hamparan perkebunan teh yang tampak tak berujung tertutup kabut. Pepohonan di kejauhan tampak pupus oleh gradasi. Udara terasa basah, angin yang menampar wajah terasa dingin. Bikin saya mendamba teh tubruk panas dan singkong rebus dicocol gula merah. Dan sebuah pelukan hangat.

telaga warna puncak telaga warna puncak telaga warna puncak

Kami pun masuk ke kawasan telaga yang saat itu tampak bagai setting film misteri. Penglihatan bagai menggunakan filter monokrom bernuansa kelabu. Pepohonan tampak merapat bagai benteng. Permukaan telaga terlihat hampa terhalang kabut yang berpendar. Silakan liar bermain imajinasi. Zombie-zombie bermunculan dari telaga. Monyet-monyet rabies mengeroyokmu tanpa ampun. Pembunuh berantai siap menyergap dari balik pondok-pondok kosong di sisi telaga. Macan kumbang mengendus bau mangsa manusia dari kejauhan.

Ya, seperti itulah imajinasi liar saya. Kalau kamu?

Oya, konon memang masih ada populasi macan kumbang/macan tutul di sini. Jadi sebaiknya tetap waspada!

telaga warna puncak telaga warna puncak telaga warna puncak telaga warna puncak

Kabut tebal memang mencipta romansa. Tiap sudut di Telaga Warna Puncak menjelma bingkai yang elok untuk diabadikan dalam gambar. Pasangan-pasangan kian punya alasan untuk merapat. Yang tak punya pasangan? Nikmati saja kesendirian. Romansa tak melulu tentang pasangan bukan?

Beberapa pondok kayu rupanya tengah dibangun di sisi telaga, mungkin untuk sarana penginapan. Melihat monyet-monyet yang berkeliaran membuat saya berpikir ulang jika diminta menghabiskan malam di pondok tsb. Saya tak tahu makhluk-makhluk nocturnal apa yang akan berkeliaran di sekitar pondok. Siapa tahu akan ada perwujudan seorang putri darimana legenda telaga ini berasal. Sang putri mungkin akan bertanya dimana kalung manik-maniknya yang hilang. Bilang saja ada di telaga.

telaga warna puncak

Saya juga mendapati sebuah jalur trekking menuju hutan, meski kondisi berkabut begini bikin saya enggan untuk menyusurinya. Jika kondisi cerah kelak mungkin saya kan kembali untuk menapakinya, siapa tahu menemukan telaga lain yang lebih memikat di sana, di antara perdu dan paku-pakuan yang menyingkir oleh tanaman teh yang dibawa kolonial Belanda pada abad XVIII ke kawasan ini.

Bagaimana denganmu, romansa kabut apa yang terlintas dalam benak? πŸ™‚

 

Disgiovery yours!

telaga warna puncak

 

NB1: Serupa Tapi Tak Sama

I know it’s unfair to compare, tapi setelah uji coba kemampuan dua gawai Alcatel Flash 2 dengan iPhone 6+Β ternyata hasil fotonya sama-sama memuaskan untuk ditampilkan di blog. Dapatkah kau tangkap perbedaannya? πŸ˜‰

NB2: Dilema Harga Tiket Masuk

Turis domestik: Rp. 5.000 (hari kerja) atau Rp. 7.500 (hari libur) per orang.
Turis asing: Rp. 100.000 (hari kerja) atau Rp. 150.000 (hari libur) per orang.

Saya tak masalah turis asing dikenakan tarif lebih mahal untuk masuk kawasan Telaga Warna Puncak, tapi dengan luas telaga yang tak seberapa tampaknya harga tsb terlalu tinggi. Dengan perbandingan harga yang sama, turis asing malah bisa lebih leluasa mengeksplorasi TN Halimun-Salak misalnya.

Tapi kawan saya Citra sang pemburu cinta telaga lalu melontarkan wacana bahwa kehadiran turis-turis Arab-lah yang mungkin jadi penyebab tingginya harga tiket masuk Telaga Warna Puncak. Setelah dipikir-pikir dan menyaksikan sendiri betapa turis lokal malah menjadi minoritas di beberapa lokasi wisata di Puncak akhirnya saya terpaksa menyetujui gagasannya tsb.

Mungkin lebih afdol jika ditambahkan lagi beberapa kategori berikut:
Turis asing non-Arab: Rp. 50.000
Turis timur tengah (beserta gandengannya lokal atau original, sah atau tidak sah, kontrak ataupun tidak): Rp. 500.000

telaga warna puncak
Alangkah lebih elok jika ditambahkan keterangan dalam aksara Sunda, tak cuma huruf Arab sahaja

 

Romansa Kabut Telaga Warna Puncak
Tagged on:         

21 thoughts on “Romansa Kabut Telaga Warna Puncak

  • March 31 at 06:56
    Permalink

    Kayaknya kalau berkabut malah asyik diabadikan, mas. Samar-samar gimana gitu pepohonannya πŸ˜€
    dan baru sadar kalao Bastus adalah Baso Tusuk πŸ˜€ πŸ˜€

    Reply
    • March 31 at 11:16
      Permalink

      Asal jangan status cinta yang samar2 ya, mas πŸ˜‰ #eh
      Hahaha bastus emang enak tuh dijadikan cemilan saat udara dingin, sayang saya lupa foto gerobak sekotengnya πŸ™‚

      Reply
  • March 31 at 09:50
    Permalink

    Foto-foto kabut selalu keren Mas. Menimbulkan imajinasi liar yang sama seperti yang tertulis di sini :3

    Tapi, melihat harga yang demikian, setuju banget, mending buat ekpslorasi TNGHS sampai mlethek πŸ˜€

    Reply
  • April 2 at 15:56
    Permalink

    menurut saya, keberadaan monyet-monyet liar itu adalah keistimewaan tersendiri bagi telaga ini.
    kabutnya malah membuat telaganya terkesan mistis lo…

    Reply
    • April 2 at 23:14
      Permalink

      Trims atas pendapatnya, kak Fauzi πŸ™‚ Monyet2 telaga warna pasti senang karena mereka biasanya dianggap pengganggu.
      Btw kabut emang bikin suasana tambah mistis, makanya saya gak berani masuk lebih dalam ke hutan…

      Reply
  • April 4 at 11:54
    Permalink

    “Begini doang” juga yang gw sebut saat ke telaga warna puncak hahahahahaha

    Reply
    • April 4 at 17:34
      Permalink

      Hahaha bahkan mestinya sih gratis aja ya, subsidi dari resto/rumah makan seputar Puncak kan kenceng tuh πŸ˜€

      Reply
  • April 8 at 08:23
    Permalink

    kabut selalu menimbulkan efek foto yang luar biasa dengan komposisi dan ketajaman fotografernya…

    dan jenengan menciptakan itu semua di post ini..

    amazing mas

    Reply
    • April 8 at 18:15
      Permalink

      Wow, matur nuwun, mas Wahyu! It’s all about being in the right place at the right time with the right mood, hehehe πŸ˜‰

      Reply
  • April 27 at 22:38
    Permalink

    luar biasa indah foto yang anda ciptakan, bikin pingin main ke daerah bogor puncak. apalagi tiketnya yang murah, tapi sayangnya aku di surabaya…

    Reply
    • May 1 at 01:44
      Permalink

      Harus dicoba kesini walau cuma sekali, biar gak penasaran, hehehe.. Baiknya datang pas cuaca berhujan biar kabutnya tebal πŸ™‚

      Reply
  • June 24 at 13:57
    Permalink

    Busyeeet bawa-bawa turis arab ama gandengannya πŸ˜€ hahaha
    Hish nggak ajak-ajak ke sini siiiih

    Reply
    • June 25 at 10:46
      Permalink

      Makanya kalau pada suatu wiken hujan tak henti maka saat yang tepat untuk melipir ke sini! πŸ˜‰

      Reply
  • November 4 at 17:01
    Permalink

    Setiap hari nuansanya seperti itu kah? ngerasa horor mas, walopun ngga dipungkiri fotonya keren abis. haha

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *