Road-Trip-Day-3-4-cover

Disgiovery.com

Day 3

ARE we there yet?

Rasanya sudah sekian lama meretas jalan ini namun tak ada tanda-tanda kami mendekati Dieng. Hutan pinus merapat di kedua sisi, terkadang merenggang untuk memperlihatkan lembah dan perbukitan hijau nun di kejauhan. Jalan kecil yang dilalui tak selamanya mulus, ada kalanya kami harus merayapi jalur semi off-road. Apakah ini jalan yang benar?

Tak bisa dipungkiri terasa ketegangan di dalam kereta hitam. Seakan semua menahan napas, berharap belokan selanjutnya terdapat petunjuk yang jelas. Abaikan musik penghibur. AC pun dimatikan supaya kendaraan punya tenaga dorong saat menanjaki jalanan curam dan berliku. Perut terasa dikocok-kocok ketika melintasi medan yang berbatu-batu.

Andai saja jalanan mulus (tampaknya saat itu memang sedang ada perbaikan) sepertinya kami tak akan setegang ini. Beruntung masih terlihat jejak kendaraan di jalur yang dilalui (dan masih ada sinyal selular di gawai), maka tak patutlah pupus harapan. Bukan begitu bukan?

Jadi, tetap semangat!

Tapi harapan saya pupus setengah ketika melihat layar ponsel. Sinyal si biru modar!

***

“Perjalanan hari ini bakal menempuh 200 km lebih.” Demikian sabda Bama pagi itu. Dan menanjak 2.000 meter lebih ke atas awan, batin saya. Tapi jujur saya tak menyangka jika jarak Cirebon-Dieng bakal sejauh itu. Jika ditarik garis lurus di atas peta memang lebih dekat, tapi posisi Dieng yang terletak di dataran tinggi dan dikepung pegunungan membuat manusia harus mengambil jalan memutar dan berkelok-kelok untuk mencapainya.

Tapi masih ada waktu bagi kami untuk menyusuri bangunan cagar budaya di kawasan kota tua Cirebon. Di antaranya adalah Gedung Bank Mandiri dan Gedung BAT di Jl. Pasuketan. Gedung BAT yang berlantai dua dengan arsitektur art deco langsung menyita perhatian. Bentuknya memanjang di sisi jalan. Terlihat plang bertuliskan ‘Anno 1924‘ di salah satu bagian dindingnya.

Road-Trip-4-11-Day-3-(kota-tua)
Gedung BAT yang megah ini bisa dibilang salah satu landmark kota tua Cirebon.

Di Jl. Yos Sudarso kami menyambangi Gereja Katolik Santo Yusuf yang terlihat putih bersinar berlatar langit biru dan pucuk gunung Ciremai. Inilah bangunan gereja katolik tertua di Jawa Barat (didirikan sekitar tahun 1878). Sayangnya kami tak bisa melangkah masuk lebih jauh dari pagar halaman. Seorang petugas keamanan setempat lalu menyarankan kami untuk berjalan beberapa blok menuju Gereja Kristen Pasundan yang lebih kuno (dibangun sekitar tahun 1788). Letaknya tak jauh berseberangan dengan gedung Bank Indonesia. Bangunan Gereja Kristen Pasundan Cirebon ini berbentuk segi enam simetris dengan puncak mengerucut.

Di samping Gereja Kristen Pasundan terdapat bangunan kuno lain yakni Gedung Cipta Niaga (1911). Bangunan dua lantai berbentuk persegi ini punya sebuah menara dengan balkon (saya langsung membayangkan Evita Peron berdiri di balkon menara dan menyanyikan lagu ‘Don’t Cry For Me, Cirebon‘), dan tampaknya kini digunakan sebagai gedung perkantoran.

Seorang petugas keamanan berkulit legam berseragam hitam tampak duduk sendiri di hadapannya. Fisiknya di sini, mungkin benaknya di awang-awang. Seekor anak kucing kurus terdengar mengeong-ngeong di dekatnya. Saya berjongkok di depan si kucing malang, memberinya sedikit afeksi. Perhatian sang sekuriti beralih, dan kini ikut mem-pus-pus si kucing.

Barangkali, ya barangkali, diperlukan katalis untuk membuat kita membuka mata pada orang lain. Atau satwa lain. Atau lingkungan. Atau mungkin Tuhan?

Road-Trip-4-11-Day-3-(gereja)
Petugas keamanan Gereja Santo Yusuf tengah menunjukkan arah. Lihat cincinnya dong, Pak! 😉
Road-Trip-4-11-Day-3-(kucing)
Kucing kecil yang haus perhatian. Semoga ia bisa berteman dengan si bapak keamanan.

Kami lanjutkan berjalan kaki hingga Jl. Talang. Melintasi pasar loak. Bertukar senyum pada ibu penjual pakaian bekas, dan bersirobok pandang dengan bapak tua yang duduk di sofa hijau (tatapannya bilang tak ingin diganggu jadi saya urung sapa).

Sebuah klenteng merah mentereng kami jumpai. Tak sangka bangunan Klenteng Talang ini ternyata sudah berdiri sejak 1417, awalnya digunakan sebagai tempat penampungan kaum papa dan persinggahan kaum musafir. Kami mendapati pintu masuk masih tertutup, jadi hanya bisa memotretnya dari seberang jalan.

Satu-dua penduduk lokal menghampiri, menyapa, dan mengajak ngobrol. Mereka hanya penasaran dan antusias. Dan kami menertawakan diri sendiri yang kerap curiga dihampiri orang asing di jalan. Maklum, terbiasa dengan kultur ibukota yang penuh prasangka.

Saya suka melihat bangunan Balai Kota Cirebon (1927) di Jl. Siliwangi yang masih mengadopsi gaya art deco berwarna putih mentereng, dan dihiasi udang-udang berwarna keemasan di beberapa sudut menara depannya. Tampak cantik, unik, dan… lezat.

Tepat di sisi Balai Kota, terdapat sebuah rumah peninggalan zaman Belanda yang tampak kusam dan tertutup rimbun pepohonan. Di depannya tergantung miring plang kayu bertuliskan ‘La Palma – Toko Roti & Kueh’. Kami sempat membeli kudapan untuk bekal buka puasa di jalan nanti.

Road-Trip-4-11-Day-3-(ciremai)
Gunung Ciremai mengikuti sepanjang jalan tol Palikanci, seakan melepas kami meninggalkan Cirebon.

***

Are we there yet?

Meninggalkan Cirebon ke arah timur, menyusuri jalan tol Palikanci dilanjut dengan jalan tol Kanci Pejagan. Lalu menyusuri jalur Pantura sepanjang Brebes-Tegal-Pemalang-Pekalongan-Batang. Inginnya singgah di tiap kota tapi waktu tak peduli. Medan yang kami tempuh datar dan lurus saja. Banyak truk besar di sepanjang jalan.

James terkekeh sendiri setelah membaca salah satu tulisan di belakang bak truk: “Siti As*hole! Siti As*hole!” ujarnya.

Kami ikut melihat truk yang dimaksud, ternyata yang dibaca James adalah tulisan: Siti Asolole. Langsung meledak tawa, dan tugas kami selanjutnya adalah menjelaskan pada James apa itu arti asolole (berdasarkan pengetahuan kami yang terbatas, hehehe!). Beruntung James tidak tanya kenapa Siti jadi asolole.

Rute yang kami tempuh menuju Dieng memang mengikuti petunjuk dari Google Maps (saya baru tahu belakangan jika rute yang lazim ditempuh dari Cirebon adalah via Purwokerto). Hari itu kami diarahkan menyusuri jalur Pantura hingga Batang, lalu berbelok menempuh jalan kecil ke selatan, melewati persawahan dan perkebunan, mendaki gunung lewati lembah (tiba-tiba lagu Ninja Hatori terngiang).

Road-Trip-4-11-Day-3-(hutan)
Hutan yang berkelebat tatkala kereta hitam kami menyusuri jalan berbatu menuju Dieng.

Bersyukur setelah perjalanan panjang melalui jalanan kecil & sepi, akhirnya kami muncul di wilayah perbukitan yang lereng-lerengnya disulap menjadi kebun sayur. Kehadiran sosok-sosok manusia yang mengenakan jaket tebal ataupun berselubung sarung sungguh melegakan. Cuaca sudah berkabut. Kepulan asap tampak membumbung di beberapa titik. Kawah aktif. Tak salah lagi, kami sudah memasuki Dieng!

Yes, we are here!

Dieng Plateau memang terletak di ketinggian 2.093 mdpl, tak heran suhu udara di sini termasuk rendah dan bisa menurun hingga 0 derajat Celcius di bulan Juni hingga Agustus. Sementara kami berempat mendatangi Dieng pada bulan Juli, pada saat suhu dingin lagi lucu-lucunya! Awalnya saya kira Dieng cuma sedingin Puncak di Bogor, ternyata oh ternyata, andai bisa bawa api unggun kemana-mana.

Oya, sinyal si biru mati total di sini, jadi sebaiknya andalkan si merah.

***

Waktu berbuka puasa ditandai dengan bunyi sirene yang menggema di seantero penjuru.  Jalanan yang tadinya ramai langsung sepi. Walau tak sempat ngabuburit untuk beli takjil tapi kami bisa membatalkan puasa dengan keripik anggur dan dodol sirsak, sedikit dari aneka kudapan yang kami beli di toko La Palma tadi siang di Cirebon. Keripik anggurnya langsung ludes, rasanya unik, manis, dan gurih dalam satu gigitan renyah. Kress!

Hari sudah gelap ketika kami melangkah keluar dari Nusa Indah I (penginapan asri & resik tempat kami bermalam). Sebuah kedai mie ongklok (masakan khas Wonosobo) dekat penginapan jadi tujuan.  Kedai ini tak bernama, sebut saja ‘kedai si ibu’ karena yang melayani adalah seorang ibu berkerudung dibantu asistennya.  “Bu, tumbas mie ongklok, nggih. Sekawan.” Bart memesankan kami empat porsi. Ah, senangnya punya teman berlidah polyglot 🙂

Mie ongklok terhidang (berupa mie rebus berkuah kanji dilengkapi sate sapi dan bumbu kacang), dan kami jadi penasaran apakah lidah James bisa menerima makanan ini. “Suka, James?”  Yang ditanya sedang makan dengan antusiasme Upin-Ipin melahap ayam goreng. “Suka!” sahutnya dengan khidmat. Syukurlah!

Makanan lezat dan minuman hangat, maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Hari ini ditutup dengan ucapan: “Aduh lupa, di Cirebon kita belum cicip tahu gejrot!”

Road-Trip-4-11-Day-3-(sunset-dieng)
Suasana menjelang matahari terbenam di Dieng. Gambar diambil dari teras penginapan.

 

Day 4

BAGAI masuk dalam film liar karya David Lynch, saya mendapati sosok Laa Laa dan Po, dua tokoh Teletubbies, sedang terbaring di halaman berumput di sisi Candi Arjuna. Laa Laa terlentang, Po tertelungkup. Burung-burung berkicau, mentari pagi benderang, namun dingin tetap berhembus.  Laa Laa dan Po bagai mati.

Musik latar bergaung dari kejauhan, melantunkan sebuah lagu berbahasa Jawa yang terinspirasi dari nada-nada Banyuwangi yang tak familiar di kuping.

Wong takon wosing dur angkoro
Antarane riko aku iki
Sumebar ron-ronaning koro
Janji sabar, sabar sak wetoro wektu

Kolo mangsane, ni mas
Titi kolo mongso

Pamujiku dibiso
Sinudo kurban jiwanggo
Pamungkase kang dur angkoro
Titi kolo mongso

Saya tak paham lirik lagu yang dilantunkan, namun vokalisasi dan musikalitasnya sungguh menghanyutkan imajinasi.  Kolosal. Bagai musik dalam film berlatar genosida. Hitam putih, abu dan asap, puing-puing, tubuh-tubuh kaku, dan langkah kecil seorang anak yang selamat. Saya melangkah pelahan mengelilingi komplek Candi Arjuna, sesekali menjelma langkah si anak kecil, merasakan keagungan sekaligus kehancuran.

Candi-candi di komplek ini adalah peninggalan kerajaan Hindu pada abad 7-8 M. Dieng secara etimologi berasal dari bahasa Sansekerta ‘Di’ dan ‘Hyang’ yang berarti ‘tempat bersemayam para dewa’. Melihat candi-candi pemujaan dewa yang terserak di wilayah ini sungguh mengukuhkan hal tsb.

Pada masanya candi-candi ini adalah simbol kejayaan, sebelum akhirnya terlantar dan terendam rawa tatkala ditemukan pada abad 19 M.  Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, dan Candi Sembadra terletak dalam satu lahan yang sama. Candi Arjuna adalah yang utama, meski relief ketiga Dewa Trimurti (Syiwa, Wisnu, dan Brahma) justru terpahat di Candi Srikandi.  Ada pula Candi Setyaki dan Candi Gatotkaca yang terletak menyendiri.

Ini kali pertama saya melangkah masuk ke dalam candi.  Menaiki tangga batu, menapaki lorong batu hingga masuk ke dalam ruangan dingin dan lembab. Perwujudan lingga dan yoni dari batu berada di tengah ruangan.

Road-Trip-4-11-Day-4-(arjuna)
How I love the blue of the sky over Candi Arjuna that day.

Beberapa arca (seperti Durga, Ganesha, dan Agastya) dari komplek candi ini terpampang di Museum Kailasa Dieng. Lokasinya berdekatan dengan Candi Gatotkaca, di kaki bukit yang menghadap ke komplek Candi Arjuna.  Seorang penjaga museum lekas mematikan musik begitu kami datang.

Seketika alunan musik kolosal dengan nada-nada Banyuwangi yang sedari tadi menggema di segenap penjuru komplek candi langsung terhenti.

Hening.

Alih-alih bersyukur, saya malah merasa kehilangan. Tampaknya saya mulai ada ikatan emosional dengan musik tsb. Di kemudian hari saya baru tahu jika komposisi memikat tsb adalah gubahan Sujiwo Tedjo berjudul ‘Pada Suatu Ketika’.  Lagu ini berkisah tentang harapan berakhirnya angkara murka.  Pantas saya merasa sendu sekaligus penuh harap begitu mendengarnya.

Museum Kailasa Dieng ini terbagi atas dua bangunan yang berhadapan. Bangunan klasik di bagian depan menampung peninggalan arca dari candi-candi sekitar.  Bangunan modern di bagian belakang menampilkan informasi umum tentang sejarah Dieng, tradisi & budaya masyarakat Dieng, bagaimana candi dibuat, skala candi-candi yang ada di Jawa, hingga pemutaran film dokumenter. It’s all worth it!  Saran kami, datangi dulu museum ini sebelum mulai berkeliling komplek candi.

Kembali ke tempat parkir, saya melihat Laa Laa & Po yang sudah siuman. Alunan musik kolosal yang terhenti mungkin telah menyadarkan mereka. Kini keduanya duduk termenung, masih di sisi Candi Arjuna. Mungkin menyesali keputusan mereka meninggalkan bukit Teletubbies yang damai.

Road-Trip-4-11-Day-4-(teletubbies)
Laa Laa & Po tampak termenung. Mungkin dunia nyata tak seindah dongeng.

***

Adakah ini nyata, atau saya kembali terhanyut dalam dunia dongeng? Seekor kuda putih bercadar merah. Seekor burung hantu berpayung kuning transparan.  Keduanya berdiri diam di tanah cadas dekat kawah.  Apakah mereka jelmaan putri dan pangeran dalam legenda Sikidang? Saya lupa detailnya tapi ada pangeran yang terkurung dalam lubang yang kini menjelma kawah, berusaha keluar hendak menagih cinta sang putri.

Imajinasi saya buyar tatkala mengetahui pengunjung dapat berfoto bersama si kuda atau si burung dengan imbalan rupiah. Ternyata hanya atraksi. Akhirnya saya pilih mengamati dari jauh.

Kawah Sikidang tampak berasap tebal dengan cairan lumpur yang menggelegak. Bau belerang menyengat hidung.  Kau tak bisa melihat keseluruhan kawah karena asap putih demikian tebal dan membumbung tinggi. Pagar bambu membatasi bibir kawah. Konon pernah ada seorang pengunjung yang terperosok kakinya ke dalam kawah, dan begitu ditarik keluar… well, kakinya sudah tinggal tulang dan tetelan.

Kawah Sikidang adalah salah satu kawah aktif yang terdapat di Dataran Tinggi Dieng.  Kawah ini memiliki karakter berpindah-pindah kepundan, mungkin itu pula sebabnya dinamakan Sikidang (alias si kidang atau si kijang, hewan yang suka melompat-lompat).  Sebagai kawasan vulkanis yang termasuk dalam Ring of Fire, membuat Dieng mempunyai banyak kawah aktif, tak hanya Sikidang saja. Kau dapat melihat banyak asap kawah mengepul di beberapa titik di Dieng, bahkan potensi ini sudah dimanfaatkan menjadi pembangkit listrik tenaga panas bumi.

Sebelum Kawah Sikidang, kami sempat berkunjung ke Candi Bima yang letaknya terpisah dari komplek Candi Arjuna.  Sosoknya mengingatkan pada bangunan candi di India yang tak terlalu banyak relief.  Sayang saya mendapati corat-coret–NO bahkan lebih parah–ukir-ukiran tangan seorang pengunjung yang menorehkan namanya di tembok candi.  Candi Bima memang dibiarkan sendiri tanpa pengawasan, namun tetaplah ulah oknum itu sungguh terlalu!

Road-Trip-4-11-Day-4-(sikidang)
Ini bukan mendung, Kawan, namun asap kawah yang tebal menghalangi langit.
Road-Trip-4-11-Day-4-(vandalisme)
Bukti vandalisme di Candi Bima (atas) dan Candi Gatotkaca (bawah).

Untuk melepas lelah dan menghindari dehidrasi, kami mulai melakukan ritual trip selama bulan puasa: siesta alias tidur siang. Siesta di Dieng kali ini sungguh berbeza, kerana mesti berselimut tebal. Waktu beristirahat ini kami manfaatkan sebaik-baiknya untuk mengumpulkan energi kembali untuk kegiatan sore hari.

Telaga Warna sudah menanti kami di jelang petang. Demi mendapat sudut pengambilan gambar yang ideal, kami pun mendaki bukit Sidengkeng di sisi telaga. Telaga Warna memiliki luas 40 hektar dan merupakan bekas letusan gunung purba yang sudah tak aktif lagi.  Kandungan sulfur yang cukup tinggi membuatnya tampak berubah-ubah warna. Kami lihat saat itu Telaga Warna berwarna hijau gelap dengan pulasan putih susu bak motif marmer.  Indah tapi dalam.  Misterius.  Konon banyak benda-benda pusaka yang terpendam di dalamnya.

Lihat, bahkan langit pun bercermin pada permukaannya yang tenang. Tampak angkasa biru dengan awan putih yang pelahan berarak terlihat jelas di permukaan air.  Kau menatap langit dengan kepala tertunduk.  Pada telaga.

Di samping Telaga Warna terdapat Telaga Pengilon yang berukuran lebih kecil dan berwarna telaga pada umumnya. Cukup unik karena keduanya hanya dibatasi sebidang kecil lahan berumput.  Namun keduanya sama-sama bernuansa kelam dan misteri.

Road-Trip-4-11-Day-4-(telaga-warna)
Telaga Warna tempat pusaka dipendam dan langit bercermin.

Saya jadi teringat lirik lagu yang ini:

Kisah seorang putri
Yang telah patah hati
Lalu bunuh diri

Tenggelam di telaga sunyi
Bersama cintanya yang murni

Adalah Erwin Gutawa yang mengaransemen ulang lagu Telaga Sunyi karya Koes Ploes ini yang membuat saya terhanyut mendengarnya. Lirik nan indah namun tragis. Aransemen yang megah namun pedih dengan lantunan seruling yang mendayu. Dan lagu ini jadi favorit saya hingga sekarang. Tiap melihat telaga yang permukaannya diam, saya selalu teringat lagu Telaga Sunyi ini.

***

“Mie ongklok lagi?”

Menu buka puasa jadi bahasan sepulang dari Telaga Warna. Kami perhatikan menu yang terpampang di beberapa kedai pastilah tak jauh dari nasi goreng, membuat kami memutuskan kembali ke fitrah: mie ongklok. Tapi kami ingin mencoba mie ongklok selain buatan kedai si ibu.

“Bagi-bagi rejeki-lah!” cetus saya.

Tapi beberapa kedai yang kami datangi malah sedang tutup.  Jelas sudah, fitrah kami cuma ada di kedai si ibu.  Pada jeruk hangat, tempe kemul, bakso kosong, dan mie ongkloknya.

“Ternyata rejeki yang mau dibagi memang milik si ibu,” seloroh Bama.

Road-Trip-4-11-Day-4-(kuliner)
Bakso kosong & mie ongklok, kulineran utama kami selama di Dieng.

Mie ongklok adalah masakan khas Wonosobo, dan menggunakan ongklok (semacam keranjang kecil dari bambu) untuk merebus mie.  Mi rebus ini kemudian ditabur irisan kol rebus, cacahan daun kucai, dan kuah kental berkanji (campur ebi) yang disebut loh. Disajikan bersama beberapa tusuk sate sapi manis dan bumbu kacang. Di kedai si ibu ini sambalnya berupa ulekan cabai segar. Hari pertama kami disuguhi sambal merah, hari kedua berupa sambal hijau rawit. Dahsyatlah rasanya apalagi dinikmati di tengah kepungan udara dingin menggigit.

Hidangan kedua kami adalah bakso kuah (atau di sini disebut bakso kosong). Yang membedakan dengan bakso kuah yang biasa saya temui adalah irisan tahu goreng yang turut berenang-renang di kuahnya. Tapi bakso yang ini memang enak dan kuahnya gurih.

Masih khas Wonosobo adalah tempe kemul, adalah gorengan tempe yang diiris tipis, ditambah irisan daun kucai, dan digoreng hingga garing. Sebagai bukan penggemar gorengan, saya akui saya suka dengan ke-crispy-an tempe kemul di kedai si ibu.

Dari kedai si ibu kami berpindah ke pos base camp Prau yang terletak di sisi jalan. Registrasi untuk pendakian esok (naik gunung, man!), sekaligus dibekali brosur kecil berisi peta dan informasi trek mana saja yang bisa dilalui.

Doakan kami esok!

Road-Trip-4-11-Day-4-(kuda)
Uji imajinasi, dongeng apa yang kan kau kisahkan tentang kuda & burung hantu?

 

NEXT on Road Trip 4/11:
Apa rasanya naik gunung sambil tetap puasa? Rasanya… rasakan sendiri!

PREVIOUSLY on Road Trip 4/11:
Awal perjalanan menuju Cirebon. Kenapa ada smurf-smurf di Keraton Kasepuhan?

Video Road Trip 4/11:
Klik di sini untuk melihat video highlight perjalanan kami 🙂

 

Road Trip 4/11 [2] Dieng
Tagged on:                                                     

26 thoughts on “Road Trip 4/11 [2] Dieng

  • Pingback: Road Trip 4/11 Day 1 & 2 - DISGiOVERY

  • August 3 at 02:12
    Permalink

    Kawasan Dieng, Sikunir, Hingga Pegunungan Sindoro – Sumbing – Prau menjadi tempat yang indah. Apalagi kemarin ada Festival di Dieng 🙂

    Reply
    • August 3 at 09:16
      Permalink

      Dirimu ikut hadir di Festival Dieng? Seberapa penuh di sana, semoga gak banyak sampah ya..

      Reply
  • August 4 at 14:23
    Permalink

    Candi-candi di Dieng memang masih misterius, bahkan penamaannya kan didasarkan kesepakatan lokal, dinamakan seperti tokoh dalam pewayangan. Masih diduga-duga. Semisterius tersangka vandalisme di tubuh candi 🙁

    Reply
    • August 5 at 11:59
      Permalink

      Betul, Qy! Untung penamaannya sesuai ya 🙂

      Itu pelaku vandalisme patut diapain ya, apalagi yang mengikir dinding candi #geram

      Reply
  • August 4 at 16:57
    Permalink

    Disebut Durga, Agastya, dan Ganesha, maka hampir pasti arca-arca itu yang mengisi arah-arah di candi-candi ya Mas. Karakteristik candi Jawa Tengah mungkin seperti itu ya Mas. Sejauh ini saya mendatangi candi-candi Hindu dan mereka memang memuat empat arca itu, Durga di sebelah kanan, Agastya di sebelah kiri, sedangkan Ganesha di belakang. Dieng sendiri kabarnya adalah candi tertua yang sepantaran dengan Gedong Songo, jadi penasaran soal lay out percandiannya, mandala konsentris atau mandala bertingkat, mengingat di masa-masa sesudahnya, lay out ini sangat menentukan :)).

    Ah, perjalanan yang sangat menyenangkan dan kaya cerita. Apalagi disajikan dengan sangat cantik seperti ini, saya terpukau dengan tulisan dan pemilihan kata-katamu. Top!

    Reply
    • August 5 at 12:03
      Permalink

      Layout candi Arjuna sepertinya bukan mandala konsentris karena letaknya memanjang, eh tapi anu.. mungkin saudara Bart atau Bama bisa menjelaskan? 😉

      Btw suksma bli! Senang bisa berbagi kisah ini dan bisa dinikmati 🙂

      Reply
  • August 4 at 17:19
    Permalink

    Jadi kenapa ada lala sama poo yang sedang termenung di dieng? 😀 duh, jadi kange makan mie ongklok~ apalagi dimakan selagi masih hangat :9

    Reply
    • August 5 at 12:12
      Permalink

      Jadi Laa Laa & Po mencari nafkah dengan foto bareng wisatawan, tapi hari itu sedang naas sepertinya 🙁

      Mie ongklok emang paling top dimakan panas2 di udara dingin Dieng! 🙂

      Reply
    • August 5 at 12:17
      Permalink

      Gak ada arti yang pasti sih, ada yg bilang plesetan dari ‘as*hole’ atau singkatan ‘asli lo lebay’ dll.. Tapi aku pertama dengar istilah itu dari lagu dangdut..

      Reply
    • August 16 at 16:53
      Permalink

      Halo kak Dee, salam kenal juga 🙂
      Terima kasih sudah mampir, sering-sering main sini ya 😉

      Reply
  • August 16 at 21:12
    Permalink

    Aku udah baal waktu James ngutak-ngatik volume lagu pas kita lagi nanjak melewati jalan yang bikin sport jantung itu. Di pikiranku cuma berharap ketemu tanda-tanda kalo kita udah deket ke Dieng. 😀 Tapi ya kejadian kayak gitu pas udah lewat selalu jadi bahan cerita yang menarik sih. Btw kamu bisa nemu lirik lagu itu, hebat! Gak nyangka bahwa itu ternyata lagunya Sujiwo Tedjo, pantesan berasa dalem liriknya, meskipun pas di sana gak terlalu ngerti juga artinya.

    Reply
    • August 16 at 21:33
      Permalink

      Di pikiranku waktu itu berharap di belokan berikutnya ada tukang bakso tempat kita bisa bertanya…
      *oh well sekalian ngebakso deh, kan gak enak kalo cuma nanya doang*

      Aku bisa nemu lagu Sujiwo Tedjo setelah googling pake keyword ‘lagu di candi Arjuna’. Next time mau coba keyword ‘lagu di hatimu’ ah… 😀

      Reply
  • August 29 at 08:41
    Permalink

    Cuma kucing aja, Kak, yang dikasih afeksi? Hahahaha .. *melipir, daripada disambet jerigen*

    Cirebon – Dieng, hmm, perjalanan yang luar biasa panjang. Apalagi ditempuh dengan berkendara mandiri. Duh, tepos ngga pantatnya, Bang? Tapi sekali lagi, road trip itu menyenangkan ya, banyak cerita yang dapat ditangkap indera. Nice, as ussual .. 🙂

    Reply
    • August 31 at 06:17
      Permalink

      Hahaha, kak Zizou paling pinter emang memancing di dalam jerigen.. 😉

      Iya ini bisa dibilang road trip panjangku yang pertama. Biasanya cuma seputar Pelabuhan Ratu-Sawarna aja. Thanks, Zou! Nantikan kelanjutan kisahnya yaaa…

      Reply
  • Pingback: Road Trip 4/11 [3] Gunung Prau - DISGiOVERY

  • April 6 at 21:00
    Permalink

    kak foto-fotomu cakep. Gedung BAT itu autentik kak suka bagunan bergaya kolosal begini

    Reply
  • April 14 at 22:25
    Permalink

    kalau ke dieng lewat wanayasa coba mampir di kecamatan wayanasa, di pojok pertigaan ada mie ayam n bakso enak disitu mas..yang jualan ibu ibu dimana rumahnya pernah saya inepin 2 bulan waktu KKN 😀

    Reply
    • April 14 at 23:03
      Permalink

      Wah menarik infonya, itu selama 2 bulan berarti makan bakso tiap hari dong, Mas? Hehehe 😉
      Btw udah dicatet infonya, thanks so much, mas! 🙂

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *