Road Trip 4-11 Day 1-2 cover

Disgiovery.com

Day 1

KISAH perjalanan ini dilakoni oleh 4 lelaki dalam 11 hari (atau bakal diperpanjang jikalau mampu). Dengan mengendarai kereta hitam roda empat, kami akan menyusuri jalan bebas hambatan sepanjang pantai utara Jawa Dwipa, singgah sejenak di Kasultanan Kasepuhan Caruban, menyambangi tempat bersemayam para dewa di ketinggian Di Hyang, menyambut surya di candi agung wangsa Syailendra, dan menghabiskan sebagian masa di wilayah Ngayogyakarta Hadiningrat.

Pertama-tama di hari pertama, tiga dari kami berkumpul di bandara demi kedatangan 1 lainnya dengan burung Garuda. James namanya, adalah warga dunia, berpaspor Kanada, kuliah di Eropa, tinggal di HK, dan cinta mati sama Indonesia Raya. Dalam 3 tahun terakhir, paspornya melulu dipenuhi stiker VOA Indonesia (mungkin ada lebih dari 10 kunjungan).  Dan ia sudah antusias sejak dalam pesawat menuju Nusantara. “Saya merasa sedang terbang pulang.”

Sweet!

James datang, sekawan senang. Tas-tas segera memenuhi bagian belakang kereta hitam yang sudah sesak oleh barang-barang bawaan pemudik. Bama, sang juru mudi (merangkap juru mudik), memang hendak sekalian pulang ke kampung halaman. Selamat tinggal ibukota.

Road trip 4/11 pun dimulai!

road-trip-day-1-(tol Cipali)

***

Bama namanya. Sosoknya bersih sehat bak panti pijat, dan (sepertinya) suci hama dari drama. Ia adalah tipikal seseorang yang cocok buat bilang: “Awalnya saya mengantar teman ikut audisi, tapi malah saya yang dipilih.”  Syukurlah tak ada temannya yang minta diantar ikut audisi apapun.

Dan kini ia menjalani audisi sendirian dengan menyanyikan lagu-lagu Bublé sepanjang perjalanan. James sesekali ikut menimpali. Untung suara mereka bagus.  Membuat dua teman lainnya terlena di jok belakang.

Melewati jalan tol Jakarta-Cikampek, kereta hitam berhenti sejenak di Rest Area KM 57.  Semestinya kami berhenti di rest area sebelumnya dimana terdapat gerai J-Co, kudapan favorit James.  Namun karena sudah kebablasan, tak apalah masuk sini saja.  Tak disangka kawasan ini punya theme song sendiri yang dikumandangkan di seluruh penjuru. Pengunjung bagaikan sedang didoktrin dengan lirik lagu ‘Rest Area 57‘ berulang-ulang.

Kami mengisi bahan bakar. Menandaskan isi kandung kemih di dalam toilet yang luas, bersih, dan benderang.  Menuntaskan kewajiban di dalam masjid At-Taubah yang besar dan sejuk. Juga membeli kudapan untuk berbuka puasa nanti.

James, sejak awal perjalanan ini dicanangkan, sudah berniat untuk ikut berpuasa Ramadhan bersama kami (meski ia tak punya kewajiban untuk itu).  Dan kami tak kuasa menolak tekadnya.  Berhubung ia suka yang manis-manis, saya menyarankan untuk membeli kudapan manis namun sehat untuk berbuka, misalnya buah potong.

Eh, tapi risoles ini tampak enak!”

Demikianlah, akhirnya kami memboyong risoles. Tak ketinggalan panada.

Dan bakwan.

Dan tahu pedas.

“Jangan lupa rawitnya!”

Lupakan buah potong. Untuk James, akhirnya kami belikan teh hijau botolan. 😀

Selepas jalan tol Jakarta-Cikampek (sepanjang 72 km), kami memasuki jalan tol baru Cikopo-Palimanan atau Cipali (sepanjang 116,75 km). Perdana, nih! Jalurnya kebanyakan lurus dengan pemandangan sekitar yang berganti-ganti: tanah merah, tembok beton, sawah hijau, sawah kering usai panen, hutan karet, padang rumput, padang ilalang, dan pemandangan orang-orang yang sedang ngabuburit di sisi jalan tol (atau nongkrong di atas jembatan).

Akhirnya, setelah perjalanan panjang yang cukup menjemukan, tibalah jua di gerbang tol Palimanan.  Kereta hitam menepi sejenak.  Saatnya berbuka puasa!

Saya heran sama kebiasaan orang Indonesia yang gemar berbuka puasa dengan menyantap goreng-gorengan. Setelah seharian pencernaan dibuat steril, kenapa harus kau lumasi lagi dengan minyak-minyakan yang belum tentu sehat.

Ah, tapi sikap tinggal sikap. Dalam remang senja, saya pun ikut mengunyah risoles, kemudian panada, lalu bakwan. Tahu pedas sudah habis duluan. Teh botolan dengan manis artifisial mengaliri tenggorokan. Nikmat memang.  Mobil-mobil terparkir berjajar di sisi jalan tol. Orang-orang piknik dadakan. Sesekali terdengar gelak tawa.  Sepenggal petang yang permai.

road-trip-day-1-(Risoles dkk) road-trip-day-1-(gate Palimanan)

***

Cirebon sudah gelap tatkala kami keluar dari jalan tol Palimanan-Kanci (Palikanci).  Bama mulai mengarahkan kendaraan sesuai instruksi teman kami, Bart, yang berkongsi dengan Google Maps.

Bart paling cocok mengemban tugas ini karena ia punya gawai paling mumpuni di antara kami berempat. Lisan polyglot-nya juga bisa diandalkan buat sarana bertanya di jalan, baik dalam bahasa Sunda ataupun Jawa.  Otaknya encer bagai ensiklopedi berjalan, ototnya liat bagai pegulat.  Cocok buat angkat beban berat, sepakat?

Smile Hotel adalah tempat persinggahan kami selama di Cirebon. Bangunannya tampak baru dan modern, terselip di dalam komplek perumahan di wilayah Kesambi, di pusat kota. Kamar-kamarnya luas dan bersih licin, dan yang penting rate-nya terjangkau. Untuk kenyamanan seperti ini pantaslah jika namanya Smile Hotel karena buat kami tersenyum.

Pencarian makan malam tidaklah semudah yang dibayangkan.  Niatnya berburu empal gentong Haji Apud di Jl. Ir. H. Djuanda, namun sayang sudah kehabisan.  Penjaja empal gentong lainnya juga tampak mulai tutup.  Akhirnya daripada kemalaman dan kelaparan, terdamparlah kami di resto Bebek Quali di Jl. Pemuda.

Bebek asap yang saya pesan ternyata berbungkus daun pisang laksana pepes, memang rasanya sedap berempah meski tiada aroma daging asap yang saya harapkan. Menu bebek gorengnya renyah dan tak alot. Secara keseluruhan memang tak mengecewakan. Apalagi tempat makan ini punya desain interior yang menarik, terutama di area semi outdoor-nya.

Hari pertama kami ditutup dengan: “Nanti sahur pakai nasi goreng, kan?”

road-trip-day-1-(Bebek Quali interior) road-trip-day-1-(Bebek Quali)

 

Day 2

KETIGA teman seperjalanan saya adalah pencinta sejarah, masing-masing dengan obyektivitasnya sendiri. Wawasan sejarah mereka luas tak terperi, dan selalu bersemangat untuk mengunjungi situs/obyek sejarah. Sementara saya menggemari obyek sejarah lebih dikarenakan sisi sentimental, saya senang membayangkan suasana masa silam, sekaligus melatih imajinasi untuk ‘melihat’ sejarah benda-benda.

Tujuan utama hari ini adalah bertandang ke Keraton Kasepuhan Cirebon, dan mungkin akan berlanjut dengan kunjungan ke Keraton Kanoman, dan Keraton Kacirebonan.

road-trip-day-2-(Keraton Kasepuhan istana)

Seorang pemandu keraton langsung menyambut di tempat parkir. Melihat 4 lelaki petarung turun dari kereta hitam dengan senjata DSLR masing-masing barangkali membuatnya berpikir bahwa kami adalah turis kekinian yang cuma datang-jepret-pulang.

Di bagian depan Kasepuhan terdapat komplek Siti Hinggil yang mengadopsi arsitektur Majapahit. Pemandu menjelaskan dengan singkat mengenai bangunan ini, dan dengan yakin ia berkata lantang: “Silakan yang mau foto bersama di sini!”

Tak ada yang menanggapi karena kami sudah berpencar di pelataran depan. Semua sibuk meneliti tiap bagian dengan fokus kamera masing-masing.  Butuh waktu hampir setengah jam bagi kami untuk menjelajahi tembok depan Siti Hinggil, sebelum akhirnya masuk ke dalam kawasan tsb.

Demikian seterusnya, komplek demi komplek, di wilayah Kasepuhan seluas 25 hektar ini.  Saya yakin sang pemandu akhirnya menyadari bahwa yang dipandunya bukan turis biasa.  Kami sempat berpapasan dengan pemandu lain yang tampak keheranan dan menyapa temannya tsb dalam dialek lokal, yang saya yakin dari intonasinya berarti seperti ini: “Lho, belum selesai sampeyan?

Mungkin pemandu kami cuma bisa membalas dengan gelengan kepala pasrah.

road-trip-day-2-(Keraton Kasepuhan depan)

Secara garis besar, Keraton Kasepuhan ini memang menyimpan sejarah menarik berkaitan dengan Cirebon (awalnya disebut Caruban atau Sarumban, alias percampuran).  Memang segala bangunan dan artefak di dalam keraton ini terasa percampuran multikultur-nya, mulai dari Tiongkok hingga Arab, Pajajaran hingga Majapahit.  Ulasan lengkapnya (mungkin) akan saya tulis di post tersendiri.

Tapi salah satu yang paling menarik adalah Petilasan Pangeran Cakrabuana, sebuah area persegi yang dikelilingi oleh tembok bata merah tinggi.  Dari balik tembok hanya terlihat sebuah pohon beringin besar yang tumbuh di dalamnya.  Petilasan ini dahulu digunakan untuk perundingan tingkat tinggi para wali ataupun mengatur strategi perang.

Lalu kenapa perempuan dilarang memasuki area ini? Konon demi mencegah kebocoran informasi, karena kaum ini kerap keceplosan/tak bisa menjaga mulut.  Dan larangan itu masih berlaku sampai saat ini.

***

Tengah hari terik sudah. Tiga setengah jam lebih berkeliling Keraton Kasepuhan.  Inilah kali pertama saya merasakan haus mendera pada saat berpuasa, kerongkongan terasa kering ditambah kaki pegal. Dan ternyata teman-teman yang lain merasakan hal yang sama (apalagi James yang baru-baru ini saja berpuasa).

Maka kembalilah kami ke hotel. Lupakan kunjungan keraton lainnya. Ranjang empuk dalam ruangan berpendingin udara tampak lebih menarik. Saatnya rehat siang. Time for siesta. Kegiatan yang kelak menjadi rutinitas kami selama menjalani trip di bulan puasa.

road-trip-day-2-(Smile Hotel)

Jelang petang, tubuh sudah lebih segar. Pelabuhan Cirebon jadi tujuan. Tak banyak kapal bersandar, bahkan bisa dibilang pelabuhan ini sepi dari aktivitas. Sulit membayangkan jika dahulu Cirebon menjadi salah satu persinggahan laut yang sibuk.  Laksamana Cheng Ho pun pernah berlabuh di sini, bahkan membangun mercu suar.

Kini kapal-kapal yang ada cuma tampak diam di air tenang. Seorang bapak tua melintas dengan sepeda fixie. Pohon petai cina di sisi dermaga.  Pantai berpasir cokelat berair cokelat. Pasangan yang bergandengan tangan sambil menatap laut.

Pucuk dicinta ulam tiba, empal gentong Mang Darma akhirnya berhasil menjadi santapan buka puasa.  Tapi kali ini racikan Mang Darma Plered, bukan Mang Darma Krucuk yang legendaris itu. Rasanya memang tidak spesial (kuahnya terlalu encer dan hambar), tapi jangan kuatir karena masih ada gerai Nasi Jamblang Mang Dul beberapa langkah dari sini.  Lokasi di perempatan Grage Mall ini memang strategis dan penuh gerai makanan.  “J-Coooooo!” seru James melihat plang donat favoritnya.  Not now buddy, kita kan mau kuliner khas Cirebon.

Tiap makan nasi jamblang Mang Dul, porsi saya pastilah berisi tahu, cumi item, paru, dan sedikit sambal. Rasanya memang tak ada yang berubah. Nasi berbungkus daun jati masih jadi ciri khas, dan sambal merahnya tetap menambah cita rasa.

Sudah kenyang, mari pulang.

road-trip-day-2-(pelabuhan Cirebon) road-trip-day-2-(kuliner Cirebon)

***

Bagi yang penasaran, perkenankan saya menceritakan kembali kunjungan kami ke dalam Petilasan Pangeran Cakrabuana di Keraton Kasepuhan yang terlarang bagi perempuan.  Supaya tak melanggar pantangan, saya akan menggunakan istilah bahasa asing yang tentunya sudah akrab bagi anda yang gemar membaca komik sejak kecil.

“Smurf harus smurf!”

Demikian perintah tuk melepas smurf.  Awalnya kami berempat saling berpandangan dengan bimbang, namun akhirnya menuruti perintah.  Setelah semuanya smurf, pemandu mulai menjelaskan smurf-smurf yang ada di dalam petilasan.

“Jadi smurf-smurf kerap smurf di smurf. Di smurf-smurf ini ada smurf yang mengarah ke smurf dimana terdapat smurf yang smurf. Jika hendak smurf silakan smurf. Dan smurf-terusnya…”

Pembaca, sedikit banyak paham, kan? Maafkan jika saya tak bisa gamblang menjelaskan. Pamali, orang Sunda bilang. Harap maklum, situasi & kondisi petilasan Pangeran Cakrabuana ini memang tak bisa sembarangan diumbar. 😉

road-trip-day-2-(Petilasan Cakrabuana)

 

NEXT on Road Trip 4/11:
Perjalanan panjang menuju Dieng, menjumpai Teletubbies

Video Road Trip 4/11:
Klik di sini untuk melihat video highlight perjalanan kami 🙂

Road Trip 4/11 [1] Cirebon
Tagged on:                 

28 thoughts on “Road Trip 4/11 [1] Cirebon

  • July 25 at 09:21
    Permalink

    Kereeeeeeen. Sukaaaaa.
    Keren tulisannya, keren fotonya, keren tone fotonya, keren typography-nya. Benar-benar penulis handal. Minder aku di hadapanmu hahahaha …

    Makasih juga deskripsinya soal aku, semoga di antara pembaca ada yang berminat. #eh

    Thanks udah mulai menulis perjalanan ini ya. Karena mungkin aku masih lama baru bisa nulis soal trip keren ini. Hutangan tulisanku masih banyak. Ditunggu lanjutannya.

    Reply
    • July 25 at 09:52
      Permalink

      Senang sudah ikut perjalanan ini, senang bisa berbagi (sedikit) pengalaman kita di sini 🙂
      Thanks for the compliment, semoga deskripsinya gak lebay, hahaha!

      No worries, kami tetap setia menunggu tulisan versimu! 😉

      Reply
  • July 25 at 09:58
    Permalink

    Wuaaah asyik sekali road trip gini bawa mobil sendiri! Kalau saja sampai jawa timur, boleh lah saya izin ikut dan permisi jadi sopir buat kalian semua 😀

    Bener kata mas Bart, untaian kata-katanya melankolis, rapi, berima. Saya serasa ikut merasakan perjalanan ini, utamanya ngebayangin panjangnya tol Cipali itu 😀

    Reply
    • July 25 at 10:07
      Permalink

      Qy, waktu di Jogja kita sempat terpikir mau melipir ke Pacitan, lho! Hahaha, sayang waktu belum mengizinkan…
      Btw next time Rifqy bisa kita bajak jadi driver nih, Bart! 🙂

      Iya tol Cipali itu panjaaaaaang banget, dan aku cuma bisa setengah tidur, sambil ngawasin Bama takut dia ngantuk dan perlu gantian nyetir 😉

      Reply
      • July 25 at 11:16
        Permalink

        Setuju. Kita mulai cocokkan schedule dan siap-siap ‘bajak’ Rifqy untuk susur Pacitan dan mungkin juga Jawa Timur.

        Jujur aja, walaupun Jawa Barat dan Jawa Tengah aku baru merasa kenal kulitnya, kalau Jawa Timur aku justru buta sama sekali. Pengen kenal sama Jawa Timur 🙂

        Reply
  • July 25 at 10:45
    Permalink

    Perjalanan yang seru dan menyenangkan! Saya ingat ruas Pantura yang itu saya jajal saat mudik kemarin, hanya saja tidak sampai Cikapali (oke, the official name is Cipali even though the road sign said Cikapali :haha) karena bus yang saya tumpangi membelok di GT Cikampek, masuk ke tatar Subang :)).

    Lengkap, ya. Kuliner dapat diulas, budaya komplet ditelisik, peninggalan sejarah tuntas dibahas. Ah, Cheribon yang termashyur (dengan udangnya?). Disampaikan dengan bahasa yang membuat iri pakai banget soalnya kayaknya tak usah berpanjang-panjang tapi makna dan pesannya sampai dengan baik. Suka sekali membaca tulisan-tulisanmu, Mas, super dan saya belajar banyak dari ini! :hehe.

    Oke, saya mencoba menerjemahkan smurf tapi hasilnya… nihil. Agaknya akan sama halnya ketika saya mencoba menjelaskan beberapa pura di Bali yang memang secara eksplisit tak boleh dikatakan :)). Ujung-ujungnya tetap sama, penasaran buat menjelajah sendiri ke sana.

    You nailed it, Mas! :)).

    Reply
    • July 25 at 11:20
      Permalink

      Saya juga lebih suka nama Cikapali sebenarnya 😉 Oh jadi kalo bus umum tetap lewat jalur lama ya, mungkin supaya bisa narik penumpang..

      Cheribon is a sweet name, saya juga suka! Mengingatkan pada buah ceri ketimbang udang rebon, hahaha *ini malah bahas nama* Btw thanks so much buat komplimennya, semoga bisa menginspirasi 🙂

      Betul, kadang ada hal-hal yang tak terdefinisikan lewat kata, sebaiknya dikunjungi/dijalani sendiri. Soal smurf-smurf itu anggap saja trivia, hahaha! Sekali lagi suksma, bli Gara!

      Reply
  • July 25 at 20:08
    Permalink

    Keren tulisannya! Jadi pengen road trip lagi bareng kalian. Btw aku gak ngeh lho kalo guide kita di Keraton Kasepuhan ditanya temennya itu. Duh, jadi gak enak. 😀

    Btw lagi deskripsimu tentang aku tuh ajaib banget, bikin aku mesam-mesem pas baca di kereta, kesannya aku punya minat atau obsesi terpendam sama kebersihan gimanaaa gitu. 🙂 Eh iya, itu foto terakhir aku ya? Sampe gak ngenalin diri sendiri.

    *nungguin cerita dari Dieng*
    *masih suka sport jantung kalo nginget2 medannya* 😀

    Reply
    • July 25 at 22:32
      Permalink

      Hohoho thanks Bama! Jadi usai temannya nanya, lalu mereka saling kasih kode tangan, mungkin maksudnya: “Ganbatte!” 😀

      Oya pastilah aku akan kasih deskripsi yang anti maintream, meskipun jadinya agak2 lebay, hahaha!
      Duh, cerita Dieng di-skip aja ya, aku gak tega.. *modus biar pada penasaran*

      Reply
  • July 27 at 04:40
    Permalink

    Saya dulu melongok ke dalam smurf karena kecewa gak boleh masuk. Kayaknya emang harus smurf seumur hidup sebab yg boleh masukpun cuman bersmurf smurf, gak ngerti saya artinya 🙂

    Reply
    • July 27 at 09:48
      Permalink

      Hahaha mbak Evi jangan smurf ya, tetep positive smurf aja pokokna. Waktu dulu ngintip ke dalam smurf itu sempat ada smurf apa aja yang keliatan? 😀

      Reply
  • July 27 at 10:08
    Permalink

    Jadi, tidak menutup kemungkinan selanjutnya road trip Sumatera, kan? 🙂 Palembang menanti loh mas Aldi hehe

    Reply
  • July 28 at 20:24
    Permalink

    ROAD TRIP! Duh, salah satu wish list ini, ngga usah muluk-muluk, Semarang – Jakarta PP saja. Tapi belum kesampean, udah keduluan Si Abang. Hihihi. Seru bingits pastinya. Ngga sabar nunggu cerita selanjutnya, Kakakkk .. 😀

    Reply
    • July 28 at 20:42
      Permalink

      Road trip pertamaku di Semarang: naik becak dari hotel ke toko Bandeng Juwana, hahaha 😀 Btw semoga keinginanmu lekas tercapai ya..

      Siap, nantikan kisah selanjutnya!

      Reply
  • July 29 at 15:48
    Permalink

    berkelana terus kekampung orang.. semoga kamu ingat jalan pulang kang..

    *kembali ke gajet & pisang

    Reply
  • September 13 at 22:20
    Permalink

    Setelah baca postingan ini jadi pengen mampir ke keraton kasepuhan. Kemaren ga sempetin ke gua sunyaragi atau nyobain mie koclok khas cirebon mas ?

    Reply
    • September 13 at 22:30
      Permalink

      Ayo musti mampir ke Kasepuhan, kak Ayu! 🙂
      Kalo Sunyaragi dan mie koclok gak keburu karena waktu itu musti lanjutin perjalanan ke Dieng.. but next time we’ll be back for sure! 😉

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *