kelana kerala

Disgiovery.com

BURUNG-BURUNG gagak bertamu di balkonย kamar. Koak! Koak! Entah apa yang mereka patuk sehingga menimbulkan suara ketuk. Saya terjaga dari lelap. Rasanya baru sekejap merebahkan diri di ranjang, ternyata hari sudah beranjak pagi. Tirai di jendela kamar bagai berpendar oleh sinar matahari yang pelahan menyeruak masuk. Hilang sudah kantuk.

Ini adalah hari pertama kegiatan Kerala Blog Express 2014 (atau selanjutnya mari kita singkat KBX), maka saya harus bangun dan bersiap. Kurang dari 12 jam lalu saya dan tiga teman lainnya (Dina, Edgar, Gael) masih berada di Singapura [baca: Antara Jakarta-Trivandrum Kita Jatuh Cinta]. Lepas tengah malam kami baru mendarat di Thiruvananthapuram, ibukota Kerala, India bagian selatan. Lalu segera dibawa 16 km ke arah selatan menuju hotel di kawasan pesisir Kovalam.

Kini cahaya pagi mulai menunjukkan keberadaan di sekeliling. Tirai kamar saya sibak, burung-burung gagak bubar berterbangan. Ketinggian hotel tidak mencapai ketinggian pohon kelapa. Pucuk-pucuk nyiur membatasi horison, menyembunyikan penampakan laut Arabia yang hanya saya bisa endus aromanya. Nun di ketinggian langit tampak elang berputar-putar, ditingkahi koak-koak gagak dari segala penjuru. Sayup-sayup terdengar alunan musik tradisional ala India.

Saya di Kerala!

kerala hotel balcony

Perdana Bersua Bajingan

Kasar? Tidak. Begini ceritanya.

Terbangun oleh pasukan gagak yang kepagian, saya akhirnya memutuskan untuk berkeliling area hotel. Hotel Uday Samudra yang kami tempati didominasi oleh unsur kayu dan warna merah bata. Kesan klasik masih tampak dari bentuk dan dekor bangunan. Cahaya pagi sudah menerangi, namun suasana sekitar masih lengang, bahkan resto tempat sarapan belum lagi buka. Saat hendak kembali ke kamar, saya berpapasan dengan seseorang yang tampak familiar.

Tentu saja, dua minggu sebelumnya tatkala Kerala Tourism mengumumkan secara resmi siapa saja partisipan yang akan bergabung dalam perjalanan KBX, saya sudah langsung memindai profil nama-nama yang tersebut. Satu orang ini mengingatkan saya pada sosok berandalan Hispanik berpostur kurus kering dengan gerak gerik slengean.

“Edin?”

Spontan saya menyebut namanya, meski langkah kaki kami sudah saling menjauh. Benar saja, lelaki kurus kering itu menoleh. Meski mungkin ia tak tahu profil saya, tapi saya tahu bahwa ia tahu bahwa saya pastilah salah seorang partisipan KBX juga. Ia langsung menyapa dengan sumringah. “Hi!

Langkah mendekat. Jabat tangan. Perkenalan.

Bincang hangat. Beranjak ke kamar.

Jika ada media gosip mungkin headline-nya bakal seperti ini:

Baru bertemu di hotel, langsung transaksi di kamar.

kerala hotel interior

Edin adalah seorang yang antusias. Celotehnya panjang lebar. Ia gemar menggunakan the F word nyaris di setiap kalimat. “Come to my fucking room! You can see how fuck I’ve been after 12 hours fucking flight!” Hahaha, memang benar bajingan dia! Cocok sekali akan gambaran film-film Hollywood mengenai sosok mafia Hispanik seperti dirinya. Tapi saya tak merasa terganggu akan the F word-nya, karena itu bukan umpatan tapi sekadar ekspresi. Seperti tanda keakraban kawula muda di sini yang gemar bilang ‘Keren banget, njing!’ atau ‘Mau kemana, cuk?”

Walau saya sempat gentar tatkala ikut masuk ke kamar Edin (dalam hati sempat terlintas ‘apakah ia akan menawari saya narkoba?’ atau ‘apakah ia akan menunjukkan senjata api yang dibawanya?’) tapi sikap hangat Edin meruntuhkan prasangka. Ia menunjukkan perlengkapan perang yang bertebaran di atas ranjang: laptop, 2 atau 3 unit kamera DSLR, berbagai jenis lensa, dan perlengkapan fotografi lainnya. Ia bahkan lupa paspornya terselip di tas yang mana. “Gara-gara jetlag, gw bahkan gak inget semalam tidur di sebelah mana, kayaknya di karpet!” guraunya, tentu tak lupa diselingi the F word.

Edin adalah seorang fotografer kawakan keturunan Mexican-American (lihat photo blognya di sini). Tinggal di Miami. Di beach house sekitar pantai nudis. Lihat betapa semesta mendukung kebajingannya, hahaha! But I think I like this guy. He seems honest. Blak-blakan. No drama. No fucking drama.

Perdana Sarapan Dosa

Kesan saya akan suguhan pagi Hotel Uday Samudra justru datang dari dalam kamar: satu wadah buah-buahan lokal (pisang, jeruk, apel, delima) dan satu eksemplar surat kabar pagi terbaru yang diselipkan di bawah pintu. Duhai, sepertinya saya takkan menemui sajian buah-buahan lokal seperti ini di hotel atau resort mewah di Indonesia. Sementara koran terbaru hari ini menampilkan indeks bulanan selebriti Bollywood (Salman Khan sedang berada di posisi puncak). Tak ubahnya harga saham yang fluktuatif, ketenaran sang artis sedikit banyak terpengaruh dari indeks ini.

kerala hotel compliment

Resto tempat sarapan menyajikan pilihan menu prasmananย lokal hingga internasional. Lihat, buah-buahan lokal yang tersaji pun tak berbeda dengan di kamar. Saya terbiasa melihat potongan dadu semangka merah tanpa biji, tapi di sini irisan semangkanya tipis dan penuh biji. Saya saja sampai lupa kapan terakhir menyantap semangka lokal penuh biji seperti ini. Selain itu saya juga tertarik melihat-lihat menu lokal, dan terpaku pada meja bertuliskan:

Dosa to order

What the f… (OMG, I sound like Edin!).

Dosa adalah sejenis pancake ala India Selatan, biasanya dihidangkan sebagai menu sarapan. Biasanya terbuat dari tepung beras dan lentil, dan disajikan bersama chutney (saus rempah) dan saus celupan lainnya. Dosa yang saya pesan berbentuk tipis dan krispi, konon mengadopsi dosa ala Karnataka sejak abad XII.

“Pagi-pagi sudah sarapan dosa!” tegur Dina yang baru muncul belakangan. Kami berdua langsung terbahak.

kerala dosa

Perdana Naik Bus KBX

Dalam bayangan saya, bus KBX yang akan membawa kami adalah versi hippie dari sleeper bus. Atau semacam bus karavan (persis seperti dalam foto sampulย postingan ini). Dilengkapi dengan ornamen etnik India dan warna-warni cerah. Tapi ternyata bus yang datang adalah bus turis modern yang sudah di-branding dengan atribut Kerala Blog Express. Selama 2 minggu ke depan ia akan menjadi kendaraan kami selama berkeliling Kerala (sementara akomodasi tetap di hotel-hotel setempat). Bus sudah dilengkapi WiFi dan soket listrik di setiap baris kursi. Konfigurasi kursi adalah 2-2 dengan reclining seat.

Saya, Dina, dan Edin langsung menetapkan ‘sarang’ kami di seat belakang, sementara Edgar dan Gael memilih seat depan. Sudah jadi hukum alam jika yang duduk di belakang biasanya lebih gaduh, sementara yang duduk di depan lebih tenang. Ketahuan mana yang badung mana yang alim, hahaha! Oh well, bocah badung di seat belakang cuma Edin sih! #buangbadan

kerala blog express bus

Ke-27 partisipan KBX perdana dari 13 negara ini selain ditemani beberapa orang panitia juga dipandu oleh guide lokal bernama Manoj. Sepanjang jalan Manoj akan bercerita mengenai apapun, biasanya tentang sejarah dan budaya wilayah-wilayah yang dilewati atau dikunjungi. Informasi ini sungguh berguna sebagai penyegaran memori, karena tatkala tiba di suatu lokasi tujuan, para partisipan sudah tahu apa yang akan dihadapi, apa latar belakangnya, dll, sehingga punya gambaran apa yang harus diliput berdasarkan perspektif masing-masing.

Percaya atau tidak, sebagian besar partisipan menyimpan informasi dalam bentuk catatan tertulis. Masih banyak yang membawa buku jurnal, lalu waktu luang di bus dimanfaatkan untuk mencatat atau menggambar sketsa di dalamnya. TIDAK ADA yang membawa iPad atau tablet untuk mencatat secara digital. Laptop hanya digunakan pada saat posting. Ponsel hanya digunakan pada saat broadcast.

Percuma Menyambangi Resort

Kerala bisa dibilang Bali-nya India. Pariwisata sudah jadi aset utama. Kami dibawa dari Kovalam ke Poovar hingga Chowara untuk menyambangi resort-resort yang berada di tepi laut Arabia. Tiap resort menyambut kami dengan dengan bindi di dahi, kalungan bunga, dan kelapa muda bulat-bulat. Keunikan pantai di wilayah ini adalah warna pasirnya yang jingga kecoklatan. Mungkin inilah yang disebut ‘golden sand‘.

Poovar konon pernah jadi tempat mendaratnya Baginda Sulaiman (King Solomon) beberapa tahun silam. Pesisir Poovar yang kami susuri letaknya sejajar dengan kanal sungai, dan dipenuhi oleh banyak hidupan liar seperti burung gagak, elang, bangau, king fisher, dan lainnya. Satu catatan penting, mereka dapat hidup bebas tanpa takut diburu. Satu catatan penting lain yang saya amati, perairan backwater di sini bersih tanpa sampah.

bird sanctuary

Seperti halnya di Chowara. Resort di wilayah ini terletak di ketinggian tebing, sekilas mengingatkan saya pada kontur Pecatu atau Uluwatu di Bali. Di sini pula saya berbincang pertama kali dengan seorang partisipan asal Denmark yang bernama Michelle (ia minta dipanggil Michi). Michi tadinya tengah serius menekuri sebatang pohon yang tengah berbuah besar. Pohon nangka. Lalu saya jelaskan jika buah nangka enak dimakan. Michi seperti mendapat kejutan, lalu pembicaraan kami mulai mengalir. Penampilan Michi unik, sedikit canggung dengan rambut berantakan yang dikuncir tinggi dan memakai kalung beraksen emas, bagai baru bangun tidur lalu bergegas ke pesta. Kalau di film-film Hollywood, ia adalah tipikal gadis canggung berkacamata yang sebenarnya jenius. Di luar itu semua, Michi kebetulan asyik diajak ngobrol.

Lalu seperti seleksi alam, tiba-tiba saja tinggal kami berempat (saya, Dina, Edin, dan Michi) yang tersisa di lobi resort sementara yang lain sudah dijemput lebih dulu. Edin muncul dengan ide jalan kaki menyusuri perkampungan. Ia tampak sudah jenuh dengan kunjungan luxury. Kami juga.

kerala kovalam beach

Bisa ditebak kami berempat pun bertualang menyusuri jalan desa di Chowara. We really had a great time. Kami mendapatkan suasana otentik ala Kerala yang sebenarnya. Sementara panitia KBX sempat kelabakan mendapati 4 pesertanya raib. Jamuan minum teh di salah satu resort dibatalkan, sementara kami malah asyik nongkrongin penjual chai (teh susu) di salah satu warung di perkampungan. Kisah lengkapnya ada di sini: Empat Sekawan Blusukan di Chowara.

Singkat cerita, keempat partisipan KBX yang kabur sudah ditemukan (dan dijinakkan untuk tak mengulangi perbuatan tadi).

Agenda hari ini diakhiri di The Leela Kempinski, Kovalam. Keunggulan hotel ini adalah lokasinya yang berada tepat di atas tebing. Dari ketinggian The Leela inilah saya bisa melihat salah satu keunikan pesisir Kovalam dari jauh, yaitu 3 buah pantai berbentuk sabit yang sambung menyambung. Semua menghadap ke barat, sangat ideal untuk bersantai di sore hari sembari menyaksikan matahari terbenam.

 

Disgiovery yours!

 

*original cover photo by Elizabeth Lies

kerala poovar

Perdana Kelana Kerala
Tagged on:                     

26 thoughts on “Perdana Kelana Kerala

  • November 26 at 12:00
    Permalink

    Serba perdana pada pengalaman perdana itu berkesan. Kalau kita kembali ke tempat yang sama untuk mengulanginya, pasti beda. Bagaimanapun, namanya juga perdana. Foto-fotonya teduh ๐Ÿ™‚

    Reply
    • November 26 at 13:42
      Permalink

      Termasuk pengalaman malam perdana ya, kak Rifqy ๐Ÿ˜‰ #ehgimana

      Intinya tiap experience pasti punya kesan tersendiri, tul? ๐Ÿ™‚

      Reply
  • November 26 at 13:04
    Permalink

    Wah kalo main ke tempat Edin kayaknya seru. *nyariKekeran :))

    Kalo gak salah Leela itu berseberangan dengan KTDC Samudra. *berusaha mengingat persis dari fotonya, dan kayaknya benar hehe. Soalnya dulu saat ngabisin sore di KTDC dibilang, “tuh hotel kami, Leela” gitu.

    Kangen INDIA….

    Reply
    • November 26 at 13:45
      Permalink

      Hahaha Edin malah mungkin udah bosen ya dengan suasana pantai nudis..

      KTDC Samudra malah gak sempat kami singgahi waktu itu, atau mungkin jadwalnya bergilir tiap tahun ya.. Kangen INDIA atau kangen siapa nih di sana.. ๐Ÿ˜‰

      Reply
  • November 27 at 07:22
    Permalink

    Buahahahahaha paling juara itu ‘dosa’. Kasian Mas-mas/Mba-mba yang tiap pagi harus bikin dosa demi muasin nafsu tamu… :))))

    Reply
  • November 27 at 14:32
    Permalink

    Hem, Kelana? membuat segalanya menjadi begitu nikmat apalagi sajian Dosa dipagi hari yang menggugah selera membuat Dosa disantap dengan lahap dan nikmatnya serta menemani Indahnya perjalanan perdana bang Gio

    Reply
  • November 28 at 00:18
    Permalink

    Akhirnya panitia berhasil menemukan ya. Nggak seru dong , cuma sebentar. Kabur lagi pasti seru. Untung temennya pada asyik enak diajak seru seruan. Dosa sama chai kayaknya menu wajib ya Kalo di India.

    Reply
    • November 28 at 14:25
      Permalink

      Hahaha cukup sekali aja kaburnya, kasian nanti panitia kelabakan ๐Ÿ™‚
      Iya dosa sama chai itu bikin nagih!

      Reply
  • December 7 at 08:46
    Permalink

    masi penasaran dengan rasanya Dosa. mungkin cuma Dosa ini aja yang bisa dicobain ๐Ÿ˜‚๐Ÿ”จ

    Reply
    • December 8 at 10:34
      Permalink

      Hahaha yang namanya doa emang enak-enak #ehgimana
      Dosa yang makanan ini teksturnya mirip crepes yang sedikit lembab, rasanya cenderung manis, tapi memang enak! ๐Ÿ™‚

      Reply
  • December 8 at 10:51
    Permalink

    Angkut aku kk masukan ke koper nya bawa ke sana.. ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

    Ah sama kk gio yg belum pernah ketemu nih

    Reply
    • December 8 at 12:11
      Permalink

      Koperku cabin size, dirimu bisa masuk sih tapi musti dipotong2 dulu… #OMG

      Yuk kapan kopdar?!

      Reply
  • December 13 at 02:07
    Permalink

    hiiii langsung main masuk kamar.. nggak kepikiran akan di perkos^ kang ?? ๐Ÿ˜€
    terus, saya baru tahu klo kang taufan ternyata badung juga hahaha

    Reply
    • December 13 at 19:40
      Permalink

      Duh, untung belum terenggut! #eh #inibahasapasih

      Hahaha gak badung kali, cuma imej aja! #halah

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *