kawah ratu

Disgiovery.com

“CEPROT! Ceprot!”

Edgar itu. ‘Ceprot’ ialah kata favorit baru bagi lidah Tagalog-nya, dan suka-sukalah ia mengucapkannya selama kami melintas di jalur berlumpur. Langkah kaki hati-hati melangkah di atas jalur berlumpur yang licin. Sekali menapak langsung melekat, menimbulkan bunyi ‘ceprot’ tatkala kami angkat kaki untuk terus melangkah.

Beruntung trek becek ini tak begitu panjang, dan dilanjutkan oleh jalur kering berbatu. Sudah 2 jam lebih kami berempat mendaki sejak dari pos pertama, namun Kawah Ratu yang dituju belum lagi tampak. “Sebentar lagi!” cetus teman kami menenangkan. Hutan di sekeliling masih rapat. Mendongak kepala ke atas, selama langit biru saya masih lega. Gunung Salak terkenal akan kebiasaannya memerangkap awan, lalu mengubahnya jadi gulali pekat bergulung-gulung, sebelum diperas jadi hujan berinai-rinai.

kawah ratu trek becek

Perkenalkan: Empat Sekawan

Edgar
Travel blogger Pinoy. Mengenal satu sama lain melalui ajang Kerala Blog Express di India, hingga akhirnya saya menjadi host-nya di Indonesia. Kebiasaan Edgar yang patut ditiru adalah gemar membaca dimana saja (meskipun bahan bacaannya lebih banyak pustaka maya). Edgar beranjangsana ke Bogor dengan bucket list, salah satunya Gunung Salak. Berhubung kami hanya punya waktu luang sehari untuk melaksanakan keinginannya tsb, akhirnya saya mengusulkan pendakian ke kawah Gunung Salak saja yakni Kawah Ratu. Gunung Salak memang anti mainstream karena kawah aktifnya bukan di puncak melainkan di punggung (atau di perut ya?), dan bisa dicapai dengan one day trip.

Anto
Pencinta alam sejati. Pendaki gunung veteran ini bahkan sudah pernah bersepeda berdua temannya menjelajahi Indonesia Timur selama setahun lebih [baca: Halfway Across Indonesia]. Tinggi besar, berambut gondrong, gemar berbaju hitam, terlihat garang, padahal mah santun pisan. Awal saya mengenalnya adalah sebagai sesama blogger Multiply asal Bogor. Kalau diingat-ingat, kami malah jarang ngetrip bareng karena saya hobi memantai sedangkan ia cenderung menggunung. Berhubung Gunung Salak termasuk salah satu daerah eksplorasinya maka dengan semena-mena saya langsung membajaknya kali ini untuk jadi pemandu Kawah Ratu.

Andhin
Kenal dari Anto, si petualang cantik ini kerap dipanggil ‘ibu guru’ oleh teman-temannya. Andhin adalah pengajar bahasa Indonesia untuk kaum ekspatriat. Misi Andhin kali ini adalah memperkenalkan Edgar dengan kata-kata ungkapan dalam Bahasa Indonesia (‘ceprot’ misalnya). Anto bilang, sebagai penggiat kemping, Andhin paling suka bagian masak-masakan. Kalau kemping sama Andhin, lupakan itu segala mie instan dan makanan cepat saji lainnya. Ia akan masak besar seperti nasi kuning, soto ayam, atau bahkan cheese melt sandwich untuk sarapan. Andhin senang, teman-teman kenyang.

Dia yang namanya tak boleh disebut
Penulis blog ini. Paham, ya? 😉

kawah ratu 4 sekawan

Perkenalkan: Kawah Ratu

Kawah Ratu di Gunung Salak di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak berada pada ketinggian 1.437 mdpl. Gunung Salak sendiri mempunyai beberapa puncak: Puncak Salak I alias Puncak Manik (2.221 mdpl), Puncak II (2.180 mdpl), dan Puncak III (2.086 mdpl). Gunung Salak kurang populer sebagai atraksi pendakian (terutama dibandingkan dengan saudara terdekatnya Gunung Gede-Pangrango). Ada yang bilang karena medannya sulit (antara puncak satu dengan yang lain terpisahkan oleh jurang dalam), dan lebih banyak lagi yang bilang karena unsur mistis yang kuat (bayangkan di Puncak Manik saja terdapat makam kuno). Tragedi pesawat Sukhoi yang menabrak tebing gunung ini pun menambah fenomena misteri gunung yang acapkali tertutup kabut ini. Belum lagi ancaman binatang buas seperti macan tutul, macan kumbang, dan ular. Oh, serangan pacet dan lintahnya pun termasuk ganas.

OK, mari fokus pada kawahnya. Kawah Ratu masih aktif mengeluarkan gas-gas beracun termasuk di antaranya CO, CO2, H2S, H2SO4 yang mengendap dan terkonsentrasi di permukaan tanah. Itulah kenapa pengunjung dilarang berjongkok atau duduk selama lebih dari 3 menit di area kawah seluas 30 hektar ini, dan sebisa mungkin mereka sudah meninggalkan lokasi pada sore hari. Ingin bermalam di sekitar kawah? Dilarang keras! Ini bukan kamar gas lagi, tapi kawah gas!

Semua fakta di atas tak menggoyahkan niat saya dan Edgar untuk menyambangi Kawah Ratu. Sebenarnya saya sudah pernah bertualang ke sana bersama teman-teman kampus, namun itu dulu sebelum era Soe Hok Gie (maksudnya sebelum film tentang Soe Hok Gie rilis, hahaha!). Berhubung pada waktu itu saya belum punya dokumentasi memadai, apa salahnya kembali ke Kawah Ratu menemani Edgar sekaligus bikin liputan. Ini semua demi kalian, lho, pembaca blog Disgiovery.com tersayang! 😉 Akhirnya saya bajaklah Anto selaku pemandu. Kemudian Anto membajak Andhin karena gadis ini bisa bertindak selaku tukang ojek, penerjemah, sekaligus juru masak. Tak apa, the more the merrier.

Setelah empat kami berkumpul, perjalanan pun dimulai.

kawah ratu pos kancilkawah ratu gate

Leci VS Jeruk

Kawah Ratu dapat ditempuh melalui dua jalur resmi: Pasir Reungit (Gn. Bunder-Bogor) dan Cidahu (Sukabumi). Kami memilih jalur Cidahu karena lebih dekat dengan titik temu di Ciawi (Bogor). Seorang petugas jagawana menerima kami di pos pendaftaran Balai Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. HTM di sini sebesar Rp. 15 ribu (lokal) atau Rp. 150 ribu (asing). Pada awalnya sang petugas menawarkan diri untuk memandu, namun berhubung Anto sudah dibilang veteran untuk jalur ini akhirnya beliau mengizinkan kami pergi tanpa pendamping.

Dari gerbang utama kami masih harus menempuh jalan beraspal melewati bebayang hutan pinus selama sekitar setengah jam berjalan kaki. Lalu tiba di Pos Kancil alias pintu gerbang untuk pendakian ke Kawah Ratu ataupun Puncak Salak I. Kalau tak salah dari sini hitungan HM 0 dimulai (alias hektometer). Kawah Ratu jaraknya sejauh HM 44 dari Pos Kancil ini. Atau kalau dalam istilah yang lebih familiar, jaraknya sekitar 4,5 km (MENANJAK) dan dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 3 jam.

Tantangan pertama adalah tanjakan berbatu yang menyerupai anak tangga. Anak tangga yang ambrol, karena batu-batunya berserakan tak beraturan. Udara yang lembab bikin semuanya serba basah dan berlumut. Bagian dalam hidung langsung terasa dingin menghirup udara yang demikian murni. Kuping hanya mendengar deru nafas memburu di setiap langkah, diiringi orkestrasi serangga hutan dan burung-burung.

Antara 5-10 menit kemudian terdapat bonus jalan mendatar, di antaranya melintasi jembatan kayu yang sudah bolong-bolong. Di sisi kami tampaklah jalan beraspal yang menuju ke Javana Spa Resort. Kabarnya jalur tsb bisa digunakan sebagai jalan pintas hingga pos berikutnya. Tapi kami tak tergoda untuk berpindah dan tetap kukuh menempuh jalur perjuangan di dalam hutan.

Tubuh sudah berpeluh tatkala kami tiba di sebuah persimpangan. Terdapat plang yang menunjukkan arah menuju Puncak Salak I. Kawah Ratu sendiri jalurnya berlawanan dengan arah puncak. Berhubung sudah 1 jam perjalanan non stop, maka rehatlah kami sejenak. Meluruskan kaki sambil mengembalikan nafas ke ritme normal. Andhin mengeluarkan minuman ajaibnya yang tersimpan di dalam tumbler. Amboi, terasa manis segar dan tetap dingin. Saya dan Edgar langsung suka.

“Ini Mogu-Mogu leci!” Andhin buka rahasia. “Paling cocok buat teman trekking.”

Saya toleh kiri kanan, namun tak ada kamera yang menyorot. Berarti ini bukan pesan sponsor. OK sip!

Feeling refreshed, kami siap melanjutkan perjalanan. Hei, dimana Anto?

Ternyata ia sedang sibuk bikin racikan minuman ‘jeruk makan jeruk’, tapi kami sudah tak tertarik lagi. Sudah kepincut sama minumannya Andhin. Maafkan kami, hahaha!

kawah ratu istirahat kawah ratu petunjuk jarak

Welcome Back to Bogor!

Tak lama setelah melanjutkan perjalanan kami mendapati sebuah sungai kecil yang berair jernih. Anto bilang, air sungai di Gunung Salak termasuk salah satu yang termurni dan terbaik. Tak heran banyak perusahaan air minum kemasan menyedot sumber air dari Gunung Salak. Efek sampingnya, banyak lahan kebun dan pertanian penduduk setempat yang kekurangan sumber air untuk irigasi. Miris.

Jangan kau sia-siakan anugerah alam ini, Nak!

Sejenak saya mendekat. Sungai ini dangkal saja, mungkin hanya semata kaki. Tapi kesejukan dan kesegarannya tiada tara. Andaikan bekal air kami sudah habis mungkin saya akan menampung air sungai ini untuk bekal minum sebanyaknya. Air ini sesungguhnya karunia alam yang bisa dinikmati siapa saja. Semestinya pasokan air minum dilindungi oleh negara hingga rakyat bisa menikmatinya dengan cuma-cuma dan bukan dikuasai korporasi kapital.

Kemudian mata saya tertumbuk pada botol kosong air minum kemasan yang teronggok di sela bebatuan, mungkin seseorang telah membuangnya karena mengira sungai ini tempat sampah. Lalu saya jengkel. Entah pada korporasi yang menyedot air dan menciptakan botol plastik atau entah pada manusia yang buang sampah sembarangan. Campur aduk.

Setelah berjalan melewati pos Bajuri (dinamakan demikian karena dahulu terdapat warung bapak Bajuri yang sayangnya kini sudah tak ada), kami tiba pada tugu kecil penanda batas wilayah antara kabupaten Sukabumi dengan kabupaten Bogor, tepatnya di HM 27. Jadi setelah berjalan kaki berjam-jam melalui hutan, ternyata kami kembali memasuki wilayah Bogor. Selamat!

“Do I need to show my passport now?” seloroh Edgar ketika melintasi batas teritori.

Saya jadi teringat ketika trekking di gunung Halimun beberapa tahun silam. Masuk dari Parakan Salak (Sukabumi), bermobil menempuh jalan berbatu selama berjam-jam, menginap di pondokan, lalu keesokan paginya berjalan kaki menembus jalur dalam hutan selama berjam-jam, untuk menyadari bahwa kami harus melintas batas wilayah kab. Sukabumi dan kab. Bogor. Rasanya mangkel, sudah jauh berkelana sampai menginap satu malam, ternyata lokasi yang dituju masih berada di wilayah kab. Bogor. Rasanya mungkin bagai sudah mengejar jodoh ke ujung dunia, ternyata dia yang dicari malah tetangga rumah sendiri. Hahaha!

kawah ratu sungai kecil kawah ratu tugu perbatasan

Ceprot-ceprot VS Blubuk-blubuk

Setelah melewati ‘pos imigrasi’ (istilah kami sendiri untuk menyebut tugu perbatasan Sukabumi-Bogor) selama beberapa saat, kaki-kaki kami mulai menapaki pos Helipad, sebuah area lapang berumput seukuran dua kali lapangan futsal pada ketinggian 1.382 mdpl. Rasanya lega mendapati ruang lapang setelah terkungkung hutan rapat. Disebut ‘Helipad’ karena konon dahulu digunakan oleh tentara Belanda sebagai landasan helikopter untuk menyuplai logistik perang. Di kejauhan tampak sebuah bukit karang menjulang, awalnya saya kira itu salah satu Puncak Salak, namun ternyata bukan. Hanya dekorasi gunung, gurau Anto.

Setelah melintasi kembali sebuah sungai kecil, lalu datanglah jalur ‘ceprot-ceprot’. Edgar tampak sukaria menemukan kosakata baru yang menurutnya ‘tingling in my tongue’. Beruntung trek becek ini tak begitu panjang, meskipun mulut Edgar tak bisa ditahan untuk tidak terus-terusan mengucapkan ‘ceprot-ceprot’ kesukaannya. Satu hal lain yang patut disyukuri adalah tak adanya kehadiran pacet atau lintah di sepanjang jalan. Mungkin karena cuaca sedang kering.

Tak lama vegetasi di sekeliling mulai didominasi oleh pandan-pandan raksasa. Beberapa di antaranya berduri. Beberapa kali kami harus melintasi batang pohon tumbang yang melintang di jalan. Akar-akar pohon tampak menjalar dimanapun bagai perangkap kaki bagi yang tidak hati-hati. Semilir mulai tercium aroma belerang.

Lalu terlihat asap mengepul di antara rimbun belukar di sisi kiri.

“Hutan mati,” ujar Anto singkat. Di kawasan ini mulai banyak pepohonan yang kering menghitam. Di sana, di antara belukar sumber asap, terdapat sebuah kawah aktif yang mengeluarkan lumpur panas pekat berwarna abu-abu. Bak melihat panci bubur sebesar sumur yang tengah mendidih. ‘Blubuk-blubuk’ bunyinya. Uap panas yang keluar dari kawah menyebabkan ranting dan dahan di sekeling mengering dan berwarna abu-abu.

Edgar tidak suka ‘blubuk-blubuk’, baginya ‘ceprot-ceprot’ lebih eksotis.

kawah ratu trek beratkawah ratu lubang lumpur

Menjamu Tamu di Kawah Ratu

Andhin langsung kebelet pipis setelah kami tiba di tujuan. Ia minta barang-barang ditinggalkan di salah satu sudut, dan membiarkan kami eksplorasi kawah. Usai menunaikan panggilan alam di balik semak, Andhin akan memulai kegiatan favoritnya: masak-masak. Dan tak mau diganggu.

Maka menjelajahlah kami.

Kawah Ratu tidak benar-benar berupa cekungan kawah berisi gas dan lumpur panas. Saya malah melihatnya bagai panci dim sum atau tungku pepes (sungguh perumpamaan yang aneh). Bak gundukan pasir yang sedang dikukus. Sebuah area lapang dengan gundukan pasir dan bebatuan dimana asap-asap putih mengepul di sela-selanya. Pepohonan di pinggir kawah hanya tinggal batang-batang gundul sahaja. Tampak sebuah fumarol besar (lubang dalam kerak bumi) terus menyemburkan asap putih pekat disertai bunyi gemuruh dan desis kencang. Berada di area kawah bagaikan sedang berada di kuali raksasa.

Kawah Ratu mungkin bisa dijabarkan sebagai: penampakan bumi setelah negara api menyerang!

Jika ingin melanjutkan perjalanan hingga Pasir Reungit (lokasi awal pendakian saya beberapa tahun silam) maka kami harus menyeberangi kawah ini. Tapi saya tak tertarik untuk menjelajah lebih jauh karena tak ingin hilang dari pandangan. Tersesat di wilayah Gunung Salak sama mematikannya dengan ancaman gas beracun di kawah ini.

Setelah puas mengambil gambar, kami pun beranjak kembali ke tempat Andhin. Ia sudah menyiapkan makan siang sederhana: mie instan goreng dengan topping pucuk pakis muda yang kami petik di jalan. Saya malah suka sama rebusan pakisnya, renyah bagai asparagus. Lalu masih ada roti panggang keju. Andai sebelum berangkat tadi tidak ada request mie instan sebagai bekal, mungkin Andhin akan menyiapkan menu lebih mewah, demikian Anto menuturkan. Lalu saya menyesal. Soalnya Edgar suka mie goreng, kilah saya kemudian. Edgar memang tergila-gila pada Indomie goreng (demikian juga teman-teman asing saya lainnya). Toh walau bagaimanapun habis juga semua makanan yang terhidang. Edgar tampak puas. Congor ‘ceprot-ceprot’-nya sudah mingkem. Hahaha, kekenyangan dia.

Mission accomplished!

kawah ratu treeskawah ratu asap

Perlukah saya menceritakan tentang perjalanan pulang dari Kawah Ratu? Tak perlu ya, catatan perjalanan berangkat saja sudah demikian panjang. Yang jelas tamu kami Edgar sudah merasa puas dan senang, dan setelah kembali ke negaranya artikel tentang Bogor (termasuk di dalamnya Kawah Ratu) pun dipublikasikan di sebuah majalah maskapai penerbangan. Syukurlah ia tidak mencantumkan ‘ceprot-ceprot’ ataupun ‘blubuk-blubuk’ di dalam artikelnya. Biarlah hal itu disebutkan di blog ini saja, akur? 😉

 

Disgiovery yours!

Tentang Pendakian Ceprot-Ceprot & Blubuk-Blubuk ke Kawah Ratu (Gunung Salak)
Tagged on:                 

20 thoughts on “Tentang Pendakian Ceprot-Ceprot & Blubuk-Blubuk ke Kawah Ratu (Gunung Salak)

  • December 17 at 06:18
    Permalink

    jadi inget seorang temen pernah ngajak kesini tapi gak jadi. begitu aku beritahu kalo harus trekking selama 3 jam buahahaha
    taunya turun dari mobil trus jalan bentar sampe deh ke kawah
    itu mah kawah ciwidey ato kalo gak kawah sikidang XD

    Reply
    • December 17 at 16:52
      Permalink

      Ahaha iya ini mah termasuk level medium trek, tidak terlalu sulit, meski dibilang ringan juga tidak karena harus jalan sehat 3 jam-an.
      Dan yang utama musti bawa bekal sendiri karena tidak ada tukang jajanan di sana, hehehe 😀

      Dan jadi ingat belum nulis tentang kawah Putih dan kawah Sikidang :/

      Reply
  • December 17 at 09:02
    Permalink

    suka tutur kalimatnya om gio. sayangnya saya kurang menyukai pembahasan ini. membuat saya yang awalnya mulai bisa melupakan hijau, hutan, dan gunung menjadi teringat kembali.
    ahhhh. 🙁

    Reply
    • December 17 at 16:54
      Permalink

      Kembalilah ke hijau, hutan, dan gunung, kak! Cuma hal itu yang bisa bikin kita kembali waras, hehehe 😉

      Anyway thanks for your compliment! 🙂

      Reply
  • December 18 at 13:51
    Permalink

    Sekilas kayak lubang bu_ _ _ aya!

    Gunung Salak mengingatkanku akan trauma yang berkepanjangan. Daku pikir tidak akan kembali lg ke bumi yang pana. Rupanya masih diberi semacam kesempatan kedua untuk menghirup udara.

    Mendaki bukan hanya kuat fisik tp jg harus kuat hati, karena akan ada moment mau nyerah atau lanjut.

    Moga minceu ngerti komenku di atas 😀

    Reply
    • December 19 at 01:46
      Permalink

      Hahaha aku tau apa maksudnya dengan lubang itu 😀

      Emang ada trauma apa dengan gn Salak? Ayo cerita!

      Reply
  • December 20 at 09:55
    Permalink

    waah kalo ada kak adhin kayanya semuanya bakal senang… hahaha disana bau blerang dikawahnya nyegat banget engga kak ? suka pusing kalo menghirup blerang

    Reply
    • December 20 at 13:46
      Permalink

      Kak Andhin idola kita semua, hahaha!
      Bau belerang kadang semilir aja sih, tergantung arah angin. Atau mungkin lama2 terbiasa jadi tak kerasa ganggu juga. Better pakai masker aja kak 🙂

      Reply
  • December 20 at 13:35
    Permalink

    Aku udah pernah kesini bareng temen-temen 20an orang (kurang rame)
    Jalur treknya sih asik, tapi banyak juga yg sempet kepleset..jerih lelah terbayar pas sudah sampe di kawahnya, indah 😀

    Reply
    • December 20 at 13:49
      Permalink

      Seru banget 20 orang!
      Dulu sewaktu pertama kesini sama teman kampus sekitar 20 orang juga sih. Lalu setelah sampe kawah langsung pada facial pake sulfur alami, hahaha 😀

      Reply
  • December 22 at 08:11
    Permalink

    Aih belom sekalipun pernah ke gunung salak, seringnya sih ke gunung merapi

    Reply
    • December 22 at 10:47
      Permalink

      Lokasimu sekitar Jogja berarti ya, wajar sih, hehehe.. Tapi bolehlah ekspansi pendakian ke sekitar Bogor-Sukabumi 🙂

      Reply
  • December 29 at 13:16
    Permalink

    Membaca “Gunung Salak” selalu membawa saya kembali ke memori sekian tahun yang lalu. Pendakian paling tidak mudah yang pernah saya lakukan. Sandal gunung putus, terjebak lumpur, kehabisan perbekalan, kehujanan deras. Huvt.

    Terima kasih sudah mengingatkan saya, Bang, perihal medan Gunung Salak, yang berliku mirip miniatur hidup. #Halah

    😀

    Reply
    • December 29 at 17:32
      Permalink

      Ahahaha jadi udah mendaki sampai puncak Salak? Tak disangka tak dinyana dirimu hardcore juga! 🙂

      Kalau miniatur hidup memang cerminan semesta kok supaya kita selalu mawas diri #halah

      Reply
      • December 30 at 15:17
        Permalink

        Anu, Bang, itu pengalaman pendakian paling embuh. Pas sampe bawah, serombongan sujud syukur segala, agak putus asa ngga bisa pulang selamat soalnya. Hahahaha .. 😀

        Reply
  • January 31 at 09:45
    Permalink

    kalo ke gunung salak itu katanya harus bawa perbekalan yang lebih ya?
    hehe, minta sarannya sebelum berangkat ke sana.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *