xDSC_0102

TEMAN saya yang satu ini beda. Jika saya adalah seorang pejalan dari kasta Sudra, maka ia adalah putri setingkat Brahmana yang tak sungkan berbaur dengan rakyat jelata.

Suatu pagi ia mengajak saya berbelanja ke pasar. Bukan pasar swalayan berpendingin udara yang terletak di lantai dasar apartemennya, tapi benar-benar berkunjung ke pasar tradisional yang kebetulan letaknya bersebelahan dengan kompleks apartemen.

Pasar ini terselip di dalam gang di salah satu jalan pintas menuju deretan mall mewah Jakarta. Suasananya tak terlalu ramai ataupun pengap, sehingga saya lebih leluasa mengambil beberapa gambar. Aroma lembab pasar tradisional pun tak mengganggu.

xDSC_0109

Teman saya membeli beras, jagung, beberapa ikat bayam & kangkung, serta buah manggis, duku, dan salak. Ia tak pernah menawar harga (bertolak belakang dengan kebiasaan ibu-ibu), karena menurutnya perbedaan harga seribu-dua ribu rupiah adalah rezeki sang pedagang. Dan kalau saya amati, reaksi para pedagang tampak semringah jika kiosnya dihampiri oleh teman saya itu.

Kunjungan pasar diakhiri dengan membeli dua kerucut nasi uduk yang terbungkus daun pisang. Aroma daun pisang segar yang membungkus nasi uduk hangat bertabur irisan telur dadar dan bawang goreng renyah adalah sungguh menggugah selera.

xDSC_0107

Kami sarapan di apartemen. Sebagai penganut food combining, teman saya hanya sarapan dengan buah-buahan. Saya juga cuma menyantap beberapa butir manggis, tapi kemudian berlanjut dua bungkus nasi uduk yang tadi dibeli. Sepertinya saya belum lulus uji food combining.

Kemudian sambil mencuci sayuran yang baru dibeli, teman saya pun bercerita tentang perjalanannya ke pulau Nusa Kambangan di Cilacap, Jawa Tengah. Bahwa harus perperahu untuk menyeberang ke pulau. Bahwa benteng Karang Bolong lokasinya di dalam hutan dan banyak ular. Bahwa teman saya akhirnya bisa menarik hikmah dari perjalanan tsb: “Bahwa tas LV memang kuat!” Ia mengucapkannya dengan serius sembari menyiangi dua ikat bayam dari pasar.

Saya terperangah, sebelum terbahak tawa.

Jadi dalam sebuah business trip ke Cilacap, teman saya diajak berkunjung ke Nusa Kambangan. Maka terbawa pulalah tas LV kesayangannya naik perahu.  Walau terhimpit barang bawaan, walau terciprat air laut, walau terpapar lembab hutan, tas itu tetap anggun bergeming dalam bentuknya semula. Tanpa goresan, tanpa noda, tanpa perubahan apapun. Talk about quality.

xDSC_0112

Dalam beberapa hal, teman saya ini memang sangat mengutamakan kualitas (terutama dalam komitmen hidup sehat).  Kadang dalam hal remeh temeh yang di luar nalar saya, seperti tusuk gigi. Ia cuma memakai tusuk gigi merk Jordan (bahkan saya sendiri tak pernah tahu jika dalam dunia tusuk gigi pun ada merk/tingkatannya). Si Jordan ini bentuknya pipih berbahan kayu nan halus. Kemudian teman saya beralih pada tusuk gigi merk baru (saya lupa namanya) yang berbahan dasar sejenis polypropylene dan katanya lebih ramah lingkungan.

Hal demikian sungguh unik bagi sebagian kami sehingga kemudian muncul anekdot di antara teman-teman bahwa jika kamu mendapati seseorang yang sok kaya/borjuis, coba tanya saja merk tusuk giginya apa. Jika orang itu tak bisa menjawab, maka berarti ia tak bonafid.

Sekarang tentang sayur. “Kekurangan dari membeli sayuran di pasar tradisional adalah tidak semua sayuran dalam satu ikat itu bagus semua,” demikian teman saya menjelaskan. “Dari dua ikat sayur yang dibeli, setelah disiangi kadang cuma jadi satu ikat saja yang bagus. Beda dengan sayuran organik, walau orang-orang bilang lebih mahal tapi dalam satu ikat sayuran organik itu bisa terkonsumsi semua, tak ada yang mubazir.”  Teman saya tampak seperti mengomel walau sebenarnya tidak. Hal tsb setidaknya membuktikan pada saya bahwa ia masih punya naluri keibu-ibuan.

xDSC_0111

Namun walau bagaimanapun teman saya masih lebih memilih berbelanja di pasar tradisional ketimbang di pasar swalayan. Lebih murah, lebih ramah, dan ‘lebih menunjang ekonomi kerakyatan’. Kunjungan ke pasar swalayan hanya selingan atau untuk mencari barang yang memang tak dijual di pasar tradisional. Seperti membeli buah matoa (buah lokal khas Papua yang jadi kudapan favoritnya) yang cuma dijual di toko buah modern.

Obrolan kami berlanjut hingga tiba saatnya makan siang, dan teman saya menghidangkan sayur bening bayam jagung yang baru dimasak (tentu tanpa MSG) plus tahu goreng. Sayurannya masih segar, terasa manis di mulut. Ditambah nasi hangat yang baru ditanak, menu sederhana ini sungguhlah nikmat.

xDSC_0115

Usai makan siang kami pun berpisah. Teman saya hendak beristirahat lalu ikut kelas yoga nanti sore. Lalu mungkin membeli buah matoa dan mempertimbangkan untuk membeli air mineral merk Fiji (yang menurutnya adalah air mineral paling segar dan sehat).

Mungkin orang bilang teman saya ini punya gaya, tapi saya bilang ia punya sikap.

Pada Hari Minggu Kuturut Teman Ke Pasar
Tagged on:

26 thoughts on “Pada Hari Minggu Kuturut Teman Ke Pasar

      • March 20 at 20:06
        Permalink

        Yupe tp bs belanja apa aja termasuk ulos murah. Terakhir aku ke sana waktu masih kecil hehe. Pengen kesana lg tapi takut soalnya bny copet juga hehe

        Reply
  • March 20 at 21:01
    Permalink

    Udah lama gak ke pasar, jadi kangen pasar 🙂

    Reply
    • March 21 at 11:50
      Permalink

      OMG jadi beneran ya Fiji itu merk wahid?

      btw JT itu Justin Timberlake kan, bukan Justin Tieber? 😀

      Reply
      • March 24 at 18:57
        Permalink

        sebotol paling kecil 300ml itu 2 dolar deh.. di hotel udah 5-6 dolar.. segelas dowang.. huh!

        Reply
          • March 24 at 19:02
            Permalink

            kualitasnya dong.. kan ga dikasih apaapa.. emang alami, lebih organik.. pupuk alami kaya kompos gitu..

            prestige mah cari aja sayur premium.. itu juga banyak, harganya lebih organik, kaya kaya hidroponik.. berwarna dikit buang, ato dijadiin harga beli satu dapat dua-tiga..

            *gaya amat ya daku kog jadi pakar organik..

          • March 24 at 19:04
            Permalink

            eh maaf ini salah jawab kayanya.. *digaruk.. lagi konsen sama organik, kog pertanyaannya malah air premium..

            fiji malah karena dari air mana gitu.. jauh diimpornya.. dan emang segar dan dijamin..

          • March 24 at 21:21
            Permalink

            hahaha pantesan aku sempet bingung baca jawaban sebelumnya, air mineral kok pake pupuk 😉

  • March 24 at 01:10
    Permalink

    tusuk gigi merek jordan, air mineral merek fiji.. *catat..
    gaya hidup ya ternyata.. hidupnya seimbang, tinggal di apartemen, belanja di pasar becek..

    soal sayur yang ga semua bagus di pasar dibanding sayur organik, ga sepenuhnya bener tuh.. sayur organik juga ada kog yang ga bagusnya..

    Reply
    • March 24 at 18:18
      Permalink

      oya? pernah beli sayur organik ya mbak? atau emang rutin?

      Reply
      • March 24 at 18:22
        Permalink

        langganan toko organik sih deket rumah sodara di tebet, juga langganan sama temen yang kantornya bikin kebun organik.. tetep milih organik bukan soal mahal, sebab yang di pasar kan udah kena banyak polusi & matahari.. tinggal kitanya pintar milihmilih..

        Reply
        • March 24 at 18:38
          Permalink

          aku pernah nyoba makan sayur organik, rasanya lebih fresh dan manis, apakah semua hasil organik seperti itu ya mbak?

          Reply
          • March 24 at 18:45
            Permalink

            semua sayur mau organik mau biasa kalu fresh pasti masih manis.. tinggal petik gitu.. juga tergantung media tanamnya.. kalu banyak pupuk sih lebih manis, lebih berasa.. cuma organik jarang cantikcantik..

          • March 24 at 18:53
            Permalink

            bandingin aja wortel organik yang kurus dan kecilkecil sama wortel impor yang gemukgemuk itu.. satu alamia, satu pake pupuk kimia.. sama ma sapi & ayam, yang gemukgemuk kan disuntik, yang organik lebih alot tapi lebih sehat..

  • March 30 at 12:27
    Permalink

    jadi kangen aroma pasar bendhill *lho*
    ehh komen2annya ada yg bikin gw ngakak 😛

    Reply
    • March 30 at 23:27
      Permalink

      sekarang ke pasar mana emangnya? 🙂
      eh komen yg mana sih..

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *