desa benowo

Disgiovery.com

ADA fantasi bocah dalam diri saya. Gandrung bertualang dan mengembara tanpa batas ia. Gemar harum kenanga dan setanggi, seolah menyiratkan fantasi yang berkelindan antara negeri para peri dan dunia bawah tanah. Melonjak senang si bocah tatkala dirinya berada dalam perjalanan menuju desa Benowo di perbukitan Menoreh, pada suatu negeri yang entah karena sinyal selular pun tak tertangkap dengan jelas di wilayah ini.

Setelah perbatasan terakhir dengan peradaban, kereta mesin membawa kami menembus hutan dalam pegunungan. Gelap kala itu, masing-masing penumpang tenggelam dalam benak. Yang tampak hanya lampu sorot kendaraan menyinari permukaan jalan yang tak rata dan berkelok-kelok. Tubuh rasa ringkih setelah seharian tadi berkendara di jalan dan berakit di sungai, tapi mata saya masih terbelalak lebar mengamati rangkaian perjalanan malam ini. Mata si bocah, tepatnya. Kan saya sudah bilang kalau ia senang bertualang.

Semilir bau menyan terlintas di penciuman. Semenjak kecil, aroma kemenyan ini sudah tertanam dalam pola pikir saya sebagai sesuatu yang berhubungan dengan dunia mistis khususnya di Jawa. Bukan kebetulan jika posisi kami saat itu sedang berada di tanah Bagelen, wilayah kuno untuk wilayah kabupaten Purworejo kini. Namun tiada bulu kuduk meremang, intuisi saya bilang semua baik-baik saja.

Disambut Bajingan Manis

Terkungkung gelap selama mungkin lebih dari satu jam berkendara, akhirnya benderang menghampiri. Di sinilah lokasi homestay kami di desa Benowo. Beberapa orang penduduk datang menghampiri dan mengajak bersalaman. Berbeda dengan kami makhluk urban yang turun dari kendaraan langsung sibuk mengharapkan keajaiban sinyal 3G/4G melalui gawai masing-masing. Percuma, jalur data tiada, komunikasi selular hanya bisa dilakukan via pesan pendek.

Desa Benowo terletak di kec. Bener, kab. Purworejo, Jawa Tengah, dengan ketinggian wilayah rata-rata 800 mdpl. Kalau diintip via Google Maps, wilayah ini bahkan terletak ‘tak jauh’ dari komplek Candi Borobudur di kab. Magelang. Hanya saja medan yang sulit di wilayah pegunungan Menoreh membuat desa Benowo ini bagai terpencil dari sisi manapun.

Gerimis kabut bak tirai lembut yang mengelilingi sementara kami duduk lesehan di teras dan ruang tamu homestay. Kopi dan teh panas tersaji tuk menghangatkan badan, terhidang pula minuman tradisional baceng, alias badek (air nira) dan cengkih. “Bajingan, Mas!” tegur seseorang sambil menunjuk pada sepinggan ketela rebus yang telah dilumuri gula aren. Ya ampun, baru tahu saya kalau ada bajingan semanis ini. Lezat saat dipadu teh hangat pekat.

Tanpa mengurangi rasa hormat, kesadaran saya sudah terbagi dua antara mengikuti acara ramah tamah atau tidur lelap di balik selimut hangat.

desa benowo bajingan
Bajingan (kiri) dan ketela rebus dengan taburan kelapa parut (kanan)

Seni Jathilan Eksotis

Tampaknya waktu tidur masih lama. Sekelompok pemuda sudah bersiap dengan seperangkat alat musik untuk mengiringi atraksi seni jathilan, yakni tarian tradisional yang menggunakan kuda-kudaan dari anyaman bambu (lazim disebut kuda lumping atau jaran kepang). Alunan gong, kendang, kenong, dan hentakan drum kemudian mulai mengalun kencang. Saya sempat kuatir jika keriuhan ini bakal mengganggu makhluk-makhluk hutan, berwujud ataupun tidak. Semilir aroma menyan kembali terendus.

Empat orang pemuda meliuk-liuk di tanah lapang di bawah gerimis. Irama konstan pentatonis bagai membius. Dalam tarian sebenarnya melibatkan unsur mistis yang menyebabkan para penari kesurupan dengan jaran kepang mereka. Tapi atraksi jathilan yang dipentaskan malam itu termasuk dalam kategori ‘aman’. Saya tak tahu apakah tamu dapat ikut menari bergabung bersama para penari jathilan. Mungkin ini juga bisa jadi pertimbangan lain demi mendapatkan pengalaman berbeda khususnya bagi wisatawan asing.

Si bocah dalam diri berbisik bahwa ia melihat puluhan penari gaib ikut menarikan jaran kepang, tapi saya abaikan. Mata terpejam, bukan karena takut, tapi kantuk di ujung tanduk. Rasanya musik pengiring jathilan itu masih terngiang lamat-lamat di telinga walau kerumunan telah bubar dan lampu-lampu utama dimatikan.

desa benowo tari jathilan
Atraksi penari jathilan

Homestay Experience

Desa Benowo memang baru merintis penyediaan homestay bagi wisatawan. Rumah yang kami inapi untuk satu malam ini sudah termasuk layak, berupa bangunan permanen bertembok beton. Pada saat tidur, ruang keluarga sudah dialasi tikar dengan tambahan kasur, bantal, dan selimut. Masalahnya hanya satu: kelebihan jumlah tamu. Kaum lelaki (saya lupa jumlah persisnya, mungkin sekitar 15 orang) tidur beramai-ramai dalam satu ruangan. Bisa kau bayangkan betapa riuhnya suara dengkur bersahut-sahutan malam itu. Kaum perempuan menginap di rumah yang berbeda, meski saya kira kondisinya kurang lebih sama.

Surplus pengunjung membuat tak semua kebagian kasur. Saya tidur hanya beralas tikar, tak kebagian bantal, dan berbagi selimut dengan seorang teman. Jumlah toilet pun tak sebanding dengan jumlah tamu (beruntung persediaan air berlimpah dan mengalir deras). Soket listrik yang tak mencukupi jumlah tamu saat itu membuat kami harus antri mengisi daya baterai gawai. Padahal rata-rata membawa ponsel, kamera, dan laptop. Semoga kelak hal vital seperti ini dapat lekas diantisipasi demi kenyamanan (dan keamanan barang) para tamu yang bermalam.

desa benowo homestay
Siluet homestay kami dalam gelap

Eating Experience

Ini bisa menjadi surga bagi penikmat kuliner khas. Kebanyakan bahan baku makanan diperoleh dari pekarangan atau hutan sekitar, dan dimasak dengan tungku kayu bakar. Makan malam kami terdiri atas sayur buntil, lompong cabai, dan ikan goreng. Buntil adalah daun talas yang digulung berbentuk bola, biasanya diisi parutan kelapa, teri, dan granat (baca: cabai rawit) dengan kuah santan. Daun pembungkusnya bisa juga dari daun singkong atau daun pepaya. Buntil ala desa Benowo ini berisi tahu putih yang dilumatkan. Rasanya sama sedap! Lompong adalah batang daun talas yang diolah mirip terung cabai. Lompong ini jenis masakan unik karena baru kali pertama saya coba. Ikan goreng sendiri adalah hal biasa, namun menemukan sajian patin di daerah pegunungan rasanya istimewa. Apalagi dicocol sambal ulek segar.

Menu sarapan esok paginya juga tak kalah menarik. Daun sintrong rebus bumbu pecel terhidang, rasanya gurih dengan letupan harum di mulut (mengingatkan saya pada lalap daun poh-pohan meski rasanya berbeda), ditemani tempe bacem dan telur ceplok. Nyonya rumah malah menyempatkan diri memetik tanamanΒ sintrongΒ yang tengah berbunga dari pekarangan dan menunjukkannya pada kami. Perbincangan hangat dan menarik dengan beliauΒ tentang aneka tumbuhan yang bisa dijadikan santapan & obat-obatan ini sungguh menjadi NILAI PLUS bagi saya. Ini sisi menarik lain yang bisa digali dari desa Benowo.

desa bajingan sarapan
Aneka urap sayuran (kiri) dan daun sintrong segar (kanan)

Matahari Terbit di Gunung Kunir

Dini hari kami sudah bersiap menyongsong matahari terbit di puncak gunung Kunir (975 mdpl). Disebut gunung meski sebenarnya ia adalah semacam bukit di atas bukit. Dari pekarangan homestay bisa terlihat puncak gunung Kunir yang tegak menjulang ke langit. Para tamu ditransportasikan dengan motor ojek satu persatu sampai depan pintu masuk menuju puncak. Keterbatasan jumlah ojek membuat beberapa di antara kami harus menunggu cukup lama untuk mendapatkan tumpangan, termasuk saya di kloter terakhir.

Tiap tukang ojek sepertinya punya trik masing-masing dalam menghadapi trek terjal berbatu. “Duduk lebih depan, Mas!” ujar pengemudi ojek yang saya tumpangi. Saya menggeser posisi duduk sesuai permintaan. Terendus sisa asap tembakau pada jaket pak ojek yang mungkin sudah lama tak dicuci. “Lebih rapat, Mas!” ujarnya tanpa menoleh, bersiap menerjang tanjakan.

Akhirnya posisi duduk kami seperti cabe-cabean berkendara motor, hanya saja tanpa penumpang ketiga (dan tanpa legging macan tutul). Motor langsung menyentak, membuat tangan saya refleks berpegangan pada tubuh pengemudi. Kami berdua merunduk ke depan seiring laju motor mendaki jalan berbatu yang licin berlumut. Sontoloyo, bahkan sepagi ini di lokasi terpencil ini hidung saya sempat menangkap semilir bau menyan.

Puncak gunung Kunir saya capai saat pertunjukan matahari terbit tlah usai (dan tinggal separuh nafas sehabis mendaki jalan setapak yang terjal). Walau bagaimanapun pemandangan perbukitan Menoreh punya pesona legendaris. Lembah hijau terhampar di hadapan, berlatar belakang siluet Merapi, Merbabu, dan Sumbing. Awan kabut tampak terselip di sela-sela lembah, menyisakan lajur-lajur panjang kanopi hutan. Bukit di seberang kami mendongakkan sebongkah batu besar di puncaknya. Telanjang tanpa vegetasi. Rimbun hijau di sekelilingnya.

Sinar matahari pertama menerpa kulit, hangat yang menyenangkan di sela-sela terpaan angin dingin. Burung-burung ramai berkicau dari arah lembah (bird watching bisa jadi alternatif wisata menarik di sini). Suasana damai terasa meditatif. Kami para manusia hanya terdiam. Yang terdengar sesekali hanya bunyi shutter kamera.

desa benowo gunung kunir
Gardu pandang di puncak gunung Kunir
desa benowo perbukitan menoreh
Rumah kecil di perbukitan Menoreh, dimana desa Benowo terselip di antaranya

Curug Benowo & Curug Padusan

Air terjun alias curug adalah salah satu kekayaan alam desa Benowo. Curug Benowo punya ketinggian sekitar 15 meter. Tampaknya pengunjung bisa mandi-mandi di bawah curahan airnya, meski sepagi ini tak ada yang berminat melakukannya. Ada taman-taman kecil dibangun di hadapan curug, lalu pondok-pondok kecil tempat pengunjung dapat duduk-duduk. Teh dan kopi panas terhidang bagi kami, ditemani pisang rebus dan geblek (penganan khas yang terbuat dari tapioka dengan rasa gurih). Lumayan untuk mengisi energi usai pendakian ke gunung Kunir.

Semestinya dari curug Benowo saya diantarkan ke petilasan Pangeran Benowo (salah satu potensi wisata heritage yang masih bisa digali lagi), tapi entah kenapa saya malah diarahkan menuju curug Padusan. Perjalanan ke air terjun ini lebih jahanam daripada curug Benowo. Jika pada saat pendakian posisi duduk saya dan tukang ojek merapat di tengah, ternyata pada saat turunan kondisinya sama saja. Turunan terjal dan berbatu membuat posisi duduk saya di belakang berkali-kali merosot ke depan. Mau tak mau posisi duduk ala cabe-cabean kembali jadi solusi.

Curug Padusan tampak lebih tinggi dan besar daripada curug Benowo. Tak ada seorangpun di sana, saya sampai celingak-celinguk beberapa kali memastikan kondisi aman. Siapkan panah, hati-hati kawanan Orc mengintai dari dalam hutan, sorak si bocah. Ia memang penuh fantasi.

Curug Padusan punya debit air yang lebih deras, tak berani memotret lebih dekat saya demi melindungi kamera dari percikan air. Sebuah dek kayu yang tampaknya selalu basah dibangun di sisi tebing mendekati air terjun. Beberapa gazebo didirikan mengikuti kontur bukit di sisi kiri air terjun. Bunga-bunga liar berwarna kuning bermekaran. Suasana di curug Padusan ini terasa lebih permai dibanding curug Benowo yang lokasinya berada di halaman belakang rumah seorang warga. Ketika beberapa orang teman akhirnya datang menyusul, mereka tak kuat menahan hasrat untuk mandi-mandi di curug. Tapi mendadak perut saya terasa melilit, saya tahu sudah waktunya melepas hasrat tuk kembali ke homestay secepatnya.

desa benowo curug benowo
Kontemplasi di curug Benowo [photo by Bobby]
desa benowo curug padusan
Curug Padusan tampil lebih liar dan alami

Desa Benowo, Sudah Siapkah?

Lokasi desa Benowo di perbukitan Menoreh bagi saya adalah keunggulan tersendiri. Semakin dekat dengan alam, semakin dalam pengalaman yang didapat. Tetapi, apa yang dapat diperoleh pengunjung setelah menempuh perjalanan panjang menuju desa wisata ini?

Pendapat saya ini murni sebagai tamu dari jauh. Saya tak datang hanya untuk curug lalu pulang. Bicara tentang wisata minat khusus, justru pendekatan sosial budaya dengan penduduk desalah yang bisa jadi nilai jual khususnya bagi wisatawan asing. Seperti perbincangan singkat saya dengan pemilik homestay, bagaimana ia meracik tumbuhan liar menjadi santapan lezat bergizi ataupun obat-obatan berkhasiat. Jika ada waktu lebih niscaya saya akan mengikuti beliau seharian berburu ilmu herbologi tradisional. Saya bahkan mungkin akan mencari tahu lebih jauh mengenai aroma menyan yang kerap semilir tercium di desa ini (kelak saya mengetahui dari seorang teman bahwa tradisi merokok menyan masih hidup di pelosok Jawa, biasanya rokok itu berupa tembakau, kelembak, cengkih, dan menyan yang dilinting di dalam sehelai garet, kertas pembungkus berasa manis).

Berburu kuliner khas juga bisa dijadikan pilihan wisata minat khusus, mulai dari mencari bahan baku, memprosesnya hingga menjadi hidangan siap santap. Selalu ada nilai filosofis di balik kuliner lokal, dan itu bisa banyak digali. Menapaki jejak sejarah Sunan Geseng, Pangeran Diponegoro, hingga Pangeran Benowo di tanah Bagelen ini, atau mengasah seni lewat atraksi jathilan juga bisa jadi pilihan. Atau butuh pacuan adrenalin? Belajarlah ilmu mengendarai sepeda motor menyusuri trek-trek licin dan terjal yang tampaknya hanya dikuasai oleh bapak-bapak ojek di desa ini. Inti dari semua ini adalah, melibatkan penduduk desa sebagai pelaku wisata aktif, dan bukan hanya penonton belaka.

Tanpa menafikan keindahan puncak gunung Kunir dan curug-curug lainnya, saya kira desa Benowo bisa menjadi desa wisata yang apik dan komplet sepanjang tidak mengandalkan panorama alam semata. Dan ketika menjadi tujuan wisata populer kelak, saya kira ada baiknya dibuat batasan jumlah pengunjung demi menjaga keseimbangan alam & karakter asli desa Benowo itu sendiri. Bak serpihan mutiara yang repih, perlakuan khusus layak dijunjung.

Api di bukit Menoreh tak layak padam, fajar di desa Benowo jadilah terang.

 

Disgiovery yours!

desa benowo atraksi wisata

 

Disclaimer:

Perjalanan ke Desa Benowo terselenggara atas undangan Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah dalam kunjungan blogger & media #famtripJateng ke kab. Purworejo dan kab. Kebumen 2017 #JatengGayeng #visitJawaTengah

Merepih Menoreh di Desa Benowo
Tagged on:             

21 thoughts on “Merepih Menoreh di Desa Benowo

  • March 1 at 16:10
    Permalink

    aaakkk setuju banget kak gio.
    pengen rasanya balik ke sini lagi buat tinggal lebih lama gitu jadi pengalamannya lebih berasa πŸ˜€

    Reply
  • Pingback: Berkunjung ke Desa Benowo Purworejo | Traveler Galau

  • March 1 at 16:35
    Permalink

    kok kamu sering mengendus bau kemenyan sih mas?
    Eh itu siapa bocahnya yg bilang kalau ada penari iblis pas di jathilan. hehe. penasaran.
    Tulisanmu lho. Memang kece badai lah!

    Reply
    • March 1 at 16:53
      Permalink

      Mungkin aku punya indera penciuman seperti anjing pelacak menyan, hahaha!

      Si bocah penuh khayal dan fantasi itu ya diriku juga πŸ˜‰ Trims komplimennya, mas Insan yg paling OK! πŸ™‚

      Reply
  • March 2 at 18:28
    Permalink

    Aaaaa suka sm gaya tulisanmu ini kak. Kece! itu soal kemenyan bener g sih? untung ga di omongin pas di tempat πŸ˜€

    Reply
  • March 3 at 17:41
    Permalink

    Saya tidurnya di teras…wkwkw
    Di ruangan itu rasanya bukan sayup-sayup, namun nyarin sekali dendangan nafas dari 2 sosok dalam gelap… Huaahahahaa

    Reply
  • March 7 at 20:51
    Permalink

    nama yang unik dan aneh waktu nawarin bilangnya “Bajingan Mas” πŸ™‚ iki piye mas iki piye wkwkw
    duh indah sekali bukit menoreh dan pedesaan, jatilan itu khas banget pokoknya

    Reply
    • March 7 at 22:46
      Permalink

      Hehehe aku sempat kaget sih waktu itu, tapi gak sampe sembur teh panas ke orang yang ngomong πŸ˜€

      Ayo mas, kapan2 main ke Benowo trus nari jathilan! πŸ™‚

      Reply
  • March 8 at 09:26
    Permalink

    Suka dengan konsep tulisannya, mas. Aku tenggelam dalam alurmu.

    Udah lama nggak liat jathilan, akhirnya kemarin Minggu berhasil nonton di Prambanan. Dulu, pas aku kecil, kampungku sering menggelar jathilan. Maklum, ada sanggar jathilan di kampung πŸ™‚

    Reply
    • March 9 at 17:05
      Permalink

      Thanks kak Nugie, jadi tersanjung 7 nih, hahaha! *emang sinetron?*

      Aku waktu kecil pernah nonton kuda lumping, trus takjub gitu melihat pemainnya makan beling. Jathilan tingkat ekstrim, hehehe.. Yang di Prambanan ada adegan mengunyah beling jugakah?

      Reply
  • March 16 at 12:46
    Permalink

    wah ini tumben ga ada menu terancamnya, biasanya kalo Jateng terkenal banget sama Terancamnya πŸ˜‹. Benowo sekrg mulai berbenah diri, dan memang layak buat jadi tempat wisata.

    Dulu aku kesini pas minggu, ramenya minta ampun πŸ˜‚πŸ˜‚

    Reply
    • March 16 at 20:58
      Permalink

      Sepertinya ada tapi aku gak ngeh, terancam ini semacam urap ya?

      Wah ternyata kalau akhir pekan ramai pengunjung ya, kukira masih sepi karena terpencil..

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *