melaka heritage walk

Disgiovery.com

PAMAN Eddie, kami memanggilnya. Bak tokoh legenda, ia berkepala 7 berkaki seribu. Sosoknya masih tegap untuk orang seusianya, tapi yang paling saya rasakan adalah semangatnya yang masih meluap-luap dalam memperkenalkan kota kelahirannya tercinta, Melaka. AirAsia Indonesia-lah yang mengutus kami ke kota ini, dan Casa del Rio hotel tempat kami menginap selama di Melaka-lah yang telah mengatur perjumpaan kami dengan pemandu wisata kawakan ini.

Tepat pukul 10 pagi beliau memulai Melaka heritage walk bersama kami (sebenarnya terlambat sekitar satu jam karena kami banyak mengambil gambar di resto hotel pada saat sarapan). Maafkan kami, Paman! Beliau tampak antusias hendak menunjukkan pesona Melaka kepada kami. Kota bersejarah di Malaysia yang juga sudah ditetapkan sebagai UNESCO heritage site ini memang layak untuk ditelusuri.

Dari hotel kami menyusuri Jalan Laksamana 1 sebelum muncul di Jalan Tun Tan Cheng Lock.  Kisah perjalanan Melaka heritage walk pun dimulai (cerita selengkapnya ada pada caption masing-masing foto).

melaka tour guide
Meet uncle Eddie our Malaccan tour guide. Seems like he’s quite famous here. Kemana kaki melangkah pasti ada saja yang menyapa. *abaikan penampakan di belakang beliau*
melaka heeren street
Heeren Street adalah nama peninggalan Belanda, sementara nama Melayu-nya adalah Jalan Tun Tan Cheng Lock, dan pada masanya adalah kawasan tempat tinggal pada pembesar dan saudagar. Kini terdapat banyak museum-museum kecil di sini, pencinta heritage pasti betah berlama-lama menyusurinya.
melaka heeren street
The Don’t mess with Melaka campaign has first caught my attention the moment I arrived in this city. Diluncurkan pada 2014, slogan ini digalakkan pemerintah setempat untuk kampanye kebersihan kota. Di sisi lain dapat juga bermakna peringatan pada tindak kejahatan.
melaka heeren street
Trivia pertama dari Paman: bagaimana cara ‘membaca’ bangunan di pecinan? Tanpa menunggu jawaban dari kami, beliau langsung memberi penjelasan. Rumah beratap bumbung [kanan] adalah bangunan oriental, sementara rumah dengan fasad penuh [kiri] berarti sudah dipengaruhi budaya kolonial.
melaka pecinan
Tiap petak rumah di kawasan ini dibatasi oleh tembok yang berlubang bundar. Cukup besar untuk siapapun dapat melihat antar tembok hingga di penghujung sana. Apakah menurutmu seperti melihat lorong waktu?
melaka boundfeet shoes shop
Sebuah toko sepatu klasik yang hanya menjual sepatu bagi kaki lotus. Apa itu kaki lotus? Semacam tradisi masa silam dimana kecantikan perempuan dilambangkan dengan kaki kecil segitiga dimana jari-jari kaki mereka sudah ditekuk & dibebat sejak masih remaja. Beauty was pain. It still is.
melaka boundfeet shoes
Ini dia penampakan sepatu kaki lotus, lengkap dengan koleksi foto lama. Kaki lotus pernah diidetikkan dengan kecantikan dan kemakmuran. Kini sepatu-sepatu jenis ini hanya dijual sebagai cinderamata sahaja.
melaka street art
Urban street art di sisi sebuah bangunan.
melaka chee ancestral mansion
Chee Ancestral Mansion (1925) ini tampil paling mencolok di kawasan pecinan sekitar. Dibangun dengan mengadopsi gaya kolonial dan oriental sekaligus sebagai penghormatan bagi Chee Yam Chuan, seorang saudagar yang keluarganya sudah mendiami Melaka sejak awal abad XVIII. Menurut Paman, keluarga Chee inilah perintis berdirinya bank OCBC yang termahsyur itu.
melaka chee ancestral mansion selfie
Selfie, anyone? Mari! #dutaOCBC #kodekeras
melaka hotel puri
Paman mengajak kami masuk ke dalam sebuah bangunan dengan interior klasik dan asri. Hotel Puri Melaka. Awal didirikan pada 1822 sebelum mengalami perombakan pada 1876. Nuansa heritage sungguh tertata apik di sini.
melaka hotel puri
Bak museum hidup, hotel ini dipenuhi perabotan antik yang terawat dan dekorasi yang masih terjaga keasliannya. Andai para staff hotel berbusana zaman dahulu mungkin saya akan percaya tengah berada dalam perjalanan kuantum.
melaka hotel puri
Kami beristirahat sejenak di halaman dalam hotel yang sejuk & rimbun. Suasana tenang dan teduh pepohonan membuat kami mengantuk. Rasanya enggan melangkahkan kaki keluar kembali ke jalanan.

Untuk menebus keterlambatan kami, Paman tampak mempersingkat kunjungan ke beberapa spot. Kami bahkan melewati kesempatan masuk ke Baba Nyonya Heritage Museum yang legendaris. Tapi selepas Heeren Street beliau tampak sudah beradaptasi dengan gaya pesiar kami, yang terkadang suka berlama-lama mengambil gambar bahkan di depan obyek yang mungkin menurutnya tidak lazim.

Cara Paman Eddie menerangkan suatu hal sungguh menarik, kekuatannya ada pada storytelling. Bagai mendengar dongeng dari mulut kakek. Meskipun beberapa hal kerap terdengar berbunga-bunga, namun tetap memikat. Bagi saya beliaulah nara sumber intangible heritage yang patut dihargai.

melaka flea market
Paman masih semangat. Selepas Heeren Street, kami berbelok melewati pasar loak di Jalan Hang Lekir. Sunday flea market adalah atraksi mingguan di jalan ini. Satu lapak yang menarik perhatian saya adalah penjual piringan hitam. Notice that Anita in the middle? My parents used to play her songs.
melaka grocery store
Paman berhenti pada sebuah toko kelontong di Jalan Hang Jebat dan menunjukkan bumbu dapur favorit warga lokal: belacan (terasi), gula aren, dan fermentasi udang rebon botolan.
melaka xiang lin si
Memasuki Jalan Tukang Emas, Paman membawa kami pada Kuil Xiang Lin Si, sebuah tempat ibadah megah bagi penganut Buddha Mahayana. Kuil ini masih menyimpan wajah Melaka asli, ujar beliau sambil meminta kami mengikutinya masuk ke dalam.
Di lantai 2 kuil Xiang Lin Si, terpampang pemandangan kota Melaka yang menurut paman masih original seperti masa silam. So, why don't we take a selfie? ;)
Di lantai 2 kuil Xiang Lin Si, terpampang pemandangan kota Melaka yang menurut Paman masih original seperti wajah asli masa silam. Rumah-rumah dengan atap pelana yang ujungnya melengkung ke atas tampak mendominasi. Tak ada penampakan gedung modern apalagi mantan masa kini (opo iki?). So, why don’t we take a selfie? Abaikan pencahayaan yang apa adanya 😉
melaka rumah kampung ketek
Tepat di sisi kuil terdapat perkampungan tradisional bernama Kampung Ketek. Diambil dari bahasa Minang yang berarti ‘kampung kecil’ penduduk di area ini tampaknya sebagian besar masih keturunan Sumatera. Kami berkunjung ke salah satu rumahnya yang masih berunsur kayu dan dipenuhi foto-foto silsilah keluarga.
melaka makam syamsudin
Di penghujung kampung terdapat makam Syamsudin Al Sumatrani, seorang Aceh pada zaman pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Beliau turut memperjuangkan tanah Melaka dari cengkeraman Portugis. Makam Syamsudin punya panjang 14 meter, dan saya lupa menanyakan apa makna dari makam sepanjang itu. Mungkin sebagai bentuk penghormatan. Saya tak punya gambar makam yang layak, jadi nikmati saja gambar ini 🙂
melaka cheng hoon teng temple
Tepat di seberang Kuil Xiang Lin Si dan Kampung Ketek, terletak sebuah kuil yang tampak ramai pengunjung. Kuil Cheng Hoon Teng (1645) ini pernah mendapat penghargaan UNESCO untuk restorasi arsitektural yang mengagumkan. Kuil ini memang cantik dengan detail yang rumit. Paman membawa kami ke belakang kuil dan menunjukkan ornamen di bagian atap yang kabarnya berasal dari emas murni.  [original photo by Fahmi Anhar]
melaka cheng hoon teng
Mendaras doa dengan takzim. Kuil Cheng Hoon Teng ini melayani jemaat Tao, Konghucu, dan Buddha.
melaka relax
Hampir 2 jam berkeliling, dan kami sudah melambaikan tangan ke kamera. Istirahat dulu, Paman!

Melaka heritage walk kami sebenarnya baru setengah jalan, namun saya dan teman-teman tampak sudah kepayahan. Tampaknya cuaca panas jadi kendala besar, meski Paman tampak masih bugar dan bersemangat (tentu saja karena ia berkaki seribu). Mari rehat sekejap, Paman, kumpulkan tenaga untuk melanjutkan perjalanan…

Continue on Melaka Heritage Walk Part 2!

 

Disgiovery yours!

 

*original cover photo by Bobby Ertanto, taken at the wall of Hotel Puri
** Disclaimer: This Melaka trip was initiated by AirAsia Indonesia dan also supported by Casa del Rio Melaka. However all the opinions in this post are solely mine.

Melaka Heritage Walk | A Photo Story
Tagged on:                 

16 thoughts on “Melaka Heritage Walk | A Photo Story

    • March 16 at 11:40
      Permalink

      Terima kasih banyak, mas! Ini memang baru pertama saya coba konsep postingan seperti ini, karena terlalu banyak info & foto yang sayang kalau tak dibagi 🙂

      Reply
      • March 20 at 15:45
        Permalink

        Idenya kece mas Aldi. Mungkin suatu saat aku bisa bikin postingan bernada sama. Eh, jadinya plagiat gak sih? *serius nanya

        Reply
        • March 20 at 20:00
          Permalink

          Hahaha plagiat itu kalau copas sama persis, kak!
          Kalau terinspirasi mah wajar, lebih bagus lagi kalau dimodifikasi sesusai ciri khas masing2, dijamin OK! Ditunggu ya photo story ala Omnduut! 🙂

          Reply
  • March 18 at 09:13
    Permalink

    Heritage nya ngena banget mas, lha apalagi bangunan Chee Ancestral Mansion. “Memikat mataku”.

    Reply
    • March 19 at 01:08
      Permalink

      Thanks! Chee Ancestral Mansion dijamin bikin ‘ooooh’ & ‘aaaah’ bagi yg pertama kali melihatnya 🙂

      Reply
  • March 18 at 15:05
    Permalink

    kapan ya indonesia punya heritage macam melaka ini, kawasan yg sungguh cantik dengan berbagai bangunan ato denyut kehidupan yg masih berlangsung sejak ratusan taun silam

    Reply
    • March 19 at 01:11
      Permalink

      Tampaknya pemerintah Indonesia sekarang sudah lebih serius mengelola aset pariwisata semacam ini, hanya mungkin butuh waktu untuk menata lebih baik sekaligus membina mental warganya untuk sadar wisata 🙂

      Reply
  • March 23 at 21:06
    Permalink

    Blogger juga manusia.

    Aku kagum sama kalian yang masih semangat jelajah. Belum naik ke bukit dan kuburan Belanda itu aja aku udah mau give up.

    Tapi setelah liat foto2 yg ada, malah sujud syukur. Thank you ankel Eddie!

    Reply
    • March 23 at 22:17
      Permalink

      Panas teriknya bikin lemes, dan kita kurang minum. Tapi semua terbayar kan dengan hasil yang didapat 🙂

      Reply
  • April 1 at 16:41
    Permalink

    Nama peninggalan Belanda dan nama Melayu-nya berbeda, kayaknya untuk mengingat nama jalan ku harus tinggal yang lebih lama lagi di sana wkkwkwkw

    Reply
    • April 1 at 18:05
      Permalink

      Beda jauh ya, hahaha! Mau tinggal lama-lama boleh kok, asal jangan kehabisan baterai kamera aja, dududu! 😉

      Reply
  • April 28 at 07:46
    Permalink

    kalau jalan-jalan disini enak bgt kayaknya sambil ambil foto-foto gini, apalagi kalau bisa dibarengi cerita-cerita sejarah dari tempat-tempat ini akan lebih asyik pastinya ya

    Reply
    • April 28 at 11:43
      Permalink

      Betul, kadang mendengarkan langsung kisah-kisah sejarah pada suatu objek heritage sungguhlah menarik hati 🙂

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *