melaka heritage walk

Disgiovery.com

MELAKA heritage walk kami dipandu oleh pemandu wisata kawakan, Paman Eddie. Beliau memang berkaki baja, baru dua jam perjalanan saja kami sudah kelelahan, namun Paman yang sebenarnya sudah berusia lanjut ini masih tetap bersemangat hendak melanjutkan perjalanan. [sila klik untuk liputan Melaka Heritage Walk Part 1]

Setelah rehat sejenak akhirnya kami pun mengikuti langkah kaki Paman. Jejak sejarah kota Melaka terlalu berharga untuk dilewatkan.

melaka jalan tukang emas
Jalan Tukang Emas dikenal juga sebagai Jalan Harmoni, karena terdapat tempat peribadatan seperti kuil, klenteng, hingga masjid di sepanjang jalan ini sekaligus menggambarkan kerukunan antar umat beragama di Melaka khususnya.
melaka masjid kampong kling
Masih di Jalan Tukang Emas, terdapat Masjid Kampung Kling (1748). Awalnya hanya berupa bangunan kayu, lalu dipugar menjadi bangunan batu bata pada 1872. Perpaduan arsitektur Sumatera, Tiongkok, Hindu, dan Melayu terlihat jelas di sini. Interiornya bahkan dihiasi keramik bergaya Inggris & Portugis.
melaka sri poyyatha temple
Kuil Sri Poyyatha Vinayaga Moorthy (1781) berada tepat di sebelah masjid Kampung Kling. Kuil Hindu ini ditujukan bagi Vinayagar atau Ganesha. Kami tak sempat menjelajah lebih banyak karena pintu pagar yang tertutup rapat.
melaka jalan hang kasturi
Dari Jalan Tukang Emas kami berbelok ke Jalan Hang Kasturi yang sedikit lebih lengang dan tenang.
melaka mural orangutan
Kemudian berbelok lagi masuk ke gang kecil. Terdapat beberapa mural yang tersembunyi dari jalan besar di sini, seperti gambar orangutan yang ditunjukkan Paman Eddie. [original photo by Fahmi Anhar]
melaka lorong
Memasuki lorong waktu menuju…
melaka maqam hang jebat
…Makam Hang Jebat! Ayo, kalian pasti sering dengar nama-nama seperti Hang Jebat, Hang Tuah, Hang Lekir, Hang Lekiu, Hang Kasturi, kan? Lima sekawan ini adalah hulubalang legendaris berdarah Melayu yang hidup pada masa pemerintahan Sultan Melaka di abad XV.
melaka hang jebat tomb
Hang Jebat dan Hang Tuah adalah sahabat dekat. Malang sekali Hang Tuah kena fitnah sehingga ia harus dihukum mati (meski kemudian ia diselamatkan & disembunyikan oleh Bendahara Raja). Hang Jebat yang tidak mengetahui kondisi sebenarnya akhirnya menjadi pemberontak pada Kesultanan demi membela nama baik sahabatnya. Di kemudian hari Sultan menyadari kesalahannya telah menghukum Hang Tuah, lalu Bendahara Raja pun mengungkap fakta sebenarnya. Hang Tuah akhirnya dipanggil ke istana dan diberi pengampunan total. Sekaligus dibebani tugas berat: menumpas sang pemberontak, Hang Jebat. 7 hari duel akhirnya menewaskan Hang Jebat di tangan Hang Tuah, sahabatnya sendiri. Isn’t it ironic? Aku sedih :'(
melaka blue sky old buildings
The clear blue sky upon the mausoleum of Hang Jebat. Kami pun meneruskan perjalanan menyusuri gang-gang kota tua Melaka yang fotogenik.
melaka green house
Ada rumah hijau dengan dekor unik. Kelompok turis di ujung sana sedang sibuk berfoto dengan mural di dinding jalan.
melaka urban street
Ada sepeda entah milik siapa terparkir di sisi jalan. Lazimnya tiap penginapan di kota ini menyewakan sepeda untuk para tamu melakukan city tour.
melaka selfie
A hot selfie for a hot day! 😉
melaka bridge kampong jawa
Jembatan menuju Kampung Jawa, sebuah area yang sudah menjadi pemukiman pendatang Jawa sejak abad XVII.
melaka river
Penampakan sungai Melaka dari atas jembatan menuju Kampung Jawa. Sungai ini ialah saksi sejarah betapa kerajaan Sriwijaya-lah yang menjadi cikal bakal wilayah ini sekarang.
melaka lineclear kampong jawa
Lineclear Kampung Jawa, sebuah kedai makan di sisi sungai Melaka yang selalu ramai oleh pengunjung (kebanyakan warga lokal). Menu unggulannya adalah mie, sate, dan cendol. Secara umum citarasa masakan di kedai ini tidak mengecewakan, hanya saja pelayanannya agak lama (mungkin sedang puncak keramaian saat itu).
melaka mee rojak ais cendol
Mee rojak udang and ais cendol for my lunch. Mie rujaknya mengingatkan saya pada mie lendir yang pernah saya coba di Batam, bercitarasa gurih dan manis. Lidah Indonesia butuh tambahan cuka dan cabai iris untuk menambah selera. Es cendolnya tak beda jauh dengan di negeri sendiri, lumayan menyegarkan di hari panas terik seperti ini.
melaka mural street
Melanjutkan perjalanan menyusuri tepian sungai Melaka dimana tembok-temboknya dihiasi karya mural.
melaka world heritage
Tulisan ‘Melaka World Heritage’ ini menandakan pengukuhan kota tua Melaka sebagai UNESCO World Heritage Site pada 2008. Di depannya adalah situs benteng kuno (CMIIW). Pepohonan di sebelah kanan adalah pohon buah melaka, cikal bakal nama kota ini. Kebetulan saat kami datang pohonnya sedang berbuah banyak, meski saya tak tertarik mencicipi buahnya karena rasanya yang masam (lebih cocok dijadikan manisan).
melaka st francis church
Gereja Katolik St. Francis Xavier (1856) yang condong ke kiri akibat pekerjaan restorasi situs benteng kuno di depan gereja yang (mungkin) telah menggeser batu pondasi gereja. Tapi ditengarai kondisi gereja masih aman hingga saat ini.
melaka a famosa fort
Setelah berjalan melewati Jalan Gereja dan dan Jalan Chan Koon Cheng, kami memintas jalan kecil menanjak yang melewati pekuburan Belanda. Tak disangka kami muncul di bukit St. Paul dengan bangunan gereja St. Paul (1521). Gereja ini diyakini sebagai gereja tertua di Asia Tenggara. Yang mengagumkan adalah bagian dindingnya yang terbuat dari campuran logam, karang, dan pasir pantai.
melaka a famosa donation
Satu yang menarik perhatian adalah sebuah lubang dengan kerangkeng besi dimana pengunjung melempar uang ke dalamnya (kebanyakan pecahan RM 1 ). Saya tak tahu apakah lubang ini adalah bekas makam St. Francis Xavier sebelum kemudian jasadnya dipindahkan ke Goa, India.
melaka a famosa incription
Batu nisan ala Portugis. Bak kutukan karena mengambil gambar tengkorak, sampai di sini pula baterai kamera saya tewas.

melaka a famosa fort
Bentang A Famosa yang legendaris hanya menyisakan salah satu gerbang masuknya, Porta de Santiago. Benteng ini jadi pertahanan Portugis melawan siapapun yang hendak merebut Melaka, termasuk di antaranya adalah Pati Unus yang membawa 300 kapal perang Nusantara. Sayang, Raja Demak ini gugur di medan laga. [original photo by Virustraveling]
melaka sultanate palace
Tak jauh dari A Famosa terletak Istana Kesultanan Melaka. Konon cetak biru bangunan ini murni diadopsi dari Sumatera, dan didirikan tanpa penggunaan paku. Panas terik dan baterai kamera habis membuat saya sudah hilang minat untuk menelusuri bangunan ini lebih jauh. [original photo by Fahmi Anhar]
melaka stadhuys
Stadthuys adalah bahasa Belanda untuk ‘city hall‘ dan juga menjadi salah satu landmark kota Melaka dengan bangunan merahnya. Melaka heritage walk memang sungguh menarik, namun panas terik & dehidrasi membuat kami sudah tak fokus, lihat saja ragam ekspresi pada foto di atas. [original photo by Virustraveling]
melaka dutch square
Paman menyudahi tour kami di Red Square. Kami sudah kelelahan tapi beliau masih tetap tampak antusias. Kecintaannya pada kota Melaka, sekaligus keprihatinannya pada generasi muda yang tampak sudah mengabaikan sejarah, membuat beliau ingin mewarisi pengetahuannya pada siapa saja yang berminat mengikuti tour-nya, termasuk kepada kami. [original photo by Virustraveling]
Melaka heritage walk kami berakhir di Red Square. Paman Eddie mengantar kami kembali ke hotel Casa del Rio, menjabat tangan kami satu persatu dengan erat. Saya sedih karena waktu berlalu begitu cepat, padahal masih ada banyak hal yang ingin saya tanyakan. Gaya bercerita beliau terkadang lebih menarik untuk disimak ketimbang mengambil gambar obyek sejarahnya langsung. For me, he’s the living legend of Melaka.

Terima kasih banyak, Paman! Hope to see you again anytime we come back to Melaka! 🙂

Click here for Melaka Heritage Walk Part 1.

 

Disgiovery yours!

 

*cover photo was taken at the side of Chan Koon Cheng Street, on the way to A Famosa Fort
** Disclaimer: This Melaka trip was initiated by AirAsia Indonesia dan also supported by Casa del Rio Melaka. However all the opinions in this post are solely mine.

Melaka Heritage Walk | A Photo Story Part 2
Tagged on:         

22 thoughts on “Melaka Heritage Walk | A Photo Story Part 2

  • March 20 at 02:09
    Permalink

    Ah pengen balik ke Malaka lagi deh, soalnya waktu itu gak sempat mampir ke replikas istana Kesultanan Melaka nya.
    Nice photo story …

    Reply
  • March 20 at 06:41
    Permalink

    ceritanya seru kak Gio!
    aku baru tahu kalau Melaka itu berasal dari nama pohon. terus awalnya aku kira tulisan “Mee” itu merujuk kata “Meet” tapi huruf T-nya hilang. Eh ternyata maksudnya Mi ya. :)))

    Reply
    • March 20 at 19:58
      Permalink

      Tengkyu, kak Gallant!
      Iya, dari kecil aku udah suka ngemil manisan buah Melaka (biasanya oleh2 dari pecinan).
      ‘Mee’ dibaca ‘mie’ kak, bukan ‘meet’ alias kopdar, hahaha 😀

      Reply
  • March 20 at 21:23
    Permalink

    Seumur-umur baru pernah nginjak jejak di Malaysia cuma di KL aja. Gak pernah tertarik explore wilayah yang lain, tapi kok lihat foto-fot perjalanan di sini bikin ngiler ya.. *brb cek tiket promo* 😀

    Reply
  • March 21 at 10:01
    Permalink

    duh, I missed Melaka big time. Dulu ke sana cuma buat ketemuan temen. trus sayanya bad mood karena pas sampe Melaka kameranya ketinggalan di bus trus ilang, jadinya gak muter2. lah jadi curhat hihihi…

    mesti balik kayaknya nih.

    Reply
  • March 23 at 20:47
    Permalink

    Aku iri tulisannya udah banyak naik hiks…

    Lalu stelah mikir-mikir Pak Edy kok tabah banget yah mandu kita. Moga beliau sehat selalu.

    Reply
  • March 23 at 22:49
    Permalink

    Lah, melaka ternyata sangat fotogenik gini yak 😀 udah ke malaysia beberapa kali malah belom kesini. terakhir mau kesini nggak jadi karena waktunya mepet banget. akhirnya malah skip ke kuala lumpur langsung XD

    Reply
    • March 24 at 00:59
      Permalink

      Berarti lain kali harus diniatin ke Melaka, kak! Family friendly lagi, dan misal butuh fotografer aku siap bantu 😉 #packing

      Reply
  • March 26 at 09:23
    Permalink

    wah. Melaka ini menarik yaa. banyak spot fotonya.
    coba Indonesia kawasan pusakanya digarap kaya gini. banyak sediain paket heritage walk. pasti seru banget.

    Reply
    • March 26 at 17:56
      Permalink

      Iya, rasanya gak cukup seharian keliling, mestinya kunjungan di tiap obyek lebih lama biar dapet soul-nya 😉

      Semoga negeri kita sendiri pun bisa mengemas lebih baik sejarahnya 🙂

      Reply
  • March 28 at 09:45
    Permalink

    Malaka itu merah dan cantik tapi sayangnya panas banget hihihi kayak di Surabaya

    Reply
    • March 28 at 22:01
      Permalink

      Ahaha saya malah sudah lupa panas Surabaya seperti apa, tapi panas Melaka memang josss 🙂

      Reply
  • April 1 at 07:11
    Permalink

    Dari foto-fotomu keliatan pas kamu di sana lagi terik-teriknya. Eh tapi pas aku di Melaka juga panas dan lembab banget sih, lebih gerah dibandingin Penang. Di Melaka ini aku sempet nge-mall (jarang-jarang kan? :D) dan di dalem mall selain ngadem juga beli minuman dingin. Tapi overall Melaka fotogenik sih, dan aku suka banget suasana di tepi sungai pas matahari udah terbenam.

    Reply
    • April 1 at 11:28
      Permalink

      Hahaha mall di Cibinong juga adem lho ;p Aku malah gak kepikiran untuk ngadem di mall, pengennya udah balik aja ke hotel, pijet 😉
      Iya salah satu best moment di Melaka emang sunset view di tepi sungai atau ikutan sunset river cruise. Aku belum publish aja sik artikelnya, hehehe…

      Reply
  • April 6 at 20:34
    Permalink

    malaka jika dilihat sekilas seperti london suasananya, suasana yang classik

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *