Mengutip-Kepah

Disgiovery.com

HABIS sotong, terbitlah kerang. Usai mencandat sotong dalam gelap, pergilah kami mengutip kepah dalam terang.  Sampan bermotor mengayun kami susuri sungai hingga muara. Terik mentari tak buat jera. Yang penting kerang-kerang yang terserak di dasar pasir ini bikin kami senang.

Apa Itu Mengutip Kepah?

Mengutip kepah (clam digging/mussel picking) alias memungut kerang di sungai/muara adalah tradisi masyarakat pesisir Melayu yang lazim dilakukan antara bulan April-Agustus setiap tahun.  Tak terkecuali di pesisir timur Malaysia tepatnya di Terengganu.

Para partisipan Terengganu International Squid Jigging Festival 2015 pun tak ketinggalan ikut meramaikan agenda tahunan ini.  Dari ibukota Kuala Terengganu, kami diberangkatkan menuju Kampung Mangkuk di Setiu (tahukah kamu, Setiu berasal dari nama Tok Setiu, perantau asal Bugis pada era 1800-an yang kalah bertempur menghadapi Belanda namun tak sudi berada di bawah kendali mereka).

Tiba di sebuah desa nelayan di Setiu, dihidangkanlah kami kelapa muda bulat-bulat dan kepiting goreng garing-garing.  Lalu beramai-ramai dilarungkan dengan perahu cepat menyusuri sungai Setiu hingga ke Muara Kuala Baru.

Mengutip-Kepah-sampan
Cruising Setiu river in speedboat to Muara Kuala Baru where clams are easily spotted.
Mengutip-Kepah-pohon-kelapa
Endless view of coconut trees along the riverside of Setiu reminded me much of Kerala backwaters in India.

Bagaimana Cara Mengutip Kepah

1. Turun dari perahu, lalu joget.  Maksudnya goyangkan kakimu di dasar sungai yang berpasir.
2. Jika beruntung, kakimu akan menyentuh kulit cangkang yang keras dan oval. Pungut dan masukkan ke dalam keranjang jika memang kerang. Syukur jika dapat batu akik. Tapi jika itu cincin The Lord Of The Ring, matilah kau!
3. Geser beberapa langkah, ulangi terus hingga kau merasa cukup (lelah).

Selain meraba dengan kaki, kau juga bisa menceburkan diri ke air dan bergerilya di atas pasir dengan kedua tangan.  Terik matahari membuat sebagian partisipan tak tanggung-tanggung membasahkan diri dari ujung kaki sampai ujung kepala.

Tapi…

tapi kalau ada yang numpang pipis dalam air gimana, ya?

*lirik curiga ke salah seorang partisipan Indonesia yang dijuluki toilet man karena gemar sekali beranjangsana ke ruang tandas tuk buang air kecil*

Mengutip-Kepah-relaxing
Clam digging makes people so busy with themselves. Captured from Danan’s video.
Mengutip-Kepah-nelayan
Twist your feet on the riverbed while keeping in style. This is actually done in shallow water. Captured from Danan’s video.

 

Kerang atau Siput?

Kerang atau kepah yang lazim dipungut adalah jenis Meretrix meretrix (mengingatkan pada nama-nama tokoh pahlawan wanita di film sci-fi). Tapi tahukah kamu jika pada zaman Romawi kuno, sebutan ‘meretrix‘ disematkan pada pelaku prostitusi terdaftar/resmi.  Saya tidak tahu sebutan apa untuk mereka yang tidak terdaftar, apakah mungkin dipanggil ‘merex‘? Entahlah.

Kembali ke kerang kepah, mereka punya warna hitam gradasi cokelat hingga gading, mengingatkan saya pada siput gonggong (Strombus turturella) berwarna gading yang jadi kudapan favorit jika berkunjung ke Batam/Bintan.

Kami juga menemukan banyak siput di sini, namun jauh berbeda dari siput gonggong. Bentuknya lebih kecil, dengan cangkang yang panjang dan berwarna hitam.  Siput ini tampaknya tak lazim dikonsumsi, jadi kami kembalikan mereka ke habitatnya.

Mengutip-Kepah-hasil-panen
Show us how many you’ve got!

 

Khayalan Semu

Bunyi peluit panjang menandakan waktu mengutip kepah sudah selesai.  Para peserta pun kembali ke perahu masing-masing dengan hasil tangkapan mereka.  Saya dan teman-teman tampak riang karena kegiatan ini adalah selingan yang menyenangkan dibandingkan acara mencandat sotong yang memakan waktu berjam-jam.

Kami seperahu pun lantas berbual-bual selama perjalanan kembali ke hulu. Hasil tangkapan kali ini lumayan memuaskan, jika nanti ditimbang siapa tahu beratnya mengalahkan hasil tangkapan peserta lain.  Hadiah uang sekian ratus ringgit bisa dibagi-bagi berlima.

“Lumayan buat beli tas. Atau sendal.” Demikian cita-cita salah seorang dari kami.  Nama tak disebut demi privasi.

Mengutip-Kepah-eksis
#sigh
Mengutip-Kepah-hasil-panen-bersama
Collecting all the clams. At least we have something for dinner, now!

Tapi tatkala menjejakkan kaki kembali ke darat, pupuslah semua harapan.

Kerang-kerang hasil tangkapan disatukan dalam beberapa keranjang besar.

Tanpa dicatat.  

Tanpa ditimbang.  

Mereka semua akan dibawa ke hotel tempat kami nanti akan makan malam.

Oh well, walau bagaimanapun kegiatan mengutip kepah ini sungguhlah menyenangkan.  Bikin kami riang gembira, with or without the prize.  Kawan, jika kau ingin pula mencoba kegiatan ini, silakan hubungi agen wisata atau hotel/resort tempat anda menginap di Terengganu.

Meski sedikit kecewa, tapi kami masih bisa menertawakan hal ini.

“Kak, dapat salam dari tas sama sendal!”

 

Disgiovery yours!

 

Disclaimer:
This post was made possible by Tourism Terengganu and Gaya Travel Magazine who invited me through the Terengganu International Squid Jigging Festival 2015 held in Terengganu, Malaysia, June 2-7, 2015.

Notes:
Thanks to Danan & Helmi for their video captures.

 

Mengutip-Kepah-siluet
Me, not snapping my fingers, but showing a tiny clam I just collected. Captured from Helmi’s video.
Squid Jigging Fest 2015 | Mari Mengutip Kepah!
Tagged on:     

29 thoughts on “Squid Jigging Fest 2015 | Mari Mengutip Kepah!

  • Pingback: Mari Mencandat Sotong! - DISGiOVERY

  • June 16 at 07:47
    Permalink

    jalan pendaki nagrtis banget ya di squid jigging kali ini, tampangnya mejeng terus di video dan ilustrasi blog. yakin besok langsung di kontrak jadi bintang iklan kerupuk lekor

    Reply
  • June 16 at 10:34
    Permalink

    Sayang sekali tidak ada pertandingan siapa yang mengumpulkan kepah terberat, tapi paling tidak makan malam kala itu sudah pasti dengan olahan hasil laut yang segar ya Mas :hehe.
    Kegiatan yang menyenangkan! Salut dengan bagaimana pemerintah sana bisa mengolah kegiatan harian para nelayan itu menjadi sesuatu yang dapat dilakukan wisatawan. Kalau mau jujur, di negara kita juga banyak kegiatan seperti ini ya, andai saja kita melakukan sesuatu yang sama mungkin hasilnya bisa berkali-kali lipat… :hehe.

    Reply
    • June 16 at 11:53
      Permalink

      Yup, selama ngumpulin kerang di sana juga kami membatin: “Banyak kegiatan lokal seperti ini di negeri kita, namun belum ada yang mengemasnya jadi paket wisata menarik.” Semoga saja bisa jadi masukan baru bagi pemerintah & penggiat pariwisata 🙂

      Reply
  • June 16 at 15:45
    Permalink

    tiba-tiba kepingin kerang rebuuus

    Reply
  • June 16 at 19:13
    Permalink

    Cuma mau nanya satu, kaya apa rasanya kerang hasil tangkapan kalian ini? hehehehe

    Reply
    • June 16 at 21:56
      Permalink

      Rasanya menggugah selera! #halah
      Sebenernya waktu makan malam di hotel malah gak sempat cicip kerang ini karena antriannya panjang, jadi pilih ambil menu lain 😀

      Reply
  • June 18 at 04:30
    Permalink

    “Lumayan buat beli tas. Atau sendal.” –> kalau merek tasnya Hermes udah ketauan siapa oknumnya 😀
    Ternyata sotong dan kepah lah yang sukses bikin Acen turun gunung. 🙂

    Reply
  • Pingback: Pride & Prejudice | duaBadai

  • June 18 at 15:28
    Permalink

    Hahaha.. endingnya lucu… padahal dah capek-capek joget. Tapi, memang patut disyukuri.. with or without the prize.

    Reply
    • June 18 at 16:44
      Permalink

      Demikianlah adanya, Mas! Lumayanlah bakar kalori tengah hari bolong 😀
      Pada akhirnya memang kita menikmati semua prosesnya, with or without the prize 🙂

      Reply
  • June 23 at 16:23
    Permalink

    Foto #Sigh itu bagus banget. Candid ya mas Aldi? dulu di Sungai Musi kata ibukku juga biasa mengutip kepah macam ini. Puluhan tahun lalu tentu, ketika sungai Musi masih bersih. Sekarang sih namanya mengutip sampah >.<

    Reply
    • June 23 at 16:45
      Permalink

      Candid abis! Kalo tau lagi difoto, pasti si obyek akan pasang pose manis 😀

      Oya, aku kira Musi masih bersih kelihatannya. Tapi jangankan puluhan tahun lalu, waktu era 80-an di depan rumahku pun masih ada sungai kecil, dan anak2 gemar mengumpulkan kerang dan udang dari sana. Terbayang betapa berlimpah kekayaan alam kita sebenarnya.

      Reply
  • June 23 at 21:42
    Permalink

    lelaaaahhh gue liat lu jalan….lelaaaahhhh lelaaahhh hati ini….

    Reply
  • July 29 at 14:50
    Permalink

    Glek! Sebagai pecinta seafood, terutama kerang, aku jadi cuma bisa nelan ludah, Kak! Mauuuu!!!

    Yuk, ikutan! -> GIVEAWAY: Hemat Ongkos dengan Uber http://wp.me/p39Fhn-ps #senjamoktika

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *