mangrove tapak

Disgiovery.com

DALAM penerbangan ke Semarang dari Jakarta, pesawat akan melintas di atas kawasan mangrove sebelum mendarat di bandara Achmad Yani. Selama ini saya selalu penasaran bagaimana rasanya berada di dataran sempit di antara rimbun hutan bakau yang dikeliling perairan luas itu.

Pada akhirnya rasa penasaran saya terjawab melalui kegiatan hari kedua Famtrip Blogger 2017 yang digagas oleh Dinas Pariwisata Kota Semarang dan Badan Promosi Pariwisata Kota Semarang (BP2KS) pada 5-7 Mei 2017. Agenda kami di hari kedua meliputi kunjungan ke hutan bakau, menanam bibit bakau, memanen ikan, hingga makan siang dengan hasil panenan dari tambak di kawasan hutan bakau tsb.

bakau pulau tirang

Ekowisata Hutan Mangrove Tapak

Terletak di bagian barat kota Semarang, tepatnya di Kel. Tugurejo Kec. Tugu, terhamparlah wilayah hutan mangrove Tapak yang kini sudah menjadi kawasan ekowisata. Hutan bakau atau hutan mangrove ini berkontribusi besar dalam penyerapan karbon dioksida, selain berdayaguna melindungi kawasan pesisir pantai dari abrasi. Siapa sangka jika hutan mangrove ini juga dapat menjadi atraksi wisata yang sarat unsur pendidikan lingkungan.

Rombongan kami dibagi dalam beberapa perahu kelotok, lalu dibawa berlayar menyusuri kanal-kanal di antara hutan bakau. Topi caping dan sepatu boot menjadi atribut wajib. Jangan lupa senyum lebar dan pose sumringah karena kamera-kamera kami tak bosan merekam kegiatan ini. Setelah berlayar menyusuri kanal sempit, lalu kanal yang lebih lebar dengan naungan kanopi rimbun (kami sempat singgah sejenak untuk pengenalan tanaman bakau), tibalah kami di perairan terbuka. Wow! Sepanjang mata memandang hanyalah deretan tambak alami dan deretan bakau yang memanjang.

mangrove tapak mangrove tapak

Kami mendarat di pulau Tirang, sebuah pulau pasir memanjang yang membatasi kawasan mangrove dengan laut lepas. Laut Jawa. Dan pesawat-pesawat yang terbang melintas hendak mendarat di bandara Achmad Yani. Selain itu pulau ini sepi-sepi saja tak berpenghuni. Lalu diajarilah kami cara menanam bibit bakau. Gali lubang di pasir (mau sambil menjulurkan lidah juga boleh), bukalah penutup plastik di bagian bawah akar bibit bakau, lalu tanam bibit tadi dan timbun kembali dengan pasir. Selesai. One little act for saving the environment.

Kembali ke starting point, kami singgah sejenak di salah satu tambak untuk memanen ikan bandeng. Ketika ditanya siapa yang hendak turun ke tambak, tak ada yang berminat. Tampaknya peserta sudah kepayahan karena udara panas dan lembab. Dan juga lapar.

menanam bakau

Makan siang kami dijamu oleh home-resto Putri Tirang, lokasinya masih di perkampungan dekat kawasan mangrove Tapak. Penampakan home-resto ini murni berupa rumah penduduk, dimana hidangan prasmanan digelar di atas meja di ruang tamu, sementara para tamu dapat duduk lesehan di teras, ruang tamu, hingga ruang keluarga. Penampakannya memang sederhana, tapi jangan tanya rasa masakannya. Bagi saya inilah jawara kuliner #famtripblogger2017 #semaranghebat kali ini.

Panas terik terbayar dengan irisan besar semangka dan es teh tawar. Rasa lapar dijinakkan dengan rasa lezat kepiting saos Tapak (semacam saos Padang, cuma tidak pekat dan lebih ringan rasa pedasnya), udang goreng tepung, dan urap sayuran. Tak ada citarasa luar biasa pada bumbu, namun kesederhanaan rasa itu yang bikin istimewa. Rasanya otentik masakan rumahan. Apalagi bisa tambah porsi sesuka perut, hehehe. Sesudah makan para tamu diperkenankan membeli oleh-oleh khas penduduk setempat seperti kerupuk bandeng dan abon bandeng. Kemasannya rapi dan higienis, saya yakin kenikmatan rasanya pun terjaga.

Masakan rumahan ala Putri Tirang
Level nikmat: 5 of 5
Komentar: Walau tak ada bandeng hasil panen, namun kepiting dan udang bisa menggantikan dengan sempurna. Saya suka urap sayurannya yang berdaun harum!

Jamuan Makan ala Pecinan Semarang di Waroeng Semawis

Usai istirahat siang di hotel, pada petang harinya kami bergerak menuju Sekretariat Waroeng Semawis di kawasan Pecinan Semarang, dimana sebuah meja panjang dengan kursi-kursi berwarna merah telah siap menyambut kami. Jamuan makan malam kami memang disajikan lebih awal karena masih ada acara puncak Semarang Night Carnival yang harus dihadiri.

Piring-piring lumpia sudah terhidang lebih dulu sebagai pembuka. Lumpia cap gomeh namanya, semacam lumpia basah dengan isian potongan lontong dan ayam suwir, dinikmati dengan irisan daun bawang dan cabai rawit. Menu pembuka selanjutnya adalah favorit saya, yakni tim ayam kampung isi jamur, yang proses memasaknya butuh waktu hingga 1,5 jam. Rasa kaldunya gurih lembut bercampur aroma jamur (non-MSG lho), tekstur daging ayamnya empuk dan mudah lepas dari tulangnya. Jamur kancing dan jamur shitake yang menjadi isian ayam menambah sensasi. My close friends know well how I love mushrooms! Ingin tambah porsi namun sepertinya semua sudah ludes.

lumpia semarang semarang-pecinan-tim-ayam-kampung

Kini masuk ke hidangan utama. Tahu gimbal tersaji, berupa irisan tahu goreng, bakwan udang, kol, tauge, dan lontong, disiram kuah kacang kental. Belum habis menyantapnya, piring-piring berisi nasi ayam khas Semarang dibagikan. Seporsi kecil nasi putih berteman telur pindang, irisan daging ayam, tahu bacem, sayur krecek, sayur labu, dan kuah santan encer. Rasanya gurih manis. Jujur saya lebih suka cita rasa nasi ayam dibandingkan tahu gimbal (mungkin karena saya kurang suka bumbu kacang).

Sementara kami menikmati makanan, diedarkan pula sajian minuman pendamping seperti wedang tahu dan jamu jun. Wedang tahu terdiri atas kembang tahu dan air jahe berwarna cokelat. Jamu jun juga berwarna cokelat, hanya saja dengan tekstur kental (terbuat dari campuran tepung ketan, jahe, santan, gula merah). Hidangan penutup sebenarnya menyenangkan, yakni es cong lik (semacam es puter setengah beku yang mirip es krim), namun karena terburu waktu maka saya hanya sempat mencicip dua sendok. Bye bye cong lik, hope to have you again soon!

kuliner pecinan semawis

Kuliner pecinan ala Semawis
Level nikmat: 4 of 5
Komentar: One big bowl of tim ayam kampung isi jamur and I’ll be good all night! ๐Ÿ˜‰

Semarang Night Carnival 2017

Mengambil tempat di depan Kantor Pos atau Titik Nol Semarang, acara tahunan Kota Semarang ini dibuka oleh sambutan walikota Semarang, Hendrar Prihadi, yang bahkan secara khusus menyampaikan rasa terima kasihnya pada team Famtrip Blogger 2017 yang telah menjadikan hashtag #famtripblogger2017 dan #semaranghebat menjadi trending topic di Twitter. Setelah pembukaan acara yang diwakili oleh bunyi sirine, parade karnaval pun resmi dibuka.

Parade marching band dari Akademi Militer menjadi pembuka, diiringi jerit histeris penonton wanita, hahaha. Maklum laskar Akmil ini didominasi oleh para pemuda gagah berseragam. Now I know how to impress women, ehh… Sayangnya marching band Akmil ini tampil kurang lama dibandingย penampilan taruna PIP tahun lalu. Setelah marching band berlalu, disusul penampilan defile dengan kostum hias seperti parade kembang sepatu, parade burung blekok, parade lampion, hingga parade kuliner khas Semarang.

semarang night carnival semarang night carnival IMG-20170506-WA0035

Penonton yang membludak hingga ke depan panggung membuat saya dan sebagian rekan blogger tak bisa leluasa mengambil gambar. Padahal masih ada beberapa penampilan defile lain seperti dari Sawah Lunto (Sumatera Barat) hingga perwakilan negara-negara sahabat seperti Taiwan, Thailand, Srilanka, dan Korea Selatan. Perbedaan utama tahun ini adalah semua peserta defile tak hanya tampil di depan panggung utama, tapi juga meneruskan pawai mereka hingga ke kawasan Tugu Muda, dan acara ditutup dengan kembang api. Meriah!

Dalam perjalanan kembali ke hotel, mas Gus Wahid selaku perwakilan panitia pun mengucapkan salam perpisahan sekaligus sebagai pertanda acara Famtrip Blogger 2017 resmi disudahi. Tak terasa waktu demikian cepat berlalu, lain kali lebih lama acaranya ya mas & mbak panitia, hehehe. Senang bisa menikmati Semarang bersama kalian. Terima kasih Semarang atas persembahannya, semoga bisa berjumpa kembali di lain kesempatan.

 

Disgiovery yours!

 

Klik untuk Famtrip Blogger 2017 Hari Pertama

Mangrove Tapak #SemarangHebat
Tagged on:     

6 thoughts on “Mangrove Tapak #SemarangHebat

  • June 4 at 01:07
    Permalink

    Biasanya pas carnival itu hujan loh mas, beruntung kemarin terang. Niatnya juga pengen ke Semarang, tapi pas ada acara kantor ๐Ÿ™

    Reply
    • June 4 at 14:10
      Permalink

      Iya tahun kemarin pun hujan.. mungkin cuaca lebih bersahabat tahun ini, hehehe.. Tapi mau hujan atau tidak, SNC tetap keren! ๐Ÿ™‚

      Reply
  • June 5 at 04:31
    Permalink

    Semarang Night Carnivalnya pasti meriah banget ya. Jadi pengen liat.

    Reply
  • July 2 at 20:20
    Permalink

    “Apalagi bisa tambah porsi sesuka perut,” penting banget ini ya buat kamu. ๐Ÿ˜€ Meskipun aku kurang suka rasa jahe, tapi wedang tahu itu salah satu dari segelintir minuman berbahan jahe yang aku suka. Btw kalau ke Semarang lagi, cobain tahu gimbal di daerah Citarum deh. Pertama kali aku coba tahu gimbal kesannya biasa aja. Tapi pas makan di sini ternyata enak banget. Bumbunya pas!

    Reply
    • July 3 at 11:50
      Permalink

      PENTING! Hahaha ๐Ÿ˜€
      Nah belum tau tuh kalau ada tahu gimbal enak di Citarum, perlu dicoba next time balik ke Semarang. Sama nyobain masakan mamanya Bama juga! ๐Ÿ˜‰ #sikap

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *