Lost In Lampung

Suatu hari seusai tugas di kantor bandara.

“Buka puasa di Karawaci, yuk!”

Kami berlima sekawan saat itu. ¬†Jika lima sekawan versi Enid Blyton ialah 4 sepupu & 1 hewan peliharaan, maka versi kami ialah 4 sekantor & 1 vendor. ¬†Vendor kami masih manusia, tentu saja, meski ia sempat berseloroh bahwa dirinya tak ubahnya seekor peliharaan yang setia mengikuti kemana kami pergi ūüôā

Bagai himpunan-himpunan yang saling beririsan, 3 di antara kami tengah berpuasa Senin-Kamis, 3 di antara kami hobi difoto, 2 di antara kami ialah manusia malam, dan 2 di antara kami sedang galau.  Namun kelima kami memang gemar jalan-jalan dan makan-makan.  Oleh karenanya tiada yang menampik ajakan tadi.

Maka melajulah kami sepanjang jalan tol Jakarta-Merak. ¬†Entah mengapa sewaktu ngobrol ngalor-ngidul di dalam mobil malah tercetus menu sate bandeng khas Serang. ¬†Bisa ditebak, exit Karawaci pun kami lewatkan. ¬†Let’s go to Serang!

Bukan kami namanya jika tidak impulsif.  Dalam perjalanan kemudian tercetus gagasan betapa nikmatnya berbuka puasa sambil menikmati suasana matahari terbenam di tepi pantai.  Tampaknya naluri lima sekawan untuk bertualang sedang menggebu. Namun dengan waktu tersisa tampaknya tak mungkin mengejar sunset hingga ke pantai Anyer.  Akhirnya kami sepakat menuju pantai Merak, tinggal bablas dari tol.  Serang dan Cilegon pun dilewatkan.

Namun walau bagaimanapun kami tetap harus berbuka puasa di tengah perjalanan.  Cukup berbagi air mineral dalam botol.  Tak masalah, toh sebentar lagi kami tiba di Merak, dan tampaknya masih bisa mengejar sunset.

Melihat kapal yang hilir mudik di perairan Merak berlatar sinar mentari senja membuat kami makin tak sabar untuk segera menghirup udara laut.  Singgah sejenak di sebuah kedai untuk membeli bekal makanan.  Shalat.  Rokok dan toilet.  Lalu perjalanan segera diteruskan hingga pelabuhan.  Apakah kami hendak piknik di tepi pelabuhan?  Bukan, kami hendak naik kapal ferry, dan menyantap bekal di sana.  Betul saudara-saudara, akhirnya kami memutuskan untuk sekalian saja menyeberang ke Lampung.  Hohoho, senangnya! ^^

Inilah kali pertama saya menaiki kapal ferry.  Menyeberangi selat Sunda.  Lupakan galau dan gundah, buang saja dalam buih gelombang.

Kejadian tadi siang memang sempat membuat mood saya berantakan.  Terpaku di depan ATM menatap saldo yang tersisa kurang dari seratus ribu rupiah, saya cuma bisa mengutuki kecerobohan diri sendiri.  Tanpa sengaja saya baru saja melakukan transfer dana ke rekening seseorang tak dikenal sejumlah sisa tabungan yang ada di akun saya. Hampir seluruhnya!  Tersisa hanya sekian puluh ribu rupiah sahaja.

Jangan tanya kenapa saya bisa melakukan kesalahan transfer tsb.  Tergopoh-gopoh bikin ceroboh, sungguh bodoh!

Dengan lunglai saya keluar dari butik ATM tuk kembali ke kantor.  Tukang ojek yang saya hampiri langsung menyebutkan tarif 10 ribu rupiah, non negotiable.  Dasar bodoh!  Dengan harga sama saya bisa naik taksi sampai ke kantor, duduk nyaman di jok belakang dalam kabin berpendingin udara.  Tidak kena panas, debu,  dan asap.

Tapi taksi yang saya tunggu tak kunjung tiba.  Saya berjalan pelahan di tepi jalan yang padat, mencoba tuk menghampiri taksi jika ada yang melintas.  Sayangnya nihil, atau kalau ada pun pasti sudah berpenumpang.  Kena panas, debu, dan asap saya jadinya.  Rasanya ada tatapan mencemooh dari belakang.  Tukang ojek itu pasti bilang: dasar bodoh!

Akhirnya tiba juga saya di kantor dengan selamat dan berbau matahari.  Berjalan kaki tengah hari bolong ternyata bagaikan terapi meredakan emosi.  Yang ada tinggal lelah dan lemas, apalagi saya tengah berpuasa.  Namun suara si mbak operator hotline sudah cukup menyejukkan hati sewaktu saya melaporkan kesalahan transfer tadi.  Saya sendiri sudah pasrah jika memang tabungan saya tak dapat kembali.  Anggap saja amal.  Yang penting ikhlas.

Kemudian saya pun harus bertugas ke kantor bandara.  Namun saya senang karena disanalah markas lima sekawan berada.  Bekerja serasa tak bekerja.  Kumpul tak kumpul yang penting ada makanan dan cemilan, hehehe.

Demikianlah, beberapa jam sejak meninggalkan kantor bandara, kini terdamparlah saya dan teman-teman di geladak kapal ferry.  Meninggalkan Jawa menuju Sumatera.  Who would have thought!

Saya menikmati angin semilir di geladak.  Menatap kerlap-kerlip bintang dan juga lampu kapal.  Sesekali kapal berayun pelahan disertai bunyi gelombang pecah.  Selebihnya hanya ada gelap dan bunyi mesin.  Disini waktu terasa berjalan lambat, sungguh kontras dengan kejadian-kejadian selama 12 jam terakhir yang saya alami.  Disini saya bisa menarik nafas panjang dan tenang.  Rileks.  Rasanya kejadian salah transfer uang tadi siang seperti sudah lama berlalu.  Lambat laun hilang bagai pecahnya buih gelombang.

Sampai di Bakaheuni semestinya kami berputar balik, kembali mengantri kapal ferry yang menuju Merak.  Setidaknya kami sudah menginjak daratan Sumatera walau sekejap.  Tapi, tahu sendiri deh, tiba-tiba kami sudah meluncur meninggalkan pelabuhan.  Mengarah ke Kalianda.

Jalanan terasa gelap dan lebar dan tampaknya rimbun oleh pepohonan di kanan kiri. ¬†Saya dan beberapa teman sempat tertidur lama dan ketika terbangun agak heran karena belum sampai tujuan. ¬†Ardhi yang pegang kemudi menyahut dengan santai, “Next destination: Bandar Lampung!”

Olala…

Jadi Kalianda dilewati begitu saja, dan kini kami tengah mengarah ke ibukota Lampung. ¬†Alih-alih cemas, kami ‘para korban penculikan’ malah menunjukkan wajah sumringah. ¬†Benar-benar di luar dugaan. ¬†24 jam sebelumnya saya masih berada di Bandung, sedang wisata kuliner dengan para sahabat. 12 jam berikutnya saya sudah berada dalam kemacetan Jakarta. ¬†6 jam kemudian sudah berada di wilayah Banten. ¬†Kini sudah menjelajah Lampung.

Jelang tengah malam akhirnya tibalah jua kami di Bandar Lampung.  Jalan protokolnya terang benderang, bersih, dan lengang sekali (jika dibandingkan suasana tengah malam di Jakarta ataupun Bogor misalnya).  Udaranya sejuk dan bersih.  Dan ada banyak corak etnis khas Lampung yang tertera di sepanjang dinding jalanan, bundaran, dan tugu atau monumen.  Intinya, banyak juga spot foto-foto menarik di sana.

Lost In Lampung

Sayangnya gerimis turun membuat kami harus kembali ke mobil.  Berpusing-pusing sejenak keliling kota, mencari-cari kedai yang buka buat sekedar jajan penambal perut.  Persis anak ayam mencari induknya.  Tapi pencarian kami nihil. Sepertinya sudah saatnya berpindah lokasi.

“Palembang, anyone?

Kyaaaa, mau banget!

Tapi untuk kali ini hasrat harus dibendung.  Esok masih hari kerja.  Kami harus kembali pulang malam ini juga.  Di sisi lain saya bersyukur karena uang di dompet tinggal beberapa lembar, mana cukup untuk plesiran sampai Palembang.  Mungkin lain kali.

Dimana-mana perjalanan pulang terasa membosankan dan tidak semenggairahkan seperti waktu berangkat tadi.  Kebanyakan kami tertidur pulas, dan Aryo kini menggantikan Ardhi memegang kemudi.

Sewaktu di kapal ferry pun kami pilih meneruskan tidur di dalam mobil.  Sewaktu kapal hendak merapat, baru kami terbangun, dan masih sempatkan diri berfoto-foto di geladak, bermain-main dengan cahaya, dan hasilnya seperti kami sedang berada di suasana rave party, hohoho!

Tiba di Merak, langsung tercetus ide menikmati sarapan dini hari di tepi pantai.  Menarik, tapi maaf lain kali saja.

Sepanjang jalan kami semua tertidur bagai tak sadarkan diri (kecuali Aryo sang pengemudi yang berkeras tak mau digantikan, maklumlah manusia malam :)).  Ia sempat membangunkan kami ketika mendekati exit tol Serang, menawarkan apakah masih pada berminat dengan sate bandeng.  Maaf, lain kali.

Karawaci!  Karawaci!

Pertanda kami sudah harus bangun, karena sebentar lagi akan sampai tujuan akhir.  Begitu tiba di kantor bandara belum ada siapapun di sana, dan kami manfaatkan situasi untuk beristirahat sejenak.  Sejam kemudian semua langsung berkemas, pulang ke rumah masing-masing.

Bolos masal.

Sungguh perjalanan impulsif yang seru!

Lost In Lampung
Tagged on:         

4 thoughts on “Lost In Lampung

    • January 10 at 01:20
      Permalink

      sebenernya punya kavling di sini udah lama, tapi baru diisi setelah pindahan dari kampung MP ūüėČ

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *