Lebaran With Nek

Disgiovery.com

NENEK sudah tiada. Dulu tiap kali Lebaran kami pasti berkunjung ke kediamannya di tepi jalan sunyi di kampung halaman. Tapi kami tak pernah lama menghabiskan waktu bersama nenek karena beliau enggan meninggalkan pondok sementara cucu-cucunya bersikeras mesti liburan ke pantai.

Di tahun terakhirnya, nenek hidup seorang diri. Pondok sunyi itu terkungkung di bawah rimbun jati. Saya paling suka sensasi di kuping ketika turun dari kendaraan. Kesunyian bagai menyergapmu tiba-tiba. Tahukah kau jika kesunyian pun bersuara? Ia mencipta denging di telinga.

Kami cium tangan nenek yang ringkih dan keriput. Lalu duduk di kursi kayu di teras. Menikmati sajian ala kadarnya yang dibuat beliau dengan katarak dan tremor. Oh, kami selalu membawakan masakan Lebaran dan bingkisan dari kota. Tapi jamuan sederhana dari nenek selalu terhidang.

IMG_1345x

Sambil mencicip nastar rasa tepung, saya menyesap sunyi di sekeliling. Denging di kuping sudah hilang. Kesunyian kini berwujud dalam denting sendok di cangkir teh, samar obrolan tetua di ruang tamu, desir daun jati, nyiur, dan rumpun bambu di sekitar, pekik burung di kanopi hutan, dan sayup bunyi beduk yang ditabuh dari kedalaman lembah. Sesekali mobil atau motor melintas, kau bahkan bisa mengetahuinya sebelum mereka muncul. Bunyi mesin kendaraan sudah menderum tatkala menyusuri jalan yang berkelok menyusur bukit.

Pantai laut selatan masih jauh, sekitar setengah perjalanan lagi melintasi perbukitan yang tak usai. Tapi hidung kami sudah mencium bau laut walau tersamar. Uap asin yang mungkin sudah tak asing bagi gen purba manusia. Perasaan kami membuncah. Mungkin otak tengah menipu, namun siapa peduli.

Sejak kecil kami sudah akrab dengan laut kidul. Gelombang hijau berbuih putih bergulung-gulung menerpa pasir kelabu. Arus laut demikian kuat dan licik sehingga kau tak diizinkan berenang di perairan ini. Legenda Nyi Roro Kidul menancap di benak sehingga kami tak berani melanggar pantangan.

Nenek sudah lama tak menyapa laut. Mungkin ia tak tahu jika kini laut selatan sudah lebih bersahabat. Gelombang mengecil. Orang-orang berenang. Orang-orang asing berselancar menantang ombak. Tapi Nyi Roro Kidul kadang masih suka menculik orang-orang yang berenang di perairan berkarang. Meski tak seganas dulu. Mungkin ia bosan karena pantai sudah ramai dan tak sakral.

IMG_1442x IMG_1436x

Perjalanan kami dari rumah nenek masih panjang. Di balik bukit-bukit yang menjulang masih terselip kediaman sanak keluarga jauh yang mesti didatangi. Jika cuaca cerah kami pun turut menyambangi pusara kakek di puncak bukit.

Nenek sudah lama tak menziarahi makam suaminya. Komplek kuburan kakek letaknya di hutan di atas bukit. Jalurnya terjal dan berbatu cadas, sehingga hanya lelaki dewasa dan anak-anak muda yang sanggup menanjakinya.

Sebenarnya ziarah kami ini hanya simbolisasi saja. Semenjak ingatan saya yang paling dini, makam kakek (dan kakek buyut) tak pernah bisa ditemukan dengan pasti. Selalu saja kami kehilangan patokan: batu nisan yang raib, pohon kemboja yang berpindah, hingga jalan setapak yang berubah. Percaya tak percaya, namun demikianlah adanya. Padahal letaknya masih dalam satu lahan pemakaman, meskipun terpencil di tengah hutan. Penduduk asli yang kami tanyai pun selalu saja memberi petunjuk berbeda.

Lambat laun kami harus menerima kenyataan bahwa makam leluhur kami kini sudah menyatu dengan bukit karang itu sendiri. Apa yang berasal dari tanah akan kembali ke pangkuan bumi. Hikmah ziarah kubur adalah mengingat mati. Dan setiap usai ziarah, saya jadi lebih menghargai hidup.

IMG_1389x

Kami cium tangan nenek yang ringkih dan keriput kala pamit. Masih ada bukit tuk didaki dan pantai tuk didatangi. Selamat tinggal, Nek! Kami sampaikan salam Nenek pada pusara kakek.

Tak pernah terlintas jika itu adalah kali terakhir kami mencium tangan nenek di hari Lebaran. Beliau pun mungkin tak tahu jika itu adalah kali terakhir menjumpai anak cucunya di hari fitri.

Tak pernah terbayang jika tahun-tahun berikutnya adalah bagai Lebaran tak bertuan. Lautan sunyi.  Tapi hidup terus berlanjut. Kami tahu bahwa suatu saat kamilah yang akan dirindukan oleh anak cucu kelak.  Pun tatkala mereka bersuka ria main air di tepi pantai.  Buih ombak adalah kuantum yang menyatukan.

Selamat jalan, Nek! Sampaikan salam kami pada Kakek.

 

Disgiovery yours!

IMG_1414x

 

Simak tulisan travel blogger lainnya #TentangPulang

Olive ‘Merangkai Serpihan Kenangan di Peunayong
Danan Wahyu ‘Mudik, Rindu Rumah
Bobby ‘Tradisi Mudik di Keluarga Batak
Fahmi Anhar ‘Tradisi Hari Raya Di Kampung Halaman
Farchan ‘Kepulangan yang Agung
Vika ‘Pulang Mengenang Kakek
Yofangga ‘Ibu, Aku Pulang
Parahita ‘Mudik atau Tidak, adalah Pilihan
Rembulan ‘Yogyakarta, Pulangnya saya..
Nugie ‘Selalu Ada Jalan Untuk Pulang
Indri ‘Mudik Dan Perut Yang Manja
Titiw ‘Kamu Orang Jakarta Atau Makassar
Eka ‘Pulang Adalah Kamu

 

Lebaran Terakhir Bersama Nenek
Tagged on:     

34 thoughts on “Lebaran Terakhir Bersama Nenek

  • Pingback: cirebon : mudik dan perut yang manja | tindak tanduk arsitek

  • August 12 at 04:40
    Permalink

    Tahukah kau jika kesunyian pun bersuara? Ia mencipta denging di telinga. … sunyi yg mengingatkan pada #JejakSunyi

    nyaris posting hal yg sama, kali terakhir berjumpa Papaku ziarah ke kuburan Opa yg dah nggak jelas mana pintu liang kuburnya saking kelamaan nggak ditengok 😉

    Reply
    • August 12 at 10:52
      Permalink

      Wah kak Olive, ternyata kita pecinta sunyi 😉
      Iya pengalaman unik sih tiap kali ke makam musti muter2 cari petunjuk

      Reply
  • Pingback: Merangkai Serpihan Kenangan di Peunayong | My Passion

  • Pingback: Ibu, Aku Pulang

  • August 12 at 08:44
    Permalink

    kaaaakk, merinding bacanya
    jadi kangen nenek, semoga tahun depan masih sempat bersua 🙁

    Reply
  • August 12 at 09:32
    Permalink

    heu… sedih bacanya…
    aku masih nggak kuat kalau liat foto keluarga bareng mbah putri
    rasanya beliau masih ada, masih suka duduk di kursi depan…
    kalau pualng dari magriban di langgar kita suka rangkulan
    sambil dikasih wejangan2….
    ahh tapi sudahlah
    mungkin mbah putri juga sedang pacaran lagi dengan mbah kakung
    di alam sana

    #MalahCurcol

    Reply
    • August 12 at 10:55
      Permalink

      Ah, nostalgic moment..
      Yang jelas mbah Putri sama mbah Kakung sudah tenang di alam sana, jgn putus doanya ya 🙂

      Reply
  • August 12 at 13:03
    Permalink

    hehe… oh gio, your pictures make me smile. #happyfunbeachtime ! 🙂

    Reply
    • August 12 at 13:33
      Permalink

      Tak, Michi! We’re always having fun on the beach 😉

      *although it’s a bit different now since grandma’s left*

      Reply
  • Pingback: Sepatu Kakek.. – Jus Semangka

  • Pingback: Mudik, Rindu Rumah | Danan Wahyu Sumirat

  • Pingback: Kamu Orang Jakarta atau Makassar? | titiw.com

  • August 13 at 14:56
    Permalink

    Semewah apapun hidangan kota, tak akan dapat menandingi nikmatnya sajian desa yg sederhana 🙂
    Nenekku dan juga kakek sudah tiada dari sejak aku masih sangat kecil. Mas Gio beruntung masih bisa merasakan hangatnya kasih seorang nenek pada cucunya 🙂
    Btw kampungnya di mana kalo boleh tau, mas?

    Reply
    • August 13 at 15:37
      Permalink

      Betul sekali, kak Nugie! Kampung kami di Palabuhan Ratu. Tapi hidangan Lebaran yg paling saya suka justru dari desa di Baduy, isinya cuma bihun, daun singkong rebus, sama sambel ijo. Enak banget!

      Reply
  • Pingback: Mudik atau Tidak, adalah Pilihan

  • August 16 at 06:45
    Permalink

    Ah, kenangan bersama kakek-nenek, sesuatu hal yang jamak bagi orang pada umumnya tapi sesuatu yang tidak pernah saya rasakan. Kakek-nenek dari sisi ibu dan kakek dari sisi bapak sudah meninggal sebelum saya dilahirkan. Dan saya cuma sempat bertemu satu kali dengan nenek dari sisi bapak, itupun saya masih balita. Hanya teringat bahwa beliau dulu sudah tua renta. Wajahnya pun sekarang hanya samar-samar teringat. So, you’re very lucky to have such beautiful memories. It’s one of the things you will always treasure, I believe.

    Beautifully written, as usual! And, I love your Thundercats shirt! 🙂

    Reply
    • August 17 at 12:07
      Permalink

      Thanks, Bama! Saya tak pernah berjumpa dengan kakek (dari pihak bapak) karena beliau sudah wafat jauh sebelum bapak menikah. Makam kakek dan kakek buyutlah yang selama ini tak pernah kami temukan jejaknya di bukit karang.

      Btw kaos Thundercat itu oleh2 dari Myanmar, hehe #dijelasin

      Reply
  • August 19 at 14:56
    Permalink

    Kak Badai tulisannya badai ya.. Salam untuk Nyi Roro Kidul.. :’)

    Reply
  • August 29 at 00:27
    Permalink

    Baca judulnya aja udah mewek, apalagi setelah baca ceritanya….jadi berlinang2 :((
    Nenekku juga udah meninggal n aku patah hati banget karena blum bisa penuhin keinginan dia, traveling bareng n liat aku married. Sekarang kemana pun aku travelling, ga pernah lupa bawa baju nenek di koper. Not exactly travelling bareng but that’s all I can do now 🙂

    Reply
    • August 29 at 09:48
      Permalink

      Interesting, at least you’ve been bringing the spirit of her with you 🙂
      Btw, semoga lekas ketemu jodohnya ya, kak.. *semoga ucapan ini gak bikin berlinang2*

      Reply
  • Pingback: Berhari Raya di Bangka | Backpacker Cilet-Cilet

  • October 20 at 11:58
    Permalink

    “Tak pernah terbayang jika tahun-tahun berikutnya adalah bagai Lebaran tak bertuan ..”

    Seperti membaca kisah sendiri, Kak. Sejak 2008, Lebaran selalu tak bertuan, Bapak Ibu sudah berpulang. Hadeuh, mbrebes mili deh jadinyaaa .. :'(

    *kok aku baru baca tulisanmu yang ini ya, Bang ..*

    Reply
    • October 21 at 11:27
      Permalink

      Wah, baru tau kisahmu, Zou #hug
      Semoga yang masih ada orangtuanya semakin tersadar untuk selalu bersyukur #notetoself

      *kenapa baru baca? kenapa? #drama
      *makanya rajin2 berkunjung kemari biar gak ada yg kelewat 😉

      Reply
  • March 28 at 14:33
    Permalink

    jadi inget, pas lebaran 2011 juga terakhir kali saya ngeliat kakek 🙁

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *