Kupang-48-Hours

Disgiovery.com

Day 1

08:30 Arrive at El Tari Airport
09:00 Kupang city tour
11:00 Kristal Cave
14:00 Tablolong Beach, siesta by the beach!
17:00 Check in Hotel On The Rock
17:30 Sunset view at Hotel On The Rock
18:30 Dinner at Solor Night Market

komodo-el-tari

Kupang menyambut saya dengan hembusan angin dingin dari benua selatan.  Bukit-bukit tampak kecoklatan dan pohon-pohon kering meranggas. Tapi langit tampak biru cerah dengan awan putih berarak.  Mentari terik bersinar namun udara terasa nyaman di kulit. Saya suka cuaca seperti ini.

Seorang kenalan di Kupang membawa saya berkeliling kota sejenak.  Jalanan ramai lancar dengan kontur naik turun. Ada banyak tugu/monumen kecil di beberapa persimpangan jalan.  Kerap kami berpapasan dengan angkot yang meriah oleh stiker warna-warni dan musik berdentum-dentum.

Kediaman kenalan saya sungguh teduh dan sejuk, meski pekarangan sekitar berdebu. Beberapa pagar rumah tetangga tersusun dari tumpukan batu karang kehitaman. Karang-karang ini ditengarai berasal dari laut purba, bahkan sewaktu dulu penggalian pondasi rumah, sempat ditemukan fosil kerang besar (yang sayangnya kemudian lupa ditaruh dimana).

tugu-kota

Seharusnya kami berangkat ke gua Kristal, tapi seusai mandi dan meluruskan badan, saya malah tertidur (maklum sudah bangun sejak pukul 1 dini hari demi penerbangan jam 4). Rumah ini demikian sejuk dan nyaman walau tanpa pendingin udara. Panas terik di daerah ini membuat penduduk terbiasa membangun rumah disertai menanam pohon.  Kearifan lokal yang patut ditiru.

“Gua Kristal besok saja. Sekarang kita pesiar ke pantai Tablolong.”  Saya yang baru terbangun cuma bisa menurut. Lagipula sudah lewat pukul 14, tak mungkin mengejar waktu ke gua Kristal yang punya pemandangan menawan hanya di pertengahan hari (selebihnya gelap gulita).

Kami menempuh jalan luar kota yang sepi. Tiga salib kayu banyak terpancang di ketinggian. Babi-babi menyeberang jalan. Penduduk tampak menjual hasil kebun mereka di sisi jalan (kebanyakan berupa pisang atau tomat), beberapa malah dibiarkan terpajang tanpa ditunggui.

Siesta alias tidur siang sejenak di tepi pantai Tablolong memang sungguh ideal, apalagi di bulan puasa seperti ini. Angin sejuk berhembus sepoi-sepoi, pasir putih landai dan air laut tenang luas terhampar. Tapi matahari demikian terik dan saya sudah cukup tidur tadi. Para nelayan tengan memanen rumput laut di kejauhan. Seekor anak babi menguik-nguik di bawah tempat penjemuran rumput laut.  Saya duduk berjongkok di depan si babi mungil yang mengingatkan saya pada karakter utama film Babe. Comel nian! Demikianlah saya menghabiskan sisa siang di tepi pantai di depan babi.  Kegiatan di bulan puasa yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya.

pantai-Tablolong

Senja turun ketika kami akhirnya tiba di Hotel On The Rock (Jl. Timor Raya #2 Kupang). Proses check-in berjalan cepat dan lancar. Saya mendapat kamar unggulan yang menghadap pantai Pasir Panjang tepat di Teluk Kupang. Kau bisa menikmati matahari terbenam dari dalam kamar saja.  Tapi saya memilih turun ke tepi kolam renang dan bergabung bersama para pemburu sunset lainnya.

Usai membatalkan puasa di hotel, kami bergerak menuju kawasan kota lama. Pasar malam kampung Solor tepatnya, tempat favorit kuliner malam Kupang.  Walaupun tampak meriah oleh gerobak warna-warni dan lampu terang benderang, tapi suasananya tidak seramai atau segaduh yang saya bayangkan. Para penjaja tidak saling berteriak, tak ada pengamen. Hasil tangkapan laut segar dipajang di depan lapak masing-masing, para penjaja tampak ramah dan murah senyum, para pengunjung bebas memilih tanpa ada paksaan. Ada pula penjual sate, pecel lele, ayam goreng, hingga dokko-dokko (sejenis ketupat beras yang berbentuk panjang menyerupai es lilin).

seafood-pasar-Solor

Ikan kakap bakar yang kami pesan sungguhlah digdaya. Dagingnya manis dengan bumbu gurih meresap. Lalapan hijau dan sambal merah menambah selera. Tapi saya tahu tak bisa banyak melahap sambal karena lambung yang sensitif. Kenalan saya malah menambah porsi lalap dan sambalnya.  Lauk yang tersaji di hadapan kami bagai tak habis-habis. Saya sudah kenyang oleh segelas besar jus sirsak yang kental dan segar. Ini jus terenak yang pernah saya minum.  Wisata kuliner di Kampung Solor tepat jadi rekomendasi.

“Sampai besok! Kita pesiar lagi!” Ucapan terakhir yang terdengar sebelum saya diturunkan di lobi hotel. Berbuncah hati tak sabar.

 

Day 2

08:30 Snorkeling at Kera Island
11:30 Kristal Cave again
14:30 Oenesu Waterfall
17:30 Sunset view at Subasuka Beach
18:30 Dinner at Subasuka Resto

hotel-on-the-rock-property

Tapi…

tapi pesiar tinggal pesiar. Lupakan saja semua itinerary di atas.

Saya terkena sindrom diare sejak santap sahur di hotel. Perut rasanya panas dan melilit. Tak ada yang salah dengan hidangan sahur, tapi tampaknya saya ‘keracunan’ sambal semalam di Kampung Solor. Padahal saya hanya mengkonsumsi setengah bagian saja. Apa jadinya dengan kenalan saya yang melahap habis sambal 2 porsi.

Akhirnya saya memutuskan untuk tetap tinggal di hotel. Sementara puasa masih jalan terus. Dari jendela kamar saya menatap pulau Kera di kejauhan, sedianya saya sudah berenang-renang di perairannya yang jernih. Tapi tak apa, leyeh-leyeh di kamar hotel nan nyaman ini juga menyenangkan.  Di sisi lain saya bisa lebih fokus memotret properti hotel dan wawancara dengan nona-nona PR untuk keperluan hotel review. Tak ada yang perlu disesali.

Menjelang sore kondisi tubuh sudah lebih baik.  Kunjungan toilet sudah tuntas.  Saatnya menghirup udara segar.

Berjalan kaki menuju pantai Subasuka. Beberapa penduduk lokal membalas sapa saya dengan senyum ramah (padahal awalnya saya sempat sangsi melihat wajah ‘keras’ mereka). Seorang tukang somay berwajah Jawa menatap saya penuh harap. Tampaknya dagangannya belum laris hari ini. Maaf pak, sedang puasa, batin saya.

Ternyata sedang ada proyek konstruksi di pantai Subasuka, membuat saya tak nyaman dan memutuskan kembali ke arah hotel.  Melipir sejenak ke pemakaman umum di tepi pantai Pasir Panjang karena cahaya matahari sudah mulai memerah. Bayang-bayang panjang di bebatuan nisan menciptakan gambaran dramatis yang saya suka.

Walau tak jadi menyantap menu lokal di Subasuka, tapi saya malah menemukannya di Hotel On The Rock yang saya inapi. Ternyata mereka menyediakan hidangan se’i, tumis bunga pepaya, hingga sop ikan khas Kupang yang lezat. Penutup hari yang sempurna!

sunset-pantai-pasir-panjang

Day 3

07:00 Check out Hotel On The Rock
07:30 Visit Ibu Soekiran store for some ‘oleh-oleh’
08:30 El Tari Airport, ready to fly home to Jakarta

Keluar dari hotel sengaja melewati toko oleh-oleh Ibu Soekiran (Jl. Moh Hatta #16 Kupang) yang ternyata masih tutup pagi itu. Padahal adik saya yang tengah hamil muda minta oleh-oleh keripik paru. Dan toko Ibu Soekiran adalah salah satu sentra oleh-oleh khas Kupang yang cukup terkenal.  Kau bisa mencari penganan khas Kupang di sini seperti daging se’i, dendeng sapi, jagung titi (dari Alor dan Lembata), gula hela, emping jagung, keripik paru sapi, kerupuk kulit ikan kakap, dodol rumput laut, dodol lontar, kacang rote, manggulu (dari Sumba Timur), sambal luat, kue rambut (Alor), dan panganan lainnya.

Keberuntungan masih berpihak pada adik saya karena ternyata saya berhasil mendapati keripik paru Ibu Soekiran di salah satu kios di bandara El Tari (meski harganya jauh lebih mahal). Tak apalah demi ibu ngidam.

Pesawat berangkat tepat waktu. Lihat! Dari ketinggian saya bisa melihat pulau Kera yang dikelilingi buih putih. Di kejauhan pulau Semau tampak menyatu dengan biru Teluk Kupang. Selamat tinggal Kupang! Saya tahu kelak kan kembali menyapa langit biru dan mencumbu pantai indahmu lain waktu.

 

Disgiovery yours!

 

pulau-Kera

 

Kupang 48 Hours

14 thoughts on “Kupang 48 Hours

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *