Kuliner Tangerang

Disgiovery.com

KULINER Tangerang mungkin tak setenar kuliner Bogor, tapi nama Cina Benteng pastilah sudah familiar. Cina Benteng adalah istilah yang merujuk pada warga keturunan Tionghoa yang tinggal di Tangerang khususnya di pesisir sungai Cisadane. Dan yang namanya wilayah pecinan pasti erat kaitannya dengan kuliner khas ala kaum peranakan.

Beruntung sekali saya bisa mencicipi kuliner ala Cina Benteng yang dihadirkan spesial oleh Atria Hotel Gading Serpong dan Atria Residences di kawasan Gading Serpong, Tangerang, Banten. Tak tanggung-tanggung, spesialis kuliner Bondan Winarno turun tangan langsung dengan dibantu chef Gatot Susanto. Mereka survei langsung ke lokasi Cina Benteng, menggali informasi dan resep dari sumber aslinya. Chef Gatot sendiri bercerita jika ia tak sungkan datang berkali-kali hanya demi mencocokkan rasa dengan yang ia olah, dan beliau menjamin jika cita rasanya sama persis dengan aslinya.

Hasilnya adalah kuliner Tangerang cita rasa peranakan yang otentik, namun disajikan ala hotel berbintang. Mengambil tempat di Bianco Restaurant, Atria Residences, berikut yang bisa saya sajikan untuk kamu, kamu, dan kamu. Selamat menikmati! 🙂

atria-residences-bianco-&-chef

Asinan Sayur

Bisa dibilang kuliner Tangerang terpengaruh banyak oleh budaya Betawi, salah satunya asinan sayur ini. Terdiri atas sayur-sayuran segar (irisan wortel, ketimun, kol, tauge, lokio, sawi asin) bersama irisan tahu goreng dan kentang rebus, lalu disiram kuah cuka dan kuah gula, bisa tambahkan sambal kacang jika suka, kemudian sajikan bersama kerupuk kuning. Rasa renyah sayuran segar dan asam pedas kuah cuka sungguh menggugah selera. Kalau tak ingat ada cinta menu lain yang harus dicicipi mungkin saya akan menambah porsi asinan sayur ini.

kuliner-tangerang-asinan-sayur

Bubur Benteng

Bubur ayam ala Cina Benteng. Terdiri atas bubur nasi dengan topping ayam suwir, kucai, kacang goreng, irisan daun bawang, bawang goreng, dan kerupuk. Disajikan bersama sate usus, sate ati/ampela, dan sate telur puyuh. Boleh tambahkan kecap asin/manis dan sambal. Tapi tahukah kamu, saya malah lebih suka bubur Benteng polos tanpa topping apapun. Buburnya sendiri bertekstur kental namun lembut di lidah. Aromanya harum kaldu dan rasanya gurih. Kasih merica yang banyak, heaven! Oya, chef Gatot sempat menantang kami untuk meracik bubur Benteng ini sesuai kreasi masing-masing. Hasilnya? Saya tetaplah pemenang (di hati kamu). Uhuk.

kuliner-tangerang-bubur-benteng

Laksa Benteng

Laksa termasuk masakan kaum peranakan yang populer. Laksa Benteng punya ciri khas pada kuah santannya yang tak terlalu kental namun juga tidak encer dengan rasa kaldu ayam yang konsisten. Penyajiannya dalam mangkuk bersama bihun, irisan lontong, kentang rebus, telur rebus, tahu goreng, tauge, kucai, dan kemangi. Saya paling suka kuah laksa benteng ini yang tampilannya menggoda kuning jingga dengan rasa menggoyang lidah. Semangkuk sampai licin tandas.

kuliner-tangerang-laksa-benteng

Ketupat Sayur

Lazim disajikan kala sarapan. Jika di Betawi klasik menu ini biasanya menggunakan daging sapi dan buah jali, maka ketupat sayur ala Cina Benteng menggunakan ayam kampung dan labu siam (yang diiris tipis memanjang). Seporsi berupa irisan ketupat disajikan bersama tahu/tempe rebus, telur rebus, dan ayam kampung bumbu opor, lalu disiram kuah santan kuning. Daging ayamnya bertekstur lembut dan mudah lepas dari tulang. Saya jadi bimbang memutuskan kuliner Tangerang mana yang jadi favorit antara Laksa Benteng atau Ketupat Sayur.

kuliner-tangerang-ketupat-sayur

Ikan Ceng Cuan

Inilah menu favorit kaum peranakan yang tinggal di sekitar sungai Cisadane. Ikan Ceng Cuan lazimnya menggunakan bahan baku utama ikan samge (ikan ini tersedia berlimpah di sungai Cisadane pada abad XV), dan bumbu yang dominan adalah kecap manis dan tauco. Sepertinya saya belum pernah menjumpai rasa yang unik seperti pada ikan Ceng Cuan ini, antara asam manis kecap & tauco dengan gurih daging ikan. Tapi apakah saya suka? Pastinya!

kuliner-tangerang-ikan-ceng-cuan

Nasi Ulam

Semasa kecil di Betawi saya kerap menyantap nasi ulam polos dengan bumbu serundeng yang banyak dan kacang goreng. Nasi ulam ala Cina Benteng biasanya disajikan bersama irisan telur dadar, dendeng daging, semur kentang, dan irisan ketimun. Nasinya sendiri gurih dengan cita rasa santan kelapa. Sementara semur kentangnya berasal dari pengaruh Portugis dengan sedikit sensasi daun basil. Sungguh kuliner Tangerang yang kumplit.

kuliner-tangerang-nasi-ulam

Maknyus Platter 1

Pilihan menu spesial dari Bondan Winarno. Terdiri atas nasi putih, gurame pucung, ayam lado mudo, gulai cubadak, dan perkedel jagung.

kuliner-tangerang-maknyus-platter-1

Maknyus Platter 2

Pilihan menu spesial berikutnya dari Bondan Winarno. Terdiri atas nasi merah, daging kalio, ubi tumbuk, gurame pesmol, dan perkedel jagung.

kuliner-tangerang-maknyus-platter-2

Bir Pletok

Jangan kuatir, bir satu ini sama sekali tak mengandung alkohol. Minuman etnis asal Betawi ini mengandung campuran beberapa rempah seperti jahe dan serai. Beberapa menambahkan kayu secang supaya warnanya merah. Saya paling suka meminum bir pletok dalam keadaan dingin, rasanya tentu menyegarkan dan menimbulkan sensasi hangat di tenggorokan.

kuliner-tangerang-bir-pletok

Jadi, tertarik untuk mencoba? Kuliner Tangerang cita rasa peranakan ini sudah tersedia dalam menu ala carte ataupun room service di Atria Hotel Gading Serpong dan Atria Residences untuk pilihan lunch ataupun dinner. Harga rata-rata berkisar Rp. 50.000/porsi. Khusus untuk menu Maknyus Platter harga Rp. 125.000/porsi. Sudah termasuk pajak & servis.

So, see you there! 🙂

 

Disgiovery yours!

Kuliner Tangerang Cita Rasa Peranakan
Tagged on:

16 thoughts on “Kuliner Tangerang Cita Rasa Peranakan

  • March 23 at 18:43
    Permalink

    Wow baru lihat fotonya saja sudah bikin ngiler! Jago banget ambil fotonya, Gio.

    Salut buat Atria dan Parador yang menyajikan menu khas kuliner Tangerang. Jadi terangkat dan naik kelas. Semoga tetap lestari.
    Ayo kita makan2 lagi di Atria rame2 bareng Arie, Winda dan Noe :)))

    Reply
    • March 24 at 00:58
      Permalink

      Thank you mbak, kebetulan penyajian makanannya cantik dan lightingnya juga pas! 🙂

      Betul salut buat Atria & Parador yang sudah mengangkat kuliner lokal jadi hidangan hotel berbintang. Mari makan-makan lagi! 😉 #nagih

      Reply
  • March 28 at 11:02
    Permalink

    nasi ulam + bir plethok.. udah selesai.. enak bgt pokoknya 🙂

    Reply
  • April 12 at 01:09
    Permalink

    Ouuoooo … kayaknya plg suka ama buburnya deh, krn ada sate ususnya Lulz … tapi, jd pengen nyicipin yg lain juga :3

    Reply
  • May 14 at 19:36
    Permalink

    Menu masakannya biasa dan tergolong masakan tradisional, tapi penyajian dan tempatnya yang berbeda menjadikan masakan tradisional jadi naik pamor. Dan memang hal itu harus dilakukan agar makanan tradisional tidak tergerus oleh makanan Western/Modern..keren foto-fotonya Mas..salam kenal

    Reply
    • May 15 at 02:18
      Permalink

      Satu langkah Atria yang patut diapresiasi oleh kita semua khususnya pecinta kuliner Nusantara.

      Terima kasih kak Ari, salam kenal juga 🙂

      Reply
  • April 29 at 14:52
    Permalink

    Wih bener banget nih, tangerang emang serba kuliner peranakan jadi makanan jenis apapun hampir ada sama kayak jakarta.
    salam dari Jakarta.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *