Krakatau cover

Disgiovery.com

NUN pada masa dimana manusia masih muda, tersebutlah sebuah gunung besar nan agung bernama Krakatau Purba.  Tingginya menjulang hingga sekian ribu depa.  Batara Brahma menaruh sangkakala di dalam kawah Krakatau Purba teriring wasiat agar sangkakala itu tak tersentuh hingga akhir zaman.

Krakatau Purba menuruti titah sang baginda untuk menjaga sangkakala.  Namun jauh di dalam rongga-rongga yang berkelindan dalam bumi, dimana hanya merah yang bergolak, menggelegaklah dorongan kuat untuk menyibak apa yang terpendam.  Sekuat tenaga Krakatau Purba bertahan, semakin besar rasa ingin tahunya.  Hingga ia akhirnya menarik napas panjang, dan satu hembusan udara tanpa diduga menerpa sangkakala.

Apa yang terjadi?

Sangkakala bagai menjerit kencang. Bumi gonjang-ganjing.

Jika ada istilah ‘gunung bagai terlempar’, maka demikianlah adanya.  Krakatau Purba terlontar ke udara, demikian dahsyat hingga seluruh tubuhnya tercerai berai.  Luluh lantak ia tinggal kawah.  Darahnya tumpah ruah memisahkan  Jawadwipa dengan Suwarnadwipa.  Serpihan-serpihan tubuh yang tersisa menjelma sebagai pulau-pulau penjaga kawah: Rakata, Panjang, dan Sertung.

Seribu saka berlalu.

Rakata tak sendiri menjaga sangkakala. Dua adiknya telah muncul, Danan dan Perboewatan.  Ketiganya adalah puncak gemunung di satu pulau Krakatau yang baru. Sementara pulau Panjang dan Sertung tetap mengawal mereka dalam bisu. Danan dan Perboewatan kerap bertanya gerangan apakah benda misterius yang mereka lindungi di bawah sana. Rakata yang bijak bestari kerap mengingatkan bahwa sangkakala tak patut diusik sebagaimana wasiat Batara Brahma.

Danan dan Perboewatan yang berdarah muda tampak tak jeri. Perselisihan terjadi dengan Rakata. Ketiga puncak itu saling menggeram dan menggetarkan alam sekitar. Gelombang suara mereka memantul dalam rongga-rongga bumi, menerpa sangkakala.

Bisa ditebak apa yang kemudian terjadi.

Sekali lagi selat Sunda terguncang hebat.

Jeritan sangkakala merambah benua.  Danan dan Perboewatan hancur lebur jadi debu.  Repih.  Angin menabur abu mereka ke penjuru bumi.  Krakatau nyaris musnah.  Rakata tinggal tersisa sepertiga, membisu dalam sesal tak berkesudahan seperti Panjang dan Sertung yang tak bergeming.

Tak sampai sepuluh dasawarsa kemudian, Anak Krakatau terlahir dari kawah di dasar laut (manusia mencatat pemunculan pertamanya pada tarikh 1927 Masehi).  Ia terus tumbuh dan berkembang hingga kini, dikawal oleh Rakata, Panjang, dan Sertung.

Anak Krakatau anak yang manis, meski kala ia terbatuk-batuk selalu saja membuat manusia cemas. Semoga dirinya kelak tak berulah seperti para pendahulunya.  Biarlah kenanga & semanggi tumbuh mengganti setanggi yang luruh.  Biarkan sangkakala bersemayam di tempatnya hingga akhir zaman.

 

bulan 9 tahun 2014

Disgiovery yours!

pulau Panjang

pulau Rakata

mendaki puncak (1)

mendaki puncak (2)

mendaki puncak (3)

pulau Panjang (2)

Krakatau (1)

Krakatau (2)

Krakatau & Hikayat Sangkakala

7 thoughts on “Krakatau & Hikayat Sangkakala

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *