…naik kereta api tut tut tut!

kereta api Bumi Geulis
Foto diunduh dari sini http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Bumi_geulis.jpg

Bertahun silam jadwal kereta api Bogor-Sukabumi dan sebaliknya adalah 2 kali sehari (pagi dan sore), UNFORTUNATELY kini jadwalnya cuma 1 kali sehari (pukul 5 pagi dari Sukabumi, dan pukul 5 sore dari Bogor).

Kereta api ekonomi ini tanpa pendingin udara, namun sebenarnya memang tak perlu. Udara yang masuk dari jendela kereta adalah udara sejuk pegunungan. Tak perlu kedinginan karena deretan kursi yang masing-masing diperuntukkan untuk dua orang dewasa pastilah akan diduduki oleh tiga penumpang, berlaku di semua gerbong. Beruntunglah anda yang bisa duduk berdempetan dengan makhluk Tuhan rupawan dan harum.

Pemandangan menarik hati. Sawah berkotak-kotak hijau, hutan bambu berdesir, sungai deras berbatu, bocah-bocah melambaikan tangan dari sisi jalan. Dari Bogor kau bisa lihat sunset di balik gunung Salak, atau dari Sukabumi ada sunrise di balik gunung Gede-Pangrango. Sesekali rel pun melintas di antara perumahan padat atau bangunan-bangunan semi permanen, lalu berhenti sejenak di stasiun tua peninggalan Belanda.

Lama perjalanan di atas rel adalah 2 jam tepat (sudah termasuk pemberhentian di beberapa stasiun kecil). Jika kita berkendara melalui jalan raya Bogor-Sukabumi alias jalur neraka (yang dipenuhi oleh deretan pabrik dan hilir mudik truk-truk besar), maka kita tak pernah tahu berapa lama waktu yang kan dihabiskan di jalan.

Kau akan menemui orang-orang berwajah sederhana (teman saya bilang “berwajah minimalis”). Wajah bundar dengan mata, hidung, dan mulut yang cenderung mungil dibandingkan lebar muka, ciri khas penduduk pedesaan Pasundan. Bandingkan dengan wajah rumit kaum urban yang selalu berhias earphone, soft lens warna biru atau kelabu, dan cenderung mengernyitkan dahi ketika sinyal ponsel beralih jadi GPRS. Seakan-akan hidup hanya bergantung pada sinyal, padahal pemandangan sekitar jauh lebih menarik.

Marissa Haque mungkin takkan kuat naik kereta ini. ibu di depan saya bersedekah payudara kiri dan kanan demi menyusui bayinya. Saya tahu diri dan pilih menutup mata sambil mendengarkan musik dari iPod. Seharusnya memang seperti ini, jika ada pemandangan yang bukan hak-nya, sebaiknya alihkan atau tundukkan pandangan. Seperti kaidah hidup di pelosok desa, kau tahu yang mana yang bisa dilihat atau tidak, maka tak heran mereka bisa aman-aman saja mandi telanjang di sungai, atau menyapu pekarangan hanya dengan kain & kutang.

Orang-orang bersahaja ini sebagian besar mungkin bertempat tinggal jauh di lembah-lembah Salak-Halimun atau Gede-Pangrango. Kulit mereka selalu terpapar udara murni dan air bersih pegunungan, gratis. Bahagia itu sederhana. Tatapan mereka malu-malu. Namun pancinglah satu kata, dan mereka akan membalas lebih banyak kata disertai senyum ramah. Adalah wajar jika mereka kemudian bertanya lebih jauh: dari mana, mau kemana, sama siapa saja, dll, dsb. Kaum #kelasmenengahngehek mungkin akan berkomentar satu kata: KEPO!

Padahal orang-orang sederhana ini tulus bertanya dan siap memberi bantuan jika diperlukan. Ketika kami bilang tak tahu jalan menuju alun-alun dari stasiun, keluarga yang duduk di depan kami langsung sibuk memberi petunjuk, disertai tawaran untuk singgah ke rumah mereka. Bagi saya merekalah orang-orang Indonesia sesungguhnya. Ramah tamah tanpa pamrih.

..dari semua paparan di atas, KENAPA PT KAI cuma mengadakan SATU KALI TRIP BOGOR-SUKABUMI PER HARI?

Andai jadwalnya ditambah, pasti akan banyak menyaring penumpang (karena lebih ekonomis dan efisien), di sisi lain pasti bisa mengurai kemacetan akut di sepanjang jalan raya Bogor Sukabumi, pun meningkatkan arus wisatawan ke Sukabumi khususnya. Siapa sangka tak jauh dari kerasnya kehidupan ibukota, masih dapat kita temui keramahtamahan khas negeri ini. Discover some truly Indonesia.

Cuma Tuhan dan pemerintah yang tahu jawabannya.

Sukabumian Adalah…
Tagged on:     

69 thoughts on “Sukabumian Adalah…

  • July 9 at 00:00
    Permalink

    bambangpriantono said: Fotonya mana neh?

    selama berkereta memang tidak mengeluarkan kamera 🙂

    Reply
  • July 9 at 00:00
    Permalink

    Iyaaa beneerr Sebelll karena cuma 1 kali 🙁 huhuuuEike jd susah mau pulang, pdahal tu cepet banget bogor-sukabumi cm 2jam doank yahNaek bus/colt alamaaaakkk rempong di jalan rusak+macet errrMas aldi dlm rangka apakah k sukabumi? Eheeemm 😀

    Reply
  • July 9 at 00:00
    Permalink

    Suka sekali baca tulisan ini!Touchy!Jadi pengen ke sukabumi naik kereta. Asal jgn pake mobil, bisa bikin mules macetnya :((

    Reply
  • July 9 at 00:00
    Permalink

    duabadai said: Ketika kami bilang tak tahu jalan menuju alun-alun dari stasiun, keluarga yang duduk di depan kami langsung sibuk memberi petunjuk, disertai tawaran untuk singgah ke rumah mereka. Bagi saya merekalah orang-orang Indonesia sesungguhnya. Ramah tamah tanpa pamrih.

    setujuuuuupemandangan ini juga aku temuin di jogja yang selalu berhati nyaman. kalo di jakarta, orang nawarin minum dicurigain ngasih racun, nawarin mampir malah dicurigain macam2. jadinya ya acuh sama sekitar

    Reply
  • July 9 at 00:00
    Permalink

    sukabumi adalah kampung nenekkuuu

    Reply
  • July 9 at 00:00
    Permalink

    cinderellazty said: Mas aldi dlm rangka apakah k sukabumi? Eheeemm 😀

    ehm anu.. #pipimemerah

    Reply
  • July 9 at 00:00
    Permalink

    anchaanwar said: Jadi pengen ke sukabumi naik kereta. Asal jgn pake mobil, bisa bikin mules macetnya :((

    thanx Cha, you should try it by train! 🙂

    Reply
  • July 9 at 00:00
    Permalink

    aniadami said: setujuuuuupemandangan ini juga aku temuin di jogja yang selalu berhati nyaman. kalo di jakarta, orang nawarin minum dicurigain ngasih racun, nawarin mampir malah dicurigain macam2. jadinya ya acuh sama sekitar

    kadang rindu ya sama keramahtamahan seperti ini yg sudah jarang ditemui di ibukota..

    Reply
  • July 9 at 00:00
    Permalink

    ianpokian said: sukabumi adalah kampung nenekkuuu

    nenekmu tinggal dimana Ian??? jgn2 kita masih sodara #halah

    Reply
  • July 9 at 00:00
    Permalink

    Jangan2 mas aldi pny keluarga di sukabumi yah? 🙂 jangan2 tetangga wkwkkwk

    Reply
  • July 9 at 00:00
    Permalink

    Nenek gw masih dikampung aldi, parungkuda kecamatan bojongkokosan…Pinggir jalan ya beberapa kilo dr monumen palagan bojongkokosan

    Reply
  • July 9 at 00:00
    Permalink

    Ke Semarangnya kapan neh

    Reply
  • July 9 at 00:00
    Permalink

    eh bogor ke sukabumi bisa naik kereta? baru tahuuuuu..

    Reply
  • July 9 at 00:00
    Permalink

    Perasaan karena jalannya nggak memungkinkan untuk dilewati KRD sering-sering, makanya jadwalnya cuma dua kali, yaitu satu rangkaian P-P khusus buat nganter para pegawai yang commuting Sukabumi-Jakarta. Dulu ada orang Kemlu yang rumahnya di Sukabumi, tiap pagi dia naik KRD disambung KRL sampai ke kantornya di Pejambon.

    Reply
  • July 9 at 00:00
    Permalink

    cinderellazty said: jangan2 tetangga wkwkkwk

    pengennya sih jadi sodara, haha

    Reply
  • July 9 at 00:00
    Permalink

    ianpokian said: parungkuda kecamatan bojongkokosan…Pinggir jalan ya beberapa kilo dr monumen palagan bojongkokosan

    ooo parungkuda, ya ya ya, semakin kampung semakin eksotis kok Ian, pantesan kamu geulis pisan 😉

    Reply
  • July 9 at 00:00
    Permalink

    arsitaarsita said: ke solo dongggg

    mau banget Itha! ini kemaren dapet undangan gratis explore Solo, tapi jadwalnya bentrok 🙁

    Reply
  • July 9 at 00:00
    Permalink

    bambangpriantono said: Ke Semarangnya kapan neh

    nanti abis dari Solo *berasa udah fix jadwalnya*

    Reply
  • July 9 at 00:00
    Permalink

    tintin1868 said: eh bogor ke sukabumi bisa naik kereta? baru tahuuuuu..

    mbak Tintin harus coba! ^^

    Reply
  • July 9 at 00:00
    Permalink

    bundel said: Perasaan karena jalannya nggak memungkinkan untuk dilewati KRD sering-sering, makanya jadwalnya cuma dua kali, yaitu satu rangkaian P-P khusus buat nganter para pegawai yang commuting Sukabumi-Jakarta. Dulu ada orang Kemlu yang rumahnya di Sukabumi, tiap pagi dia naik KRD disambung KRL sampai ke kantornya di Pejambon.

    wow, thanx infonya Bunda :)o gitu toh salah satu alasannnya.. padahal apa salahnya kalo jalurnya diperbaiki ya biar bisa memungkinkan dilintasi kereta api lebih sering #harapanrakyatjelata

    Reply
  • July 9 at 00:00
    Permalink

    duabadai said: wow, thanx infonya Bunda :)o gitu toh salah satu alasannnya.. padahal apa salahnya kalo jalurnya diperbaiki ya biar bisa memungkinkan dilintasi kereta api lebih sering #harapanrakyatjelata

    Katanya sih kontur tanahnya labil, sering terjadi longsor sesudah Parungkuda.

    Reply
  • July 9 at 00:00
    Permalink

    kirain ada hubungannya dengan istilah jadul. suka-bumi = mati, disukabumikan = dibunuh. Frasa itu dilontarkan oleh seeorang perwira tni jaman orba. eufimisme yg aneh sekaligus mengerikan.sori oot

    Reply
  • July 9 at 00:00
    Permalink

    kirain ada foto2nya… 😀

    Reply
  • July 9 at 00:00
    Permalink

    kakak badai…. kenapa aq tidak diajak.. aq kan pengen main ke sukabumi… huhuhuhu.. ketemu si jeleeeeeeeeeenn..

    Reply
  • July 9 at 00:00
    Permalink

    Aldi… syaa suka cara kamu nulis….Jadi pengen ke Sukabumi… 🙂

    Reply
  • July 9 at 00:00
    Permalink

    duabadai said: Seharusnya memang seperti ini, jika ada pemandangan yang bukan hak-nya, sebaiknya alihkan atau tundukkan pandangan

    menundukkan pandangan maksdunya ngeliat ke bawah ke arah PD ibu2 itu?hehehe… *bercanda,Om.alhamdulillah pas pulkam nanti saya berkesempatan naik kereta. kangen ngeliat pemandangan di kanan-kiri…

    Reply
  • July 9 at 00:00
    Permalink

    ah, badai… kau emang paling top deh kalo udah nulis. biar ga ada fotonya, tetep aja kebayang suasananya dengan jelas seperti sedang melihatnya di foto.btw, selain enak dibacanya, kritik2 menggelitiknya asik lho. i like it…*ngelitikin temen2 sekitar* hihihihi

    Reply
  • July 10 at 00:00
    Permalink

    turun di stasiun cicurug berapa, mang?

    Reply
  • July 10 at 00:00
    Permalink

    duabadai said: Adalah wajar jika mereka kemudian bertanya lebih jauh: dari mana, mau kemana, sama siapa saja, dll, dsb. Kaum #kelasmenengahngehek mungkin akan berkomentar satu kata: KEPO!

    jleb!

    Reply
  • July 10 at 00:00
    Permalink

    close2mrtj said: ah, badai… kau emang paling top deh kalo udah nulis. biar ga ada fotonya, tetep aja kebayang suasananya dengan jelas seperti sedang melihatnya di foto.btw, selain enak dibacanya, kritik2 menggelitiknya asik lho. i like it…

    that’s why i luv Badai!

    Reply
  • July 10 at 00:00
    Permalink

    masih ada yang suka angkut domba ke dalam kereta gak? hehehe …

    Reply
  • July 11 at 00:00
    Permalink

    duabadai said: Discover some truly Indonesia.

    discover Nusantara!

    Reply
  • July 12 at 00:00
    Permalink

    pengen coba tapi takut aku anaknya parno-anwahahahaha *sewa bodiguard*

    Reply
  • July 13 at 00:00
    Permalink

    bundel said: Katanya sih kontur tanahnya labil, sering terjadi longsor sesudah Parungkuda.

    I see, PR nih buat pemerintah (kalo emang mau ngurusin trasportasi yg merakyat) 🙂

    Reply
  • July 13 at 00:00
    Permalink

    martoart said: kirain ada hubungannya dengan istilah jadul. suka-bumi = mati, disukabumikan = dibunuh. Frasa itu dilontarkan oleh seeorang perwira tni jaman orba. eufimisme yg aneh sekaligus mengerikan.

    ah aku pun pernah dengar istilah itu cak, memang mengerikan

    Reply
  • July 13 at 00:00
    Permalink

    lolanovalinda said: kirain ada foto2nya… 😀

    selama di kereta emang gak motret, tapi di sukabuminya sih foto2 terus 🙂

    Reply
  • July 13 at 00:00
    Permalink

    aprillayunita said: q kan pengen main ke sukabumi… huhuhuhu.. ketemu si jeleeeeeeeeeenn..

    undangan sila diminta ke papahnya Jelen ;p

    Reply
  • July 13 at 00:00
    Permalink

    johaneskris said: Aldi… syaa suka cara kamu nulis….Jadi pengen ke Sukabumi… 🙂

    thanx Jo, ayo ayo kesini, kasih tau kapan 🙂

    Reply
  • July 13 at 00:00
    Permalink

    debapirez said: menundukkan pandangan maksdunya ngeliat ke bawah ke arah PD ibu2 itu?hehehe… *bercanda,Om.

    hahaha om Dedi bisa aja *malu deh ketahuan*

    Reply
  • July 13 at 00:00
    Permalink

    close2mrtj said: biar ga ada fotonya, tetep aja kebayang suasananya dengan jelas seperti sedang melihatnya di foto.btw, selain enak dibacanya, kritik2 menggelitiknya asik lho. i like it…

    ah kamu*malu malu kejengkang*

    Reply
  • July 13 at 00:00
    Permalink

    moronnic said: turun di stasiun cicurug berapa, mang?

    jauh dekat 8 ribu bukan? *lupa ga nanya*

    Reply
  • July 13 at 00:00
    Permalink

    ta2surya said: jleb!

    apakah dirimu termasuk #kelasmenengahngehek ? ;p

    Reply
  • July 13 at 00:00
    Permalink

    ta2surya said: that’s why i luv Badai!

    luv u too! *tebar cinta dimana2*

    Reply
  • July 13 at 00:00
    Permalink

    bartian said: masih ada yang suka angkut domba ke dalam kereta gak? hehehe …

    bisa aja asal dombanya dipangku, wkkk ;p

    Reply
  • July 13 at 00:00
    Permalink

    daybydai said: discover Nusantara!

    indeed! 🙂

    Reply
  • July 13 at 00:00
    Permalink

    sazhar said: pengen coba tapi takut aku anaknya parno-an

    parno kenapa Pul? ada tragedi apa di kereta?

    Reply
  • July 13 at 00:00
    Permalink

    duabadai said: selama di kereta emang gak motret, tapi di sukabuminya sih foto2 terus 🙂

    oow… *mangut2*

    Reply
  • July 13 at 00:00
    Permalink

    duabadai said: undangan sila diminta ke papahnya Jelen ;p

    kita bikin surprise aja kakak badai.. abah jelen ga usah tau,,, bukber disana yuukss…****nyari2 tiket….. ;p

    Reply
  • July 13 at 00:00
    Permalink

    aprillayunita said: ****nyari2 tiket….. ;p

    ga usah nyari tiket, yg penting udah antri sejam sebelum jam keberangkatan 🙂

    Reply
  • July 13 at 00:00
    Permalink

    duabadai said: ga usah nyari tiket, yg penting udah antri sejam sebelum jam keberangkatan 🙂

    nyari tiket dari riau nya kakak…. hihihihi… 🙂

    Reply
  • July 15 at 00:00
    Permalink

    belum pernah ke bogor maupun sukabumi…

    Reply
  • July 15 at 00:00
    Permalink

    faziazen said: belum pernah ke bogor maupun sukabumi…

    ayooo dungkss main ke bogor… 🙂

    Reply
  • July 16 at 00:00
    Permalink

    Gw bacanya sambil bayangin lagi duduk di dalam kereta Bogor-Sukabumi ini. Adalah sahih adanya kalo orang2 pasundan itu ramah dan tulus. Mungkin orang bilang, ‘ga semua juga kali’. Tapi toh hampir semua yg pernah gw temui seperti itu. Bahkan saat di Garut [I LOVE LOVE LOVE this town], batere hp gw tewas dan pas bgt gw lg butuh hubungin teman. Gw minta tlg ke mamang2 tkg ojeg buat minjem hapenya bentar, gw copotin cashingnya, gw ganti pake simcard gw, dan gw pake. BOLEH!Coba kalo di jakarta, ato bekasi aj deh, pasti gw uda dipelototin, dikira mau nyolong hapenya atau apa. Itu baru satu. Masih buanyak pengalaman2 ttg keramahan dan ketulusan org2 tatar pasundan :))Btw, gw etnis jawa, dan gw cinta gila sama budaya sunda. Hahahaha…*sori ngelantur kesana-kemari*:p

    Reply
  • July 16 at 00:00
    Permalink

    samhoed said: *sori ngelantur kesana-kemari*

    hatur nuhun so much for sharing your story :)yes, masih banyak orang2 Indonesia asli yang ramah tamah dan murah senyum 🙂

    Reply
  • July 19 at 00:00
    Permalink

    aprillayunita said: ayooo dungkss main ke bogor… 🙂

    insyaAllahnunggu junior launching dulu ya 🙂

    Reply
  • July 21 at 00:00
    Permalink

    suka banget tulisan ini! berarti kalo ngajak turis jalan2 di indonesia, jangan bali lagi bali lagi yak. ajak ke sukabumi 😀

    Reply
  • July 24 at 00:00
    Permalink

    faozia said: suka banget tulisan ini! berarti kalo ngajak turis jalan2 di indonesia, jangan bali lagi bali lagi yak. ajak ke sukabumi 😀

    ke sukabumi dan pelosok-pelosok Indonesia lainnya, hehe.. thanx Fa 🙂

    Reply
  • September 10 at 11:33
    Permalink

    ini gimana siik mau follow blog inih .. *masih caur mainan wp nya

    Reply
    • September 10 at 12:55
      Permalink

      login dulu WPnya, nanti cari tulisan follow di kiri atas 🙂

      Reply
  • November 30 at 11:53
    Permalink

    hello aldi.. rumahmu yang ini keren boh tapi agak kelabu ya..
    jadi pengen sungguh naik kereta ke sukabumi.. tapi jadualnya malam ya.. pengen lihat sunset dari kereta..

    Reply
    • December 6 at 18:03
      Permalink

      halo mbak’e, makasih banyak.. masa kelam sih? btw iya nih jadwal keretanya tdk manusiawi, hehe..

      Reply
  • January 9 at 17:58
    Permalink

    iya… kok gada photonya… ini fiksi ya?

    Reply
    • January 10 at 01:21
      Permalink

      ini prosa, ga perlu photo

      *kalo rosa ga perlu hoto*
      *semoga ngerti*

      Reply
  • January 9 at 18:09
    Permalink

    iyaaa.. photonya mana nih… ?
    ini fiksi kali ya… qiqiqi

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *