kembali-ke-bali-turis-lokal

Disgiovery.com

BALI kali ini menyapa saya dalam bahasa Indonesia. Tak ada lagi yang mengira saya turis Thailand atau Jepang. Hmm… bukan apa-apa, tandanya warna kulit saya sudah tidak sebening dulu, hahaha! Teringat sewaktu di Ubud tahun 2012 kami pernah sukses menyamar sebagai turis oriental di sebuah resto populer dan mendapat prioritas tempat duduk dibanding turis lokal.

Mari kembali pada realita. Bertampang lokal berarti kau bisa mendapat harga miring. Titik. Sewa motor hanya 120 ribu per hari. Harga tak bisa ditawar. Titik. Sang penyewa berbual bahwa itu harga khusus turis lokal (sepertinya karena kami bermalam di hotel mentereng tepat di depan lapak si penyewa). Eh, ternyata teman kami kirim pesan semestinya masih bisa dapat setengah harga lagi. Apa daya kami sudah bayar sewa, akhirnya sebagai penghiburan saya cuma bilang: “Biar tampang lokal tapi masih dianggap bonafid.” Hahaha!

Tapi ada masa dimana turis lokal memang harus membayar lebih mahal. Salah satu coffee site di Bali mewajibkan turis lokal membayar harga tiket masuk sebesar 100 ribu rupiah, sementara turis asing GRATIS. Jangan emosi dulu, konon penyebabnya adalah karena ulah sebagian dari kita sendiri. Awalnya bahkan tak ada biaya tiket masuk ke tempat ini. Pengunjung cuma diharapkan membeli oleh-oleh dari sample kopi yang disajikan. Turis-turis lokal berulah. Semua sample kopi dicicipi, tidak membeli produknya sama sekali, bahkan mulai berisik mengganggu ketenangan pengunjung lain (foto-foto selfie hingga minta foto bareng dengan tamu-tamu bule). Akhirnya dengan berat hati dikeluarkanlah peraturan biaya tiket masuk demi kenyamanan pengunjung yang sebagian besar turis asing. Hanya turis lokal yang benar-benar ‘niat’ yang diharapkan datang.

turis-lokal-pantai-pandawa
Turis domestik berfoto selfie di pantai Pandawa

Omong-omong tentang niat, karena satu dan lain hal, rencana kami diving di Tulamben batal. Akhirnya pantai-pantai tebing di selatan jadi sasaran. Pantai Pandawa (atau pantai Kutuh bagi warga sekitar) jadi tujuan pertama. Yang menarik adalah tebing-tebing cadas yang dikikis untuk akses menuju lokasi dan keberadaan patung-patung besar Panca Pandawa (Arjuna, Bima, Nakula, Sadewa, dan Yudhistira) yang dipajang di ceruk tebing. Pantainya sendiri saat itu agak surut, dan keberadaan bus-bus pariwisata menandakan suasana pantai yang ramai sehingga kami tak berlama-lama di sana.

Rekomendasi mendamparkan kami selanjutnya di pantai Gunung Payung. Sedang ada pembangunan besar di sini dengan tebing-tebing yang dikikis. Tapi akses turun ke pantainya termasuk curam, dan saya malah senang karena makin sulit dicapai tandanya makin sedikit pengunjung dan makin langka sampahnya. Pantai di sini tak jauh beda dengan pantai Pandawa dengan karang pemecah ombak yang jauh dari bibir pantai, menciptakan perairan dangkal yang tenang dan bisa direnangi.

Inginnya menutup senja sambil berenang di pantai Geger, namun karena akses jalan yang sedang rusak, membuat kami putar arah ke barat. Mendung dan gerimis memacu kami menuju pantai Balangan. Sunset tak muncul sore itu, namun kami bisa mendapati pantai Balangan yang memang indah berombak besar dengan tebing-tebing tinggi di kedua sisi. Pantai ini sungguh ideal untuk direnangi namun cuaca buruk mengurungkan niat. Sebuah keluarga kecil (ayah, ibu, anak) juga tampaknya membatalkan niat piknik mereka. Ketiganya berdiri tak jauh dari saya, dimana sang ibu akhirnya asyik berfoto selfie sendirian.

Secara umum, para pengunjung ketiga pantai yang kami kunjungi tadi bisa dibedakan dari style-nya. Sebenarnya saya sudah memperhatikan hal ini sejak lama, namun kunjungan ke Bali kali ini makin menegaskan hasil pengamatan. Turis bule umumnya berpakaian seadanya dengan bawaan seminim mungkin (biasanya buku bacaan), turis Asia Timur biasanya bertopi lebar dengan tas kecil (mungkin isinya kimchi? ;)), sedangkan turis lokal kebanyakan berpakaian agak lengkap dengan tas besar (berisi pakaian ganti, jaket atau payung, dompet kartu, notes kecil, kudapan, air minum, tolak angin, tabir surya SPF sekian sekian, after sun lotion, power bank, charger aneka gawai, dll) dan tak ketinggalan di tangan: ponsel dan kamera. Belum lagi ada headset di kuping. Bagi pembawa action cam pun pasti lengkap dengan tongsisnya. Kadang ada pula yang bawa-bawa helm. Ribet!

Sebagai turis lokal, saya pun termasuk yang merasa ribet dengan barang bawaan, meski tidak sekomplek deskripsi di atas (makanya baca tulisan saya yang ini: My Packing List). Semenjak dari hotel The One Legian kami sudah merasa risih sendiri dengan tas ransel berisi freediving mask, sunblock, kanebo, sehelai baju ganti, dan perkakas kamera lengkap. Bule-bule sekeliling tampak lenggang kangkung tanpa membawa apapun. Kadang heran, dimana mereka menyimpan segala dompet dan paspor?

Lalu muncul lagi pertanyaan dalam benak, bagaimana kesan warga lokal khususnya Bali melihat turis-turis negeri sendiri khususnya yang berasal dari ibukota? Turis domestik dari daerah mana yang jadi favorit mereka?

Ada yang bisa bantu jawab? 🙂

 

Disgiovery yours!

 

PREVIOUS: Kembali Ke Bali | Perkara Dunia Gaib

Kembali ke Bali | Perihal Turis Lokal

15 thoughts on “Kembali ke Bali | Perihal Turis Lokal

  • January 31 at 23:06
    Permalink

    Aku mah ribet-ribet juga dipakai bawaannya oom. Kamu mah apa, bawa fredive mask sama celana renang tapi gak nyemplung sama sekali, cuma sebatas dengkul. Hih. Besok-besok aku jalan sendiri ajah.

    Eh tapi iya ya, kejadian di Ubud beberapa tahun lalu yang kita semua dikira turis Jepang itu sebenarnya agak-agak rasis ya, walaupun menguntungkan buat kita 😀

    Reply
    • February 1 at 06:51
      Permalink

      Kan bakalan dipake kalo renang di Geger atau Balangan, hahaha! Sayangnya cuaca buruk sih..

      Iya prihatin juga ternyata masih ada praktik pembedaan kelas :/

      Reply
      • February 5 at 11:26
        Permalink

        Pantesan kamu suka uring2an tanpa tedeng aling-aling, huh! :/
        Next trip aku mau bawa koper ah biar dirimu makin ribet, hahaha!

        Reply
  • Pingback: Kembali ke Bali | Perkara Dunia Gaib - DISGiOVERY

    • February 1 at 09:55
      Permalink

      Hehehe yang lucu waktu ke Thai dianggap turis lokal, jadi gratis masuk tempat wisata 😉

      Reply
    • February 2 at 05:20
      Permalink

      Aku pun baru kesampean kesana, padahal Pandawa udah masuk bucket list sejak lama, hehehe 😉

      Reply
  • February 8 at 08:58
    Permalink

    Turis lokal rempong. Titik. –Gara, seorang anak Bali yang nyasar ke Jakarta.
    Eh ngaku banget saya yak, padahal saya mah nggak kalah keles rempongnya :haha.
    Turis domestik kalau di Bali mah bukan turis lokal Om jatuhnya. Yang lokal betulan kalau sudah mulai pasang bahasa Bali–maka seisi dunia akan berpihak padamu. Saya membuktikannya di Ubud, pakai bahasa Bali di tempat parkir dan langsung dicurhatin si Bli penjaga parkir di sana. Kurang apa coba… :haha *disambit karena songong*.

    Tapi turis lokal macam saya juga ngenes banget karena belum pernah ke pantai-pantai yang Mas sebutkan di postingan ini. Nasib…

    Reply
    • February 8 at 10:09
      Permalink

      Oh iya ya.. tengkyu insight-nya, aku ganti deh ke ‘turis domestik’. Selain itu jadi pengen belajar bahasa Bali, siap terima curhat *lah.. *

      Nah satu lagi, ternyata belum tentu warga lokal Bali sudah menyambangi semua destinasi wisata di Bali itu sendiri ya… *manggut-manggut, padahal sama aja di Jawa Barat juga belum semua dikunjungi, hahaha*

      Reply
  • April 26 at 16:03
    Permalink

    selalu jatuh cinta sama pantai Pandawa, dan selalu pengen kesana lagi..

    Reply
    • May 1 at 01:39
      Permalink

      Pilihan tepat, kakak! 🙂 Saya pun ingin kesana lagi pagi-pagi atau sore-sore, dan bukan tengah hari bolong seperti kemarin, hahaha!

      Reply
  • May 2 at 12:53
    Permalink

    Kamu mesti perawatan lagi, suntik putih dan lulur yaa kak. Biar dianggap dari jepang atau thailand hahaha

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *