KIB-3-cover

Disgiovery.com

KELAS Inspirasi Bogor 2015 ini memasuki tahun ketiga. Sudah 3 kali pula saya mengikuti Kelas Inspirasi Bogor (KIB) sebagai relawan dokumentator.  Tahun ini saya bergabung dengan kelompok 21 di SDN Lawang Gintung 2. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kali ini saya mendapat sekolah yang berlokasi di dalam kota.  SD yang kami datangi termasuk sekolah teladan karena beberapa kali menjuarai kompetisi antar sekolah dasar se-Bogor. Suasana sekolah tampak apik dan resik, dan yang suka, sekolah ini rimbun oleh pepohonan.

“Kami juga menerapkan sistem 3R: Reuse, Reduce, Recycle.” Demikian penuturan ibu Herlina (Kepala Sekolah SDN Lawang Gintung 2) dengan bangga.  Raut wajahnya yang keibuan itu berseri-seri. Saya bisa melihat dedikasi dan ketulusan ada pada sosok beliau.

Sekolah ini letaknya berdekatan dengan komplek militer sehingga banyak pula murid yang berasal dari keluarga militer. Menurut ibu Herlina ada keuntungannya: “Lebih mudah dididik disiplin.”  Tapi di sisi lain kelakuan mereka jadi jauh lebih agesif di sekolah dibandingkan di rumah.

Dan namanya anak-anak tetap tidak menghilangkan kenakalan khas kanak-kanak. Kejar-kejaran, tubruk-tubrukan, hingga teriak-teriak mencari perhatian. Kelas 2 yang saya masuki termasuk paling berisik dan gaduh.  Satu orang minta izin ke toilet, yang berhamburan lari keluar hingga 7 orang sekaligus.

KIB-3-Fadhli KIB-3-Radit

Idola anak-anak hari ini adalah kak Niki (pramugari) dan kak Candra (material process technology, namun supaya murid SD tidak bingung akhirnya ia menahbiskan diri sebagai pembuat kapal terbang).  Kedua orang ini mengalahkan pamor fotografer yang biasanya jadi pusat perhatian. Atau mungkin anak-anak kota ini sudah terbiasa melihat kamera DSLR 😉

Kepolosan anak-anak adalah salah satu hal yang membuat kami harus bermain dengan imajinasi. Sewaktu kak Candra bertanya: “Siapa yang pernah naik pesawat?”  Spontan semua langsung mengacungkan tangan, dan seseorang dengan lantang berteriak: “Saya pernah ke Jungleland!”

Atau sewaktu kak Niki bertanya: “Siapa yang pernah keluar negeri?”

Spontan terdengar lagi jawaban: “Saya pernah ke Jungleland!”

Namanya juga anak-anak.

KIB-3-shadowplay KIB-3-coloring

***

Salah satu alasan utama saya kembali dan kembali lagi bergabung dengan Kelas Inspirasi adalah kekompakan para relawan yang notabene adalah orang-orang yang baru dipertemukan dari berbagai profesi dan latar belakang.  Juga seia sekata menghadapi murid-murid dari berbagai karakter & watak.  Kelas Inspirasi tak ubahnya unity in diversity, bagi saya.

“Kak, apa bahan bakar roket?”

Dua orang murid kelas 5 mencegat langkah saya. Mereka mengira sayalah si pembuat kapal terbang. Tapi saya segera berkilah, “Nanti tanya kak Candra, ya!” Biarlah mereka mendapat jawaban langsung dari ahlinya. Supaya pengetahuan bertambah dan wawasan meluas.

Kelas Inspirasi, bangun mimpi anak Indonesia!

 

Terima kasih kepada seluruh anggota Kelompok 21 KIB 3: mas Fadhli (kepala suku), mas Agus, pak Eko, pak Jarwo, mbak Sanjung, Sari, Suci, Desi, Tita, Ana, Ima, Niki, Candra, Kenyo, Kardoman, Mellanie, our fellow photographers Radit & Ochie, serta fasilitator mbak Ambar & Balgis. 

 

KIB-3-Candra KIB-3-Desy KIB-3-manual KIB-3-profesi KIB-3-techno KIB-3-Tita

Simak pula kegiatan Kelas Inspirasi Bogor tahun 2013 dan 2014.

Tertarik bergabung dengan Kelas Inspirasi?

www.kelasinspirasi.org

Kelas Inspirasi Bogor 3 | Unity in Diversity
Tagged on:

12 thoughts on “Kelas Inspirasi Bogor 3 | Unity in Diversity

  • October 31 at 23:55
    Permalink

    Satu momen yang gak bakal saya lupa, ketika membuka kelas dengan pertanyaan “ada yang tahu digital itu apa?” – karena kebetulan saya seorang Digital Marketing Communication. Lalu salah satu anak laki2 di belakang tunjuk tangan, “Itu loh bu, kalau di tukang fotokopi kan suka ada tulisan digital tuh”. Hahaha. Ya, namanya juga anak-anak 🙂

    Reply
    • October 31 at 23:57
      Permalink

      Hahaha, lucu pisan! Terkadang tanpa disadari sebenarnya kita yang sedang terapi ya bersama anak-anak polos ini 😀

      Reply
  • November 1 at 09:26
    Permalink

    Paling ‘menyenangkan’ itu menjadi pembuka di kelas 2. Semua aktivitas ada di sini 🙂 ada yg mau izin ke toilet, bawa serokan buat tongsis, joged2 ala model, berantem terus nangis, duduk di belakang terus diem, pura2 pingsan, dll :’) But, overall, satu hari bukan hanya menginspirasi tp diinspirasi jg sama anak2nya. Bikin addict bangetlah 😀

    Reply
    • November 1 at 14:37
      Permalink

      I was your witness in that class, hahaha! Bangor-bangor pisan, tapi juga nggemesin 😀

      Reply
  • November 2 at 13:41
    Permalink

    Duh ya tulisannya mas ini selalu sukses memainkan emosi…semoga tahun depan dirimu bisa ikut lagi ya mas…atau ayok ikutan ki kota lain yuk…

    Reply
  • November 2 at 13:52
    Permalink

    mau berpikir out of the box?…belajarlah sama anak2 😉

    Reply
  • November 6 at 17:39
    Permalink

    Namanya anak anak wekekek
    24 jam menghadapi anak anak seusia ini, jadi mungkin saya belum punya waktu lagi ikutan dan menambah anak wekekek

    Tapi seru sekali memang dari tahun ke tahun kelas inspirasi ini. Moga moga bisa bergabung mungkin dua atau tiga tahun lagi kali yaa 😀

    Reply
    • November 6 at 17:46
      Permalink

      Mbak Shinta sudah menginspirasi setiap hari berarti, hehehe.. Aamin, ditunggu yo mbak! 🙂

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *