Karnaval-FSB2015-cover

Disgiovery.com

KUPING saya riuh. Tetabuhan genderang dan rebana. Lantunan berima hingga seruan gempita. Mata saya penuh. Warna-warna kontras bertabrakan. Orang-orang tumpah ruah, lalu lalang di jalan. Pada saat seperti ini orang-orang gunung pun biasanya turun ke kota turut meramaikan suasana.

Usai menyaksikan prosesi sakral Kepaksian Pernong [baca: Himpun Agung di Festival Sekala Brak 2015], kini kami sudah terdampar di Karnaval Budaya yang meriah.  Sepanjang jalan menuju kawasan Pemda Lambar sudah dipadati antrean peserta pawai. Semua tampak menarik dengan kostum, tata rias, tarian, musik, dan tema masing-masing.

Walaupun (seperti biasa) acara menjadi molor karena urusan protokoler para pejabat, namun kerumunan massa tetap terlihat antusias menantikan acara dimulai. Para peserta pawai yang berasal dari seluruh wilayah di Lampung Barat sudah bersiap sedia dari siang di jalan protokol. Beberapa menghibur penonton dengan atraksi masing-masing.

Akhirnya karnaval pun dibuka dengan sambutan singkat Gubernur Lampung (Ridho Ficardo), dan tabuhan genderang oleh Ketua MPR RI (Zulkifli Hasan).

Karnaval-9 Karnaval-6

Selain parade muli mekhanai (semacam gelar abang none atau mojang jajaka versi Lampung) yang elok-elok, ada pula parade muli yang cantik menari berlenggak-lenggok.  Anak-anak sekolah berseragam tentara tampak berbaris dengan rapi dan tegap bagai prajurit. Ada pula pawai reog dan pencak silat.

Salah satu yang paling menyita perhatian saya adalah peserta pawai berkostum sekura.  Sekura adalah seni topeng khas Lampung bagian barat yang sudah ada sejak abad ke-9 Masehi. Ada dua jenis sekura yang dikenakan, yakni sekura kamak (biasanya bertopeng kayu) dan sekura betik (biasanya bertopeng selubung kain dengan kacamata hitam).

Mengikuti perkembangan zaman, topeng-topeng kayu yang dikenakan banyak yang serupa dengan topeng Jigsaw (dari film Saw) hingga karakter utama V For Vendetta.  Sebagai penggemar film horror/slasher melihat pawai sekura ini bikin jantung berdegup lebih kencang. Apalagi kalau ada salah satu peserta bertopeng sekura menoleh ke arah saya. Hiiiiy!

Patut menjadi catatan panitia adalah: keterlambatan waktu membuat peserta pawai akhirnya tidak tampil maksimal. Lihatlah wajah-wajah bocah yang kelelahan menunggu di bawah panas terik, muka mereka datar kalau tidak cemberut. Mungkin lapar, mungkin lelah. Para peserta yang semestinya menampilkan atraksi semenit-dua menit di depan podium utama malah tak diberi kesempatan sama sekali melainkan langsung disuruh maju jalan.  Kasihan mereka mungkin sudah latihan beberapa minggu sebelumnya, dan ketika tiba waktunya untuk perform malah digiring-giring supaya lekas meninggalkan arena podium.

Tapi semoga ke depannya karnaval budaya Festival Sekala Brak yang sudah menginjak tahun ke-2 ini bakal semakin menarik dan terutama tepat waktu.  Masyarakat Lampung yang majemuk (banyak pengaruh dari transmigran pulau Jawa) bercampur dengan adat istiadat asli sungguhlah menjadikan suguhan karnaval budaya yang menarik.

 

Disgiovery yours!

 

Karnaval-2 Karnaval-1 Karnaval-7 Karnaval-5 Karnaval-4 Karnaval-3 Karnaval-8

Karnaval Budaya [Festival Sekala Brak 2015]
Tagged on:         

15 thoughts on “Karnaval Budaya [Festival Sekala Brak 2015]

  • Pingback: Himpun Agung [Festival Sekala Brak 2015] - DISGiOVERY

    • October 29 at 13:55
      Permalink

      Apapun kostumnya, yg penting karnavalnya #halah
      Kostum emang jadi daya tarik utama sepertinya 🙂

      Reply
  • October 29 at 14:07
    Permalink

    Gubernur muda dengan ide-ide memajukan pariwisata, keren nih. Dari festival krakatau hingga yang ini. Mana istrinya cakep banget pula *lha trus? :v

    Reply
  • October 29 at 22:14
    Permalink

    Sorry to say, tapi akhir-akhir ini kalau ada karnaval mesti ada cowok-cowok berdaster dan berjilbab lala-lili dengan kacamata hitam, selampe, dan kemoceng itu ya Mas? Haduh haduh, dunia… eh tapi itu sekuranya, ya? :haha. Cuma kenapa mesti bawa kemoceng dan dasteran, oh!?

    Yang paling cetar dari karnaval ini adalah… dekorasi langit-langit tribun penonton VIP. Mesti mahal, tuh.

    Reply
    • October 30 at 08:22
      Permalink

      Aku juga sempat bertanya-tanya, kenapa sekura ada saja yang menggambarkan perempuan berdaster dan hamil? Tapi bisa jadi cross-dressing sekura ini sudah dilakukan sejak beratus tahun lampau, kita tak pernah tau 😉

      Dekorasi tribun utama musti kelas VIP-lah, secara Ketua MPR yang hadir 🙂

      Reply
  • October 30 at 10:18
    Permalink

    Muli-muli di foto pertama cakep-cakep bener ya Mas. Hihihi. Baru tahu ini Sekura. Makasih Mas. Semoga ke depanny panitia bisa lebih nagus ngatur waktunya ya..

    Reply
    • October 30 at 14:55
      Permalink

      Makin pengen pulang kampung ya, mas Dani? Hehehe! Tapi beneran gak nyangka sih ternyata di balik pesona Bukit Barisan Selatan tersembunyi muli-muli geulis seperti ini 😉

      Reply
  • November 1 at 16:39
    Permalink

    Dari jaman SD sampe sekarang masih aja hobi mulai ngaret ini dipelihara ya. Kalau nggak nunggu pejabat datang atau pejabat yang ditunggu-tunggu gak datang-datang dan akhirnya diwakili sama bawahannya. *pulang diantar gak ya?*
    Anyway, warna-warninya memang kece sih, menarik untuk didatangi.

    Reply
    • November 1 at 18:56
      Permalink

      Semoga bisa jadi masukan panitia ke depannya kalo ngundang pejabat 😉

      Warna-warninya emang kece & berani saling tabrak!

      Reply
  • December 6 at 15:05
    Permalink

    harus sering” diadakan festival budaya kayak gini nie, untuk mengangkat pariwisata di Indonesia

    Reply
  • May 20 at 23:29
    Permalink

    Saya tertarik dengan tulisan anda, saya juga punya tulisan yang sejenis tentang aneragam budaya-budaya di Indonesia

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *