Jogja Nite Out

JOGJA nite out ini terjadi spontan saja. Β Liony ia bernama. Perempuan inilah yang mengatur tempat dan acara diskusi buku SinggahΒ di Jogja awal Maret lalu. Terus terang inilah kali pertama saya berjumpa dengannya, namun kami sudah langsung berkarib saja. Kalau dipikir-pikir bahkan terlalu akrab dimana saya tanpa sungkan ikut icip-icip spaghetti di piringnya, dan meminta Liony memegangi kamera saya (dan mengambil foto-foto) selama saya mengisi acara Singgah. Sungguh terlalu kau, Badai!

***

iCafe - Jogja

iCafe
Jl. Cik Di Tiro 18, Yogyakarta
(0274) 540 457

Liony memilih iCafe sebagai tempat acara Singgah dengan alasan 3L (lokasi strategis, lebih enak, dan lebih murah ;)). iCafe menempati bangunan klasik dengan sebagian lokasi semi-outdoor yang teduh. Menu yang dihidangkan beragam dari bakmi Jawa hingga aneka steak. Saya ikut mencicipi chicken cheese mushroom pesanan teman (note: makanan cicipan memang selalu terasa lebih enak). Tapi yang jelas saya suka dengan es krim double scoop-nya!

Dalam acara diskusi sekaligus peluncuran buku Singgah ini para tamu yang hadir turut dijamu dengan hidangan prasmanan ala iCafe (sup jagung, ayam bakar, mie jawa, buah-buahan, dan minuman). Namun demi kelancaran acara, hidangan prasmanan baru disajikan setelah diskusi selesai πŸ˜‰

Satu hal yang saya amati selama awal acara adalah karakter para hadirin Jogja yang lebih pendiam dan pemalu dibanding sesamanya di Jakarta. Butuh usaha ekstra dari pembawa acara, hingga mbak Siska sang editor ikut turun tangan memanaskan suasana, hingga akhirnya suasana bisa lebih rileks dan penuh tawa.

Singgah at Jogja

Senang bisa bersua dengan teman-teman Jogja yang ramah tamah. Ada Bara & Adel, dua teman penulis Singgah yang tak sempat hadir di acara peluncuran buku di Jakarta. Ada Ndik & Nisa, dua pemandu acara yang kocak dan ‘fotogenit’. Ada Reny & Apri, dua teman Multiply yang mana kami justru jadi kontak setelah blog tsb dibubarkan. Talk about the power of social network.

Ada pula Ifa & Rika, yang wanti-wanti kalau saya harus menandatangani buku mereka dengan mencantumkan nama masing-masing. Saya pun menuruti keinginan tsb. Namun usai menunaikan tugas barulah saya sadari bahwa mereka menyodorkan buku yang tertukar. Jadi saya tulis ‘to Ifa’ di buku Rika, dan saya tulis ‘to Rika’ di buku Ifa. Hahaha!

Foto-foto lengkap selama acara bisa dilihat di sini.

***

Β Pendopo Ndalem (Angkringane JAC)

Pendopo Ndalem (Angkringane JAC)
Jl. Sompilan 12, Ngasem, Yogyakarta
0813 2808 3029

Usai Singgah, kami pun pindah. Mumpung di Jogja, maka kami hendak merasakan suasana angkringan yang berbeda. Pendopo Ndalem alias Angkringane JAC (Jogja Auto Club) jadi tujuan. Lokasinya agak tersembunyi, seingat saya tak jauh dari Taman Sari, dan setelah itu kami masuk melalui pintu gerbang berhalaman gelap.

Tapi suasana di Pendopo Ndalem ini sungguh menyenangkan, ia berupa bangunan klasik tradisional yang didekorasi menjadi semacam ruang makan besar dengan meja prasmanan panjang. Lihatlah ubin tegel di lantainya, seakan mendamparkan saya pada suasana zaman silam.

Pendopo Ndalem (Angkringane JAC)

Walau arsitekturnya bergaya aristokrat (plus wifi) namun menu yang dihidangkan sungguh merakyat. Nasi kucing, nasi brongkos, mie jawa, aneka gorengan, aneka sate (sate brutu, sate telor, dll), wedang bledug, leser, dan teh rempah.

Tapi… malam itu kami belum beruntung karena sebagian besar menu yang terhidang di meja sudah ludes. Dengan masygul kami cuma bisa menatap papan nama masing-masing menu. Terpaksa kami pindah haluan. Kembali lain kali.

***

Odong-odong Jogja

Odong-odong
Alkid (alun-alun kidul), Yogyakarta

Ialah berupa sepeda tandem ataupun andong (yang dimodifikasi menjadi semacam mobil kayuh) yang berhiaskan lampu warna-warni. Berbagai hiasan berkerlap-kerlip ini sungguhlah menarik perhatian, ada yang berbentuk angsa, Doraemon, Angry Birds, hingga Petruk. Kebanyakan tak lupa menyertakan tulisan Jogja sebagai sarana ampuh promosi wisata.

Liony bilang, odong-odong ini bermula dari gagasan sekelompok usaha mandiri di desa-desa sekitar yang ingin memanfaatkan bahan-bahan bekas. Maka dibuatlah konsep odong-odong semenarik mungkin. Tak sangka ide kreasi tsb kini malah menjadi atraksi wisata lokal.

Odong-odong Jogja

Sayangnya, kebiasaan buruk becak/odong-odong di sekitar alun-alun ini adalah berjalan pelahan dengan menyita badan jalan. Tidak semua sih, tapi mayoritas. Jika kita mengklakson hendak menyusul, biasanya mereka malah semakin memelankan laju kendaraannya tanpa menepi atau malah sengaja berpindah ke tengah. Siasat untuk mendahului mereka sebenarnya tak perlu menggunakan klakson, namun harus pintar mencari celah untuk menyusul.

***

Zango - Jogja

Zango
Jl. Ngadinegaran MJ III/122, Mantrijeron, Yogyakarta
(0274) 376 943

Zango jadi tujuan terakhir, kafe yang lokasinya agak membingungkan bagi kami. Patokan kami malam itu cuma satu, yakni jalan Tirtodipuran lalu cari umbul-umbul bertuliskan Zango. Kalau sudah mentok baru bertanya pada warga sekitar karena lokasi Zango sudah tak jauh dari situ.

Zango sendiri artinya sejenis pisang dari Afrika, pendirinya seorang warga Perancis Timur bernama chef Kamil (saya tak tahu apakah pisang Afrika merupakan menu andalan di kafe ala Perancis ini). Tapi yang jelas saya suka dekorasinya yang etnik-modern, lighting-nya yang cerah namun nyaman bagi mata silindris, dan terutama cocok buat duduk-duduk lama dalam suasana yang hangat & tenang.

Ternyata sudah duduk mendahului kami di Zango seorang penulis senior yang juga baru selesai diskusi buku di Jogja. Leila S. Chudori, saudara-saudara! Jadilah kami duduk bergabung dengan beliau dan team-nya. Ketika mbak Leila bertanya-tanya tentang buku Singgah, sebagian kami malah menunduk malu dengan pipi merona, hahaha! Maklum kami sangat mengagumi karya beliau, sehingga tak percaya diri harus promo buku di depannya.

Zango - Jogja

Kami pun minum-minum di sana tanpa mabuk (tentu saja karena kami cuma pesan aneka wedang dan teh rempah :)). Tapi kudapannya memang JUARA! Ada pizza apalah yang tipis dan dimasak di tungku kayu bakar. Ada potongan baguette with mushroom juga. Semuanya enak! Berhubung baterai kamera sudah habis jadi saya tak sempat memotret daftar menu yang sebagian besar isinya berbahasa Perancis. Kalau saya amati pun kisaran harga di Zango ini termasuk murah dibanding kafe sejenis di ibukota. Yang unik, di daftar menu ada satu halaman kosong bertuliskan coming soon. Sungguh antisipatif.

***

Pertemuan saya dengan Liony cukup satu malam, namun setidaknya saya sudah mengalami sendiri Jogje nite experience seperti yang diungkapkan Liony: lebih murah, lebih meriah, lebih enak. Β Semoga kesan ini tak berubah pada kunjungan-kunjungan berikutnya.

Jogja Nite Out
Tagged on:             

22 thoughts on “Jogja Nite Out

  • April 7 at 23:28
    Permalink

    Seruu banget!!
    Bagian paling bikin iri nomor 2 = Ketemu sama Leila S. Chudori
    Bagian paling bikin iri nomor 1 = Ada Kay, teman multiply yang blah blah blah blaaaaaahhhh!! *Dijitak Aldi* πŸ˜€

    Sekses terus, Al! πŸ˜€

    Reply
    • April 8 at 09:29
      Permalink

      sementara di dua kota itu, kecuali memang ada permintaan dari kota2 lain πŸ™‚

      Reply
  • April 8 at 15:38
    Permalink

    Tinggal menunggu buku solo om Badai nih πŸ˜€
    Sukses ya ommmm
    *fans abegeh* :))

    Reply
  • April 8 at 17:40
    Permalink

    itu ubin keramik jadi rusak dengan kaki berbulu.. huh! :p
    asik ketemu mbak leila.. ngebahas apa?
    sukses nih bukunya, terus mo kemana lagi setelah jogya?

    Reply
    • April 9 at 20:40
      Permalink

      Kaki berbulu biar eksotis, mbak πŸ™‚
      mbak Leila yg cerita2 sih, kami cuma mendengar dan mengagumi, hehe..
      Abis Jogja blm ada undangan dr kota lain, ayo undang kami dong.. πŸ™‚

      Reply
  • April 9 at 05:45
    Permalink

    Mas mau bikin buku solo?

    belum baca Singgah, di sini toko bukunya gak lengkap. Gramedia lagi dibuat tapi belum jadi.

    Reply
    • April 9 at 20:43
      Permalink

      In progress, Guh.. doakan lancar! πŸ™‚

      Order online aja di bukabuku.com biasanya dpt diskon πŸ˜‰

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *