Jogja freediving

MEET Mima. Teman saya di Jogja ini sedang senang renang-renang di kolam renang dan dalam-dalam menyelam di kolam dalam. Alias freediving. Beda dengan saya yang masih termasuk pool diver (baru sedalam kolam 5 meter), Mima sudah mampu menyelam hingga belasan meter di dalam laut.

Tapi dia pun merendah:

“Teman-teman yang lain sudah menyelam lebih dari 20 meter.”

Dan kebanyakan adalah penyelam rekreasional, dimana kebutuhan akan sertifikasi freediving adalah bukan hal mutlak bagi mereka.

Pada kunjungan saya ke Jogja kemarin, saya sempatkan diri bertemu Mima dan teman-teman dari komunitas JFC (Jogja Freediving Community). Kami sempat berlatih beberapa jam di kolam renang UNY, karena esok harinya Mima dkk akan berangkat ke Jakarta untuk kegiatan freediving di pulau Melinjo (Kep. Seribu).

Kolam renang UNY (Universitas Negeri Yogyakarta) sungguhlah ramai sore itu, dan dipenuhi banyak daun muda berbusana minim! #mukapredator Air kolamnya tidak begitu jernih namun tingkat visibility masih baik hingga beberapa meter. Tapi yang penting saya bisa coba menyelam mengenakan monofin (sirip kaki yang mirip sirip lumba-lumba). Akselerasi yang dihasilkan tak jauh beda dengan fin karbon. Monofin ini termasuk salah satu perangkat freediving yang harganya masih di luar jangkauan saya, jadi saya manfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya.  Tak setiap saat saya bisa beraksi di kolam bagai seekor dugong lumba-lumba.

Jogja freediving practise

Sewaktu menyelam, saya juga melihat beberapa pemuda lain yang hilir mudik melakukan dynamic apnea (berenang horizontal di kedalaman tanpa alat bantu nafas apapun). Tapi ketika sudah muncul di permukaan air, mereka tidak tampak berinteraksi satu sama lain.

Mima kemudian menjelaskan jika ada ‘persaingan’ di antara anak-anak daerah. Mereka berkiblat pada ibukota dalam banyak hal, termasuk olahraga freediving. Di Jogja ini banyak peminat freediving yang belajar secara otodidak, hanya untuk menunjukkan kalau mereka mampu seperti anak-anak Jakarta. Padahal freediving termasuk salah satu extreme sport yang perlu bimbingan/pengawasan. Walaupun komunitas JFC terbuka bagi siapa saja, namun tetap saja masih banyak yang mempelajari freediving secara individual (terkadang malah terlalu memaksakan diri).

“Akibatnya kami sering dimarahi petugas jika ada yang blackout.” Blackout adalah hilang kesadaran dalam air ketika sedang menahan nafas. Beberapa kali kasus blackout di kolam renang UNY terjadi pada orang-orang non komunitas JFC, namun teguran tetap dilemparkan pada komunitas tsb. “Di sisi lain, kami juga tak bisa melarang orang-orang itu untuk tidak berlatih di sini, karena ini fasilitas umum.”

Untuk sementara teman-teman JFC ini hanya bisa turut mengawasi jika mereka kebetulan sedang ada jadwal latihan di kolam renang UNY. “Di luar itu adalah bukan tanggung jawab kami.”

Jogja freediving duck dive

Kami pun menyudahi latihan setelah gelap datang. Kamar ganti di semua kolam renang umum sepertinya mempunyai nasib sama, kebanyakan pintu sudah tak berselot. Tampaknya persaingan daerah dan ibukota semakin ketat, karena kamar ganti di kolam renang Senayan pun banyak yang tak bisa dikunci dari dalam.

Bagaimanapun adalah menyenangkan bisa merasakan suasana latihan yang berbeda.

So, selamat datang di Jogja,” Mima kepada saya.

“Selamat datang ke Jakarta,” saya kepada Mima.

Kami pun berpisah.

underwater photo courtesy of Jalil JFC

Splash! Jogja Freediving
Tagged on:         

38 thoughts on “Splash! Jogja Freediving

    • March 30 at 12:06
      Permalink

      Gak bisa atau belum bisa? Kamu pasti bisa! *kasih semangat*

      Reply
  • March 30 at 10:14
    Permalink

    Pingin deh difoto dr dalem air. Tp karna gue ga bs nyelem ya yg keliatan bagian tubuh gue aja yg di dlm air *jadi foto horor misterius*

    Reply
    • March 30 at 12:10
      Permalink

      Haha bukan horor kok Vin, tp disturbing pictures mungkin? #eh #kabur

      Reply
  • March 30 at 12:11
    Permalink

    Hati2 ya Di, jangan sampai blackout. Seru sih kayaknya diving, tp memang peminat olahraga berisiko musti latihan yg bener dulu ya.

    Reply
  • March 30 at 22:54
    Permalink

    eh ada gitu persaingan kota & daerah? idih..
    ternyata ke jogya cuma buat monofin.. :p
    katanya banyak daun muda, napa ga difoto sih?

    Reply
    • March 30 at 23:03
      Permalink

      hahaha aku ga ngeluarin kamera mbak, ini pake kamera temen yang waterproof..

      btw menurut temenku sih begitu adanya mbak 🙂

      Reply
        • March 30 at 23:08
          Permalink

          suka nyelam di kolam, belum coba di laut 🙂 sertifikat belum ada mbak, mau latihan dulu yang rajin hehe

          Reply
          • March 30 at 23:09
            Permalink

            semoga segera dapat sertifikat ya.. dan bisa berenang di laut..

    • April 1 at 23:47
      Permalink

      emang rame kok Guh, kalo di foto terlihat sepi karena di bawah air emang tidak seramai di permukaan kolam, hehe

      Reply
    • April 15 at 16:17
      Permalink

      hehe mungkin disitulah tantangannya.. aku pun masih suka takjub sama teman2 yg udah bisa menyelam sedalam itu

      Reply
  • May 28 at 16:30
    Permalink

    perlu kesadaran juga sih utk belajar teori freediving. Tidak di Jogja aja koq, blackout pernah terjadi di komunitas freediving lain. Penyebabnya biasanya ikut ikutan teman, liat di youtube, berlomba adu kuat kuatan tahan napas tanpa supervisi, terkesan kalo bisa lama itu hebat dan masih banyak lagi. Oleh karena itu sebenarnya sangat perlu belajar teori hal freediving. Nah berhubung opini di komunitas freediving sdh terbentuk bahwa biaya pelatihan itu mahal dan cuma sekedar bermain-main doang koq bukan utk jenjang yg lebih serius, padahal dari segi keamanan utk terhindar dari resiko blackout ataupun hilangnya nyawa seseorang, biayanya bisa lebih mahal dari biaya kursus pelatihan.
    Analogisnya, anak umur 10 thn sdh bawa motor goncengan bertiga, tanpa helm, sambil angkat telpon dan ketawa hahahihi… hehehe 🙂 hebatkaan.. ya betul hebat tapi resiko mengintai tuh.
    Nah saat ini sih tidak bisa dipaksa untuk harus ikut pelatihan freediving, paling tunggu kesadaran perlunya belajar. Mungkin saja suatu saat bisa ada Badan organisasi resmi freediving yang mengharuskan semua freediver wajib punya SIF (Surat Ijin Freediving) hehehe… seperti scuba diving saat ini.
    Good job for this Article… .Mantaabs 🙂

    Reply
  • May 29 at 09:06
    Permalink

    Di Jogja ini banyak peminat freediving yang belajar secara otodidak, hanya untuk menunjukkan kalau mereka mampu seperti anak-anak Jakarta.. iya, aku pengen kayak anak jakarta nih, anak jakarta = jago freedive ..

    Reply
    • May 29 at 14:27
      Permalink

      awalnya sempat bingung, karena menurut saya di Jkt toh banyak juga yang biasa2 aja, apalagi yg baru belajar, dll

      Reply
  • July 5 at 14:36
    Permalink

    Kalau saya seringnya cuma merasa hampa pas udah keluar dari air… #eeeaaa

    Biasanya dulu latihan menyelam gitu di kolam renang tentara… range kolam dari 2m – 5meter. Naaah, beberapa menit muter2 di dasar kolam… Pas keluar kok agak pusing gitu. Berasa hampa… Untungnya masih sadar, gak sampe hilang kesadaran. Eh tapi, apa itu nyaris blackout yah? 😮

    Reply
    • July 5 at 17:59
      Permalink

      ahaha untung udah keburu naik.. lain kali jgn diulangi lagi ya 🙂

      Reply
  • April 19 at 20:42
    Permalink

    saya tak meninggalkan jejak juga deh :3, kebetulan saya kenal dengan beberapa teman JFC. Yang akhir-akhir ini pindah latian nggak di kolam UNY lagi (lagi perbaikan). Nah itu dia, dengan didirikannya komunitas diharapkan bisa saling kontrol. Dan tidak ada nekat-nekatan untuk belajar freediving, saya aja ndak bisa tahan napas lama. Apalagi renang, iso kelelep tenan =)).

    Salam. Fotodeka. blogwalking

    Reply
    • April 20 at 21:08
      Permalink

      Halo mas, terima kasih sudah mampir. Ya, yang utama adalah keselamatan, semoga sesama komunitas saling mendukung & membantu 🙂

      Salam satu nafas!

      Reply
  • April 18 at 07:40
    Permalink

    Waaaaahh! Jadi pingin ikutan latian, ini komunitasnya open mas? Dulu di Surabaya sempet gabung klub diving tp setelah pindah Solo belum nemu klub lagi hiks. Informatif mas blognya 😀

    Reply
    • April 18 at 10:03
      Permalink

      Trims kak Fauziah 🙂 Waktu saya ikut latihan tempo hari sih mereka welcome, ga ada eksklusivitas. Malah kalau bisa siapapun yang mau latihan freedive sebaiknya bergabung bersama supaya ada pengawasan.

      Reply
  • September 7 at 10:07
    Permalink

    Salam kenal mas
    Itu komunitas JFC ada cp atau websitenya gak?
    Mau tanya2 nihh dari dulu pengen belajar diving tp blm dpt info belajar dmn pas pindah ke jogja…hehhe
    Makasih mas

    Reply
    • September 18 at 07:10
      Permalink

      Salam kenal juga Riska…
      Sayangnya saya tidak menyimpan kontak mereka, tapi mungkin ada jejak-jejak mereka di internet, coba saja googling JFC ya. Good luck! 🙂

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *