jelajah pulau semau

Disgiovery.com

TAK ELOK rasanya menuliskan tentang mayat manusia di awal tulisan perjalanan, tapi demikianlah adanya. Saya baru mendapati fakta ini tatkala mencari informasi pulau Semau. Pertemuan tiga arus laut (Samudera Hindia, Laut Timor, dan Laut Sawu) di perairan dekat pulau Semau menciptakan arus laut yang berputar-putar dan membahayakan. Dinamakan arus Pukuafu, ia banyak menelan korban jiwa dari kapal-kapal yang dibuatnya tenggelam. Dan bukan kebetulan jika salah satu pesisir pulau Semau kerap menjadi tempat terdamparnya jasad para korban.

Apakah hal itu menjadi salah satu penyebab ‘keangkeran’ pulau Semau?

Sebagai seseorang yang tak peka akan hal-hal adikodrati, jelajah pulau Semau yang saya jalani dapat berlangsung mulus tanpa unsur mistis/horor. Meskipun setelah diingat-ingat lagi sekarang, ada beberapa kejadian/sensasi yang tampaknya mengarah ke hal tsb namun tak saya indahkan. Intinya selama kita beritikad baik dan menjaga sikap/kelakuan, niscaya semua akan baik-baik saja.

pelabuhan-tenau

Ke Pulau Semau Kami Menyeberang

Bahan bakar penuh, logistik lengkap, wajah sumringah, dan kami pun siap menyeberang ke Semau. Kapal-kapal kayu untuk penyeberangan ke Semau terletak di sisi kanan pelabuhan Tenau, jadi bukan di bangunan utama. Terbiasa dengan kondisi pelabuhan Muara Angke di Jakarta, saya langsung takjub melihat perairan di pelabuhan Tenau di Kupang ini. Airnya sungguh jernih tak berlumpur ataupun bersampah. Andai tak ada kapal-kapal kayu tertambat, rasanya ingin menceburkan diri ke laut saat itu juga.

Laut tenang, cuaca cerah, butuh masa 30 menit sahaja tuk menyeberang ke pulau Semau. Biayanya sekitar 15 ribu/orang, atau 50 ribu/sepeda motor (sudah termasuk 2 orang). Saya dan beberapa teman #ExploreTimor memilih untuk duduk di atap kapal, rasanya lebih leluasa saja melihat-lihat pemandangan sekitar. Mau tidur-tiduran sambil berjemur juga bisa, mumpung sinar matahari masih bersahabat di bawah pukul 10 pagi.

pelabuhan-tenau naik-kapal-ke-semau

Flamboyan Cantik Siapa Yang Punya

Walau belum tengah hari, tapi sungguh mati terik matahari bikin panas hati (hey, it rhymes!). Siapa tak panas hati melihat kerimbunan pohon-pohon flamboyan di tepi pelabuhan Onanbatu (Hansisi) di pulau Semau, rasanya ingin leyeh-leyeh saja di keteduhan. Waktu itu bunga-bunga flamboyan berwarna merah keunguan, sementara perairan di pelabuhan tampak kehijauan. Tanah yang kami pijak berwarna kecoklatan. Langit menayangkan gradasi biru. Ah, pulau Semau yang menawan!

Setelah motor-motor diturunkan dari perahu, mau tak mau kami langsung menyusuri jalan berdebu demi mengejar waktu (hey, it rhymes again!). Perkenalkan teman yang memboncengkan saya, sebut namanya Bobby. Kami baru saja berkenalan. Sekitar 2 tahun sebelumnya. Memang kontak daring membuat kami tak asing satu sama lain. Rasanya seperti sudah berteman lama. Ya kira-kira selama 2 tahun itulah.

Anyway…

Konvoi sepeda motor yang dikawal pemandu lokal bernama pak Boy ini berhenti sejenak di tepi sebuah pekarangan rumah. Tak ada yang istimewa memang, selain sebuah pohon flamboyan yang tumbuh di sana dan menampakkan bunga-bunga warna merah membara. Guguran bunganya pun menumpuk di halaman, tak ubahnya dedaunan musim gugur di tanah gersang berkarang. Cantik eksotis! Para pemburu gambar pun langsung beraksi, termasuk beberapa yang merangkap jadi model oportunis.

pohon-flamboyan-delonix-regia pohon-flamboyan-delonix-regia

Perjalanan Panjang dari Otan ke Oenian

Pantai pertama bernama Otan, makan waktu sekitar 45 menit dari pelabuhan ke lokasi ini. Pantainya demikian tenang dengan pantulan air berwarna biru turquoise. Tapi menjelang tengah hari begini panas terik sedang ‘lucu-lucunya’, sehingga kami hanya main air sekadarnya. Sebuah bangunan kosong di tepi pantai sama sekali tak bisa dimasuki. Pepohonan tempat berteduh banyak semut, membuat kami harus lekas menghabiskan bekal makan siang jika tak ingin didahului mereka.

Dari Otan kami berpindah ke pantai lain bernama Oenian, yang jaraknya ternyata bukan main-main. Jauuuh. Melewati perkampungan, kami beruntung menemukan sebuah warung yang menjual air minum (meski mereka tak sedia minuman dingin).

pantai-otan-pulau-semau
Pantai Otan biru bukan buatan [Photo credit: mas Faat]
Perjalanan dilanjutkan menempuh rute berdebu. Peradaban sudah dilalui. Pepohonan mulai menyingkir, menampakkan ruang luas berupa padang tandus berkarang. Pemandangan sekitar bagai mendamparkan kami di tanah Afrika. Jangan tanya panasnya seperti apa.

Motor-motor di depan kami bagai saling berpacu meninggalkan kepulan debu, membuat tiga motor paling belakang malah memanfaatkan ketertinggalan ini dengan… foto-foto. Hahaha! Apalagi kami menemukan sebuah spot fotogenik, berupa pohon sebatangkara di tengah kegersangan. Daun-daunnya nyaris meranggas semua bagai cinta yang pelahan pupus oleh ketersia-siaan. #bukancurhat

otan-ke-oenianpulau-semau

I have a dream I hope will come true
That you’re here with me and I’m here with you
I wish that the earth, sea, the sky up above
will send me someone to lava.

Ada yang tahu lirik lagu Lava di atas?

Satu jam perjalanan dan belumlah kami capai Oenian jua. Di tengah terik dan debu tiba-tiba Bobby bernyanyi-nyanyi sendiri. Dengan pitch control di luar kendali! Awalnya saya kira batuk kronis, tapi ternyata… oh mungkin gejala dehidrasi akibat sengatan matahari! Saya masih berpikir positif, lalu menyuruhnya minum.

Lambat laun saya mulai mengenali irama lagu yang dinyanyikannya. Lava, my fave song too! Kami pun menyanyi bersama-sama, Bobby mengulang-ulang reff lagu (ia bilang karena lirik lagunya ‘dalem banget’, padahal saya yakin ia cuma hafal bagian reff saja, hahaha!), sementara saya cukup menyanyi dalam hati. Vokal emas harus dijaga, jangan sampai tenggorokan kemasukan debu dan mengganggu pita suara. Dududu…

otan-to-oenian pulau-semau

Terlempar ke Masa Lalu

Ternyata perlu 1,5 jam berkendara dari Otan ke Oenian, di bawah terik matahari tengah hari bolong. Pantai Oenian punya ombak dan arus yang lebih kuat dan berkarang, menjadikannya lebih menantang untuk direnangi. Saatnya celup-celup di air laut untuk meredakan sengatan matahari.

Mengingat gelombang yang lebih besar dan arus yang lebih kuat, membuat saya kini berpikir apakah arus Pukuafu berada di laut lepas di hadapan. Pemunculan arus legendaris ini mungkin jaraknya sekian mil laut dari Oenian, tapi gelombangnya bisa jadi menghempas pesisir sebelah sini. Mungkin gelombang yang sama yang pernah menghempas perahu yang ditumpangi Alfred Russel Wallace hingga nyaris karam sekitar 1,5 abad silam.

Wait… Alfred Russel Wallace?

Familiar dengan istilah Wallace Line atau Garis Wallace? Ialah garis imajiner yang melintas di antara Bali-Lombok dan Kalimantan-Sulawesi yang menandakan pemisahan dunia fauna Asia & Australia. Garis ilmiah ini diambil dari nama pencetusnya, seorang ilmuwan penjelajah Inggris bernama Alfred Russel Wallace (1823-1913), yang pernah dua kali berkunjung ke Kupang (atau pada masa itu ditulis ‘Coupang’). Pada kunjungan keduanya di bulan Mei 1859 Mr. Wallace pun menyempatkan diri untuk…

jelajah pulau Semau.

Dalam rangka…

mencari jodoh serangga.

pantai-oenian
Inikah species yang dicari-cari Mr. Wallace? 😉

Testimoni beliau antara lain menyebutkan bahwa sebagian besar pulau Semau ditumbuhi semak berduri di bawah musim kering berkepanjangan. Disebutkan juga tentang populasi kera (Macacus cynomolgus) dan sejumlah rusa (tak diketahui apakah masih satu species dengan rusa di Jawa). Tapi 4 hari menetap di pulau Semau tidak membawa banyak keberuntungan karena hanya sedikit species serangga yang didapat sehingga akhirnya Mr. Wallace memutuskan kembali ke Kupang.

Nahas perahu yang ditumpangi tenyata mengalami kebocoran, sehingga harus kembali ke pulau Semau. Setelah perahu diperbaiki mereka mulai berlayar lagi. Namun baru sampai setengah jalan, perahu mereka tiba-tiba terperangkap arus yang sangat kuat sehingga nyaris tenggelam. Bersyukur umur belum terputus.

Andai mereka tidak berhasil lolos dari maut saat itu, niscaya takkan ada yang namanya Wallace Line.

pantai-oenian
Anggap yang di tengah sebagai Garis Wallace, pemisah dua hati teritori 😀

Naik-Naik ke Puncak Gunung

Namanya Gunung Liman, sepertinya merupakan titik tertinggi di pulau Semau. Tapi wujudnya hanya berupa bukit saja tepat di sisi pantai menghadap barat. Tapi perjalanan menuju Liman dari Oenian lumayan bikin ngos-ngosan. Jalur tanah kini berubah menjadi jalur berpasir (sama-sama berdebu sih), membuat sebagian kami beberapa kali harus turun dari boncengan dan berjalan kaki supaya sepeda motor tak kelebihan beban.

Di tengah perjalanan kami sempat berhenti sebentar di sisi sebuah pantai yang terlihat permai. Konon namanya pantai Oetebu. Kami berhenti bukan untuk main ke pantai, tapi mengambil gambar sebuah pohon monumental yang tampaknya bisa dijadikan penanda lokasi Oetebu. Klik! Klik! Perjalanan pun dilanjutkan.

Sosok gunung Liman mulai terlihat seiring lagu Lava yang berkumandang dari mulut Bobby. Saya segera turun dari boncengan. Bukan, bukan tidak menghargai nyanyian Bobby, tapi karena jalur kembali berpasir dan mulai menanjak. Motor kami takkan kuat jika harus naik berboncengan sampai puncak. Fiuh, syukurlah ada alasan kuat!

pantai-oetebu
Sejenak rehat di Oetebu [Photo credit: Valentino Luis]
mendaki-gunung-liman
Bobby mengambil foto ini sembari dia memacu motor naik ke puncak. Ya betul, sambil melolong-lolong! 😉

Pendakian curam membuat tubuh kami para pejalan bagai terbungkuk-bungkuk. Para pemotor sudah mencapai puncak, dan berseru-seru penuh semangat di atas sana. Jalur yang kami lalui kini berpasir dan berkerikil, dengan banyak ranjau kotoran sapi di kanan kiri. Itu sapi-sapi sehat banget pasti hidupnya tiap hari naik turun gunung!

Akhirnya puncak gunung Liman pun tercapai. Pemandangan dari sini memang tiada dua. Kedua ceruk pantai di sisi kanan dan kiri sama-sama punya keindahan tersendiri. Tepat di tengah cakrawala tampak pulau Taboi yang misterius, karena yang tampak hanya bidang datar kehitaman. Di ufuk barat matahari garang sedang kembali pulang. Rona warna di sekeliling kami pelahan beralih keemasan. Bendera merah putih yang kami bawa berkibar-kibar. Untuk beberapa saat suasana hening, kami bagai takzim menyaksikan matahari terbenam.

gunung-liman sunset-semau

Are We There Yet?

Kemudian, jelajah pulau Semau yang sebenarnya dimulai! Pada akhirnya saya tahu kenapa pak Boy sedari awal selalu memacu sepeda motornya dengan laju, karena memang memburu waktu (meski menurut saya jelajah pulau Semau seluas + 143 km persegi ini memang tak cukup hanya sehari). Turun dari gunung Liman sudah petang dan kami masih harus menempuh perjalanan panjang menuju pelabuhan, kembali ke Kupang.

Beruntung begitu melewati perkampungan masih ada penjual bensin eceran. Beberapa anak kecil menyapa kami dengan antusias dan penuh rasa ingin tahu. Lalu beberapa ekor anak babi melintas. So cute I couldn’t resist to grab my camera. Point & shoot. Lalu Bobby lewat depan kamera bersamaan dengan gerakan tombol shutter. Epic fail, hahaha! Langsung saya hapus fotonya tanpa tedeng aling-aling. Anak-anak babi sudah menghilang (jangan-jangan sudah ditangkap Bobby buat dijadikan bekal?).

Bob, yakin itu babi sungguhan?

malam-di-semau

Satu jam kemudian kami sudah sampai. Sampai pada pertanyaan kenapa jalan yang ditempuh tak habis-habis. Kegelapan sudah menyelubungi. Peradaban sudah tak tampak. Kiri kanan kami hutan yang kering kerontang. Pak Boy entah sudah berada di mana, mungkin melesat paling depan. Kami sudah mulai berpencar. Saya sudah tak tahu siapa berada di motor yang mana. Tapi intinya kami menjaga jarak supaya jangan sampai ketinggalan jejak cahaya lampu dari motor di depan maupun di belakang.

Kalau dirasa perlu, salah satu dari kami akan membunyikan klakson sebagai notifikasi. Lalu teman-teman dari motor lain akan ikut membunyikan klakson sehingga mereka yang berada di urutan depan akan melambatkan lajunya supaya posisi kami yang di belakang bisa menyusul lebih dekat. Memang dalam kondisi seperti ini sebaiknya jangan sampai terpisah dari rombongan.

malam-di-semau

Satu jam kemudian kami sudah sampai. Sampai pada jalan berbatu-batu yang tampaknya sedang dalam proses pembangunan. Lagi-lagi penumpang motor harus turun dan berjalan kaki. Kondisi jalan begitu parah sehingga pengendara motor pun akhirnya harus turun dan menuntun kendaraannya. “Masih jauh, Pak?” Lalu terdengar sahutan pak Boy. “Sebentar lagi!” Yang mana sedari tadi pertanyaan yang sama dengan jawaban yang sama.

Saya sempat berpikir bahwa pak Boy ternyata tak tahu jika jalan yang biasa ditempuh ternyata sedang diperbaiki, atau beliau sebenarnya tak tahu jalan tapi tak mau orang lain tahu. Saya juga sempat berseloroh pada ketua rombongan, sebut namanya mas Faat: “Jangan bilang kalau ini settingan ya, mas?” Lalu dalam hati setengah berharap supaya ini memang settingan adanya, siapa tahu di ujung jalan sudah menanti kejutan buat kami berupa sajian makan malam prasmanan yang diiringi musik & tari-tarian tradisional. It would be a wonderful surprise!

Tapi lupakan pesta pora, karena faktanya kami harus memutar arah. Kembali menempuh jalan berdebu tiada akhir. Saya sudah disorientasi arah. Sekali waktu paha mulai kram sehingga saya meminta motor berhenti lalu masuk panti pijat berdiri sambil senam ala-ala untuk melemaskan otot kaki. Entah halusinasi karena kecapekan atau apa tapi saya melihat wajah dua teman saya, Bobby & Lenny, seperti mengalami penuaan dini. Pokoknya ada sesuatu yang berbeda di wajah mereka dibanding tadi siang.

malam-di-semau

Selanjutnya perjalanan dilanjutkan dalam hening. Kami lelah, kak! Jadi sungguh senang rasanya melihat kelip lampu kota di kejauhan. Kupang di seberang lautan. Tapi saya tahu jaraknya masih jauh. Kami kembali masuk hutan, terkadang melewati satu-dua rumah yang gelap tak berlistrik. Tiap melewati perkampungan sedikit harapan membuncah. Satu dua kali berpapasan dengan pengendara sepeda motor yang berlawanan arah, dan bunyi klakson menggantikan tegur sapa. Lalu teman-teman yang lain ikut membunyikan klakson bersahut-sahutan, hingga pengendara di depan menolehkan kepala untuk mencari tahu. Jadi pada salah paham begini, hahaha!

Harapan tinggal harapan. Rumah-rumah perkampungan mulai jarang. Kegelapan mengepung kembali. Alamak, masuk hutan lagi! Intuisi memaksa saya untuk tetap memandang lurus ke depan, tak usahlah tengok kanan kiri apalagi mendongak ke atas pohon. Jadi teringat pada suatu malam di tepi Kebun Raya Bogor, tiba-tiba saya menyorotkan senter ke atas pohon-pohon lebat di sisi jalan raya. Saya memang tak melihat apa-apa, hanya mengikuti perasaan saja. Malang bagi teman saya karena ia harus melihat ada sosok berambut panjang yang sedang bergelantungan di atas pohon. Hiyaaa!!! (Moral of the story: jangan terlalu mengikuti perasaan. Camkan itu!)

Cobaan berhasil dilalui. Puji syukur dipanjatkan tatkala akhirnya kami tiba di pelabuhan Semau. Lega rasanya bisa mendapati kembali akses pulang ke kota Kupang setelah perjalanan panjang (hey, it still rhymes!). Derai tawa langsung membahana begitu bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi dengan wajah Bobby, Lenny, dan Sinyo. Sehari di Semau langsung bikin mereka menua, wajah memucat dan rambut memutih. Debu-debu jalanan memang jahanam, hahaha!

penuaan-dini
Debu jalanan terbukti mengakibatkan penuaan dini. Literally! [Photo credit: Firsta]
Total 3 jam dihabiskan dalam perjalanan pulang hingga tiba kembali di pelabuhan Tenau, Kupang. Oya, kabarnya kenapa pak Boy bersikukuh supaya kami lewat jalan yang sedang dibangun adalah karena ia ingin menghindari salah satu ‘jalan angker’ menuju pelabuhan. Pantas saja. Beruntung kami semua selamat tak kena ‘gangguan’.

Sedianya saya hendak memberi judul bombastis pada tulisan ini seperti ’11 Jam Bersama Bobby di Pulau Angker’. Tapi takut nanti jadi salah persepsi.

Unsur mistis jangan jadi bercandaan.
Maksudnya pulau Semau?
Bukan, itu si Bobby.
Hahaha!

Intinya, jangan takut jelajah pulau Semau, Kawan! Walau rambut harus memutih. Dalam arti sebenarnya.

 

Disgiovery yours!

 

*Penasaran seperti apa foto lengkap pantai Otan, Oenian, Oetebu, hingga gunung Liman? Silakan klik disini! 🙂

 

Jelajah Pulau Semau (Semau-maunya)
Tagged on:     

20 thoughts on “Jelajah Pulau Semau (Semau-maunya)

  • April 16 at 19:58
    Permalink

    Liat fotonya langsung terdiam, bagus-bagus hhhhehhehee. Menarik banget itu pohon Flamboyannya, mas. Terus tertawa sendiri pas liat muka pada kena demu 😀 😀

    Reply
    • April 16 at 22:13
      Permalink

      Makasih mas Rullah! Iya pohon flamboyannya bikin suasana semarak penuh cinta #halah
      Kalo muka penuh debu memang the best-nya, hahaha!

      Reply
  • April 17 at 00:43
    Permalink

    Itu lagu favoritku kakbeb, meski cuman hafal reff doang hahaha Apalagi semacam pas banget buat backsound petualangan kita kan ya, petualangan ngarep wkwkwk
    Tapi seru banget kan digonceng sama aku kakbeb. Petualangan di pulau semau ini emang ga terlupakan banget.
    Kapan nih kita ngulang jadi tua mendadak? Curaaaang fotonya sendiri ga diupload, padahal ikutan menua iiihhh 😀

    Reply
    • April 17 at 01:23
      Permalink

      Petualangan ngarep ya, hmm.. *mulai tatap curiga* bukannya petualangan ngarep itu yg di Bali? #eh #aduh #keceplosan

      Btw aku tetep bersih dong bebas dari debu, soalnya ngumpet di balik badan kang ojek, hahaha! 😀

      Reply
  • April 17 at 07:15
    Permalink

    Slalu klimaks sendiri dan basah dengan postinganmu kak… Jd makin cinta berat!

    Lalu gimana rasanya berjam jam ngasih “selang” dari blakang ke kak Bobby? dia mah keenakan itu. Reff itu modus doang sebagai backsound 😀

    Sekian dari saya, si yah on de neks jorni #boom

    Reply
    • April 17 at 11:47
      Permalink

      Komen kak Richo selalu bikin hati membuncah, hahaha!

      Astaga “selang” apa kak, mending pake pompa air aja yang sedotannya kuat semburannya kenceng 😉 #bukaniklan

      Reply
  • April 17 at 14:34
    Permalink

    Bagus-bagus fotonya. Pesannya nyampe, selain berarti menunjukkan eksotisnya Semau, juga pesan betapa teriknya Semau 🙂

    Tapi seterik apapun, tak menggoyahkan daya jelajahnya ya 🙂

    Reply
    • April 17 at 15:11
      Permalink

      Tengkyu, kak Rifqy! Seterik apapun cuacanya, sesulit apapun aksesnya, biasanya ada ‘surga’ di ujung sana 😉 #tsaaah

      Reply
  • April 18 at 09:25
    Permalink

    Asikkk ada fotokuuu! #salahfokus
    Wow rupanya ada penjelasan “ilmiah” kenapa semua angker yah..untunglah taunya setelah trip ini yah hahha worth it lah kak gio 🙂
    Nice post anyway!

    Reply
    • April 18 at 10:08
      Permalink

      Heehehe tengkyu kak Len!
      Btw itu cuma salah satu hipotesaku aja sih kenapa Semau sampe disebut pulau mistis/angker. Dan tau gak, konon masih ada populasi buaya air asin di sisi selatan pulau, gimana gak horor coba, hahaha! Tapi overall Semau is one of the best tropical islands I’ve ever visited! *kasih jempol yg banyak*

      Reply
  • April 19 at 19:20
    Permalink

    Keren kali Mas Gio perjalanannya. Seram tapi seru. Lucu dan penuh debu. Mau lah ke Semau. 😀

    Reply
    • April 19 at 20:38
      Permalink

      Hehehe, tengkyu kak Makmur! Yuk, mari! Aku juga masih mau banget balik lagi ke Semau! 🙂

      Reply
      • May 11 at 00:41
        Permalink

        Kapan balik ke sana lagi? Diemail aja nanti ya kalau sudah terjadwal. Kali aja bisa. 😀

        Reply
  • April 21 at 02:55
    Permalink

    Hahahaha kirain apaan mengalami penuaan … ternyata akibat debunya. Gileee sampe segitunya ya 😀

    Reply
    • April 21 at 12:43
      Permalink

      Secara 3 jam menempuh perjalanan berdebu, maka jadilah penuaan dini, hahaha! 😀 But it was super fun!

      Reply
  • April 21 at 16:57
    Permalink

    with. kern banger lokasinya. temen jalannya juga seru abis. pasti komplet seruuuuuu perjalanannya

    Reply
    • April 21 at 21:30
      Permalink

      Keren dan bisa dibilang belum tereksploitasi malah 🙂
      Teman jalan seru emang anugerah! Hehehe 😉

      Reply
  • April 30 at 13:18
    Permalink

    Jadi penasaran sapinya makan apa ya sedangkan tanahnya gersang berpasir gitu tapi banyak kotorannya hahaha
    Indah nian lautnya lucu-lucu tapi jahat menyengat
    Pas jalur balik aja ada jumpa sosok, apalagi lewatin jalur sebelumnya ya
    Setuju sama mas, selama kita beritikad baik dan menjaga sikap/kelakuan, niscaya semua akan baik-baik saja.

    Reply
    • May 1 at 01:43
      Permalink

      Sapinya makan rumput2 kering sepertinya, mungkin bagaikan makan sayuran panggang, hahaha!
      Betul, intinya jangan lupa sama Yang Di Atas kapanpun dimanapun dan selalu mohon perlindunganNya 🙂

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *