Cheng Ho Jalur Samudera

Disgiovery.com

SETAHUN silam saya sempat menjejakkan kaki di kota Kozhikode (d/h Calicut) dalam salah satu kunjungan trip Kerala Blog Express. Saya tak menyangka jika kota pesisir di selatan India ini ternyata menyimpan jejak sejarah megah. Setidaknya tercatat tiga orang penjelajah dunia pernah melawat ke kota ini, yaitu Ibnu Batutah (1332), Cheng Ho (1405), hingga Vasco Da Gama (1498).

Laksamana Cheng Ho sendiri (atau dikenal pula dengan nama Zheng He) bahkan menghembuskan nafas terakhir pada kunjungan ketujuh ke kota ini (1433). Jasadnya konon ditenggelamkan di laut Calicut sebagai penghormatan terakhir. Sepatu dan seikat rambutnya dikirim ke Nanjing dan dikuburkan dekat gua Buddha.  Peninggalan Cheng Ho yang masih membudaya hingga kini adalah penggunaan jaring nelayan Cina di sepanjang pesisir India Selatan.

Selama di Kozhikode saya hanya sempat menyambangi lokasi pendaratan Vasco Da Gama di pantai Kappkadavu (Kappad). Cheng Ho sendiri kemungkinan berlabuh di lokasi serupa berpuluh tahun sebelum Da Gama. Seiring perjalanan waktu, pantai legendaris tsb kini sunyi sepi sendiri.

Tapi resonansi sejarah tetap terekam pada riak-riak air lautnya.

Demikianlah kenangan singkat saya akan jejak Cheng Ho di Calicut sempat terkuak tatkala membaca 7 jalur ekspedisi Sang Laksamana (5 di antaranya adalah kunjungan ke wilayah Nusantara). Saya tengah berada di acara peluncuran Jalur Samudera Cheng Ho di kota Batam (21/02/2015) yang diresmikan oleh Menko Kemaritiman Indroyono Soesilo dan Menteri Pariwisata Arief Yahya. Acara peluncuran ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh kedua menteri.

peresmian-Jalur-Samudera

Jalur Samudera Cheng Ho

Adalah 9 titik di wilayah Nusantara yang sempat dilalui oleh Laksamana Cheng Ho dan kini dijadikan daya tarik wisata sejarah dan budaya (khususnya bagi para wisatawan Tiongkok dan Asia). 9 titik ini adalah Banda Aceh, Batam, Tanjung Pandan, Palembang, Jakarta, Cirebon, Semarang, Surabaya, dan Denpasar.

Pelancong dapat menapaktilasi jejak Sang Laksamana di masing-masing titik Jalur Samudera Cheng Ho tsb. Di Banda Aceh terdapat lonceng Cakra Donya yang merupakan hadiah Kekaisaran Tiongkok bagi Kesultanan Samudera Pasai. Di Palembang terdapat Masjid Cheng Ho yang dibangun untuk jasa beliau bagi Kerajaan Sriwijaya. Di Semarang terdapat Klenteng Sam Po Kong yang dipercaya sebagai tempat persinggahan dan pendaratan pertama Sang Laksamana. Di Cirebon terdapat Mercusuar Cirebon yang dibangun oleh anak buah Cheng Ho. Juga berbagai obyek sejarah/budaya di kota-kota lainnya.

Kenapa Batam?

Meski tiada bukti sahih bahwa Cheng Ho pernah mendaratkan kapalnya di Batam, namun dapat dipastikan bahwa armada kapal Cheng Ho berlayar melalui perairan Batam di Selat Malaka untuk memasuki wilayah Nusantara.

Kemenpar sendiri punya agenda memajukan wisata perbatasan RI (meliputi Riau, Kepri, Kaltim, dan Kaltara). Kota Batam di Kepri dinilai paling tepat untuk tempat peluncuran Jalur Samudera Cheng Ho ini, apalagi kota Batam adalah pintu gerbang Indonesia dengan jumlah wisman terbesar ketiga setelah Bali & Jakarta. Kerjasama dengan Tiongkok yang menjadikan Kota Persaudaraan (Sister City) antara Batam dengan Tianjin diharapkan pula dapat menyedot arus wisatawan Tiongkok melalui Batam. Bukan kebetulan jika di kota Batam sudah terdapat obyek wisata berupa replika kapal Cheng Ho. Selain itu sedang dibangun pula obyek wisata lain yakni Masjid Cheng Ho.

Golden-Cheng-Ho-II-on-the-top-deck

Di Atas Kapal Golden Cheng Ho II

Riak-riak air laut di perairan Golden City Bengkong, Batam, memantulkan bayang-bayang kapal Golden Cheng Ho II. Riak air yang sama yang mengingatkan saya pada perairan cokelat kehijauan di Kozhikode (Calicut), India. Molekul air yang sama yang menghubungkan saya dengan Laksamana Cheng Ho sekitar 600 tahun silam.

Kapal Golden Cheng Ho II konon merupakan replika salah satu kapal yang dipakai Laksamana Cheng Ho. Memiliki panjang 30 meter dan lebar 8 meter, dan mampu memuat sekitar 150 penumpang, kapal asli buatan Tiongkok (1991) ini dipenuhi dengan detail dan ornamen khas oriental. Ukiran naga emas tampak kontras dengan warna merah-hijau yang mendominasi. Kapal ini merupakan salah satu atraksi andalan di kawasan wisata Golden City.

Sang nahkoda, bapak Sartono, dan awak kapal Golden Cheng Ho II selalu siap sedia melayani wisata bahari di seputar Golden City Bengkong dengan rute Golden City – Pulau Puteri (3 jam perjalanan).  Minimal penumpang dalam sekali pelayaran adalah 30 orang (termasuk jamuan makan siang).

Saya lihat banyak sekali rombongan turis yang datang silih berganti hendak menyambangi kapal ini, namun khusus untuk hari ini mereka hanya diizinkan memotret dari luar saja. Tentu saja karena sedang ada kunjungan menteri dan pejabat di atas kapal termasuk para ajudannya, belum ditambah kehadiran awak media (termasuk saya dan teman-teman utusan Travel Bloggers Indonesia).

Semestinya saya bisa meresapi perjalanan Cheng Ho mengarungi samudera di atas kapal replika ini. Semestinya begitu. Tapi Golden Cheng Ho II tetap bergeming pada posisinya, mungkin karena bapak menteri tak ada waktu untuk berlayar bersama walau sekejap. Selain itu terlalu banyak orang di atas kapal (pengap dan panas), dan menu prasmanan yang serba kering dan berwarna cokelat membuat saya hendak meninggalkan pesan keluhan di atas secarik kertas kepada panitia.

Golden-Cheng-Ho-II-from-aside

Selfie, Pak Menteri!

Acara peluncuran Jalur Samudera ini ditutup dengan makan siang bersama dan konferensi pers di atas kapal. Secara eksplisit Menpar Arief Yahya menyatakan bahwa program ini diharapkan mampu mengundang lebih banyak wisatawan asal Tiongkok (dari total outbound 100 juta orang per tahunnya).

Tapi tugas kami sebagai blogger belum paripurna. Masih ada satu agenda yang harus dilaksanakan, yaitu foto selfie bersama pak menteri. Tak ayal, kami mencegat beliau di ujung jembatan, dan KLIK KLIK KLIK banyak kamera turut mengabadikan pose selfie kami.

Terima kasih, Pak Menteri! Semoga sukses Jalur Samudera Cheng Ho-nya!

selfie with the minister

selfie with the minister

*selfie pictures courtesy of Lostpacker

Tentang Cheng Ho

Saya terlalu semangat mengabarkan Jalur Samudera Cheng Ho sampai kemudian seseorang mengirim pesan singkat: Siapa Cheng Ho?

Hal-hal sederhana tapi menohok seperti ini yang kadang membuat saya sedih. Tapi saya tak bisa menyalahkan, tak semua orang banyak membaca atau berada dalam ketertarikan yang sama.

Cheng Ho (atau Zheng He) terlahir atas nama Ma Sanbao, berasal dari provinsi Yunnan, Tiongkok. Bersuku Hui yang secara fisik mirip dengan suku Han, tapi beragama Islam. Cheng Ho adalah seorang kasim (semasa kecil ia dikebiri oleh tentara kerajaan) yang kemudian menjadi orang kepercayaan Kaisar Yongle dari Tiongkok (berkuasa tahun 1403-1424), kaisar ketiga dari Dinasti Ming.

Selama hidupnya, Cheng Ho telah melakukan pelayaran menjelajahi Asia, Timur Tengah, hingga Afrika selama 7 kali dalam kurun waktu 28 tahun (1405-1433). Misinya bukan mencari tanah jajahan, melainkan budaya dan perdagangan (sekaligus menyampaikan ajaran Islam).

Tapi saya penasaran, dengan kondisi sebagai kasim saja Cheng Ho mampu memimpin hingga 400 armada kapal menjelajahi samudera. Bagaimana beliau bisa menangani para pelaut yang terkenal buas dan haus agresi?  Tidakkah ia pernah mendapat pandangan miring atas kekasimannya?  Lantas apa jadinya jika beliau tak pernah mengalami kastrasi?

Tampaknya masih banyak lagi hal yang bisa digali dari sosok Sang Laksamana.  Jalur Samudera mungkin salah satu jawabannya.

 

Disgiovery yours!

Golden-Cheng-Ho-II

Disclaimer: This post was made possible by Indonesian Ministry of Tourism

Peluncuran Jalur Samudera Cheng Ho
Tagged on:     

10 thoughts on “Peluncuran Jalur Samudera Cheng Ho

  • February 27 at 08:19
    Permalink

    Laksamana Cheng Ho, banyak cerita tentang pelayaran Cheng Ho 🙂

    Reply
  • February 27 at 14:49
    Permalink

    Foto payung-payungnya keren sekali.
    Semoga JSC berhasil menarik banyak wisatawan dan membawa kesejahteraan bagi pariwisata Indonesia!

    Reply
    • February 27 at 17:05
      Permalink

      Amin! Kedua menteri sendiri optimis kalau JSC ini bisa turut menyukseskan sektor pariwisata 🙂

      *bagi-bagi payung fantasi*

      Reply
  • February 28 at 22:33
    Permalink

    Eh, menurutku agak keterlaluan sih nggak tahu Cheng Ho, mas. Soalnya beliau sering dibahas dalam pelajaran sejarah, geografi, bahkan agama Islam.

    Reply
  • April 11 at 11:08
    Permalink

    Peninggalan Cheng Ho yang masih membudaya hingga kini adalah penggunaan jaring nelayan Cina di sepanjang pesisir India Selatan…. Wah menarik ini, aku harus explore tentang jaring nelayan ini.

    Reply
    • April 11 at 11:16
      Permalink

      Selain peninggalan Cheng Ho, ada juga yang bilang jaring nelayan ini diperkenalkan oleh Kubilai Khan dari Mongol. Tampaknya belum ada penelitian mendalam tentang hal tsb.

      Trims atas komennya, kak! 🙂

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *