Himpun-Agung-FSB2015

Disgiovery.com

SEKALA BRAK Festival? I’m in!

Demikian pesan instan yang saya tulis, sehari sebelum keberangkatan. Satu-satunya alasan utama saya menerima ajakan perjalanan budaya ini adalah karena saya tidak tahu menahu tentang Sekala Brak itu sama sekali. Tandanya mungkin masih orisinil, tandanya belum banyak yang ekspos (khususnya di blog perjalanan), tandanya ya saya harus kesana untuk mencari tahu dan mendapatkan pengalamannya sendiri.

Baiklah, mari sejenak menekuri kitab waktu.

Sekala Brak (baca: Sekala Beghak) pada awalnya adalah kerajaan Hindu yang kemudian pada abad ke-16 hijrah ke Islam dan berganti nama menjadi Kepaksian Sekala Brak. Kerajaan kecil ini terletak di kaki Gunung Pesagi (gunung tertinggi di Lampung) di selatan Danau Ranau, Lampung Barat.

Kepaksian ini kerap disebut juga Paksi Pak Sekala Brak (Paksi Pak berarti Empat Serangkai/Empat Sepakat).  Penyebaran Islam di Sekala Brak menurut salah satu versi dilakukan oleh empat orang Putra Raja Pagaruyung dari Minangkabau.  Versi lain menyebutkan jika penyebar agama Islam ini berasal dari kerajaan Pasai, dan ada pula yang menyebutkan dari jazirah Arab.

Pada perkembangannya mereka menetap dan membagi wilayah kekuasaan menjadi empat bagian yakni Paksi Buay Bejalan Di Way, Paksi Buay Belunguh, Paksi Buay Nyerupa, dan Paksi Buay Pernong.

FSB2015-panjiFSB2015-panglimaFSB2015-seragam-panglima

***

Sungguh beruntung saya dan teman-teman mendapat kesempatan meliput acara Himpun Agung Saibatin Paksi, alias musyawarah agung para Sultan Kerajaan Adat Paksi Sekala Brak pada 10 Oktober 2015. Himpun Agung ini menjadi salah satu rangkaian acara Festival Sekala Brak ke-2 sekaligus memperingati HUT Lambar (Lampung Barat) ke-24.

Perwakilan dari 4 kepaksian tentu hadir:

– Paduka YM SPDB Pangeran Edwardsyah Pernong SULTAN SEKALA BRAK YANG DIPERTUAN KE-23 (Kepaksian Pernong) yang sekaligus Kapolda Lampung

– Paduka YM Sultan Jaya Kesuma (Kepaksian Bejalan Di Way)

– Paduka YM Sultan Piekulun Jayadiningrat (Kepaksian Nyerupa)

– Perwakilan Paduka dari Kepaksian Belunguh

Acara Himpun Agung ini mengambil tempat di Gedung Dalom Kepaksian Pernong, sekitar beberapa km ke arah timur dari pusat kota Liwa. Bangunan rumah panggung ini sekilas tampak serupa dengan rumah-rumah panggung lainnya dengan konstruksi kayu dan atap seng.

FSB2015-istana-kepaksianFSB2015-berbaris-rapi FSB2015-menunggu-tamu

Urusan protokoler kadang memang membuat acara molor dari jadwal. Saya sempat gusar sekaligus iba melihat murid-murid SD yang masih belia harus berdiri menanti di pinggir jalan di bawah panas terik. Beruntung akhirnya mereka diperbolehkan berteduh sementara menunggu para tamu agung datang.

Tamu-tamu undangan yang hadir di Himpun Agung kali ini memang tidak main-main. Mulai bupati Lambar, Ketua DPRD Lampung, Wagub & Gubernur Lampung, Ketua Komisi Yudisial, hingga Ketua MPR RI.

Cuaca panas terik tak menghalangi antusiasme masyarakat menyaksikan iring-iringan tamu menuju Gedung Dalom. Senyum manis Ridho Ficardo sang gubernur dan tegur sapa Zulkifli Hasan sang Ketua MPR kepada massa yang menanti sungguh dapat mengobati lelah dan haus mereka.

Acara Himpun Agung ini tertutup bagi umum (kecuali mereka dengan tanda pengenal) dan berlangsung selama sekitar 3 jam. Pihak kerajaan memberikan beberapa penghargaan kepada pihak-pihak yang berjasa atas pelestarian budaya Sekala Brak. Zulkifli Hasan sendiri mendapat Anugerah Lencana Kerajaan dan Keris (terapang) Rio Liyu Selingkokh Ni Way yaitu salah satu Pusaka Pangeran Batin Sekahandak yang pernah dipakai oleh Yang Dipertuan Pangeran Ringgau (gelar Pangeran Batin Purbajaya Bidung Langit Alam Benggala) pada sàat menyelesaikan konflik di Rejang Lebong dan bumi Pasemah Lebar.

Penghargaan bagi Ketua MPR RI ini diserahkan langsung oleh sang Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan Ke-23. Memang jika dirunut, Zulkifli Hasan yang berasal dari Lampung Selatan ini memang masih punya leluhur dari Sekala Brak.  Beliau sendiri menyampaikan jika kunjungannya ini bagaikan ‘pulang kampung’ sahaja.

FSB2015-rombongan-tamu FSB2015-welcome-Ketua-MPR FSB2015-welcome-penghormatan

***

Saya yang kebetulan memakai tanda pengenal juga memanfaatkan momen ini antara lain dengan kunjungan ke… tenda konsumsi. Ini bukan tenda biasa, melainkan tenda khusus untuk menjamu tamu-tamu Sultan.

Nuansa merah dan kuning emas mendominasi pandangan, seakan matamu memakai filter merah sekian persen.  Tapi dekorasinya memang cantik penuh motif dan warna gemerlap. Nampan-nampan diletakkan berjejer di atas meja-meja kecil tempat para tamu akan duduk lesehan.  Nampan yang disebut pahakh ini mirip tempat sesajen untuk upacara Hindu di Bali (mungkin inilah salah satu jejak budaya Hindu yg pernah ada di Sekala Brak).  Tiap nampan di hadapan kami berisi antara lain mujair Ranau acar kuning, ayam kampung bumbu kuning, sambal halipu (terdiri dari sambal dan siput sawah), juga rendang sapi/ayam. Tiap raja mendapat jatah satu nampan besar ini.

Jatah blogger mana, kak?

Semoga suatu saat kami berkesempatan mencicipi hidangan raja-raja ini.  Tak terasa  waktu sudah bergulir lewat tengah hari.  Saatnya kami bersiap ke kota Liwa untuk meliput karnaval budaya.

 

Disgiovery yours!

FSB2015-persiapan-jamuan FSB2015-menu-jamuan FSB2015-wastra-Lampung

Note:

Sekilas suasana di dalam Gedong Dalom Kepaksian Pernong. It’s so intricate with beautiful ornaments and colors. Pics taken by our fellow Eka Fendiaspara.

Gd Dalom

 

Himpun Agung [Festival Sekala Brak 2015]
Tagged on:         

11 thoughts on “Himpun Agung [Festival Sekala Brak 2015]

  • October 24 at 11:21
    Permalink

    Kelihatannya acaranya seru banget. Seumur-umur aku baru tau ada kerajaan bernama Sekala Brak ini, sejarahnya juga menarik. Cuma agak kasian dengan cerita adek2 yang harus menanti para tamu ‘agung’ dalam suasana kepanasan. Kebiasaan deh ‘bapak-bapak’ ini kalau ada acara gak bisa tepat waktu. Huh!

    Btw, motif kain di gambar terakhir menarik banget, mengingatkanku sama detail baju minang. O iya, itu topi-topi nya baguuus ,,, gak ada yang jual apa kak? Buat oleh-oleh sayaaa hahahahaha

    Reply
    • October 24 at 20:32
      Permalink

      Iya, kisahnya menarik, bahkan sebagian percaya jika etnis Lampung sekarang diturunkan dari Sekala Brak ini.

      Aku lupa nama topinya, uhmmm apa ya? Mungkin ada yang bisa bantu?

      Reply
  • October 25 at 05:53
    Permalink

    Mas Badai bikin saya kangen lampung deh Mas. jadi inget pengucapan Brak emang beghak… Hihihihi. Saya dulu sempat ngikutin proses upacara pernikahan adat lampung dari awal sampe akhir di daerah Bandar Jaya ujung. Waktu itu kaguuum banget. Pasti seru lihat acara ini…

    Reply
    • October 25 at 22:54
      Permalink

      Wah mas Dani asal Lampung toh. Masih fasih ngomong bahasa Lampung, mas?
      Lihat prosesi pernikahan adat emang seru ya, tapi suka lama dan bikin lapar.. #lah #bedafokus

      Reply
  • October 27 at 12:30
    Permalink

    Bule biasanya suka banget nonton beginian. Aku juga suka 😀

    Reply
  • October 28 at 19:24
    Permalink

    Liputan festival Sekala Brak ini makin mengingatkan saya. Betapa kayanya kebhinnekan budaya di Indonesia 🙂

    Reply
  • Pingback: Karnaval Budaya [Festival Sekala Brak 2015] - DISGiOVERY

  • November 1 at 15:55
    Permalink

    Wow, baru tau pernah ada kerajaan bernama Sekala Brak. Festival kayak ini bagus sih selain untuk mempertahankan budaya supaya tidak hanya anak cucu kerajaan Sekala Brak tapi masyarakat luas bisa melihat adat istiadat yang relatif kurang diketahui khalayak ramai.
    Btw kenapa aku gak kaget ya kamu ‘ketarik’ ke tenda konsumsi? 😀

    Reply
    • November 1 at 18:54
      Permalink

      Gak nyesel kesini karena akhirnya tau apa itu Sekala Brak dan adat budayanya.

      Aku ke tenda konsumsi kan demi kalian juga supaya pada tau seperti apa sih jamuan kerajaan 😉 #kalem

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *