Gudeg Bu Ayu 01

Disgiovery.com | BU AYU namanya. Bisa jadi ia jelmaan superwoman.

Kami menjumpai superwoman di pagi hari, tatkala warungnya baru buka dan masih sepi. Warung gudeg ini kecil, tampak teduh di bawah naungan sebatang pohon rimbun. Duduklah kami di meja luar, menghirup udara pagi kota Bogor sembari memperhatikan kesibukan di floris sebelah. Tampak aneka bunga segar dipajang. Sungguh takjub saya melihat berkuntum mawar biru.

Perhatian pun beralih ketika hidangan datang. Seporsi gudeg komplit pesanan kami tampak penuh sesak di atas piring beralas daun pisang:

– nasi putih
– gudeg nangka
– sambal goreng krecek + tahu + cabai rawit merah ginuk-ginuk
– daging gepuk
– ayam & telur opor putih
– tempe bacem
– tumis daun pepaya

Gudeg Bu Ayu 05

Aduhai sedapnya! Nasi putih yang pulen nyaris tenggelam dalam tumpukan sayur dan lauk pauk. Gudeg nangkanya bertekstur lembut dan setengah basah, bumbunya meresap dan masih masuk selera saya yang sebenarnya tidak suka manis. Sambal goreng krecek plus tahu yang gurih pedas penuh cita rasa (saya abaikan cabai rawitnya karena perut tak tahan pedas). Gepuk empuk basah yang kaya bumbu (beda dengan gepuk Sunda yang kering). Opor putih lezat dengan potongan ayam yang besar dan telur bulat. Tempe bacemnya juga enak, tapi menurut saya rasanya masih dikalahkan oleh lauk yang lain.

Rajangan daun pepaya yang ditumis kering tampaknya adalah signature dish warung ini. Daun pepayanya sama sekali tidak alot, terasa renyah di mulut dengan paduan rasa pahit dan gurih yang saya suka. Dan mungkin inilah satu-satunya yang menjadi pembeda dengan hidangan gudeg Yogya yang lain.

Penutup sarapan kami adalah segelas teh tubruk panas, ditemani cerita-cerita ringan dari empunya warung.

Gudeg Bu Ayu 02

Bu Ayu memasak, mengurus warung, dan melayani semua tamunya sendirian.  Tubuhnya mungil namun gerak-geriknya gesit dan cekatan. Beliau sudah sibuk di dapur rumah kontrakannya sejak pukul 2 dinihari (“Saya cuma tidur satu jam, Mas!” ungkapnya). Pagi hari dalam perjalanan ke warung ia singgah sejenak ke pasar guna memesan bahan-bahan masakan yang diperlukan. Tiba di warung ia mulai menyiapkan semuanya seorang diri. Kompor harus dinyalakan karena semua hidangan harus hangat. Lima buah ember berisi air bersih disiapkan karena semua perkakas makan harus bersih. Piring-piring dialasi daun pisang supaya tidak berminyak (“Dan menghindari cucian gelas jadi ikut berminyak dan bau amis,” ujar Bu Ayu).

Pukul 8 pagi warung pun buka.

Gudeg Bu Ayu biasanya sudah ludes seusai jam makan siang. Setelah membereskan warungnya, ia pun kembali ke rumah kontrakannya dengan ojek langganan. Singgah lagi di pasar buat keperluan esok. Tiba di rumah, langsung menyiapkan semua keperluan memasak untuk dini hari nanti. Ditemani lagu-lagu nostalgia Betharia Sonata, Ernie Djohan, hingga The Mercys.

Demikian terus sepanjang hari. Setiap hari, kecuali hari Senin dimana ia mencanangkan hari libur untuk dirinya sendiri.

Gudeg Bu Ayu 03

Ketakjuban kami adalah ia menjalani semua rutinitasnya itu seorang diri. Suami sudah tiada ketika Bu Ayu mengandung si bungsu. Ketimbang pulang ke orang tuanya di Magelang, kemudian perempuan kelahiran 1952 ini pun hijrah ke Bogor dengan memboyong anak-anaknya, dan mencari penghidupan lewat usaha katering. Tahun 2008 ia membuka warung gudeg khas Yogya. Kini keempat anaknya sudah hidup terpencar di berbagai kota, salah satunya malah menjabat manajer di sebuah perusahaan consumer goods ternama.

Sudah ada banyak tawaran membuka cabang/franchise dari para pelanggan gudeg Bu Ayu, meskipun beliau mengaku masih pikir-pikir dulu. Alasannya cuma satu, ia tak ingin kualitas rasa berubah.

“Biarlah warung ini cuma satu, tapi cita rasanya otentik masakan saya sendiri.” Kecintaannya memasak dan melayani pelanggan first hand adalah sikap teguh yang dipegang Bu Ayu.

Isn’t she a superwoman, or what?

Gudeg Bu Ayu 04

Gudeg Bu Ayu

Jl. Pajajaran Indah V (Dekat RS BMC) Bogor
Telp: 087870566117
Jam buka: 08.00 – 14.00 WIB (Senin libur)
Kisaran harga: Rp. 14.000 – 25.000

Gudeg Bu Ayu | Superwoman Rules

5 thoughts on “Gudeg Bu Ayu | Superwoman Rules

    • December 28 at 10:35
      Permalink

      Karena kalau warung tutup pas weekend, beliau kasihan sama pelanggannya yang dari luar kota (Jakarta, Bekasi, Sukabumi) yang bela-belain datang di akhir pekan 🙂

      Reply
  • January 6 at 03:20
    Permalink

    Rata rata warung makan / restoran tutup hari Senin karena biasanya penjualan sepi. Kan abis weekend, gitu katanya.

    Perempuan hebat, memasak segitu banyak dilakukan sendirian. Gak ada pembantu sama sekali? Meskipun sekedar potong potong sayur maupun cuci piring?
    Pengen ah kapan kapan ke sana.

    Mata si ibu kayak mengantuk gitu.

    Reply
    • January 6 at 08:59
      Permalink

      Betul juga ya, mungkin itu salah satu alasan Bu Ayu tutup hari Senin.
      Beliau udah coba pake bbrp asisten sebelumnya, tapi sebagai seorang perfeksionis dia merasa kerjaan asisten tidak pernah memuaskan, begitu ceritanya. Bu Ayu emang matanya sayu, mbak 🙂

      Reply
  • Pingback: Wisata Kuliner Puncak (Bopuncur) 1 Hari - DISGiOVERY

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *