Gua-Tangsi-cover
Disgiovery.com

GULITA padahal mata tak terpejam. Langkah kaki tertatih karena hilang penglihatan. Bunyi nafas terdengar memburu oleh semangat bercampur ketegangan. Terbungkuk badan walau tak renta. Lorong batu yang kami masuki mungkin cuma punya ketinggian sekitar 1,5 m.

Sekeliling kami hitam pekat. Total darkness. Bagai matamu dibutakan tiba-tiba.

“Ties?”

Saya memanggil nama teman yang berjalan mendahului. Dirinya sama sekali tak terlihat. Tangan saya menggapai. Bahkan saya pun tak bisa melihat tangan sendiri. Ada masa dimana kau hanya bisa mengandalkan gerak dan rasa. Seperti saat ini.

Sebuah telapak tangan lembab menyentuh tangan saya yang tergapai. Saya tak sempat berpikir macam-macam apakah itu memang benar tangan teman saya atau bukan. Segera saya sambut uluran tangan itu. Yang penting saya butuh tuntunan karena cuma teman saya seorang yang tahu medan di dalam gua ini.

“Sebentar lagi!” Terdengar sahutan (atau tepatnya desisan) Titis dari depan. Lega saya. Kami meneruskan langkah, tersuruk-suruk, dan terbungkuk-bungkuk.

Tiba-tiba sebuah telapak tangan lain menyentuh pundak saya dari belakang.

*****

Jalan masuk ke dalam gua Tangsi.  Be extra careful and don't go alone.
Jalan masuk ke dalam gua Tangsi. Be extra careful and don’t go alone.

Sekitar 70 tahun silam, pada masa Perang Dunia ke-2, penjajah Jepang di kepulauan Sunda Kecil (Lesser Sunda islands alias Nusa Tenggara) bagian barat menempatkan sebagian serdadunya di sebuah pantai yang tersembunyi di balik tebing dan sulit dijangkau musuh dari lautan. Pantai tak bernama ini letaknya tak jauh dari Tanjung Ringgit sebagai gerbang selat Alas, yang memisahkan pulau Lombok dengan pulau Sumbawa. Lalu dibuatlah gua-gua sebagai tempat persembunyian para serdadu.

Pemilihan lokasi tangsi/barak para serdadu di pantai ini sungguhlah sempurna. Kau bisa bayangkan sendiri pemandangan pantai pulau tropis yang ideal seperti apa. Namun satu keistimewaan di tempat ini adalah pantainya yang berpasir merah muda. Pastilah para serdadu Jepang itu mendapatkan pemandangan elok setiap hari, bangun tidur keluar gua, disambut cahaya lembut matahari pagi dan pantulan warna pasir merah muda yang mengingatkan mereka pada ranum apel Fuji di musim semi. Sayangnya saat itu sedang dalam masa perang, sehingga mungkin mereka tak bisa meresapi keindahan alam ini dengan sepenuh hati. Mungkin saja sehari-hari mereka hanya menghabiskan waktu di dalam gua, di dalam gelap dan lembab, demi menjaga logistik atau mengintai musuh. Mungkin juga ada serdadu yang menghembuskan napas terakhirnya di dalam gua.

Berpuluh tahun kemudian, ceruk berpasir merah muda ini sudah bernama pantai Tangsi (atau lebih dikenal dengan julukan ‘pink beach’). Gua ini terletak tak jauh dari pantai Tangsi, tersembunyi di antara sesemakan, dan meskipun orang-orang menyebutnya sebagai gua Jepang, saya pilih menyebutnya gua Tangsi.

Ke dalam perut gua Tangsi-lah saya dan teman saya kini berada.

*****

Ketika langkah kaki mulai masuk ke dalam gua.  Gelap mulai menyergap,
Ketika langkah kaki mulai masuk ke dalam gua. Gelap mulai menyergap,

Ternyata bukan hanya saya dan Titis yang masuk ke dalam gua, tetapi seorang teman kami yang lain membuntuti dari belakang. Satria namanya, dan biarpun tidak bergitar, tapi ia selalu menyandang tas ranselnya kemana-mana bagaikan sedang menyandang gitar. Satria mengikuti kami dari belakang tanpa suara. Langkah-langkah kakinya panjang.

Kami tidak ceroboh. Titis sudah pernah menyusuri gua Tangsi ini sebelumnya, ia bilang panjang lorong dalam gua cuma sekitar 20 meter sebelum tembus keluar di mulut gua di sisi kiri pantai. Sang petualang Lombok ini memastikan bahwa perjalanan singkat ini aman sehingga saya tidak ragu menerima ajakannya menyusuri gua.  Yang penting, dilarang pergi sendirian.

Udara di dalam gua terasa kering dan sejuk. Baru beberapa meter melangkah suasana sudah gelap total. Gelap segelap-gelapnya. Langit-langit gua juga terasa semakin rendah sehingga kami harus berjalan terbungkuk-bungkuk. Satria yang bertubuh lebih jangkung dari saya mulai kerepotan, dan memberi isyarat agar tak tertinggal. Itulah dimana ia kemudian menyentuh pundak saya.

Saya sempat terlonjak kaget meski kemudian segera merasa lega ketika Satria membuka suara.

Setelah berjalan membungkuk sejauh 10 meter tiba-tiba Titis menghentikan langkah.

“Mau melihat sesuatu?” Ia memecahkan keheningan.

Saya cuma bisa mendengar suara tanpa bisa melihat sosok atau ekspresi. Saya tak bisa menerka maksud Titis: melihat atau ‘melihat’? Tawarannya ini malah bikin suasana mencekam di tengah kegelapan.

Untung saya langsung teringat pada ponsel yang bisa dijadikan sumber cahaya pengganti. Sial, kenapa tak terpikir dari tadi? Tanpa pikir panjang saya langsung menyalakan layar ponsel.

Sebuah jari telunjuk tampak mengarah ke sisi kanan saya. Saya mengikuti petunjuk yang diarahkan Titis.

Di sana, tampak sebuah ceruk kosong berbentuk persegi. Bagai ruang meditasi.

Itu saja. Tak ada yang aneh.

Apakah Titis telah ‘melihat’ sesuatu di ceruk kosong itu, entahlah. Mungkin juga ia cuma bermaksud menunjukkan ceruk itu saja.  Yang jelas alarm tubuh saya sama sekali tidak membangkitkan bulu kuduk.  Saya tak ‘melihat’ apapun yang tak wajar (sepertinya Satria pun demikian karena ia diam saja). Sebenarnya saya merasa lega sekaligus kecewa, karena di dalam benak sudah mengantisipasi akan melihat sesuatu yang di luar dugaan. Saya cuma salut kepada Titis yang masih bisa mengingat lokasi ceruk ini bahkan dalam gelap sekalipun.

Perjalanan dilanjutkan lagi, kali ini dengan bantuan cahaya ponsel.

Setitik cahaya di tengah kegelapan yang mengungkung ini sungguh terasa membantu. Napas terasa lebih ringan, dan langkah kaki pun semakin mantap. Sekitar 10 meter langkah berikutnya, langit-langit gua terasa semakin tinggi sehingga kami tak usah lagi berjalan membungkuk. Sumber cahaya dari luar menandakan bahwa kami sudah dekat dengan jalan keluar.

Akhirnya, setelah lorong menikung tajam, kami pun mendaki mulut gua.  Senangnya kembali menghirup udara bebas. Jalur keluar ini tersembunyi di balik rerimbunan belukar sehingga tak terlihat dari arah pantai.

Jikalau dirunut, susur gua Tangsi ini hanya menempuh jarak sekitar 20 meter dan memakan waktu sekitar 10 menit. Cukup singkat, mungkin kau akan bilang ‘tak ada apa-apanya’, tapi bagi saya lumayan seru dan bisa jadi atraksi tambahan jika sedang berkunjung ke pantai Tangsi, Lombok Timur.

Dan saya tak pernah bertanya pada Titis apakah ia sesungguhnya ‘melihat’ sesuatu di dalam gua.  I let you all experience it yourselves. 😉

Pintu keluar gua Tangsi yang nyaris tak terlihat.
Pintu keluar gua Tangsi yang nyaris tertutup sesemakan.
Dalam Gelapnya Gelap Gua Tangsi
Tagged on:

16 thoughts on “Dalam Gelapnya Gelap Gua Tangsi

  • December 12 at 22:25
    Permalink

    Jadi ingat waktu ditawari untuk ke gua ini oleh salah satu penduduk di sana. Tapi waktu itu udah terlanjur tersihir sama beningnya Pantai Tangsi jadi lebih milih untuk berlama-lama berenang, mumpung belum ada pengunjung lain juga. 🙂

    Reply
  • December 13 at 01:41
    Permalink

    genrenya horor bok, he he he, , , terbawa suasana nih, asli mana bung? lombok? silaq ngiring ke tempat tiang. (silahkan mampir di tempat saya juga) bung

    Reply
    • December 13 at 11:08
      Permalink

      Apalagi bacanya tengah malam, haha! Trims bung Lalu, next time ke Lombok bakal saya kabari. Oya, saya mah dari Sunda, hehe 🙂

      Reply
    • December 13 at 11:10
      Permalink

      Tembus ke laut maksudnya? Mungkin salah satu gua di Tanjung Ringgit ada yang demikian, tapi yang di Tangsi ini cuma tembus di balik sesemakan. Mungkin dulu dipakai buat tempat penyimpanan logistik aja 😉

      Reply
    • December 13 at 11:17
      Permalink

      Memang letaknya di pantai Tangsi, kak Cum, hehehe.. Ketutupan semak-semak aja sih.. 😉

      Reply
  • December 13 at 14:14
    Permalink

    Sesuatunya apa bro? Penasaran… Tolong tanyain ke Titis hahaha
    Bener-bener jadi spot menarik selain pantai Tangsi. *catet* 😀

    Reply
    • December 14 at 15:51
      Permalink

      Ahaha wisata alternatif, kak! Tapi kemaren malah gak sempat nyemplung ke pantai Tangsi-nya :’/

      Reply
  • December 15 at 16:18
    Permalink

    Jadi teringat benteng belanda di pulau nusa kambangan, di mana terdapat lorong yang sepertinya tidak pernah di lewati manusia. Dari luar saja sudah terlihat “males masuk” di tambah gelap, lembab, di kelilingi pohon2 besar. Kala itu hubby sempet masuk ke bibir lorong yang gelap untuk mencari jalan pintas kembali ke bibir pantai. Aduh please dech…..gag tau juga itu lorong berakhir dimana, karena sepanjang rute yang kita telusuri hanya itu lorong yang kita lihat. Dan saya pun memutuskan untuk menapaki jalan yang tadi kita datang. Jalan yang jelas dan terang walau tidak orang lain selain saya, hubby n my little aubrey……yeah just the 3 of us bahkan pemilik perahu yang kita sewa pun terkejut karena kita tidak menggunakan guide.

    berminat ke sana????

    Reply
    • December 15 at 20:51
      Permalink

      Minat banget! 😉
      Wah untung gak gegabah masuk kesana. Intinya sih tau batasannya kapan harus berhenti atau terus.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *