Gaya Tunggal

KISAH ini berawal mula di toko buku.

Lelaki sedang melihat-lihat buku, tubuhnya membungkuk di depan rak. Perempuan hendak mengambil sebuah buku di rak paling atas. Tangannya terjulur tepat di atas kepala lelaki. Karena terburu-buru buku yang diambilnya terjatuh, dan menimpa kepala lelaki.

Ucapan maaf. Salah tingkah. Perkenalan.

Lelaki dan perempuan akhirnya berteman.

Beberapa minggu kemudian, sebelum lelaki itu kembali ke negara asal, perempuan lalu mengajaknya jalan-jalan ke Bogor. Diperkenalkannya ia kepada saya dan teman-teman. Diceritakannya awal pertemuan perempuan dengan lelaki, dan kami nyaris tak percaya dibuatnya.

Gaya Tunggal 1

Lelaki itu bernama Liu Kuan Shang, warga Taiwan, bapak 2 anak yang usianya jauh di atas kami.  Perempuan itu teman kami (ia tak mau disebutkan identitasnya), warga Bogor, ia masih lajang sewaktu berkenalan dengan Liu namun kini sudah menikah.

Kami mengajak Liu makan siang di kedai mie baso ayam jamur Gaya Tunggal, salah satu rumah makan Chinese food favorit kami. Rasa-rasanya resto ini sudah berdiri jauh sejak saya masih kecil.

Gaya Tunggal menempati deretan toko klasik di Jl. Ir. H. Juanda (seberang museum Zoologi). Kami bagai berada di rumah makan era 80an, dindingnya setengah bertegel, meja kayu persegi, dan kursi lipat warna merah.

Menu legendaris Gaya Tunggal tentu mie bayo ayam jamur-nya (meski pilihan saya tetap bihun dibanding mie). Keduanya punya tekstur lembut, ditumpuk irisan ayam jamur, pangsit basah, dan bawang goreng. Basonya berkuah kaldu sapi yang nikmat. Pangsit gorengnya renyah dengan filling daging ayam berbumbu, dicelup saus tomat asam manis.

Gaya Tunggal 2

Sebelum menikmati hidangan, Liu mengeluarkan sebuah pulpen dari sakunya. CTAK! Lalu keluarlah sepasang sumpit dari ‘pulpen’nya tsb. Ternyata itu memang bukan pulpen, tapi gagang sumpit yang menyatu. Kau tinggal menekan tombol kecil di ujungnya lalu keluarlah sepasang batang sumpit.

Liu selalu membawa sumpit praktis ini kemana-mana. Beliau tak mau menggunakan sumpit kayu sekali pakai yang umumnya tersedia di resto, demi sebuah alasan yang bikin kami tertunduk malu karena belum berpikir sejauh itu, yaitu supaya mengurangi penebangan pohon di dunia.

Walau tak banyak cakap, tapi Liu bilang ia SUKA dengan menu makan siang di Gaya Tunggal ini. Ia menyatakan hal tsb sembari mengelap sumpitnya, lalu terdengar bunyi CTAK, kemudian kedua batang sumpit itu masuk kembali ke dalam gagang.  ‘Pulpen’ itu lalu bertengger di saku Liu.

Gaya Tunggal mestilah berbangga karena telah mendapat komplimen dari pemilik lidah keturunan Tiongkok asli. Lelaki itu. Liu.

Gaya Tunggal 3

 

GAYA TUNGGAL (Mie Baso Ayam Jamur)

Jl. Ir. H. Juanda No. 94, Bogor
+62 251 314 089

Gaya Tunggal & Kisah Lelaki Perempuan
Tagged on:     

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *