a view from Gambir

A WORLD from Gambir to Tugu. Β Jakarta to Yogyakarta. Β Kota ini pernah saya kunjungi dengan menggunakan pesawat ataupun kereta malam. Maka ketika kemarin mendapat jadwal kereta pagi, sungguh senang hati karena inilah pengalaman pertama.

Stasiun Gambir tampak resik pagi itu. Hanya penumpang kereta yang diperbolehkan masuk peron sehingga tiada tampak hilir mudik para pengantar. Udara Jakarta sedang bersih usai dibasuh hujan semalam. Jakarta seperti bukan Jakarta dari sini, gedung-gedung pencakar langit menyembul di atas kanopi hutan kota. Mungkin seperti pemandangan metropolis di Asia daratan, jika saja tiada penampakan Monas yang menjulang.

xIMG_0677

xIMG_0678

xIMG_0679

Beberapa jam kemudian saya sudah duduk di dalam kereta cepat di kursi bernomor 7D. Pemandangan di sisi jendela didominasi hamparan hijau persawahan. Saya berkhayal jika kereta sedang melintasi lautan hijau. Di beberapa lokasi tampak pepohonan bergerombol macam pulau kecil di tengah lautan. Percaya atau tidak, sebagian besar ‘pulau kecil’ di tengah persawahan ini ternyata menampakkan barisan batu nisan pekuburan. Saya baru menyadari ada banyak kompleks pemakaman terpencil yang bisa terlihat dari jendela kereta sepanjang perjalanan ini, sesuatu yang takkan terlihat melalui jalur aspal atau udara.

Memasuki kota Cirebon saya melihat beberapa coretan dinding bergambar alat kelamin pria di sepanjang tembok sisi rel yang memasuki stasiun. Imajinasi saya segera berkelana ke pedalaman Bhutan dimana gambar penis di sana adalah hal yang lazim tergambar di dinding rumah/bangunan penduduk karena dipercaya dapat menjauhkan kejahatan. Rasanya sulit membayangkan jika para pemuda berandalan Cirebon yang suka mencorat-coret tembok ini mempunyai filosofi yang sama dengan penduduk pedalaman Bhutan. Kemungkinan besar para pelaku corat-coret di kota udang ini cuma iseng belaka. Atau tengah mengalami krisis identitas.

Selain singgah di Cirebon, kereta pun sempat berhenti di stasiun Prupuk (Tegal). Ada banyak penjual jajanan tradisional yang menawarkan dagangannya (ada jagung, kacang, hingga minuman segar warna-warni). Para pedagang ini tak diizinkan masuk gerbong kelas eksekutif, sedangkan untuk kelas bisnis para pedagang ini hanya dizinkan melintas satu kali dalam gerbong dengan pengawasan petugas keamanan. Bagi saya ini adalah kemajuan baru dari PT KAI dalam rangka meningkatkan kenyamanan dan keamanan penumpang.

Meninggalkan Prupuk menuju Purwokerto adalah jalur yang melintasi perbukitan, dan beberapa sinyal ponsel mengalami gangguan di sini. Beberapa penumpang pun kembali ke fitrahnya, menikmati pemandangan alam di jendela, dan bukan melulu terpaku pada pemandangan digital di layar ponsel.

Hal lain yang saya amati adalah, semakin memasuki pedalaman, atap genting di rumah penduduk warnanya semakin kusam/gelap. Dan meski kereta api bukanlah hal baru bagi penduduk, namun masih banyak anak-anak (sebagian ditemani orang tua/kakek-nenek) yang berdiri di luar rumah hanya untuk menonton kereta lewat dan melambai-lambaikan tangan. Mungkin inilah salah satu hiburan gratis yang bisa dinikmati mereka. Dan saya masih bisa merasakan keramahtamahan khas Indonesia dari sikap mereka.

xIMG_1064

xIMG_1074

Ketika singgah di Purwokerto, jajanan yang ditawarkan pedagang tradisional lebih beragam. Ada getuk, sale pisang, keripik tempe, hingga nasi ayam. Namun saya sudah kenyang menyantap dua potong besar bakpau ayam, sehingga kelebihannya saya bagi dengan penumpang yang duduk di sebelah. Ia seorang mahasiswa asal Yogya yang baru menjalani wawancara kerja di ibukota. Sungguh menakjubkan betapa pembicaraan bisa mengalir lancar berkat sepotong bakpau (padahal sedari Jakarta kami cuma duduk diam). Kami pun asyik mengobrol ngalor-ngidul hingga akhirnya kereta memasuki stasiun Tugu di kota Yogyakarta.

Stasiun Tugu tak kalah resiknya dengan stasiun Gambir. Para pengantar/penjemput tak bisa memasuki peron kecuali penumpang (sehingga suasana tidak tampak riuh). Saya tersenyum sendiri mengamati suasana sekitar yang tampak lebih rileks dengan banyak wajah-wajah teduh di sekeliling. Yogyakarta, saya sudah sampai!

xIMG_1057

xIMG_1060

All pictures in this album are copyrighted Β© 2013 duaBadai.wordpress.com
All rights reserved.
A World From Gambir To Tugu
Tagged on:

39 thoughts on “A World From Gambir To Tugu

  • March 26 at 14:39
    Permalink

    Sudah lama gak naeik kereta.. kangen kereta jadinya liat foto ini

    Reply
    • March 26 at 15:09
      Permalink

      ayo mbak, mumpung ada tiket promo KAI nih smp 31 maret *kalo ga salah*

      Reply
      • March 26 at 15:21
        Permalink

        hah ? masa sih… yaaa tanggung mefet bener.

        Reply
        • March 26 at 17:31
          Permalink

          hehe iya sih, lagian juga udah fully booked tiket promonya

          Reply
          • March 26 at 18:10
            Permalink

            jiaaahhh.. pake nawarin lagi hihi

  • March 26 at 14:49
    Permalink

    Badai, kayaknya kereta di jawa emang udah lumayan berbenah diri. Aku agak2 penasaran pengen naik kereta di medan tapi khawatir dapet pelayanan super jelek hehe

    Reply
    • March 26 at 15:09
      Permalink

      semoga saja PT KAI membenahi sistemmnya di seluruh Indonesia, jadi naik kereta di Sumatera pun tak perlu kuatir, hehe

      Reply
      • March 26 at 15:10
        Permalink

        Aminnnn. Kalo yg di sumbar mungkin udh lumayan bagus ya. Ahhhhh pengen nyoba mak item

        Reply
  • March 26 at 15:40
    Permalink

    tiket promonya udah penuh ga bisa dipesen lagi.. dan itu lagi promo buku? woah buku apa sih?
    selalu suka dengan cara dikau ambil foto deh.. angel yang keren.. dan kenapa pilih BW sih?

    Reply
    • March 26 at 17:31
      Permalink

      promo buku kumpulan cerpen sama temen2, nanti aku ceritain di postingan berikutnya πŸ˜‰ #spoiler

      btw thanks mbak, kebetulan mood-nya lagi demen b&w πŸ™‚

      Reply
    • March 26 at 17:32
      Permalink

      trims Bimo! kayaknya seru juga foto2 di stasiun pake model ya πŸ˜‰ #kode

      Reply
  • March 26 at 19:58
    Permalink

    suka ngeBW ya mas ?? eh themes kita ternyata sama *baru ngeh pas buka PC*

    Reply
    • March 26 at 20:01
      Permalink

      kadang2 ngeBW kalo lagi mood πŸ™‚ iya nih themes-nya samaan, paling cocok soalnya buat nampilin photoblog, hehe..

      Reply
      • March 26 at 20:04
        Permalink

        tapi meskipun postingan gak ada fotonya juga masih oke, cuma sayang gak bisa costum menu yah πŸ™

        Reply
    • March 27 at 10:57
      Permalink

      wah sungguh kebetulan, saya berkunjung kesana deh πŸ™‚

      Reply
  • March 30 at 12:23
    Permalink

    agak kepanjangan buat gw yang MALAS membaca… tp ilustrasi fotonya 4 thumbs up

    Reply
  • June 10 at 14:30
    Permalink

    beautiful photos! aku baru tau kl penduduk di pedalaman Bhutan memiliki filosofi yg unik πŸ˜€

    Reply
  • June 30 at 23:34
    Permalink

    aiiiiiiihhhh ~

    suka banget saya sama gambar hitam putih begini. kesannya, saya sedang membumbung bersama kenangan gitu deeeeh ~ #eeeaaaa πŸ˜€

    Reply
  • August 11 at 19:06
    Permalink

    Cinta Dalam Sepotong Bakpauw…. Hihi…

    Iya, asongan sekarang memang ga boleh masuk. Tapi mereka sering ‘berguna’ waktu kita kelaparan dan bosen sama makanan restorasi KA… meskipun transaksinya harus di pintu bordes…

    Reply
    • August 12 at 12:33
      Permalink

      haha bakpauw membawa kenangan #eaa

      betul sih, soalnya makanan restorasi termasuk mahal untuk cita rasa yang standar.. πŸ˜‰

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *