Finding Jantho From Greenland to New Zealand

Disgiovery.com

JANTHO, di pat kah jinoe?

Jantho, dimana kau? Jantho kota mati mereka bilang. Jantho, ibukota kabupaten Aceh Besar ini terletak sekitar 60 km tenggara Banda Aceh, di sebuah wilayah yang relatif sejuk dan tenang di kaki pegunungan Bukit Barisan. Kali pertama mendengar namanya saya langsung mencari tahu di pustaka maya, dan yang terpampang hanyalah deret kata kota mati.

Ibukota kok mati? Demikian pemikiran saya saat itu, lalu seketika tak sabar ingin lekas menyambanginya.

Greenland

Melipir sejenak dari ‘kota mati’ yang belum sempat dijelajahi, mari menyapa Greenland Jantho. Kawasan hijau ini bisa dibilang terletak di sebuah cekungan besar dengan telaga. Semak belukar dan lahan yang lebih tinggi di sekeliling cekungan menjadi pembatas alami. Sebuah menara, kolam renang, bangunan fungsional, dan beberapa sarana outbond menjadi fasilitas utama kawasan wisata ini.

Peringatan pertama dari Raju, pendamping kami, sesaat setelah tiba di Greenland: “Awas babi hutan!” Belum sempat saya mencerna kalimatnya, ia menambahkan lagi: “Harimau juga masih ada.”

OK, fix! Gak jadi blusukan ke hutan sendirian!

Sayangnya, karena terletak dalam cekungan maka pengunjung Greenland jadi tak leluasa melihat pemandangan pegunungan yang megah. Atau mungkin memang disengaja supaya mereka bisa lebih fokus menikmati fasilitas outbond, atau kegiatan dalam camp seperti #AcehBloggerGathering 2015 [baca: Aceh Blogger Gathering 2015 | Sekilas Kisah].  Selain berbagi ilmu dengan kawan-kawan baru, di sini juga kali pertama saya mencicipi hidangan kuah beulangong (semacam gulai kambing dengan nangka muda yang dimasak dalam belanga besar). Disantap panas-panas di kesejukan iklim pegunungan, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan.

Saya amati penempatan bangunan disini tidak praktis. Contohnya menara untuk zip-lining (flying fox). Padahal di atas menara yang lebih sering kosong ini dapat difungsikan pula sebagai gardu pandang. Pengunjung dapat menikmati pemandangan pegunungan dengan lebih leluasa. Walau terdapat sebuah pohon besar di sampingnya (kenapa tidak membangun menara di sisi sebelah sana pohon sih?). Ada pula kabel listrik centang perentang. Rasanya gemas ingin gigit-gigit kamu kamera karena pemandangan alam yang megah jadi terhalang.

Greenland Jantho towerGreenland Jantho gateGreenland Jantho view

New Zealand

Baiklah, mari keluar kandang.

Perjalanan kami (saya, Olive, Raju, dan rocker berambut gimbal) terhalang oleh kondisi jalan off-road, sehingga kami harus memutar balik dan menempuh rute lain. Tetap mencari jalur menuju bukit terdekat dari Greenland yang tampak bagai perbukitan Teletubbies. Lagi-lagi perjalanan kami terhalang, kali ini oleh sebuah sungai. Di seberang sungai tampak kelanjutan jalan ini. Tak ada siapapun yang bisa kami tanyai. Suasana hening kecuali deru air sungai. Tampaknya jika sungai sedang dangkal maka siapapun bisa menyeberang dengan kendaraan. Tapi air sedang penuh dan deras.

Dua buah sepeda motor yang muncul belakangan pun harus memutar balik karena tak kuasa menyeberang.

Puas bermain di sisi sungai, kami memutuskan kembali. Menuju kota. Kota yang dibilang mati. Lembu-lembu adalah penguasa jalanan di sini, seakan kau tengah berada di India. Lembu merumput di sisi jalan. Lembu melengang di jalan. Lembu leyeh-leyeh di tengah jalan. Jika di India sana jalanan tampak padat dan semrawut oleh manusia, sementara di Jantho sini jalanan tetap sepi dan lengang. Dimanakah kalian, manusia?

Jalin-river-finding-road Jalin-river-sungai-tropisJantho-lembu-lembu

Minggu siang, di ibukota kabupaten yang sunyi. Masjid Agung dengan pagar berkarat, kantor bupati yang megah namun tampak kosong, pagar komplek perumahan tanpa rumah, hingga bangunan stadion yang ditumbuhi rumput liar. Bahkan wahana permainan di seberang stadion pun tak menampakkan anak-anak yang tengah bermain. Angin bergemirisik di dedaunan. Papan jungkit bergeming, dan kursi ayunan bergoyang. Kios minuman tanpa pengunjung, entah apa yang dilakukan oleh penjaga kios di balik konter. Udara cerah, sinar matahari terasa hangat dan nyaman, tapi terasa ada yang ‘dingin’ di sini. Kekosongan? Kesunyian? Semua tampak musykil di mata saya.

Kami pun melintasi bukit-bukit kecil hijau yang terbentuk dari lempeng tanah yang terangkat. Aceh memang dilintasi oleh patahan/sesar Semangko yang mungkin menyebabkan banyak permukaan tanah di Jantho ini tampak ‘terungkit’ dari lapisannya, bagai irisan kue tart yang separuh terangkat. Tapi di sisi lain hal ini menciptakan pemandangan alam yang indah dan tak biasa.

Sekali waktu kami tak tahan untuk turun dari mobil, dan melangkahkan kaki di bukit-bukit kecil yang menghijau. Rasanya ingin ‘guling-guling’ dari lembah ke lembah saking halusnya permukaan rumput bagai permadani. Bagai menemukan New Zealand versi lokal. Nun di seberang bukit, terlihat sebuah rumah berpagar putih bagaikan sebuah ranch saja layaknya.

Jantho-jalan-rayaJantho-masjid-agung Jantho-stadionNew-Zealand-Jantho-crust New-Zealand-Jantho-green-hills

Apakah kemudian kami menemukan Jantho?

Untuk menemukan jiwanya mungkin butuh waktu lebih lama, tapi sepertinya kami sudah menangkap sekilas penampakannya. Jantho mungkin memang ditakdirkan seperti ini, tampak seperti kota mati meski saya lebih suka menyebutnya kota sepi. Jujur saya malah lebih suka suasana seperti ini, indah, tak biasa, dengan lembah-lembah dan bukit-bukit yang memesona. Makin sedikit manusia makin sedikit sampah.

Kembali ke Greenland dari New Zealand, kami berpapasan dengan sebuah truk yang mendominasi jalan. Mobil sampai oleng ke kiri, dan si rocker berambut gimbal yang pegang kemudi langsung berseru: “Eh, mama!”

Hahaha, I knew this would be an extraordinary short trip. Destinasi unik dengan teman seperjalanan yang asik sungguh luar biasa bukan?

 

Disgiovery yours!

New-Zealand-Jantho-happiness

Finding Jantho | Dari Greenland ke New Zealand
Tagged on:     

29 thoughts on “Finding Jantho | Dari Greenland ke New Zealand

  • December 25 at 13:37
    Permalink

    Bangun-bangunannitu seperti cuma didirikan namun tak pernah ditinggali. Banyak misteri ya di tempat itu Mas :hehe. Saya terpana dengan rumputnya yang halus banget dan terlihat seperti permadani yang sangat mulus. Haaaah langitnya itu kok bisa jernih banget… dan ketiadaan manusia membuat alam bisa menampilkan wajahnya yang paling murni, belum tercoreng-moreng oleh perilaku kaum kita yang hidup di atas bumi :hoho.

    Reply
    • December 25 at 14:55
      Permalink

      True! Meskipun kabarnya kalau hari kerja operasional pemerintahan tetap berjalan, tapi tiap akhir pekan kota itu kembali kosong melompong. Entah apa yang menyebabkan orang2 seperti enggan menempati kota ini.

      Di sisi lain, ketiadaan manusia pengrusak membuat alam menciptakan keindahannya sendiri. Maka syukurilah 🙂

      Reply
  • December 25 at 23:21
    Permalink

    Wah Jantho indah banget kaakk … dan terlihat bersih. Memang mirip NZ ya, apalagi katamu, lebih sering terlihat lembu daripada manusia hehe …

    Reply
    • December 26 at 10:46
      Permalink

      Indah, sejuk, bersih, banyak lembu dari jalanan hingga perbukitan, bikin pengen berkuda sambil pake kostum koboi 😀

      Reply
  • December 25 at 23:28
    Permalink

    Hiii kok kayak baca goosebump ya?? Hahaha
    Kota jantho di buka oleh gubernur ibrahim hasam kalau yudi tak salah. Di bikin di jantho karena kabupaten aceh besar itu luaaaaaaas banget. Dan jantho tepat berada di tengahnya. Ada jalan menuju lamno. Dan tak jauh dari seulawah yg merupakan pwrbatasan kab aceh besr dengan aceh pidie.
    1
    Sayangnya, hampir keseluruhan pegawai kantoran di jantho berasal dari banda aceh dan sekitar. Same l;ke jakarta. Jadi mereka tidak tinggam di jantho melainkan PP banda aceh-jantho-banda aceh. Jadilah kota itu sepi. Padahal masjidnya terbilang keren karena tidak mwnggunakan tiang penyangga di tengahnya. Ah kasian jantho. Dr dulu sampai sekarang masih jadi anak tiri

    Reply
    • December 26 at 10:49
      Permalink

      Nah ini dia tambahan info berharga dari warga Aceh. Jadi sebenarnya Jantho tidak pernah mati ya. Btw baru tau kalo masjid agungnya tanpa tiang penyangga, tau gitu masuk ke dalam kemarin 😉

      Reply
  • December 26 at 12:20
    Permalink

    #IndonesiaCakep
    Aku komen pas banget di hari ketika Tsunami menyapu Aceh. Kalo inget kejadian itu….
    Tapi senengnya lihat Aceh sekarang sudah bangkit dan cakep kayak gini.

    Reply
  • December 28 at 15:11
    Permalink

    Ayo kita #IndonesiaCakep-kan Si Jantho. Mas Gio selalur hadirkan foto2 yang “out of the eyes”. #IstilahNgasal. Foto keempat (Bukit Barisa) motret makek apa Mas? Cakeeeep 😀

    Reply
    • December 29 at 12:53
      Permalink

      Oh itu namanya Bukit Barisa? #IndonesiaCakep banget view-nya 🙂 Saya motretnya pake hape, kan smartphonography 😉

      Kalo nama sungainya kamu tau gak? Sungai Jalin bukan?

      Reply
      • January 5 at 13:42
        Permalink

        Bukit Barisan, bukan “Bukit Barisa” yang typo. Hehe.
        Iya mantap, Mas, skill smartphonography-mu. Kalo sungai itu ga tau pasti, tapi ada sungai yang terkenal di Jantho itu Sungai Jalin namanya.

        Reply
        • January 5 at 14:07
          Permalink

          Oh ternyata typo, hahaha!

          Itu kebetulan saya lagi test drive kamera smartphone Alcatel Flash 2, ternyata termasuk mumpuni untuk medium level. Kalau outputnya untuk share di blog/socmed bolehlah direkomendasikan 🙂

          Reply
          • February 10 at 14:15
            Permalink

            O begitu. Kamera belakangnya 13 mp ya? Sama dengan LG G2 yang saya pake selama ini. Hihi.

          • February 11 at 07:52
            Permalink

            Toss! Ada kebanggaan tersendiri kalau hasil foto di hape bisa menghasilkan gambar tajam & akurat bak DSLR, hahaha 🙂

    • December 30 at 11:22
      Permalink

      Secantik NZ.. tepatnya Jantho ini si cantik yang misterius, hehe. Bikin orang penasaran dan ingin tau lebih jauh 😉

      Reply
    • January 2 at 16:33
      Permalink

      Kabarnya selama weekdays pasti ada yang ngantor di sana, tapi ditinggalkan selama weekend. Tetap kesannya sebagai kota yang terabaikan :/

      Reply
  • January 6 at 01:05
    Permalink

    aku malah baru tau ada tempat ini, ah padahal Aceh deket banget dari kampung halaman di Medan. perjalanannya menyenangkan banget, ya, dengan teman yang udah cocok jalan bareng! 🙂

    Reply
  • January 25 at 09:52
    Permalink

    Tren di Sumatera ini sepertinya mirip2, bangun ibukota kabupaten baru di antah-berantah yang jauh dari pusat keramaian. Beberapa sukses kayak Pangkalan Kerinci (yg syukurnya ditunjang adanya pabrik RAPP), Payakumbuh (yang lokasinya di atas tebing), atau Pematang Reba di Indragiri Hulu yang bikin ibukota lamanya Rengat jadi kota setengah-hidup-setengah-mati. Tapi ini Jantho kok anomali ya, kayak ghost town begini. Serem kalo kelayapan malem.

    Reply
    • January 27 at 05:13
      Permalink

      Wow sungguh tambahan informasi yang menarik. Jantho memang menyisakan misteri, bagaimana kalo kita panggil Mulder & Scully tuk menyingkapnya, hehehe. Trims kokoh! 🙂

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *