environment friendly

Disgiovery.com

SAYA punya seorang teman yang tindak-tanduknya sungguh ‘environment-friendly‘.  No, she’s not doing it on purpose, she’s just being herself. Saya melihatnya sebagai pribadi yang unik. Ia penyayang segala binatang, bahkan ulat bulu adalah hewan favoritnya. Ia tidak makan daging bukan karena komitmen ingin menjadi vegetarian, namun karena (seperti saya tadi bilang) ia penyayang segala binatang.

Ia selalu membawa sumpit sendiri kemanapun pergi karena sumpit kayu/bambu sekali pakai hanya memboroskan hutan. Ia selalu membungkukkan badan pada pohon tumbang sebagai penghormatan terakhir. Ia tidak memakai tisu melainkan sapu tangan.

Sekali lagi, ia tidak pernah meng-klaim dirinya sebagai manusia yang peduli lingkungan. Tapi ia cinta, dan hal itu tercermin secara naluriah tanpa konsep atau pamrih apapun.

 

Mari temui teman saya dari semesta yang berbeda. Jika saya adalah seorang pejalan dari kasta Sudra, maka ia adalah putri setingkat Brahmana yang tak sungkan berbaur dengan rakyat jelata.

Berada bersamanya membuat wawasan saya terbuka akan banyak hal. Mari bicara dari hal kecil, misalnya tusuk gigi. Ia cuma memakai tusuk gigi yang sudah bersertifikat non-illegal logging. Bentuknya pipih berbahan kayu nan halus, sungguh berbeda dengan tusuk gigi silinder yang biasa saya temui di kedai atau resto. Tapi itu tak lama sebelum ia beralih pada tusuk gigi merk baru (saya lupa namanya) yang berbahan dasar sejenis polypropylene dan katanya lebih ramah lingkungan karena bisa didaur ulang dan tak perlu penebangan pohon.

Tercengang? Hahaha, saya juga!

Berada bersamanya juga membuat saya mengetahui alasan mendasar beberapa orang memilih untuk tidak makan daging ATAU hanya memakan daging produksi lokal yang mengonsumsi rumput/organik. Bukan sekadar ingin hidup sehat dari buah dan sayur, tapi lebih daripada itu. To save the planet.

Produk hewan ternakan masal lazimnya mengonsumsi biji-bijian, air, dan lahan dengan rakus. Sementara hewan biakan lokal biasanya lebih sehat karena mereka ‘workout‘ setiap hari naik turun bukit dan hanya mengonsumsi rumput segar.  Itulah mengapa sapi lokal kandungan lemaknya lebih sedikit dibanding sapi impor/ternakan masal. Itulah mengapa ayam kampung rasanya lebih enak daripada ayam broiler.

“Livestock are one of the most significant contributors to today’s most serious environmental problems. Urgent action is required to remedy the situation.”
H. Steinfeld, senior author, Livestock’s Long Shadow, A report from the United Nations.

Now you know.

environment friendly

Bicara tentang produksi lokal, saya kira kebijakan yang diterapkan pemerintah Kerala di India (yang saya lihat dengan mata kepala sendiri) sungguhlah selaras dengan lingkungan hidup.

Di sini ada lebih dari tiga macam beras produksi lokal, mulai dari yang bulirnya besar-besar bagai berlian, hingga yang bulirnya kecil-kecil macam jentik nyamuk. Bahkan ada beras pokkali (mirip beras merah) yang hanya hidup di persawahan air asin. Jenis lahan yang berbeda-beda membuat pemerintah menyesuaikan apa yang bisa ditanam di daerah tsb, alih-alih mengurugnya supaya menjadi satu macam lahan tanam. Bukan cuma beras, masyarakat juga bebas menyantap singkong atau umbi-umbian lain sebagai makanan pokok. Ada keberagaman di sini, sekaligus menjaga lingkungan tetap pada kondisi asal.

Buah-buahan lokal mendapat prioritas utama. Bahkan di hotel/resort berbintang sekalipun kau hanya akan menemui buah lokal yang mirip dengan pisang Lampung, jeruk Pontianak, atau apel Malang. Anggur lokalnya masam, semangka lokalnya penuh biji. Tapi mereka tampak bangga dengan hasil perkebunan sendiri dan tak sungkan menyajikannya pada tamu asing.

Lupakan India yang kotor dan kumuh, karena tidak demikian halnya dengan Kerala.  Sepanjang bantaran sungai baik di kota maupun desa nyaris tak saya lihat ada sampah mengambang (padahal saya sudah mengantisipasi akan melihat bungkus plastik deterjen atau mie instan). Jangankan sampah, jamban saja tiada (penduduk hingga di pelosok desa sepertinya sudah mendapat fasilitas MCK memadai).

Beberapa obyek wisata menerapkan deposit sebesar 20 Rupee (sekitar 5 ribu Rupiah) untuk setiap botol minuman yang dibawa masuk oleh pengunjung. Setelah keluar nanti, pengunjung dapat mengambil uang deposit tadi dengan menunjukkan stiker di botol. Hal ini dimaksudkan untuk meminimimalisasi sampah khususnya botol plastik yang dibuang sembarangan di area wisata. Dan hal ini terbukti efektif karena saya tidak melihat sampah atau botol plastik berserakan.

Tak ada polusi asap rokok di sini karena merokok di tempat umum (bahkan hingga di jalanan, halte, kendaraan umum) adalah terlarang keras. Saya terharu melihat masyarakat sepertinya menaati betul peraturan yang satu ini (entah hukumannya yang berat atau polisinya yang galak). Yang pasti saya paling mendambakan hal ini bisa selekasnya terwujud di Indonesia khususnya area Jabodetabek.

environment friendly
Ada begitu banyak cara untuk hidup selaras dengan alam, bersahabat dengan lingkungan. Hal-hal yang saya paparkan di atas hanyalah beberapa contoh saja. Yang penting adalah kesadaran dari dalam diri sendiri, bisa dimulai dari hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya. Well, you know what to do!

Just do something positive that can make you feel good inside.

Sebenarnya saya mendapat quote ini dari boss di kantor yang lama, beliau berasal dari salah satu negara Skandinavia dan tumbuh dalam lingkungan atheis. Ia pernah menulis surel kepada saya kira-kira seperti ini:
“Apakah kau melakukan hal baik atas dasar pahala? Bisakah kau melakukan hal baik karena memang kau harus melakukannya, sesuatu yang bisa membuatmu merasa lebih berguna bagi diri sendiri/keluarga/lingkungan/planet bumi, dan yang utama membuatmu merasa lebih bahagia dari dalam, dengan atau tanpa pamrih pahala?”

Selamat Hari Lingkungan Hidup Sedunia!

 

 

Simak tulisan teman-teman Travel Bloggers Indonesia lainnya tentang Lingkungan Hidup:

 

How Environment-Friendly Are You?
Tagged on:

18 thoughts on “How Environment-Friendly Are You?

  • June 6 at 08:29
    Permalink

    temannya keren banget, ya, mas. trus ternyata di India juga sudah peduli sama lingkungan ya. semoga di negara kita juga bisa seperti itu nantinya

    Reply
    • June 6 at 10:05
      Permalink

      Kalau India secara kesatuan aku kurang paham, tapi yang aku lihat tempo hari cuma di Kerala, salah satu negara bagiannya 🙂

      Aamin, semoga presiden baru bisa lebih peduli lingkungan!

      Reply
  • June 6 at 08:55
    Permalink

    bawa sumpit sendiri is okay
    bawa tas sendiri kalau belanja is commonly
    tapi…
    “membungkukkan badan pada pohon tumbang sebagai penghormatan terakhir” baru tau ini
    “bawa tusuk gigi sendiri yang bersertifikat non-illegal logging” juga baru tahu ini
    salute !!

    Reply
  • June 6 at 10:21
    Permalink

    konsep yang menarik…konsep hidup sederhana tapi dampaknya luar biasa.

    Reply
  • June 6 at 11:17
    Permalink

    Kak Badai, membaca quote ini: Just do something positive that can make you feel good inside, membuat berharap semoga menjaga lingkungan adalah hal alami yang ingin dilakukan semua orang ya. Btw, beneran.. kuku (((TEMEN))) kakak rapih deh, tapi yang telunjuk kurang bersih dikit *dibahas teteuupp!*

    Reply
    • June 6 at 12:56
      Permalink

      Aamin! Seharusnya sudah fitrah manusia ya..

      Hahaha masih dibahas aja, nanti aku tanyain ((TEMEN)) deh mau gak dia fotonya dipublish juga 😉

      Reply
  • June 6 at 13:01
    Permalink

    kak, aku punya bos yang vegan, dan sangat enviromentally banget deh. mungkin agak seperti temanmu yang nomor dua itu, yang pakai tusuk gigi polypropilene. jadi ingat sama dia sih.

    kedua. oohh, ternyata bisa komen tanpa login facebook yaa..

    Reply
    • June 6 at 13:16
      Permalink

      Kak, boss-mu kukunya baguskah? Kalo iya berarti ia memang terbukti ramah lingkungan #dibahasterus

      Hahaha, jadi baru nyadar ya bisa komen tanpa login FB 😉

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *