Turis Sejati
Original photo by Edin Chavez.

Disgiovery.com

TURIS? Banyak yang beranggapan jika mereka itu berisik, kasar, tak tahu aturan. Seorang profesor manajemen pariwisata di Leeds Metropolitan University, Inggris, mendefinisikan turis sebagai: “Mereka yang ingin menikmati waktunya, tak punya cukup informasi, dan ingin sesuatu yang wow.”

Turis biasanya identik dengan mereka yang bepergian menggunakan jasa agen perjalanan atau operator trip, entah liburan cantik berkoper atau perjalanan hemat backpacker. Entah kenapa turis yang berisik dan tak tahu aturan biasanya diidentikan dengan mereka yang berkoper dan naik turun bus wisata. Padahal tak semua pejalan berkoper tak punya adab, bahkan turis beransel yang sewa iuran angkot pun terkadang sama noraknya.

Satu contoh adalah ketika beredar sebuah foto di media sosial yang menampakkan beberapa orang (turis) pencinta alam tengah bergaya dengan buket bunga edelweiss di tangan masing-masing. Foto yang bikin banyak orang terperanjat dan mengumpat. Bukankah semua tahu jika bunga edelweiss adalah terlarang untuk dipetik? Atau mereka memang tak tahu atau tak mau tahu? Saya sampai mau bilang: Bung, kenapa tak sekalian saja joget maju-mundur cantik dengan ransel kalian?

Tak bisa dipungkiri kehadiran berbagai maskapai penerbangan dengan harga tiket bersaing membuat perjalanan antar pulau di Indonesia atau lintas negara menjadi lebih mudah. Traveling menjadi gaya hidup baru, termanjakan oleh penawaran menarik dari maskapai seperti Lion Air, Citilink, Sriwijaya Air, Garuda Indonesia, dll. Namun tanpa disadari hal ini juga menimbulkan dampak lain, khususnya efek turisme. Orang-orang jadi semakin mudah bepergian kemanapun, meski sebagian meninggalkan adab di rumah (atau memang tidak punya).

Lagoon Cabe
Ikan-ikan di taman laut bukan untuk dipancing ya, adik-adik backpacker yang manis :'( Photo by Edgar, taken in Lagoon Cabe, Cagar Alam Krakatau.

Tapi jangan salah, di luar problematika yang muncul tadi, sedikit banyak kedatangan turis juga punya andil dalam keberlangsungan alam & budaya. Di Guatemala, membanjirnya turis yang mencari cinderamata ala suku Maya membuat para gadis setempat kembali tertarik membuat kerajinan anyaman ala leluhur mereka. Di Polandia, generasi muda di Zakopane kembali menghidupkan tradisi membuat keju asap susu kambing ala suku highlander. Di Kalimantan, agen perjalanan Discovery Initiatives mampu memberi donasi tahunan dari kunjungan turis di TN Tanjung Puting kepada Orangutan Foundation untuk program rehabilitasi. Desa-desa wisata seperti Bejiharjo di Yogya atau Kumarakom di Kerala, India, sungguh mengandalkan sektor turisme demi kelangsungan hidup desa.

Satu-satunya hal yang dapat mengganggu keberlangsungan semua ini adalah eksploitasi.

Itulah mengapa negeri eksotis macam Bhutan dan Tibet (atau mungkin Korea Utara) hanya membuka pintu pada turis melalui agen perjalanan supaya terkontrol dan menghindari eksploitasi, akibatnya tak ada peluang bagi kaum pejalan independen masuk ke wilayah tsb. Tibet dan Korea Utara mungkin punya alasan politis, namun Bhutan punya alasan kuat untuk menjaga nilai budaya & ekologi dengan menyaring para pendatang.

Hal ini tampak sepaham dengan pemikiran bupati Belitung Timur, pak Basuri TP, yang keberatan jika turis asing dapat menginap di rumah penduduk (homestay). Beliau berpendapat adalah tak elok jika ada latar budaya asing yang langsung menyentuh jantung budaya setempat, yakni keluarga lokal.

Antisipasi yang dilakukan beliau adalah membangun komplek kampung budaya/wisata dimana turis asing nanti dapat menginap di rumah-rumah tradisional yang memang diperuntukkan bagi mereka, tanpa mengurangi interaksi dengan masyarakat setempat , tapi juga tidak memasuki ‘ranah pribadi’ keluarga masing-masing penduduk.

Batik Garut
Matthew bukan turis yang doyan belanja, tapi ketika berkunjung ke kota ini ia langsung bertekad: “At least I have to buy one!” Tebak di kota apa toko ini? :’) (hint: lihat corak batiknya)

Apapun itu, yang pasti menjadi turis bukanlah hal tabu selama kau bisa bersikap kritis & peduli demi keberlangsungan alam & budaya setempat. Mau ikut luxury tour atau backpacker trip, mau diurus agen perjalanan atau bergabung dengan open trip yang membeli tiket pesawat sendiri tentu sah-sah saja, yang penting tetaplah menjadi turis sejati:

Kritis

Contohnya mencari informasi tujuan, apakah misalnya lokasi tsb berstatus Taman Nasional atau Cagar Alam (tahukah perbedaan keduanya, kawan?). Selidiki agenda trip yang akan diikuti, apakah mendukung responsible travel atau malah berpotensi degradasi (misal: menonton sirkus lumba-lumba, atau rave party di kampung adat). Cari tahu mengenai adat istiadat setempat. Dll. Dsb.

Peduli

Contohnya tetap tertib di tempat ibadah yang dikunjungi, dan memberi ruang pada jemaat yang sedang menjalankan ritual. Saling mengingatkan untuk tidak menginjak terumbu karang, membuang sampah sembarangan, atau memetik tetumbuhan endemik. Dll. Dsb.

Jadi, sudahkah kau menjadi turis yang kritis & peduli?

 

Disgiovery yours!

 

*referensi: Damage Control by Alex Kerr, Newsweek, April 2006

Dicari: Turis Sejati
Tagged on:         

6 thoughts on “Dicari: Turis Sejati

  • October 28 at 05:34
    Permalink

    Nah! Tulisan yang ngena, Bang..
    Intinya mah bukan mau jadi turis atau backpacker ya, tapi jadi traveler yang bertanggung jawab, mau belajar dan ngga sekedar menjadikan “pengin punya foto di bla bla bla” sebagai tujuan perjalanan..
    Karena perjalanan bukan sekedar buat keren-kerenan..
    Gitu kan, Bang Badai? 😉

    Reply
  • November 1 at 13:36
    Permalink

    Sustainable tourism, that’s the ‘magic’ word supaya industri pariwisata bisa menguntungkan untuk jangka panjang, baik terhadap lingkungan, budaya maupun ekonomi masyarakat setempat. Tulisan yang mengena, Badai!

    Reply
    • November 3 at 12:29
      Permalink

      Trims, Bama! Semoga that magic word bisa menyebar dengan cepat & merasuki semua kalangan pejalan, turis atau bukan.

      Reply
  • November 1 at 22:28
    Permalink

    Sesuai petuah para orang tua, di mana bumi di pijak di sana langit dijunjung ya, Comrade. You point good points here.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *