Nafas kami terengah-engah, namun kaki enggan melambat. Kabut menyelubungi bagai selimut transparan, dan suara-suara hewan nocturnal mulai bergaung di sekeliling hutan. “Cepat!” Man melangkah di depan kami tanpa menoleh. Dari suaranya, saya tahu ia ‘mengetahui’ sesuatu yang kami tidak tahu.

[ MENUJU ]

14 Juni 2008, usia kandungan adik saya baru sebulan lebih, dan ia sudah ngidam ingin jalan-jalan di alam bebas. Kami pun membawanya ke Puncak, makan siang di resto Bumi Aki, dan pukul dua siang mendamparkan diri di Cibodas, atau tepatnya di gerbang Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP). TNGP sendiri terletak di kawasan segitiga Bogor-Sukabumi-Cianjur.

Usai melakukan registrasi di posko, kami pun memulai jalan sehat menuju curug Cibeureum, yang letaknya tersembunyi di antara relung-relung lembah gunung kembar. Jarak yang harus ditempuh sekitar 2.5 km atau 1 jam berjalan kaki normal (define ‘normal’ please). Pastilah kami abnormal karena banyak berfoto sepanjang jalan dan banyak beristirahat karena adik saya membutuhkannya.

Teman kami bilang, rute ke curug Cibeureum tidaklah sulit. Memang tidak sulit sih, namun menanjak dan menanjak. Awalnya sempat ragu adakah adik saya dan kandungannya dalam kondisi bugar untuk mendaki jalur berbatu ini, namun segera saya enyahkan pikiran tsb apalagi setelah melihat wajah adik saya yang berseri-seri begitu memasuki hutan.

Cuaca hari itu cerah, langit biru tampak dari sela-sela kanopi hutan. Jalur yang kami lalui teduh dan sejuk, bahkan cenderung lembab dan berbau humus. Kami juga singgah sejenak di tepi sebuah telaga biru kehijauan (dan kebetulan pula dinamakan Telaga Biru). Airnya diam tak beriak, indah namun mistis. Adakah yang pernah merenangi telaga ini? Atau menyelam ke kedalamannya? Adakah lumpur hisap di bawah sana?

Saya malah terngiang lagu Telaga Sunyi oleh Koes Ploes:

Kisah seorang putri
Yang telah patah hati
Lalu bunuh diri

Tenggelam di telaga sunyi
Bersama cintanya yang murni

Sebelum terhisap lebih dalam oleh aura mistis telaga biru, kami pun segera melanjutkan perjalanan. Rute selanjutnya ialah meniti jembatan kayu sepanjang kira-kira 200 m melewati rawa Gayonggong. Berjalan di jalur berkelok-kelok ini serasa sedang bersafari di taman Jurassic. Imajinasi purba saya setengah berharap melihat kehadiran velociraptor yang tiba-tiba melesat muncul dari balik sesemakan lebat. Dan saya siap mementung kepalanya dengan palu Thor.

Usai jembatan kayu, jalur berbatu kembali menyambut. Tak lama kami tiba di pertigaan terakhir yang dinamai Panyancangan Kuda. Beberapa orang pendaki gunung tampak sedang beristirahat di pos. Jalur ke kiri menuju puncak Gede dan jalur ke kanan menuju puncak Pangrango. Curug Cibeureum searah dengan puncak Pangrango, maka ke kananlah kami.

Pintu masuk TNGP
Pintu masuk TNGP
Jalan setapak menuju curug Cibeureum
Jalan setapak menuju curug Cibeureum
Telaga Biru yang diam menghanyutkan
Telaga Biru yang diam menghanyutkan

[ BERADA ]

Kawasan wisata curug Cibeureum sendiri sebenarnya terdiri atas tiga buah air terjun, yaitu curug Cibeureum yang paling besar, lalu curug Cidendeng, dan terakhir curug Cikundul. Gemuruh air ketiga curug ini bahkan sudah terdengar dari kejauhan.

Senang hati ketika tiba di lokasi.  Curug-curug ini tampak jangkung langsing dengan tinggi sekitar 50an meter. Tempias air yang jatuh dari ketinggian bagai menciptakan kabut tipis di sekeliling kaki air terjun. Basah. Dingin. Pekak.

Tampak 4 orang siswi SMA dengan seragam tercorat-coret (dan basah nyeplak badan) sedang merayakan kelulusan sekolah, saling berpegangan tangan membentuk lingkaran dan meneriakkan sesuatu di bawah gemuruh air terjun. Saya tak mendengar jelas apa yang diteriakkan mereka, semacam ungkapan cita-cita atau deklarasi cinta mungkin? Let them have the moment of their own.

Sesemakan di sekitar curug ditumbuhi bebungaan mungil nan cantik.  Bebatuan besar kecil menjadi pagar alami.  Lumut hijau di dinding tebing tampak halus bagai karpet beludru.  Kami duduk-duduk di sebuah batu besar datar sambil mengudap cemilan.  Tak ada warung di sekitar sini jadi lebih baik kalian pun membawa bekal jika hendak berkunjung.

Dinginnya air membuat kami urung mandi-mandi melainkan duduk-duduk saja di bebatuan menikmati pemandangan. Sesekali saya mencelupkan kaki ke aliran air yang bening, dan dinginnya langsung menerjang terjang. Jika ‘ci’ adalah air dan ‘beureum’ adalah merah, maka Cibeureum berarti ‘air merah’. Konon penamaan ini berasal dari lumut merah yang dulu tumbuh di sepanjang dinding tebing.  Jika demikian, darimana nama Cidendeng dan Cikundul berasal? (silakan kau cari maknanya sendiri ;)).

Kami tak bisa berlama-lama di curug karena hari sudah menjelang petang. Para siswi SMA tadi sudah tak kelihatan batang hidungnya. Saya pandangi langit kini sudah tiada cerah melainkan pucat. Kami harus lekas kembali.

Jembatan kayu yang melintasi rawa Gayonggong
Jembatan kayu yang melintasi rawa Gayonggong
Curug Cibeureum dan aksi pengunjung
Curug Cibeureum dan aksi pengunjung
Mari bergaya ;)
Mari bergaya 😉

[ KEMBALI ]

Perjalanan pulang seharusnya lebih mudah karena jalan menurun, namun kabut mulai turun membawa gerimis deras sehingga melicinkan jalan setapak. Kami harus lebih hati-hati melangkah, terutama sekali mengawasi adik saya jangan sampai ia terpeleset.

Melewati Panyancangan Kuda sudah tiada orang yang beristirahat di situ. Bahkan seingat saya kami tak lagi berpapasan dengan siapapun. Tampaknya kamilah wisatawan terakhir yang menyusuri jalan setapak sore itu.

Naungan kanopi hutan membuat jalan setapak lebih gelap dari seharusnya. Saya mulai merasakan ada sesuatu yang kurang beres karena teman kami Man memimpin jalan dengan tergesa, sementara Bie berkeras jalan paling belakang sambil membawa tongkat.

Saya sempat meminta waktu istirahat beberapa kali karena kasihan pada adik saya yang terengah-engah. Saya mengkhawatirkan kandungannya. Setiap kami berhenti untuk beristirahat, Man tetap berada di depan, Bie tetap standby di belakang, seakan-akan mereka sedang mengawal rombongan. Kami cuma boleh rehat sekitar 2-3 menit saja.

Nafas rasa memburu, namun saya juga tahu bahwa kami tak boleh kemalaman di jalan. Kabut dan kegelapan rasanya datang merayap dengan cepat. Jalan setapak yang tadi siang tampak teduh menenangkan, kini tak ubahnya jalan teror yang menyeramkan. Rasanya seperti berjalan di sebuah lorong panjang dimana lampu di belakang kami padam satu persatu. Kami harus bergegas, kalau tidak kegelapan akan segera mengurung.

Nafas kami terengah-engah, namun kaki enggan melambat. Kabut menyelubungi bagai selimut transparan, dan suara-suara hewan nocturnal mulai bergaung di sekeliling hutan. “Cepat!” Man melangkah di depan kami tanpa menoleh. Dari suaranya, saya tahu ia ‘mengetahui’ sesuatu yang kami tidak tahu. Tapi kami diam saja karena tak ingin menjadi panik.

Teror yang menakutkan adalah ketidaktahuan. Saya merasa ada sesuatu tapi tidak tahu apa. Apakah ancaman binatang buas, psikopat, atau mungkin makhluk halus.

Saya teringat roman Harimau Harimau karya Mochtar Lubis, tentang sekelompok penduduk di pedalaman Sumatera yang tengah memburu harimau namun tanpa disadari justru merekalah yang jadi buruan sang target. Satu persatu dari mereka tewas dimangsa sang harimau, dan kengerian teror di dalam hutan itu sungguh mampu mencekam benak saya hingga sekarang.

Disini, kini, kami tengah berada di jalan setapak di hutan. Daun-daun yang bergesekan tertiup angin menimbulkan bunyi ‘srek-srek’, seperti suara langkah harimau di tumpukan daun kering. Ok, setahu saya tak ada harimau di TNGP, tapi masih ada populasi macan kumbang (yang tak kalah seram). Ataukah ternyata memang ada velociraptor yang hidup tersembunyi di antara rerimbunan semak rawa Gayonggong?

Keberadaan psikopat mungkin peluangnya jauh lebih kecil, tapi tetap ada. Bunyi ‘srek-srek’ dari gesekan daun kering bagaikan bunyi langkah seorang psikopat yang mengendap-endap. Mungkin ia tengah mengikuti langkah kami dari balik rerimbunan, mengamati dan memilah. Malam ini ia ingin makan sop sumsum tulang belakang.

Saya juga kerap mendengar kisah tentang orang-orang yang dibawa tersesat menuju kerajaan makhluk halus di hutan. Atau ulah setan keder, yang gemar menyesatkan jalan dan membuat orang berjalan berputar-putar hingga tidak menemukan jalan pulang.

Namun langsung saya enyahkan pikiran-pikiran itu. Saya kembalikan fokus pada ujung kaki dan jalan licin berbatu. Pada saat seperti ini, bunyi nafasmu yang terengah cukup meramaikan pendengaran, membuatmu mungkin berpikir seperti inilah suasana persetubuhan sunyi (yang terdengar hanya deru nafas memburu).

Telaga Biru yang kami lewati mungkin sudah tak biru permukaannya melainkan kelam. Mungkin ada kabut tipis yang melayang-layang di atasnya, membuatnya tampak bagai sosok mengambang. Tiba-tiba saja lirik lagu Telaga Sunyi tentang putri yang bunuh diri jadi terasa menyeramkan saat itu. Kami sama sekali tak menoleh ataupun berhenti di tepi telaga melainkan terus berjalan melewatinya.

Akhirnya menapak jua kaki-kaki kami di posko dekat gerbang TNGP. Sudah tak ada penjaga saat itu, namun walau bagaimanapun nafas lega tetap terhembus, wajah-wajah tegang berangsur santai.

Sambil bergantian menumpang ke kamar kecil, kami melihat-lihat koleksi foto TNGP yang terpampang di meja display. Kebanyakan adalah cetakan foto lama yang sudah memudar warnanya. Beberapa adalah foto-foto korban tewas di TNGP, kemungkinan para pendaki gunung yang sempat hilang/tersesat. Saya tak pernah bisa lupa akan foto sesosok mayat di sungai dengan posisi tangan dan kaki asimetris dimana mukanya ditutupi kain (sepertinya ia telah terjatuh ke jurang). May them rest in piece.

Sungguh atraksi penutup yang mencekam.

[ SESUATU ]

Man dan Bie, keduanya punya indera keenam. Adalah lumrah terjadi jika kami sedang berada/melewati suatu tempat, tiba-tiba keduanya saling berpandangan. “Lihat sesuatu?” Lalu keduanya mengangguk-angguk.

Lama-lama kami jadi terbiasa akan gelagat ini, karena umumnya mereka hanya sekedar melihat penampakan tanpa efek samping bagi kami. Namun sepertinya sesuatu yang mereka ‘lihat’ di perjalanan pulang dari curug Cibeureum waktu itu sedikit banyak telah meneror mental kami semua. Ketakutan terbesar saya adalah bukan makhluk gaib itu sendiri, namun ngeri adik saya terpeleset dan sesuatu terjadi dengan janin muda dalam kandungannya.

Man dan Bie memang tak memberi penjelasan detail, namun pada intinya mereka merasakan kehadiran sosok gaib mengikuti langkah kami saat itu. Besar. Gelap. Berkelebat dari balik pepohonan, berkelebat di atas kanopi hutan.

Pada dasarnya saya beranggapan jika sosok-sosok gaib seperti itu tak melulu berhubungan dengan hal-hal mengerikan. Mungkin mereka sekedar ingin tahu atau berkenalan (ok, bagi manusia biasa hal seperti itu cukuplah menakutkan), atau mereka hanyalah good spirits yang mengawal kami pulang dari curug Cibeureum. Bisa jadi pemunculan mereka saat itu adalah demi maksud agar kami selekasnya turun ke posko, supaya tak terperangkap kabut dan tersesat di hutan. Ada banyak kemungkinan lain memang, namun intinya saya tak mau terbawa pikiran buruk.

Apakah kami kapok untuk kembali ke curug Cibeureum? Tentu tidak! Suatu hari kami kan kembali. Apalagi adik saya kini sudah melahirkan seorang keponakan lucu dan hiperaktif, dan akan kami ajak bocah itu turut serta.
Dan tentunya kami akan berangkat lebih awal (biar tak kesorean lagi ;)).

Curug Cibeureum | The Spirits
Tagged on:                     

32 thoughts on “Curug Cibeureum | The Spirits

  • October 9 at 21:30
    Permalink

    Ngeri juga ya klo tau ada yg “ngikuti” kayak gituu..

    Reply
  • October 10 at 13:35
    Permalink

    hey… baru baca sekarang… selpa apa kabar?
    memang orang2 yang suka mendaki itu sensitif dengan hal2 yang demikian, banyak cerita yang saya dengar dari teman2 pendaki yang bertemu dengan sosok makhluk halus yang ada di gunung2..

    Reply
    • October 10 at 19:35
      Permalink

      hi Jo! Selva baik2 aja, anaknya udah 3 tahun sekarang, lincah dan demen jalan2 🙂

      Reply
  • October 10 at 18:03
    Permalink

    Bener, mas Aldi. Berpikir positif aja kalo merasakan melihat “sesuatu” di hutan seperti itu. Gak perlu kuatir & takut, bukankah bangsa kita lebih mulia dari bangsa mereka.
    Hanya di film-film aja logikanya dibalik, sehingga kita yg dibikin takut kepada “sesuatu” itu.

    Laporan perjalanannya… mantab… detail banget gaya ilustrasi penulisannya.

    Reply
    • October 10 at 19:38
      Permalink

      trims mas Iwan 🙂 apa kabar Batam?

      Reply
  • October 11 at 10:56
    Permalink

    wuih seruuu…. kalo ada yg ngikutin gitu jadi inget jelangkung…

    Reply
    • October 12 at 14:24
      Permalink

      thanks 🙂 mari-mari berkunjung, takkan menyesal deh..

      Reply
    • January 10 at 01:10
      Permalink

      iya bro selamat datang! ^^

      foto2 & catper pindah sini, selebihnya di blogspot, bagi2 jatahlah, hehe.. 😉

      Reply
  • March 18 at 12:45
    Permalink

    Hebat ih udah samoe Curug Cibeureum.
    Idhoy bolak balik ke Gunung Gede belum pernah sekalipun mampir ke curugnya.
    Kapan kak ke sana lagi? Idhoy ikut. Etapi, Idhoy jalannya di tengah yaa.. ;p

    Reply
    • March 19 at 11:34
      Permalink

      hahaha kalo mau berangkat pagi ya, biar ga kesorean di jalan *hikmah dari trip ini*

      Reply
  • August 21 at 12:40
    Permalink

    itu anak adik sekarang udah gede ya.. namanya cidendeng apa cikundul?
    kesana lagi yuk, ku kangen sama cibereum..
    kalu di gunung, selalu banyak kisahkisah “begituan”.. ada temen yang bisa “melihat”.. tapi ku baikbaik aja sepanjang kita ga macammacam sama gunungnya.. bukan cuma di gunung sih, dimanamana pun juga kan ya..

    Reply
    • August 21 at 12:46
      Permalink

      ponakanku udah 4 tahun mbak, dan doyan kegiatan outdoor 🙂

      betul, sepanjang kita menjaga sikap & perilaku, so pasti aman-aman saja, kapanpun dimanapun 😉

      Reply
  • August 24 at 21:47
    Permalink

    Hi… kisahnya seru tapiii… tokoh San gak tampil di kisah ini… 🙁

    Reply
      • August 24 at 22:14
        Permalink

        Bohooong! San itu sanguinis murni.
        :-p

        Reply
        • August 24 at 22:20
          Permalink

          iya bohong, sebenarnya gak ada tokoh San di sini #hiyaaa

          Reply
  • September 3 at 14:30
    Permalink

    Jadi inget dulu sempat tersesat saat turun dr Pangrango. Mgkn krn perasaan jumawa ingin sampai bawah paling dulu. Syukur ada ranger yg ‘juga’ tersesat di tempat gue, dan diikuti oleh teman gue -juga nyasar di situ. Aneh. Semacam jebakan batman.

    Reply
    • September 3 at 15:28
      Permalink

      wow syukurlah semuanya selamat.. gak kebayang kalo lo gak ketemu siapa2..

      Reply
  • Pingback: Bangkok Room #200 - DISGiOVERY

  • Pingback: Travel Ghost Story | Bangkok Room #200 - DISGiOVERY

  • Pingback: Jangan Dibaca Sebelum Tidur - DISGiOVERY

  • October 6 at 15:44
    Permalink

    waduh! sepertinya seru, tapi juga seram. memang sepertinya lebih baik main ke sana pagi-pagi, ya~

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *