Garut
DEGUNG Sunda mengalun, diiringi lantunan seruling. Udara sejuk segar, langit biru cerah berhias mega putih cemerlang. Di sekeliling kami sawah, lebih di kejauhan lagi tampak deret pegunungan yang tak putus sepanjang 360 derajat. We are at the center of the universe.

Saya menghentikan musik dari benak. Kembali pada suara alami. Kicau burung, dengung serangga, sabetan arit pada batang padi yang dituai, hingga gemersik bulir padi yang berjatuhan di alas terpal tempat hasil panen dikumpulkan. Kami masih berada di tengah sawah, dikelilingi pegunungan. Damai.

Kami berada di Garut, di bagian tenggara Jawa Barat, sekitar 240 km dari Jakarta. Dini hari tadi tepat pukul 2:50 kami baru saja tiba di tanah ini, di desa Wanaraja yang permai, setelah menempuh perjalanan melelahkan dari Jakarta. Adalah kunjungan impulsif, inilah trip perdana kami tanpa itinerary πŸ™‚
[ BertamuΒ Ke Rumah Tua ]

Semalam Garut menyambut kami dalam jejak basah sang hujan. Bagai memasuki dimensi berbeda, kami meninggalkan dingin AC dan alunan musik CD dari mobil, tuk merasakan dingin udara malam dan mendengar nyanyian jangkrik & tonggeret. Malam seperti berpendar, langit di atas kami tampak sesak oleh bintang gemerlap.

Kami memasuki sebuah rumah peninggalan tempo doeloe yang dipagari oleh rimbun semak dan pintu gerbang rendah dari kawat besi berkarat. Ini adalah rumah peninggalan nenek dari teman kami, Dee, dan di sinilah kami akan menginap selama berada di Garut.

Di dalam rumah masih terdapat banyak pintu dan banyak ruang dan banyak ranjang kosong. Penerangan tampak temaram, bahkan langit-langit pun gelap. Bayangan putih tersamar sempat mengagetkan kami tatkala membuka pintu ruang tengah. Olala, ternyata itu adalah dipan berkasur dan bersprei putih yang ditaruh melintang di depan salah satu kamar.

Kekagetan tampak bertahan lama, mungkin dipengaruhi kesunyian yang menekan (bahkan hening pun bersuara, ia menimbulkan denging panjang tak berkesudahan di telinga, dan itu cukup mengganggu).

“It’s unexplainable, but it’s the fact,” demikian bisik Man pada Matt. Matt adalah teman kami yang berasal dari Polandia, dan ia tak terbiasa dengan suasana ke-horor-horor-an semacam ini. Maka ia tampak bingung melihat kekisruhan kami menjelang tidur, dimana kami bimbang hendak berkumpul dalam satu kamar atau tidak.

Tapi pada akhirnya Yen & Dee memantapkan diri untuk pisah kamar dengan kami. Dan mengingat letak kamar mandi yang cukup jauh serta harus melewati ruang tengah yang gelap dan panjang, kami para jejaka memutuskan tuk langsung pergi tidur. Tanpa cuci muka atau gosok gigi ;p

 

[ Bertamu Ke Sawah ]

Meskipun tidur sangat telat, namun kami sudah terbangun kembali di pagi harinya. Kesegaran pagi dan terang sinar mentari yang masuk lewat jendela serta merta mengubah suasana rumah yang semalam terasa menyeramkan, kini terasa menyenangkan. Udara apak di dalam kamar pun berangsur-angsur menghilang. ^^

Kunjungan ke sawah yang terletak tak jauh di belakang rumah nenek adalah sungguh memesonakan. Hamparan sawah berwarna hijau & kuning terbentang luas sejauh mata memandang. Gugusan bukit dan gunung berhias kabut tampak mengelilingi kami. Awan putih berarak berlatar langit biru cerah. Permai nian Indonesiaku πŸ™‚

Ini adalah kali pertama bagi Matt untuk melihat secara langsung hamparan sawah di hadapan matanya. Beberapa kali ia berdecak kagum, pun tak sungkan bergabung dengan para petani yang tengah menuai padi. Capung, belalang, dan burung-burung kecil tampak beterbangan riang di sekeliling kami. Saya asyik mengabadikan suasana ini di kamera. Tak lupa, degung Sunda pun kembali mengalun di benak saya.


[ Bertamu Ke Kawah ]

Kawah gunung Papandayan menjadi tujuan dadakan berikutnya. Terletak 24 km di selatan Garut dengan ketinggian lebih dari 2.170 mdpl, kawasan ini bisa diakses melalui jalan propinsi (Garut-Pameungperuk) hingga Cisurupan.Sepanjang perjalanan ke sana, kami disuguhi pemandangan elok alam pegunungan. Di sisi kiri menjulang megah gunung Cikuray, sedangkan di sisi kanan tampak gunung Papandayan dengan kawahnya yang mengundang.

Tapi… setelah memasuki pintu gerbang Taman Wisata Alam Papandayan di Cisurupan, kondisi jalan menuju kawah ternyata berlubang-lubang. Jika kau mengendarai motor atau mobil dengan suspensi tinggi (Hummer misalnya), atau mungkin berkuda (ctarrr!), tentu tak akan kerepotan melewati jalan rusak ini. Lain halnya dengan mobil mungil yang kami kendarai. Akhirnya diputuskan tuk kembali ke jalan raya dan meneruskan perjalanan ke kawah dengan ojek motor. Mobil akan kami tinggal di sebuah warung makan.

Masalahnya adalah, begitu tahu kami membawa turis asing, para tukang ojek kemudian memasang tarif semena-mena. Harga normal 15-25 ribu bisa melonjak hingga 50 ribu per orang sekali jalan >_<Untunglah dari pemilik warung didapat info bahwa kami bisa menumpang mobil pickup ke kawah dengan tarif 5 ribu per orang sekali jalan, atau bisa carter mobilnya sekalian. Okelah, siapa takut!

Namun kurang dari sejam kemudian, kami sudah duduk manis dalam mobil kembali ke Garut kota. Niat ke kawah Papandayan harus urung karena hujan deras tiba-tiba saja turun tatkala kami hendak mencari mobil pickup tumpangan. Daripada properti kamera dan kostum couture kami basah kuyup *gaya*, lebih baik niat bertamu ke kawah ditunda dulu. Kelak kami kan kembali.

Oya, di sepanjang jalan propinsi ini kami juga melewati pom bensin ‘siksa neraka’, yang pernah saya & MPers singgahi sewaktu perjalanan ke Pameungpeuk di akhir 2007. Mau tahu kenapa ia dijuluki pom bensin ‘siksa neraka’?
[ Bertamu Ke Gudang Tua ]

Mungkin kami adalah serombongan tamu aneh yang datang hanya untuk mengunjungi gudang tua bekas pabrik teh. Terletak di Cilawu (masih di selatan Garut di kaki gunung Cikuray), gudang tsb berada tepat di belakang rumah keluarga salah seorang teman kami, Benk.

Kebetulan sang bunda sendiri yang menyambut kedatangan kami dengan sumringah. Minuman dingin dan aneka kudapan langsung disajikan. Gorengen keripik dan kerupuk kulit.

“Maaf, tapi gudangnya gelap dan kotor.”
“Tak apa, Ibu.””Namanya juga bangunan tua, lama tak terurus.””Tak apa, Ibu. Boleh kami melihat-lihat sekarang?”
Duhai, pastilah mereka takjub melihat antusiasme kami.

Gudang yang dimaksud adalah peninggalan pabrik teh keluarga yang sempat jaya pada masanya. Namun kini bangunan itu diam dalam kusam.

Bagai mengunjungi museum dengan peninggalan berharga, kami begitu bersemangat memasuki ruang demi ruang yang kosong (cuma ada satu ruang yang kini dipakai sebagai tempat menyiangi benih). Tiap dindingnya tampak berjelaga hitam. Konon dahulu ada banyak tungku-tungku besar untuk merebus teh di sini. Tentu saja kami menemukan sesuatu yang bernilai disana, apalagi kalau bukan lokasi pemotretan. Kelak tempat ini cocok tuk dijadikan setting photo session. Yen & Dee pun tak ragu dijadikan sampel pemotretan ;p

Ketika pamit, kami dibekali sekantung besar kudapan aneka rasa. Kami tak kuasa menolak, meski Matt tampak keheranan.”Guys, are you still hungry?”
“Hahaha, see it in Indonesian way, Matt. It’s our kind of hospitality!” πŸ™‚

 

[ Β Bertamu Ke Pemandian ]

Sumber air panas di Cipanas (6 km utara Garut) berasal dari aktivitas vulkanis gunung Guntur, dan berkhasiat sebagai terapi penyembuhan dan relaksasi. Terletak di daerah berhawa sejuk di kaki gunung, tak heran jika kawasan ini sudah lama tersohor sejak jaman Belanda, hingga sempat memunculkan ungkapan Swiss van Java.

Kami bertamu ke salah satu petilasan di sana untuk berendam air panas (yang konon bisa mencapai suhu 49 derajat C). Di luar dugaan saya, air panas di kolam ini sama sekali tidak berbau belerang. Syukurlah, tapi yang jelas membuat acara berenang jadi lebih nyaman.

Hujan sempat turun malam itu, namun tak mengenyahkan kami dari kolam pemandian. Saya bertanya pada diri sendiri kapankah terakhir kali bermandi hujan-hujanan seperti ini. Walau kepala tertimpa rinai hujan, namun sekujur tubuh kami nyaman berendam air hangat. Ah, senangnya…

[ Bertamu Ke Masa Kecil ]

Esok paginya, saya menyempatkan diri berkeliling di dalam dan di luar rumah. Seperti seekor kucing yang tengah menjelajah tempat barunya, saya juga berusaha mengenali lingkungan sekitar. Bagaikan kucing, saya juga menandai beberapa tempat di sekitar rumah (dengan jepretan kamera tentu saja! ;D).

Imajinasi berkelana ke masa lalu, ketika Dee bercerita bahwa semasa kecil ia & saudara-saudaranya kerap bermain petak umpet di sekitar rumah, dimana ada banyak tanaman bunga bermekaran di pekarangan bagaikan musim semi sepanjang tahun. Sayangnya pekarangan kini cuma ditumbuhi pagar semak perdu, tiada bebungaan lagi di sana.

All the flowers that you planted mama, in the backyard

All died when you went away…
[Sinead O’Connor ~ Nothing Compares 2 U]

Kami pun akhirnya pamit meninggalkan rumah, dengan sekantung besar rengginang mentah (untung Matt tidak ngeh sehingga tiada komentar: apakah kalian kelaparan dan mau ngemil rengginang mentah sepanjang jalan?Krauk!).

Dee menyempatkan diri berziarah ke makam kakek-neneknya di pemakaman umum Samanggen, tepat di seberang jalan raya. Tak jauh dari sana, terdapat pula komplek pemukiman, dimana rumah keluarga pengasuh Dee semasa kecil tinggal.

Alkisah sang pengasuh dan suami semasa lajang dulu pernah sama-sama bekerja di rumah keluarga Dee, dan tanpa disangka bersemilah cinta mereka di sana, hingga kemudian menikah. Kini keduanya sudah hidup mandiri dan dikarunia dua orang putra yang sudah beranjak dewasa. Ah, cinlok yang berbuah manis πŸ™‚

Kami disambut hangat oleh mereka dengan suguhan renyah keripik singkong dan keripik pisang. Rumah mereka tampak paling apik dan asri di antara rumah tetangga sekitar. Modelnya modern minimalis, semua elemen interior rumah ini didesain dan dikerjakan sendiri oleh sang suami, dengan menggunakan bahan-bahan sisa/tak terpakai. Salut.

Kami pamit dengan sekantung besar keripik singkong idola. Matt kali ini cuma bisa geleng-geleng kepala πŸ™‚

 

[ Bertamu Ke Kota ]

Semula kami hendak kembali menyambangi kawah Papandayan. Tapi berhubung kondisi cuaca yang mendung tak jelas, maka rencana tsb ditunda lagi untuk waktu tak terhingga. Sebagai gantinya, kami pilih wisata dalam kota saja. Niatnya sih mau lihat-lihat sentra kerajinan kulit di jalan Ahmad Yani, tapi entah kenapa kami malah mengarah ke sentra oleh-oleh di jalan Otista (yah, namanya juga destination unknown >_<).

Sudah lewat tengah hari ketika kami akhirnya meninggalkan Garut dengan sekantung besar dorokdok (sejenis kerupuk kulit). Matt sudah tak ada minat untuk berkomentar atas kantung makanan kami.

Hujan turun sederas-derasnya sepanjang jalan, seakan tak rela kami pergi. Di beberapa lokasi bahkan air mulai menggenang. Rasanya lega setelah mobil memasuki tol Cipularang hujan mulai mereda, serasa menemukan kembali secercah harapan ;p

Lho, tapi kenapa mobil berbelok ke arah Pasteur? Lho, kok semua bertepuk tangan?
Welcome to Bandung, Matt!

Hehehe, ternyata keinginan Matt untuk berkunjung ke Bandung terkabul sudah (padahal memang kemauan kami juga sih, dududu). Tanpa kompromi lagi dengan tamu kehormatan mau dibawa kemana hubungan kita melihat apa melakukan apa, kami langsung mengarahkan mobil ke jalan Trunojoyo dan jalan Riau. You know-lah *grin*

Selanjutnya kami menghelat makan malam bersama di Ciwalk. Beberapa orang teman kami dari Bandung turut hadir menemani. Kalau tak ingat besok hari kerja, mungkin kami sudah mengiyakan ajakan mereka tuk menginap semalam di kota ini. Kalau tak ingat dompet sudah menipis, mungkin kami sudah mengajak teman-teman kami tadi untuk ikut menginap di hotel yang sama *jumawa*
Jakarta menyambut kami dalam jejak basah sang hujan. Jelang tengah malam kami pun tiba di peraduan masing-masing. Bagai memasuki dimensi berbeda, kami meninggalkan dingin udara pegunungan dan nyanyian alam, tuk kembali mendengar putaran baling-baling kipas mungil di sudut kamar dan lamat-lamat suara televisi di kamar sebelah.

Saya sudah rindu akan nyanyian jangkrik & tonggeret.


Edisi Garut
Tagged on:         

31 thoughts on “Edisi Garut

  • May 27 at 00:00
    Permalink

    akuw lum posting foto garut.. hehe… makasiy yo bebe tuk sharingan-nya.. xixi

    Reply
  • May 27 at 00:00
    Permalink

    duabadai said: Saya sudah rindu akan nyanyian jangkrik & tonggeret

    me tooooooo

    Reply
  • May 27 at 00:00
    Permalink

    Kampungku, nun jauh di pelosok Sumatera Barat, tak kalah indah-nya dengan Garut.Tapi… mengapa aku gak bisa memotretnya dan menggambarkannya seindah milikmu ya?Makananmu apa sih? wakakakaka….Bravo bro… always good job!

    Reply
  • May 27 at 00:00
    Permalink

    keren!!!!!!!!!!! kapan2 ikut tapi gak usah bule… nyusahin… hihiiih

    Reply
  • May 27 at 00:00
    Permalink

    aaaajjeeeeeuupppp…. makasiy ya beib!!

    Reply
  • May 27 at 00:00
    Permalink

    duabadai said: “Welcome to Bandung, Matt!”

    JAdi inget…. Selamat datang di BanduuuuunnggggMatt pun mengerenyitkan dahinya, menatap minta penjelasan, dan aku pun berkataTranslate …. Welcome to Banduuuuuuuuunggggg *dengan nada yang sama**alhasil aku mendapatkan toyoran dari Matt*bwakakakaaka…

    Reply
  • May 27 at 00:00
    Permalink

    seruuuu seruuuujd garut ga hanya enak dodolnya yahwisatanya pun enakk

    Reply
  • May 27 at 00:00
    Permalink

    duabadai said: Mau tahu kenapa ia dijuluki pom bensin ‘siksa neraka’?

    kenapa??

    Reply
  • May 27 at 00:00
    Permalink

    saya cinta garut;)indaaaahhhhhhhhh

    Reply
  • May 27 at 00:00
    Permalink

    sebelas4 said: Kampungku, nun jauh di pelosok Sumatera Barat, tak kalah indah-nya dengan Garut.

    percaya banget! πŸ™‚

    Reply
  • May 27 at 00:00
    Permalink

    johaneskris said: kapan2 ikut tapi gak usah bule

    lha emang situ bule? wkkkk… kalo bule yg ikut ke garut lucu kok orangnya, sama sekali ga nyusahin πŸ™‚

    Reply
  • May 27 at 00:00
    Permalink

    kaniaknightly said: kenapa??

    lihat fotonya aja πŸ™‚

    Reply
  • May 27 at 00:00
    Permalink

    drachmi said: makasiy ya beib!!

    makasi juga udah diculik kesono, kalo ngga kapan lagi coba*berasa seleb susah bagi waktu*

    Reply
  • May 27 at 00:00
    Permalink

    yenceu said: akuw lum posting foto garut

    buruan naaaa…

    Reply
  • May 27 at 00:00
    Permalink

    mieayamlover said: wisatanya pun enakk

    sepakat!

    Reply
  • May 27 at 00:00
    Permalink

    dansapar said: indaaaahhhhhhhhh

    sayang kita ga kesampean ke cangkuang..

    Reply
  • May 27 at 00:00
    Permalink

    ydiani said: seruu bangeeet

    yelli banget komennya, hehehe

    Reply
  • May 27 at 00:00
    Permalink

    duabadai said: buruan naaaa…

    bole minta beberapa foto dr mp mu yaaa. boleh dung πŸ˜‰

    Reply
  • May 27 at 00:00
    Permalink

    yenceu said: bole minta beberapa foto dr mp mu yaaa

    sok atuh mangga… πŸ™‚

    Reply
  • May 27 at 00:00
    Permalink

    kuerennn…ajarin napa kak Badai…

    Reply
  • May 27 at 00:00
    Permalink

    alhamdulillah, yuk deh masih sama2 belajar kok πŸ™‚

    Reply
  • May 28 at 00:00
    Permalink

    duabadai said: Hahaha, see it in Indonesian way, Matt. It’s our kind of hospitality!” πŸ™‚

    hahaha xD bener banget. kadang orang bule nerima seperlunya dia doank dan ga sungkan nolak kalo ga mau. tapi kalo orang kita mau ga mau ga boleh nolak biar sopan πŸ˜€ bagusnya gitu, hehehe

    Reply
  • May 28 at 00:00
    Permalink

    peniko said: hahaha xD bener banget.

    iya, terharu jadinya, sementara selama bertamu di sana kita malah ga bawa apa2 buat tuan rumah ^_^

    Reply
  • May 30 at 00:00
    Permalink

    Papandayan itu gunung paling ramah dan enak buat pergi santai, Bro. Dari kawah, naik cuma setengah jam, sudah sampai padang datar edelweis yang luas. Enak banget buat bulan madu.

    Reply
  • May 30 at 00:00
    Permalink

    hitungmundur said: Enak banget buat bulan madu.

    hmmmm berarti naik ke papandayan kapan2 aja deh kalo udah nemu pasangan sah ;p

    Reply
  • May 31 at 00:00
    Permalink

    hwaaaaaaaaaaaaaaa jadi pengen ke garuuuuuutttt ..*penyesalan ga ikut ke pameungpeuk masih kerasa sampe sekarang haha*

    Reply
  • May 31 at 00:00
    Permalink

    citra said: *penyesalan ga ikut ke pameungpeuk masih kerasa sampe sekarang haha*

    ceup ceup penyesalan tiada guna, mending lo bikin catper belitung gih, sama itinerary & rincian biaya sekalian yaaa ;p*malah nyuruh*

    Reply
  • June 23 at 00:00
    Permalink

    ya ampyun, aku lum share foto2 Garut kita !! hihi… bole minta bbrp foto Garut yg ada aku nya yaaa **kiiisssssssss

    Reply
  • June 23 at 00:00
    Permalink

    yenceu said: bole minta bbrp foto Garut yg ada aku nya yaaa

    yukkkkkk! πŸ™‚

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *