Bangkok temples

Thai Hip Trip | Day 2 | 090520

SAWATDEE! Agenda hari ini ialah wisata rohani, alias kunjungan kuil. Kebetulan mulai hari ini kami pun akan ditemani oleh seorang kawan, Ose namanya, yang akan menjadi pemandu (secara dia sudah hampir 2 tahun bermukim di Thai).

Tujuan pertama hari ini adalah Wat Arun, one of the most visited Bangkok temples. Kami tinggal berjalan kaki dari penginapan menuju sungai Chao Praya, lalu berperahu hingga tiba di kuil.

Huaaaah senangnya naik perahu! Sungai Chao Praya ini termasuk lebar, airnya bersih, diselingi tanaman eceng gondok (konon tanaman ini sengaja dibawa Raja Thai sepulangnya dari Indonesia), dan menjadi salah satu sarana transportasi handal warga Bangkok dan sekitarnya.

Perahu yang kami tumpangi sudah sarat penumpang, tapi tak apa, kami malah senang berdiri karena bisa berpindah-pindah dari satu sisi ke sisi lain, menikmati pemandangan seraya berfoto.

Tiba di dermaga Wat Arun, kami sudah dibuat terkesiap oleh segerombolan ikan patin besar yang hidup bebas di aliran sungai. Benar-benar ikan patin. Benar-benar besar,dan banyak!
Salut buat warga Bangkok yang menuruti aturan untuk tidak menangkapi ikan yang hidup di perairan dekat kuil.

Dari dermaga, kami pun memasuki komplek kuil yang tampak rapi dan bersih. Beberapa orang pedagang souvenir menyapa kami dengan ramah dalam bahasa Thai. Mungkin penampilan kami memang tak ubahnya warga Thai asli, hingga bahkan penjaga loket pun membiarkan kami masuk tanpa dipungut bayaran.

Fun Fact #1
Senangnya jadi warga Thai, banyak fasilitas umum (termasuk bis ekonomi dan tempat wisata) yang free of charge
alias GRATIS!



Wat Arun sungguh menakjubkan. Tangganya cukup curam, namun kami tetap naik ke atasnya, dan menyaksikan pemandangan kota Bangkok yang dibelah oleh sungai Chao Praya. Di sini mulai terasa pula cuaca Bangkok yang sebenarnya, panas dan lembab.

Dari Wat Arun, kami kembali menyeberangi sungai menuju Wat Pho. Disinilah terdapat patung Budha besar yang tengah beristirahat (reclining Budha). Saya ingat, lokasi ini pernah menjadi setting The Amazing Race season 1. Yang saya lupa, apakah di tempat ini wisatawan membayar tiket masuk atau tidak. Tapi yang jelas, kami mengambil jalur gratis untuk warga Thai, dan turut menaruh sepatu di sana. Wkkkkk! 🙂


Keluar dari Wat Pho, kami memutuskan tuk makan siang. Kedai makan ala hawker street yang dipilih. Menunya banyak dan enak dan murah.


Fun Fact #2
Kenapa harga makanan di Thai murah?
Adalah titah Raja yang meminta harga kebutuhan pokok (terutama beras) supaya tetap terjangkau oleh rakyat. Alasannya, jika harga makanan mahal, maka rakyat kurang makan, akibatnya rakyat tak bisa bekerja dengan baik, dan produktivitas nasional terganggu. Hmmm, sungguh sebuah petuah bijak bestari yang patut dipikirkan oleh pemerintah kita.


Usai mengisi perut, kami lanjutkan dengan berjalan kaki menuju Grand Palace. Sepanjang jalan kami banyak berpapasan dengan murid-murid berseragam yang baru bubar sekolah. Selain pakaian, tas mereka pun berseragam dan berlogo nama sekolah masing-masing. Ada beberapa di antara mereka yang berwajah polos tanpa make-up, ada pula yang berdandan, ce atau co.


Fun Fact #3
Katei (cmiiw), adalah ungkapan lain untuk ladyboy/waria. Di negeri ini kaum itu mendapat perlakuan khusus, bahkan di beberapa sekolah/institusi menyediakan toilet khusus untuk katei.
Pada usia sekolah, anak yang berbakat menjadi katei sudah tampil dengan pupur dan gincu. Tanpa mendapat cemoohan. Meskipun banyak pasangan orang tua Thai yang tak mengharapkan anak mereka menjadi katei, namun mereka pun tak menentang jika hal itu terjadi. Kepasrahan. Yang terjadi, terjadilah.



Kami tiba di Grand Palace saat matahari tengah terik-teriknya. Usai membeli tiket masuk (kecuali Ose yang ber-gratis-ria karena sudah nyaris sempurna sebagai warga Thai), kami pun mulai melangkah ke dalam komplek, dan ber-ooooh-aaaaah menyaksikan kemegahan arsitekturnya.

Puas berkeliling Grand Palace, kami pun berjalan keluar ke arah Sanam Luang, atau istilah harfiahnya, lapangan luas. Wow, disini banyak burung dara dan burung gagak berkeliaran, dan kita bisa melangkahkan kaki di antara kerumunan mereka.
“Wah, serasa di luar negeri yaaa!”
Ungkapan yang tercetus tanpa sadar, dan tak perlu diterangkan lebih lanjut, hehehe…

Seharian terik itu kami sukses berjalan kaki menyusuri kuil-kuil. Man sampe ngomong begini: 
“Enough for today, ga ada temple lagi ya, ga perlu ke Ayuthaya ya…” Huahaha 😀

Petangnya kami pun beranjak menuju Victory Monument. By taxi. Ga ada lagi jalan kaki.

Di dalam taxi hening. Di persimpangan jalan hening. Seorang bocah muncul menjajakan ronce melati. Sopir taksi membeli sebuah, lalu menaruh rangkaian bunga itu di kaca spion dalam mobil, lalu berdoa sejenak dengan takzim. Semua terjadi dalam hening. Bocah itu sudah menghilang dalam hening.


Fun Fact #4
Akhirnya saya tahu kenapa suasana jalan raya/persimpangan jalan di Bangkok terasa hening:
1. Nyaris tak ada bunyi klakson
2. Suara mesin/knalpot hampir senyap (termasuk bis umum dan tuk tuk)
3. Tak ada pengamen, pengemis, pengasong di persimpangan (satu-satunya pengasong yang saya lihat cuma pedagang ronce melati itu tadi, dan ia pun menjajakan dagangannya dalam hening)
4. Tak ada teriakan kondektur bis yang memanggil-manggil calon penumpang (tugas kondektur yang kebanyakan wanita paruh baya ini cuma menarik ongkos di dalam bis)


Victory Monument adalah tugu kemenangan untuk memperingati kepergian kolonial Perancis dari tanah Siam. Suasana di sini selalu ramai karena menjadi tempat transit beberapa moda transportasi (mulai bis, BTS, hingga omprengan).
Kebetulan asrama tempat tinggal Ose terletak di sekitar wilayah ini. Kami singgah sejenak tuk backup data foto, lalu kembali bergerak menuju tujuan berikutnya, Suan-Lum Night Bazaar.

Inilah kali pertama kami bepergian menggunakan BTS Sky Train. Tiket cukup dibeli di ticket machine, menggunakan koin pecahan ThB 10 dan ThB 5. Cari tujuan, lihat indeks harga, masukkan koin sesuai tarif, lalu keluarlah tiket BTS yang serupa kartu telepon. 

Kereta BTS yang kami naiki sungguh nyaman, dan dingin. Sempat terpikir kapankah Jakarta kan memiliki moda trasportasi seperti ini, ketika akhirnya kami tiba di stasiun Siam. Dari sini kami berpindah ke jalur MRT menuju stasiun National Stadium. Kalau naik MRT ini tiketnya berupa token bundar hitam yang mirip koin plastik.

Suan-Lum Night Bazaar terletak tepat di akses keluar stasiun National Stadium. Pasar malam Suan-Lum ini sekilas mengingatkan kami pada PRJ, meski yang di Bangkok ini jauh lebih rapi, bersih, tertib, dan hening pastinya 🙂

Tak banyak yang kami beli di Suan-Lum, selain survei harga tuk antisipasi gerebek pasar akhir pekan nanti ;p Oya, food hall disini seru, luassss banget, dan ada live music-nya. Sayang harga makanannya agak di atas rata-rata.
Berhubung udah pada kecapekan, akhirnya usai makan kami pun kembali pulang. Foot massage sebentar (ThB 120 each for 30 min) di samping hotel (enakkk nyaris ketiduran, dan sempat takjub lihat turis Jepang yang badannya lagi dilipet-lipet ala Thai massage), trus kembali ke peraduan masing-masing.

Nitey nite!


Fat Fact
breakfast: nasi ayam asam manis plus hot tea, total ThB 115 each
lunch: nasi, cumi goreng, tumis kerang, sop ikan, teh manis, total ThB 75 each
meals: buah2an (jambu, mangga), es kelapa, thai iced tea, thai cherry, average ThB 20-50 each
dinner: tomyam seafood, thai iced tea with soya milk, total ThB 150 each



kisah esok
akhirnya berani makan serangga | siapa yang digrepe-grepe di Patpong?

kisah kemarin
I Love RI mengundang perhatian | kenapa Man senyum-senyum sendiri setibanya di Bangkok?
Temple Scramble
Tagged on:             

37 thoughts on “Temple Scramble

  • May 29 at 00:00
    Permalink

    seneng baca tulisanmu bebehhhh *cups*

    Reply
  • May 29 at 00:00
    Permalink

    Wah,seru seru.. ngebayangin soal patin di sungai. Dijakarta gak kan bisa idup kali ya,secara aer nya dah tercemar banget..

    Reply
  • May 29 at 00:00
    Permalink

    fun factnya menarik…perjalanan yang seru ya :Dtapi memang daya tarik Thailand ya itu, tertibnya dan kekhasannya ya..salut juga buat penerimaan identitas waria di sana :)tapi pengen nanya *serius* suasana jalan di Thai memang termasuk paling rapih dan hening, mana ada orang klakson, kalo ga salah ada larangan ya? enlighten me dunks 😀

    Reply
  • May 29 at 00:00
    Permalink

    akoh serius bener tadi komennya, kaya peserta kelompencapir ya 😀 hahaha…abis terhanyut oleh tulisanmoh kaka badai…tulisan 4 thumbs up! hihihihibagoooooooooss

    Reply
  • May 29 at 00:00
    Permalink

    kayaknya seru.. ada oleh2nya gak mas? :-p

    Reply
  • May 29 at 00:00
    Permalink

    kalo di Jakarta udah hbs tuh patin pindah ke piring..kalo di Jabotabek AC keretanya bisa2 ilang dibawa maling…kekekeke…

    Reply
  • May 29 at 00:00
    Permalink

    seru bgt!!! aku suka fun fact 2 dan fun fact 4. andai indonesia bisa kayak gitu ya

    Reply
  • May 29 at 00:00
    Permalink

    *memasukkan thailand dalam list liburan*

    Reply
  • May 29 at 00:00
    Permalink

    aku sukaa tulisannya ga sabar kesana

    Reply
  • May 29 at 00:00
    Permalink

    mariiihh kitah berangkat lagiiiihhh bebeeeeeeyyyyy,,,, hiiii haaaaaa

    Reply
  • May 29 at 00:00
    Permalink

    hahahaha.. gw suka fun facts-nyaaaa…

    Reply
  • May 29 at 00:00
    Permalink

    kakak nomih,………..xixixixiiiiiixixiii,..ketemu sobat naa,…

    Reply
  • May 29 at 00:00
    Permalink

    waaaa… bs beli cemilan dulu sambil nunggu part 3 nya…

    Reply
  • May 30 at 00:00
    Permalink

    Akuw syedih *kok syedih* Indonesia gak kalah kaya tapi ga bisa serapih dan setertib ituw*menanti episode selanjutnyaaa*

    Reply
  • May 30 at 00:00
    Permalink

    wahhhh…tulisannya Mantafff…. Aldi!!!*** nama gw terpampang jg…duhh senengnyaaa..:D)))

    Reply
  • May 31 at 00:00
    Permalink

    lho katanya di postingan yang kemarin akan cerita masalah disangka orang Thaikok gak ada disini?(nagih)

    Reply
  • May 31 at 00:00
    Permalink

    cepet terusin ceritanyaaaaaaaaaaaaaaaaa…… =D

    Reply
  • June 1 at 00:00
    Permalink

    aku menantikan lanjutan dari serial perjalanan kalian, tapi harus bolak balik juga bacanya, hihihi…

    Reply
  • June 1 at 00:00
    Permalink

    duabadai said: Dari dermaga, kami pun memasuki komplek kuil yang tampak rapi dan bersih. Beberapa orang pedagang souvenir menyapa kami dengan ramah dalam bahasa Thai. Mungkin penampilan kami memang tak ubahnya warga Thai asli, hingga bahkan penjaga loket pun membiarkan kami masuk tanpa dipungut bayaran.

    Waaks, masa siiiy?Koq kemaren aku gak yah… *terpekur sedih*

    Reply
  • June 1 at 00:00
    Permalink

    duabadai said: Di dalam taxi hening. Di persimpangan jalan hening. Seorang bocah muncul menjajakan ronce melati. Sopir taksi membeli sebuah, lalu menaruh rangkaian bunga itu di kaca spion dalam mobil, lalu berdoa sejenak dengan takzim. Semua terjadi dalam hening. Bocah itu sudah menghilang dalam hening.

    Klo di fesbuk: pelagie08 likes it!

    Reply
  • June 3 at 00:00
    Permalink

    stressmetal said: seru seru.. ngebayangin soal patin di sungai

    kayak begini loh gerombolan ikan patinnya!

    Reply
  • June 3 at 00:00
    Permalink

    kissthesoul said: suasana jalan di Thai memang termasuk paling rapih dan hening, mana ada orang klakson, kalo ga salah ada larangan ya? enlighten me dunks 😀

    iya, kalo ga salah emang peraturannya begitu..

    Reply
  • June 3 at 00:00
    Permalink

    kissthesoul said: tulisan 4 thumbs up!

    kok cuma 4? hehe makasih yaaaa

    Reply
  • June 3 at 00:00
    Permalink

    astridchocolate said: lho katanya di postingan yang kemarin akan cerita masalah disangka orang Thaikok gak ada disini?

    ada tuh, waktu mau masuk ke wat arun, kita sama sekali ga ditagih bayaran tiket masuk, pertanda penampilan kita udah Thai banget deh.. 🙂

    Reply
  • June 3 at 00:00
    Permalink

    pelagie08 said: Koq kemaren aku gak yah… *terpekur sedih*

    huehehehe kita lumayan ngirit banyak lohhhhh*nari2 depan kie*

    Reply
  • June 3 at 00:00
    Permalink

    pelagie08 said: Klo di fesbuk: pelagie08 likes it!

    klo di fesbuk: everyone likes it!;p

    Reply
  • June 3 at 00:00
    Permalink

    duabadai said: kayak begini loh gerombolan ikan patinnya!

    GILEEEEEEEE!!!dibikin pindang manteb banget ituh!

    Reply
  • June 3 at 00:00
    Permalink

    fickleboon said: dibikin pindang manteb banget ituh!

    glek! mantabssssss 🙂

    Reply
  • November 23 at 00:00
    Permalink

    wah jd kangen bangkok ma thailand=psudah 2 postingan ttg thailand yg dibaca hari inihihihisalam kenal…

    Reply
  • November 23 at 00:00
    Permalink

    dansapar said: salam kenal…

    salam kenal juga, trims sudah berkunjung 🙂

    Reply
  • Pingback: I Love RI Goes Abroad | d.u.a.Badai

  • Pingback: Urbanlicious | d.u.a.Badai

  • Pingback: Urbanlicious | Bangkok Nightlife | DISGiOVERY

  • Pingback: I Love RI Goes Abroad | DISGiOVERY

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *