Bandeng Juwana

Disgiovery.com

“JADI beli bandengnya?”

“Paling lihat-lihat dulu,” Ruli menjawab singkat. Kami pun berpencar.

Toko Bandeng Juwana ini sungguhlah terang benderang dan dipenuhi tumpukan penganan oleh-oleh khas Jawa Tengah khususnya Semarang. Lokasinya cukup dekat dari hotel kami di jalan Pandanaran di pusat kota.

Saya dan Eva tak sempat melihat-lihat sekeliling melainkan langsung ke konter bandeng. Sejak dulu Semarang terkenal akan bandeng presto-nya. Dan toko Bandeng Juwana ini menyediakan bandeng dalam berbagai varian: bandeng dalam sangkar, bandeng otak-otak, bandeng duri lunak, bandeng vacuum, hingga bandeng teriyaki. Saya cuma membeli 1 kg bandeng duri lunak (kalau tak salah terdiri atas 4 ekor) lalu segera keluar toko. Bergabung dengan teman-teman lain yang menunggu di luar.

Bandeng Juwana 1 Bandeng Juwana 2

10 menit. Ruli belum muncul. Reza dan Reza, dua teman baru yang bernama sama mulai memperkenalkan diri meskipun kami sudah asyik mengobrol sejak dari hotel. Sambil menunggu Ruli kami menghabiskan waktu sambil berdiri di parkiran. Ngobrol ngalor ngidul.

20 menit. Ruli belum muncul. Saya mengintip ke dalam toko, terlihat Ruli sedang mondar-mandir di dalam toko sambil membawa keranjang. Oh, jadi belanja, toh.

30 menit. Ruli belum muncul. Intip lagi ke dalam. Ruli sedang melakukan transaksi di kasir. Lewat bahasa isyarat Ruli bilang ‘sebentar lagi!’

Tunggu punya tunggu akhirnya…

JREEEENG!

Ruli pun muncul. Kedatangannya membuat kami semua terperanjat dan langsung tertawa terbahak-bahak. Ruli muncul dengan membopong kardus bandeng! Tampak berat! Sungguh niat!

oleh-oleh Semarang 2

 

*Beberapa waktu sebelum menuju Bandeng Juwana*

 

“Jadi kita hang-out?”

“Jadi, dong!” Reza menjawab antusias. Malam itu kami berkumpul di lobi hotel, cuma punya waktu beberapa jam di Semarang sebelum berangkat esok pagi, dan kesempatan ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Reza langsung googling tempat gaul paling happening di Semarang, dan dari raut wajahnya kami tahu jika hasilnya tak memuaskan.

“Ada sih ini, Kafe Tong Tji, namanya kok seperti kedai teh ya?” gumamnya.

Pembicaraan kami terputus ketika Eva datang bersama temannya, Zizou, yang bermukim di Semarang. Zizou sendiri bilang jika di kota ini tak ada tempat kongkow-kongkow yang buka hingga larut malam. Ia kemudian merekomendasi kami untuk membeli oleh-oleh di Bandeng Juwana. Kami pun mengikuti sarannya, dan segera menyewa Alphard becak menuju toko tujuan.

 

*Beberapa waktu setelah meninggalkan Bandeng Juwana*

 

“Lho, kok becaknya mengarah kembali ke hotel? Bukannya mau ke Kafe Tong Tji?”

Saya tak sempat bertanya lebih lanjut karena kami sudah tiba di depan hotel. Zizou melompat dari becak depan lalu menunjuk ke arah lobi. “Ini lho Kafe Tong Tji!”

Kami sejenak terpana, lalu setelah melihat neon sign Kafe Tong Tji di sisi lobi, langsung meledaklah semua dalam tawa. Olala, jadi kafe ini letaknya menyatu dengan lobi hotel. Kami sama sekali tak menyadarinya sewaktu berkumpul di lobi tadi. Tak apalah, ini sungguh kebetulan yang menyenangkan!

Jadilah kami menguasai meja panjang di kafe, dan sebagai anak gaul ibukota tentulah pesanan kami mencerminkan pergaulan metropolis: bir dan cabe-cabean teh rempah dan tempe mendoan ala Tong Tji, lengkap dengan cabe rawit asli! 😀

Kafe Tong Tji 1 Kafe Tong Tji 2

Lho, tapi kok Ruli belum muncul. Tadi ia pamit sebentar ke kamar untuk menaruh kardus bandeng. Ada kasus apalagi beliau ini.

10 menit. Ruli belum muncul. Saya kirim pesan via Whatsapp.

15 menit. Ruli belum muncul.

Tapi akhirnya ia membalas pesan saya:

Lagi packing bandeng dulu ke dalam tas.

HAHAHA! Pingsanlah kami untuk yang kesekian kali! Gara-gara Ruli!

Tapi malam itu sungguh menyenangkan. Entah apa yang diperbincangkan tapi kami sibuk berbual-bual hingga tawa berderai-derai. Mulut pegal dan perut kram. Rasanya sudah lama saya tidak puas tertawa seperti itu.

Sungguh sulit dipercaya bahwa kami baru berkenalan beberapa jam sebelumnya.

Kafe Tong Tji 3

 

*Beberapa waktu sebelumnya, pagi hari di stasiun Gambir*

 

Kami tidak mengenal satu sama lain. Saya dan wajah-wajah asing ini adalah peserta pilihan fotografer senior Kompas, Arbain Rambey, untuk berkompetisi di Kemenhub Photo Contest 2014. Semua peserta akan diberangkatkan pulang pergi Jakarta-Semarang dengan kereta api menuju lokasi lomba.

Di Gambir inilah saya mulai berkenalan dengan Ruli dan Eva. Kesamaan minat (ditambah sedikit kegilaan) membuat kami lekas akrab, bahkan kelak dengan teman-teman baru yang lain.

Snapshots selama perjalanan kereta dari stasiun Gambir-Cirebon-Semarang Tawang bisa dilihat di sini.

Lalu seperti apa suasana lomba foto Kemenhub 2014? Siapa menang? Lihat di sini.

Walau sepanjang perjalanan ini cuaca basah dan kelabu sungguh tidak mendukung, namun kesan yang didapat sungguh menyenangkan. Dan tampaknya Bandeng Juwana sungguh berperan besar dalam mengakrabkan kami, bukan begitu, Bung Ruli? 😉

 

Disgiovery yours!

Kradenan 1
This banner is awesome! Difoto dalam perjalanan kembali ke Semarang dari lokasi lomba di Kradenan.
kereta malam 2
In the train back to Jakarta. Lelah tapi senang!
Bandeng Juwana Dan Kisah Jumawa Lainnya
Tagged on:             

8 thoughts on “Bandeng Juwana Dan Kisah Jumawa Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *